Hal-Hal Yang Menggugurkan Amalan

 

Hal-Hal Yang Menggugurkan Amalan

 

 

Senin, 04 Shafar 1437 H / 16 November 2015
Materi Tematik
Ustadz Firanda Andirja, MA

 

HAL-HAL YANG MENGGUGURKAN AMALAN (BAG.1)

 

الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نَبِيَّ بَعْدَهُ

Para kesempatan yang berbahagia ini, diantara perkara penting yang perlu disampaikan adalah tentang “Bagaimana menjaga amalan kita agar tidak rusak dan gugur”.

Sebagaimana perkataan Imām Ibnul Qayyim rahimahullāh:

◆ ليس الشأن في العمل، إنما الشأن في حفظ العمل مما يفسده و يحبطه

◆ Bukanlah perkara yang penting dengan banyaknya beramal.

Tetapi yang terpenting adalah menjaga amal kita agar tidak rusak dan tidak gugur.

Disana ada perkara-perkara yang hendaknya kita jauhi.

Karena perkara-perkara tersebut bisa merusak (menggugurkan) amalan kita, yaitu:

 

-1- KAFIR KEPADA ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA ATAU KELUAR DARI ISLAM

 

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam Al Qurān:

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa yang murtad di antara kalian kemudian meninggal dalam keadaan kafir dari maka amalan-amalannya akan gugur dan baginya adzab yang pedih di neraka Jahannam.”
(QS Al Baqarah: 217)

 

-2- BERBUAT SYIRIK

Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan syirik akbar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka seluruh amalannya akan gugur.

Meskipun dia beribadah (misal) selama 60 tahun; berhaji, shalat, bersedekah dan banyak melakukan kebajikan.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَالِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang berbuat kesyirikan, maka Allāh haramkan baginya surga dan tempat kembalinya ialah neraka Jahannam, dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang berbuat zhalim*.”
(QS Al Maidah: 72)

* yaitu orang-orang yang berbuat kesyirikan.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ

“Seandainya engkau (Muhammad) berbuat kesyirikan niscaya amalmu akan terhapus dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(QS Az Zumar: 65)

⇒ Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak akan berbuat kesyirikan, (akan tetapi) Allāh mengumpamakan dengan Muhammad yaitu makhluq (manusia) yang paling mulia di atas muka bumi ini.

Seandainya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam terjerumus dalam kesyirikan maka kata Allāh:

“Sungguh benar-benar akan gugur pula amalannya dan sungguh-sungguh benar akan termasuk orang yang merugi.”

(Lalu) bagaimana lagi dengan orang-orang yang derajatnya jauh dibawah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam?

Apakah dia merasa aman jika dia berbuat kesyirikan?

Apakah dia merasa bahwasanya amalannya tidak akan digugurkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

 

-3- RIYĀ

(Yaitu) beramal shalih dengan mengharapkan pujian dan penghormatan kepada manusia.

Oleh karenanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ الله وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ الرِّياَءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian ialah syirik kecil.”
Mereka (para shahābat) bertanya: “Apakah syirik kecil tersebut wahai Rasūlullāh?”
Jawab Beliau, “Riyā”.
(HR Ahmad dengan sanad yang shahih)

Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟) قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ! قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ إليه

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang perkara yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian daripada fitnah Dajjāl?”
(Para shahabat) menjawab: “Tentu, wahai Rasūlullāh.”

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:
“Syirik kecil (tersembunyi), yaitu ketika ada seorang berdiri kemudian dia shalat kemudian dia bagus-baguskan shalatnya tatkala dia tahu ada orang yang melihatnya sedang shalat.”
(HR Ahmad)

Orang ini menghiasi & memperpanjang ibadahnya serta mengindahkan lantunan bacaan Al Qurān nya bukan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, tetapi karena supaya dipuji oleh manusia.

Oleh karenanya sungguh menyedihkan kondisi orang yang riya’, (yaitu) yang beramal shalih karena ingin dipuji oleh manusia:

• Dia lebih mendahulukan untuk memperoleh pujian manusia dan dia meninggalkan pujian Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

• Dia lebih mementingkan ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat.

• Dia tidak mengagungkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi dia mengagungkan manusia yang penuh dengan kehinaan.

• Dia berharap mendapatkan ganjaran di dunia dengan pujian dan meninggalkan ganjaran yang Allāh berikan di akhirat.

