Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 07

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 07 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam IbnuTaimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللهَ

Bahkan mereka beriman bahwasanya Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Mereka beriman dan percaya bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang لَيْسَ كَمِثْلِهِ. Beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam

Qur’an surat Asy-Syūrā ayat yang ke-11.

Meskipun ini adalah ayat yang ringkas namun ternyata di dalamnya mengandung kaidah yang besar yang di atasnya ahlussunnah wal jamaah berjalan di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Kaidah yang tadi disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah yang terkandung di dalam firman Allāh ﷻ ini

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ sesuatu apapun.

شَيْءٌ ini adalah nakirah, tidak ada al-nya disini, لَيْسَ disini adalah nafyun (pengingkaran, penafian), nakirah dan dia adalah nafyi maka dia adalah umum, tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allāh ﷻ.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Seseorang berusaha membayangkan, mencari apapun dan sampai kapanpun tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ. Berarti di sini tidak boleh seseorang mentakyif dan mentamtsil, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Kemudian

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Disini ada isbat, menetapkan yaitu menetapkan nama Allāh ﷻ As-Samī’ Al-Bashīr yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kenapa Allāh ﷻ di sini mendatangkan dua nama As-Samī’ Al-Bashīr, Allāhu A’lam, ada sebagian yang mengatakan karena sebagian besar makhluk mereka memiliki sifat ini, jadi makhluk hidup mereka mendengar dan juga mereka melihat.

Allāh ﷻ memiliki sifat As-Sama’ wa Al-Bashar, memiliki sifat pendengaran dan juga penglihatan dan kalimat sebelumnya tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Berarti ketika seseorang menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar (memiliki pendengaran) dan dia Maha Melihat (memiliki penglihatan) bukan berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ sedikitpun. Berarti menetapkan nama dan juga sifat bagi Allāh ﷻ tidak mengharuskan seseorang menyamakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk. Sehingga seperti yang dikatakan oleh sebagian, menuduh Ahlu Sunnah Wal jamaah sebagai musyabbihah yaitu orang yang menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau ada yang menuduh ahlu sunnah sebagai mujassimah karena ketika ahlu sunnah menetapkan tangan bagi Allāh ﷻ menetapkan dua mata bagi Allāh ﷻ kemudian ketika mereka melihat jism (jasad) manusia kemudian mereka akhirnya menuduh ahlul sunnah sebagai mujassimah, Allāh ﷻ memiliki jasad sebagaimana manusia atau jism sebagaimana manusia, ini salah paham. Tidak ada di sana talāzum bahwasanya orang yang menentukan sebuah sifat bagi Allāh ﷻ kemudian berarti dia menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk, tidak.

Kita berjalan diatas firman Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kita semuanya meyakini Allāh ﷻ Maha Mendengar tapi pendengaran Allāh ﷻ tidak sama dengan pendengaran makhluk, pendengaran Allāh ﷻ adalah pendengaran yang sempurna berbeda dengan pendengaran kita yang lemah dan banyak perkara yang tidak bisa kita dengar padahal itu dekat dengan kita, apalagi suara-suara yang jauh. Dan Allāh ﷻ Maha Melihat dan Maha Sempurna Penglihatan-Nya, adapun kita maka kita memiliki penglihatan tapi penglihatan kita adalah penglihatan yang penuh dengan kekurangan. Jadi dari mana kita dinamakan sebagai musyabbihah mujassimah padahal kita tidak pernah menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk.

Sebagian memberikan permisalan, contoh misalnya seseorang yang datang kepada kita kemudian membawa hewan yang aneh yang mungkin kita baru pertama kali atau belum pernah melihatnya. Tapi dia karungi hewan tadi dan mengatakan saya membawa sebuah hewan, dia punya tangan punya kaki punya mata tapi kamu belum pernah melihatnya dan ketika dia berbicara dia punya tangan punya kaki kemudian kita membenarkan. Teman ini dia bukan orang yang suka guyon atau orang yang suka bohong, kita yakini kita benarkan apa yang dia ucapkan.

Ketika kita mengatakan oh ya dia punya tangan dia punya kaki dia punya mata, apakah ketika kita membenarkan demikian berarti kita mengatakan bahwa hewan yang ada dalam karung ini tangannya sama dengan tangan kita, kakinya sama dengan kaki kita, ini diucapkan orang yang paham dan orang yang berakal. Ketika dia mengatakan iya saya benarkan karena dia memahami makna tangan makna kaki, dia paham, tapi ketika dia membenarkan bukan berarti dia menyamakan antara tangan hewan yang ada dalam karung ini dengan tangan manusia, tidak, itu menunjukkan tentang pemahaman dia.

Jadi Allāh ﷻ menggunakan kata-kata istawa, al-yad, ini dengan bahasa Arab yang jelas yang bisa dipahami oleh orang yang mempelajari bahasa arab, yang maknanya jelas sehingga kita memahami istawa, al-yad, al-‘ain mata ini dengan bahasa yang turun dengannya Al-Qur’an, bahasa yang digunakan oleh Rasulullāh ﷺ. Tapi ini permisalan untuk memudahkan, sekali lagi ketika Ahlus Sunnah menetapkan bukan berarti mereka mentasybih. Kalau demikian sangat mudah sekali kita memahami nama dan juga sifat Allāh ﷻ, tidak ada sesuatu yang masalah, tidak ada sesuatu yang berat untuk kita tetapkan.

