DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Jum’at, 28 Dzulqa’dah 1442 H/09 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 05: Definisi kurban dan hukumnya

〰〰〰〰〰〰〰

DEFINISI KURBAN DAN HUKUMNYA

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له واشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه و على آله وأصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada pertemuan yang ke-5 ini, kita akan bersama-sama belajar tentang :

▪︎ Definisi Kurban dan Hukumnya

Para ulama kita (rahimakumullāh) telah menuliskan banyak sekali definisi tentang kurban ini. Tetapi makna dari definisi tersebut berdekatan dan tidak saling bertentangan satu sama lain.

Di antaranya disebutkan التضْحِيَة kurban itu adalah syātun (شاة) domba atau hewan kurban dalam definisi lain disebutkan hayawānun (الْحَيَوَان).

مَخْصُوْص

Hewan yang khusus (dengan kriteria khusus).

تذبح بعد صلاة العيد

Yang disembelih setelah shalat Iedul Adha.

تقربا الى الله

Dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

التضْحِيَة :شاة خُصُوْصِيّ تذبح بعد صلاة العيد تقربا الى الله

“Kurban adalah menyembelih domba atau hewan khusus setelah shalat Iedul Adha dalam rangka untuk mendekatkan diri atau beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”

Ibadah kurban merupakan syiar islam yang disyari’atkan di dalam al-Kitab (Al-Qurān) dan di dalam Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, serta ijma’ para ulama kaum muslimin.

Di antara ayat Al-Qurān yang menegaskan pensyariatan kurban adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ۞ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau kenikmatan yang banyak (besar) maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah.”

(QS. Al-Kautsar:1-2)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam.

Tidak ada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”

(QS. Al-An’ām:162-163)

Kata an-nusuk (النسك) adalah penyembelihan sebagaimana dikatakan oleh Said bin Zubair. Adapula yang mengatakan an-nusuk (النسك) adalah semua ibadah termasuk sembelihan. Pendapat kedua ini lebih luas cakupannya.

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku seluruhnya” termasuk di dalamnya penyembelihan (menurut pendapat yang kedua) hanya aku peruntukkan bagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu (masih berkaitan dengan pensyariatan kurban) dia berkata:

ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih hewan kurban berupa dua ekor domba dengan warna putih garam (warna putih seperti warna garam) sebagian riwayat ditambahkan أَقْرَنَيْنِ (yang bertanduk). Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyembelih kurbannya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau membaca tasmiyah dan bertakbir (بسم لله ….الله أكبر) dan beliau meletakkan kaki beliau pada sisi samping kedua hewan kurban tersebut.”

(Hadīts shahīh riwayat Al-Bukhāri nomor 5565)

Maksud pada sisi samping yaitu badan samping bagian dada di atas leher sedikit domba tersebut.

Dari Abdullāh bin Umar radhiyallāhu ‘anhumā, dia berkata:

أَقَامَ النبي صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ يُضَحِّي ‏ ‏

“Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tinggal di Madīnah selama sepuluh tahun dalam keadaan senantiasa beliau berkurban setiap tahunnya.” (tidak pernah absen).

(Hadīts hasan riwayat At-Tirmidzi nomor 1507)

Ini adalah beberapa dalīl yang menjelaskan kepada kita tentang pensyariatan ibadah kurban.

Dan jumhur ulama berpendapat bahwa kurban ini hukumnya sunnah muakaddah (sunnah yang ditekankan), sunnah tetapi sangat dianjurkan, sunnah tetapi sangat diwasiatkan untuk dilakukan. Karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban semasa beliau hidup di Madīnah selama sepuluh tahun.

Ini adalah madzhab Asy-Syafī’i, Mālik, Ahmad dan pendapat yang masyhur dari keduanya.

Sedangkan selain mereka berpendapat bahwa ia wajib. Kelompok ulama yang kedua mengatakan kurban itu hukumnya wajib tidak sunnah. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari dua riwayat Ahmad.

Dan pendapat wajibnya kurban ini, dipilih oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāhu ta’āla, beliau berkata:

“Ia adalah salah satu pendapat dari dua pendapat dalam madzhab Mālik atau dhahir dari madzhab Mālik.”

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’azzakumullāh.

Disebagian kitab beliau Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah di antaranya dalam Majmu’ Fatawa mengatakan, bahwa dalīl terkuat yang dipakai oleh ulama untuk mengatakan kurban itu hukumnya sunnah berarti dalīlnya banyak, tetapi menurut Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yang terkuat adalah sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, janganlah ia memotong rambutnya dan memotong kukunya.”

(Hadīts shahīh Muslim nomor 1977)

Para ulama yang menyatakan kurban itu sunnah:

الوجوب لا يعلق بالإرادة

“Satu kewajiban itu tidak dikaitkan dengan keinginan.”

Tatkala Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan, “Jika telah masuk sepuluh pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban”. Artinya kurban itu hanya berlaku bagi orang yang ingin, jika tidak ingin maka tidak berkurban, tidak apa-apa.

Ini merupakan dalīl yang dikatakan Ibnu Taimiyyah sebagai ‘ūdah (عوْدَة) dan beliau membantahnya.

Yang benar,

الوجوب قد يعلق بالإرادة بشرط

“Satu kewajiban itu kadang dikaitkan dengan keinginan tetapi bersyarat”

Seperti sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إذا أراد أحدكم أن يصلي فليتوضأ

“Jika salah seorang dari kalian ingin shalat, hendaknya dia berwudhu”

Sedangkan shalat lima waktu adalah wajib.

Apakah kita akan mengatakan shalat itu berlaku bagi orang yang ingin, sedangkan yang tidak ingin (tidak shalat) tidak apa-apa?

Tidak demikian, maka wallāhu ta’āla a’lam bishawab. Pendapat yang benar dalam masalah ini, “Kurban itu hukumnya wajib”.

Ditambah lagi dengan ancaman Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bagi orang yang tidak berkurban.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam satu hadīts shahīh.

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa memiliki kelongaran rezeki namun ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati tanah lapang untuk shalat hari raya.”

(Hadīts hasan riwayat Ibnu Mājah nomor 3123)

Di dalam kitab Ahkamul Idain Fīsunnatil Muthaharah syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari rahimahullāhu ta’āla, tatkala menyebutkan hadīts ini, beliau mengatakan seolah-olah tidak ada manfaatnya orang yang memiliki kelonggaran rezeki kemudian dia tidak berkurban dan dia ikut shalat.

“Seolah-olah shalatnya tidak bermanfaat bagi dirinya ketika ia meninggalkan kewajiban tersebut (berkurban).”

Tadi di atas disebutkan;

Ada riwayat bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah meninggalkan kurban. Ada ancaman bagi orang yang memiliki kelebihan rezeki tetapi ia tidak berkurban maka ia tidak boleh mendekat ke tanah lapang untuk shalat.

Ikhwāni wa Akhawatiy Fīllāh rahīmani wa rahīmakumullāh wa A’adzakumullāh yang senantiasa dirahmati oleh Allāh.

Kemudian ada riwayat juga, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً هَلْ تَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

“Wajib bagi setiap satu rumah pada setiap tahunnya untuk melakukan kurban di bulan Dzulhijjah yang disebut udhhiyyah (أُضْحِيَّةً) dan kurban di bulan Rajab yang disebut ‘atirah (عَتِيرَةً).

Apakah kalian tahu apa itu ‘atirah ((عَتِيرَةً)?

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

هِيَ الَّتِي تُسَمُّونَهَا الرَّجَبِيَّةَ

Dia adalah kurban yang dilakukan di bulan Rajab.”

(Hadīts riwayat At-Tirmidzī, Abu Dawud , An-Nassā’i, Ibnu Mājah. At-Tirmidzī mengatakan hadīts ini gharībun dhaīf dan Abu Dawud mengatakan pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) telah dihapus. Syaikh Al-Albāniy menghukumi hadīts ini dhaif)

Dan Imam Nawawi rahimahullāhu mengatakan الْعَتِيرَة مَنْسُوخَة pensyariatan Al-‘Atirah (الْعَتِيرَة) Ini
telah dihapus, sedangkan pensyariatan (kewajiban) kurban masih tetap berlaku.

Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.