Maka diantara perkara yang membahayakan yang bisa menjerumuskan orang dalam riya’ (ingin dipuji) yaitu:

“Perbuatan sebagian orang yang sering memposting atau menunjukkan amalan ibadah dia.”

Tatkala dia berhaji, dia memfoto dirinya.
Tatkala dia di Ka’bah, dia memfoto dirinya.
Tatkala dia sedang berdo’a, dia foto dirinya.
Tatkala dia sedang membaca Al Qurān, dia foto dirinya.
Kemudian dia pajang di media-media sosial.

Seandainya niatnya untuk memotivasi, (maka) alhamdulillāh.
Tapi dikhawatirkan niatnya hanyalah untuk dipuji atau dikomentari, untuk memamerkan ibadah dia.

Sama seperti orang yang berhaji, kemudian hanya untuk dipanggil “Pak Haji”, rugi!

Dia sudah mengeluarkan uang puluhan juta dan menanti masa penantian untuk bisa berangkat haji, lantas hanya ingin supaya bisa dikatakan “Pak Haji” supaya dihormati masyarakat.

Maka amalan dia tidak akan diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla karena dia melakukannya bukan ikhlas karena Allāh tetapi karena riyā.

Dan di akhirat kelak Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan menghinakan orang-orang yang riya’.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang riyā:

اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

“Pergilah (mintalah) pahala kepada orang-orang yang dahulu kamu harapkan pujiannya, apakah kalian akan mendapatkan balasan?”
(HR Ahmad)

⇒ Jawabannya, tentu tidak.

hal2yangmenggugurkan-amalan3

 

-4- PERGI KE DUKUN

Kata Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Barangsiapa yang pergi ke dukun (paranormal) kemudian bertanya sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.”
(HR Muslim)

Ini perkara yang sangat mengerikan tatkala kita melihat bagaimana dukun-dukun sangat laris di tanah air kita.

Hampir setiap kota, bahkan hampir setiap kecamatan, ada dukunnya.
Dukun sangat banyak dan orang-orang banyak percaya kepada dukun.
Padahal kita tahu seringnya dukun-dukun tersebut tidak berpendidikan.

Bagaimana tidak sedih ada seorang sarjana kemudian percaya kepada dukun yang tidak lulus SD?

Dimana akal mereka ?
Tidakkah mereka takut dengan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ini?

Dan ini berlaku juga bagi orang-orang yang membaca ramalan-ramalan bintang.
Sesungguhnya ramalan-ramalan bintang adalah bentuk dari perdukunan.

Maka hati-hati jangan sampai kita membaca ramalan-ramalan bintang.

Apalagi (sampai) memasukkan buku-buku ramalan bintang atau majalah-majalah yang berisi ramalan bintang dalam rumah kita.

Tidak boleh kita baca sama sekali, karena ini adalah salah satu bentuk dari perdukunan.

Barangsiapa mempercayainya (membacanya) maka dikhawatirkan dia tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.

(Kalau) sekedar datang bertanya-tanya sudah tidak di terima shalatnya selama 40 hari, (apalagi) kalau percaya?

Maka lebih parah!

Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun kemudian mempercayai apa yang dia kabarkan, maka dia sungguh telah kafir kepada (Al Qurān) yang diturunkan oleh Allāh kepada Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”
(HR Ahmad no. 9171)

 

——————————————————————-

BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Shafar 1437 H / 18 November 2015 M
➖➖➖➖➖➖➖

 

HAL-HAL YANG MENGGUGURKAN AMALAN (BAG. 2)

 

-5- MINUM KHAMR

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةُ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا،

“Barang siapa yang minum khamr maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.”

(HR Tirmidzi)

Dan sungguh merugi orang yang minum khamr. Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

َمَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَشْرَبْهُ فِي الْآخِرَةِ

“Barang siapa yang minum khamr di dunia maka dia tidak akan minum khamr di akhirat kelak.”

(HR An Nasāi)

⇒ Ini adalah hukuman bagi orang yang menyegerakan kenikmatan di dunia, yaitu dia tidak akan merasakan kenikmatan tatkala di akhirat kelak.

Sungguh aneh, seseorang yang diberi kenikmatan akal (berupa) kecerdasan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, lantas dia menghilangkan akalnya dengan minum khamr sehingga masuklah dia ke dalam rombongan orang-orang gila.

Apakah dia ridha tatkala dia disamakan dengan orang-orang yang gila (tidak berakal)?

Demikianlah, tatkala syahwat sudah memenuhi diri seseorang, maka dia tidak peduli.