Bahkan di dalam dalil yang para ulama berselisih pendapat apakah ini berbicara tentang sifat Allāh ﷻ atau bukan, ketika kita memahami faedah ini mudah, seandainya ini adalah sifat Allāh ﷻ ya kita tetapkan sebagai mana datangnya sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, sehingga para sahabat, para salaf, para tabi’in, para tabi’-tabi’in inilah aqidah mereka. Tidak ada takalluf dan tidak ada isykal bagi mereka, para sahabat radhiallāhu ta’ala ‘anhum menetapkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan dan juga rasul-Nya tetapkan di dalam Al-Qur’an dan juga hadits, tidak ada diantara mereka yang mengatakan bagaimana, kenapa bisa demikian, mereka dididik oleh Rasulullāh ﷺ dengan didikan yang benar dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Al imam Malik Rahimahullah, guru dari imam Syafi’i, imam penduduk kota Madinah di zamannya pernah didatangi oleh seseorang atau ada orang yang bertanya di majelis beliau dan dia mengatakan

ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ

[ طه:5]

Membaca firman Allāh ﷻ bahwasanya Ar Rahman yaitu Allāh ﷻ beristiwa di atas arsy. Dia mengatakan kaifastawa? Bagaimana Allāh ﷻ beristiwa. Al imam Malik Rahimahullah ketika mendengar pertanyaan ini dan ini pertanyaan yang tidak pernah diucapkan oleh para sahabat kepada Nabi Muhammad ﷺ, tidak pernah ditanyakan oleh tabi’in kepada para sahabat Nabi ﷺ, berubah wajah beliau, marah dengan pertanyaan seperti ini.

Kemudian beliau mengucapkan sebuah ucapan yang ini merupakan kaidah yang besar dalam masalah nama dan sifat Allāh ﷻ, beliau mengatakan “al-istiwa’u ma’lum”, Al-Istiwa adalah sesuatu yang maklum, yaitu yang di ketahui maknanya, dia bukan bahasa asing yang kita yaitu orang-orang Arab tidak mengetahui maknanya, tidak, itu adalah kalimat yang maklum di dalam bahasa Arab, maknanya adalah ‘ala wartafa’a, washa’ada wastaqarr, meninggi, menetap, al-istiwa’u ma’lum.

وَالْكَيْفُ مَجْهُوْل

Dan bagaimana tata caranya, yaitu bagaimana Allāh ﷻ beristiwa majhul, tidak diketahui. Allāh ﷻ tidak pernah memberitahukan kepada kita tentang bagaimananya, tidak diketahui, tidak ada satu ayat pun didalam Al-Qur’an atau satu hadits yang berisi tentang bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, majhul, tapi dia memiliki kaifiyah, yang mengetahui kaifiyahnya adalah Allāh ﷻ. Kita tidak mengetahui kaifiyah tapi Allāh ﷻ mengetahui kaifiyah, karena segala sesuatu pasti ada kaifiyahnya, yang kita ingkari disini bukan kaifiyahnya atau bahwasanya Allāh ﷻ tidak ada kaifiyahnya, yang kita ingkari adalah ilmu kita, kita tidak mengetahui tentang kaifiyah dan bagaimana istiwa Allāh ﷻ.

وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ

Berimanبِهِ , yaitu dengan istiwa Allāh ﷻ adalah sesuatu yang wajib. Kenapa wajib karena Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’an ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ, kemudian Allāh ﷻ mengatakan ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ dalam 6 ayat dalam Al-Qur’an dengan lafadz yang sama. Berarti beriman bahwasanya Allāh ﷻ berisitwa itu wajib, Allāh ﷻ mengabarkan bahkan bukan hanya satu ayat tapi tujuh ayat dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ mengabarkan bahwasanya Diri-Nya beristiwa menunjukkan ta’qid, menunjukkan penguatan. Bagaimana seseorang yang beriman dia mengingkari, beriman dengan istiwa Allāh ﷻ adalah wajib

وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Dan bertanya tentang istiwa Allāh ﷻ, yaitu bertanya tentang bagaimananya, sebagaimana diucapkan oleh laki-laki tadi bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang bid’ah, kenapa dinamakan bid’ah, tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ dan tidak pernah ditanyakan para sahabat kepada Nabi ﷺ padahal para sahabat adalah orang yang paling semangat untuk mengetahui perkara yang bermanfaat bagi mereka di dalam agama mereka, mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ahillah, bertanya tentang masalah hail, mereka bertanya tentang syahrul harām, dan juga pertanyaan-pertanyaan yang lain, tapi tidak ada satupun pertanyaan mereka berupa seperti pertanyaan laki-laki ini, yaitu mengatakan bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, bagaimana tangan Allāh ﷻ karena mereka mengetahui firman Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, itu saja yang mereka pegang kaidahnya. Sehingga Al-imam Malik mengatakan

وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Ini adalah imam diantara imam imam Ahlus Sunnah, guru dari imam Syafi’i dan imam Syafi’i di atas manhaj beliau yaitu manhaj ahlussunnah wal jama’ah dan inilah manhaj al-imamu Ahmad bin hanbal dan seluruh imam imam ahlus Sunnah wal jamaah.
Dan apa yang diucapkan oleh Imam Malik ini bisa digunakan untuk memahami sifat-sifat Allāh ﷻ yang lain, misalnya tangan Allāh ﷻ, kita katakan al-yad ma’lūmah, tangan itu dalam bahasa Arab suatu yang maklum maknanya, wal kaifu majhul dan bagaimana tangan Allāh ﷻ majhul (tidak diketahui), wal imanu biha wājib, beriman dengan tangan Allāh ﷻ adalah wajib, wassu’alu ‘anhu bid’ah, dan bertanya tentang bagaimana tangan Allāh ﷻ adalah sesuatu yang bid’ah. Gunakan kaidah ini dalam seluruh nama dan seluruh sifat-sifat Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته