HADITS DHAIF SEPUTAR RAMADHAN

 

HADITS DHAIF SEPUTAR RAMADHAN

1. TIDUR ITU IBADAH

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ وَإِنْ كَانَ رَاقِدًا عَلَى فِرَاشِهِ.

“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya”

Hadits ini sering kali kita dengar, tidurnya orang yg berpuasa itu adalah ibadah sehingga kemudian ini dijadikan alasan untuk menghabiskan waktu dgn tidur saja, padahal hadits ini adalah DHA’IF (lemah).

Hadits tsb disebutkan oleh Imam as-Suyuthiy di dalam kitabnya “al-Jami’ ash-Shaghir”, riwayat ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus dari Anas.

Imam al-Manawy, “Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ahmad bin Sahl, Imam adz- Dzahaby berkata di dalam kitabnya adh-Dhu’afa, ‘Ibnu ‘Ady berkata, ‘(dia) termasuk orang yg suka memalsukan hadits”.

2. 10 HARI AWAL RAMADHAN ITU RAHMAT, 10 HARI PERTENGAHAN ITU AMPUNAN, 10 HARI AKHIR ITU BEBAS DARI NERAKA

 … وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَ آخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ …

“…dialah bulan yg awalnya itu RAHMAT, pertengahannya itu maghfirah/AMPUNAN, dan akhirnya itu ‘itqun minan naar/BEBAS DARI NERAKA…”

Ibnu Sa’ad : “hadits tsb  ada kelemahan dan jgn berhujjah dgnnya”, Imam Ahmad bin Hanbal : “Tidak kuat”. Ibnu Ma’I : “Dha’if.” Ibnu Abi Khaitsamah : “Lemah di segala segi”, (Tahdzibut Tahdzib 7/322-323).

Jadi setiap hari di bulan Ramadhan itu terdapat banyak sekali kebaikan-kebaikan didalamnya, tidak dipisah-pisah per-sepuluh hari seperti itu, apalagi dipisah-pisah setiap harinya, hari kesatu dapat ini, hari kedua dapat itu, dst.

Juga beredar, doa Ramadhan malam pertama, malam kedua,  dst.
Itu semua bukan berasal dari Rasulullah Saw.
Berhati-hatilah dgn hadits atau menyerupai hadits yg beredar disekitar kita.
Salam !

Copas dari KTQS Bandung

Leave a Reply