Diapun minum khamr demi untuk mendapatkan kenikmatan sementara dan mengorbankan kenikmatan yang abadi.
-6- MENINGGALKAN SHALAT ‘ASHAR

hal2yangmenghapus-amalan1

Secara umum meninggalkan shalat adalah dosa besar, terlebih-lebih lagi shalat ‘ashar.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengkhususkan penyebutan shalat ‘ashar, kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى

“Jagalah shalat-shalat, terutama shalat al wustha (yaitu shalat ‘ashar).”

(QS Al Baqarah: 238)

Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam haditsnya:

مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُه

“Barang siapa yang meninggalkan shalat ‘ashar maka akan gugur amalannya.”

(HR Ahmad)

Sesungguhnya menjaga shalat ‘ashar merupakan ibadah yang sangat mulia, dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من صلى البردين دخل الجنة

“Barang siapa yang shalat pada dua waktu (yaitu shalat shubuh dan shalat ‘ashar) maka dia akan masuk ke dalam surga.”

(Muttafaqun ‘Alayhi)

Shalat ‘ashar adalah satu dari dua shalat yang merupakan sebab seseorang akan merasakan kenikmatan indahnya melihat wajah Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

انكم سترون ربكم يوم القيامة كما ترون القمر ليلة البدر لا تضامون في رؤيته ، فإن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمس ، وقبل غروبها ، فافعلوا…

“Sesungguhnya kalian akan melihat Allāh Subhānahu wa Ta’āla pada hari kiamat kelak, sebagaimana kalian melihat bulan di bulan purnama.

Kalian tidak akan berdesak-desakan (dorong-dorongan) tatkala melihat Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kalau kalian mampu untuk tidak ketinggalan shalat subuh dan shalat ‘ashar maka lakukanlah.”

Ini dalil bahwasannya menjaga shalat ‘ashar merupakan sebab seorang mendapatkan kenikmatan memandang wajah Allāh pada hari kiamat kelak.

Dan hati-hati, berapa banyak orang yang bermudah-mudah meninggalkan shalat ‘ashar.

Terutama orang-orang yang bekerja di siang hari, tatkala mereka pulang kelelahan, lantas mereka tertidur sehingga ketinggalan shalat ‘ashar.
-7- MENGUNGKIT-UNGKIT KEBAIKAN (AL MANN)

hal2yangmenghapus-amalan2

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan mengungkit ungkitnya dan mengganggu orang yang kalian bantu.”

(QS Al Baqarah: 264)

Oleh karenanya, jika kita memberi bantuan kepada orang lain, (maka) kita lupakan (jangan mengungkit-ungkit), karena hal itu (akan) menyakitkan hatinya.

Jika kita mengungkit-ungkit, (maka) amalan sedekah kita akan hilang, bahkan diancam dengan adzab yang pedih.

Dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Tiga golongan yang Allāh tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat dan tidak akan melihatnya pada hari kiamat, dan bagi mereka adzab yang pedih.”

Diantaranya adalah Al Mann, yaitu orang yang suka mengungkit-ungkit amalan sedekah yang dia berikan.

Sungguh sakit hati Si Miskin ketika kita mengungkit-ungkit dengan mengatakan:

“Bukankah saya pernah membantu engkau?”

“Bukankah saya pernah meringankan bebanmu?”

“Bukankah saya pernah melunaskan hutangmu?”

“Bukankah saya pernah membantumu?”

Ini menggugurkan amalan kita.

Maka, jadilah kita seorang yang tatkala berinfaq tidaklah mengharap kecuali ganjaran dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagaimana perkataan orang-orang mukminin penghuni surga:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاء وَلَا شُكُوراً

“Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla, kami tidak butuh dari kalian perkataan terima kasih dan balasan.”

(QS Al Insān: 9)
-8- MENGANGKAT (MENGERASKAN) SUARA DI ATAS SUARA NABI SHALLALLĀHU ‘ALAYHI WA SALLAM

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara kalian di atas suara Nabi, dan janganlah kalian mengeraskan suara (perkataan) kalian di hadapan Nabi sebagaimana kalian mengeraskan suara kalian satu dengan yang lain, akan gugur amalan-amalan kalian dan kalian dalam kondisi tidak sadar.”

(QS Al Hujurāt: 2)

Kata para ulama:

“Kalau Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam masih hidup lantas kita berkata-kata keras di hadapan Nabi atau suara kita mengungguli suara Nabi bisa membatalkan amalan kita, (maka) bagaimana jika bukan hanya mengeraskan suara, bahkan menyelisihi hadits-hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam?”

Ini perkara yang sangat menyedihkan.

Sebagian orang, tatkala kita datangkan hadits-hadits yang shahih, (kemudian) kita katakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan demikian, mereka (lalu) mengatakan:

“Saya tidak percaya, saya lebih percaya terhadap perkataan ustadz saya, guru saya, syaikh saya.”

Maka dia mencampakkan hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇒ Padahal dia tahu bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah berkata dalam hadits yang shahih kemudian dia tolak.

Kita khawatir orang seperti ini akan digugurkan amalannya.

Kita tahu bahwasanya para ulama memiliki kedudukan yang mulia, akan tetapi tidak ada yang ma’shum.

Apa perkataan Imam Mālik, gurunya Imām Syāfi’ī rahimahullāh ?

Imam Malik pernah rahimahullāh berkata:

كل أحد يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر

“Setiap orang, siapapun juga, bisa ditolak perkataannya dan bisa diterima, kecuali Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”

⇒ Yang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dia ma’shum, yang perkataannya harus kita terima.

Maka, seseorang jangan beragama dengan hawa nafsunya dan mengedepankan syahwatnya sehingga tatkala datang hadits-hadist shahih maka dia tolak dengan berdalil menggunakan perkataan syaikh atau guru atau ustadz.

Ini bisa menggugurkan amal shalihnya.
-9- BERSUMPAH DENGAN NAMA ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA DENGAN MENGATAKAN “SI FULĀN TIDAK AKAN DIAMPUNI ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA’ĀLA.”

 

Dalam hadits yang shahih, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengisahkan 2 orang dari Bani Isrāīl; yang satu rajin beribadah dan yang satu malas beribadah (tukang maksiat).

Temannya yang rajin beribadah senantiasa menasehati temannya yang tukang maksiat dengan mengatakan:

“Wahai sahabatku, berhentilah engkau dari bermaksiat.”

Dan saudaranya tidak perduli, tetap saja bermaksiat.

Suatu hari bertemu lagi dan menashihati lagi temannya dengan mengatakan:

“Wahai Fulān, berhentilah engkau dari maksiat.”

Namun dia tidak mau berhenti dari maksiat.

Sampai suatu hari dia melakukan dosa yang cukup besar maka temannya pun cukup emosi dan mengatakan:

“Wahai Fulān, berhentilah dari maksiat.”

Maka yang ditegur berkata:

“Biarkanlah aku dengan Allāh, bukan urasanmu menegur-negur aku. Apakah Allāh mengutus engkau sebagai rasul untuk mengawasiku?”

Rupanya yang melakukan maksiat juga emosi dan mengeluarkan perkataan yang kasar yang menyakiti hati orang shalih tadi.

Tatkala dia mendengar perkataan pelaku maksiat maka dia menggunakan otaknya dan menyimpulkan bahwa orang seperti ini tidak akan diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Kenapa?

Menurutnya, dia telah menegur berkali-kali namun tidak didengar malah dijawab oleh pelaku maksiat dengan perkataan demikian.

Perkataan pelaku maksiat ini salah, namun orang yang shalih ini lebih salah lagi, yaitu dengan berkata: “Allāh tidak akan mengampunimu.”

Tatkala dia memvonis dengan perkataan “Allāh tidak akan mengampuni engkau” berarti dia telah menyempitkan luasnya rahmat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, padahal ini hanya pelaku maksiat (bukan kafir).

Maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengirim malaikat untuk mencabut nyawa kedua orang ini, dan dihadirkan di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, Allāh berkata:

“Siapa yang berani-berani bersumpah bahwa Aku tidak akan mengampuni Si Fulān? Aku telah mengampuni dia dan Aku menggugurkan amalanmu.”

Maka orang shalih ini dimasukkan ke dalam neraka Jahannam sedangkan pelaku maksiat diampuni oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jangan sampai tatkala emosi kita mengucapkan perkataan-perkataan yang melebihi syari’at Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Abu Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu tatkala meriwayatkan hadits ini berkata:

تكلم بكلمة أوبقت دنياه وآخرته

“Orang ini telah mengucapkan satu kalimat saja, yang akhirnya menghancurkan dunia dan akhiratnya.”

Demikianlah.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menerima amalan ibadah kita dan menjauhkan kita dari hal-hal yang bisa merusak dan mengurangi atau menggugurkan amal ibadah kita.

(Selesai)
______________________________