Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah -Halaqah 21

Halaqah 21 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Ridha Bagi Allāh ﷻ Dan Nama Allāh Ar-Rahman Ar-Rahim Dan Sifat Yang Terkandung Di Dalamnya Bagian 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-21 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan sebuah ayat yang menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allāh ﷻ yang harus kita yakini dan harus kita tetapkan untuk Allāh ﷻ adalah sifat Ar-Ridho.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

قَوْلُهُ: ِرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allāh ﷻ Ridho kepada mereka dan mereka pun Ridho kepada Allāh ﷻ.

ِرَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Allāh ﷻ ridho kepada mereka, yaitu kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, ini menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allāh ﷻ adalah Ridho dan ridho termasuk sifat fi’liyah khobariyyah. Sifat fi’liyah karena dia berkaitan dengan masyiatullah (kehendak Allāh ﷻ), Allāh ﷻ meridhoi siapa yang Dia kehendaki, kapan Dia kehendaki, ini termasuk sifat Fi’liyah. Dan ini adalah sifat khobariyah juga, sifat khobariyyah yaitu sifat Allāh ﷻ yang hanya diketahui dari arah kabar Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya, artinya hanya diketahui dengan dalil, disana ada sifat aqliyah yaitu sifat Allāh ﷻ yang diketahui dengan dalil dan diketahui dengan akal.

Adapun menetapkan sifat Allāh ﷻ dengan akal saja maka ini tidak boleh, jadi terkadang sifat Allāh ﷻ ada yang diketahui dengan dalil saja, tidak bisa dengan akal manusia yang terbatas dan terkadang di sana ada sifat Allāh ﷻ yang diketahui dengan dalil sekaligus dengan akal. Kalau yang dalil saja maka dinamakan dengan sifat khobariyah, dari kata khobar artinya sifat ini hanya diketahui dari kabar Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya. Dan di sana ada sifat Al-Aqliyah yaitu sifat yang diketahui dengan kabar (dalil) dan juga dengan akal manusia.

Misalnya Allāh ﷻ Dia-lah yang mencipta segala sesuatu, ketika seseorang berpikir, ketika seorang mencermati berarti Allāh ﷻ memiliki sifat Qudroh, ketika dia melihat bahwasanya penciptaan Allāh ﷻ adalah penciptaan yang sangat detail dan sangat kokoh penciptaan-Nya, tidak ada kekurangan sedikitpun, banyak hikmah, maka dia mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Ilmu, sifat ilmu sifat qudro ada dalam dalil ‘alimun qadir (Allāh ﷻ Maha Mengetahui Maha Berkuasa), dan bisa diketahui juga dengan akal manusia.

Sifat ridho ini termasuk yang khobariyyah, tidak diketahui kecuali dengan dalil, kalau Allāh ﷻ tidak memberitahukan kepada kita bahwasanya dia memiliki sifat ridho maka kita tidak akan mengetahuinya. Berarti disini kita harus menetapkan sifat ridho bagi Allāh ﷻ, jangan kita menolaknya seperti mu’tazilah yang menafikan sifat-sifat Allāh ﷻ atau mentakwilnya seperti asy-sya’iroh mentakwil sifat ridho ini dengan irodah, sebagaimana mereka mentakwil sifat mahabbah dengan irodah, ridho juga demikian, alasannya sama karena menurut mereka kalau kita menetapkan sifat ridho bagi Allāh ﷻ berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk, dimana makhluk memiliki sifat ridho, sehingga mereka ada yang menolaknya dan ada yang mentakwilnya.

Adapun Ahlul Sunnah Waljama’ah maka mereka menetapkan sebagaimana Allāh ﷻ menetapkan dan meyakini bahwasanya sifat ridho bagi Allāh ﷻ ini tidak sama dengan sifat ridho yang dimiliki oleh makhluk, sifat ridho yang dimiliki oleh Allāh ﷻ adalah sifat ridho yang sesuai dengan keagungan dan juga kesempurnaan Allāh ﷻ. Adapun ridho yang dimiliki oleh manusia maka sesuai dengan kekurangan dia, Allāh ﷻ ketika meridhoi maka itu berdasarkan karunia Allāh ﷻ, itu adalah karunia Allāh ﷻ, anugerah Allāh ﷻ dan itu berdasarkan ilmu, adapun manusia terkadang dia ridho dengan sesuatu padahal dia tidak mengetahui itu adalah perkara yang tidak baik sebenarnya atau beda dengan hakikatnya.

Dan ridho Allāh ﷻ ini adalah nikmat yang sangat besar, ketika Allāh ﷻ ridho kepada seseorang hamba maka ini adalah kenikmatan yang sangat besar bahkan lebih besar daripada kenikmatan-kenikmatan Jannah, kenikmatan-kenikmatan surga yang disebutkan oleh Nabi

فيهَا مَ لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرِ

Di dalamnya ada kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, di dengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia. Kalau kita berbicara tentang kenikmatan-kenikmatan surga Allāh ﷻ maka itu adalah kenikmatan-kenikmatan yang sangat besar, yang sangat luar biasa yang tidak pernah terbetik dalam hati manusia dan tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah didengar oleh telinga manusia, ternyata di sana ada yang lebih besar dan lebih nikmat daripada kenikmatan-kenikmatan surga tersebut yaitu keridhoan Allāh ﷻ kepada orang-orang yang beriman. Sehingga di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ

Dan keridhoan dari Allāh ﷻ itulah yang lebih besar, yaitu didalam surat At-Taubah (72) ketika Allāh ﷻ mengatakan

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ

Allāh ﷻ menjanjikan kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan juga wanita, surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan tempat tinggal tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘adn.

Setelah itu Allāh ﷻ mengatakan, setelah menyebutkan sebagian kenikmatan yang Allāh ﷻ janjikan kepada orang-orang yang beriman yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan ini adalah nikmat tersendiri, merasakan nikmat adalah kenikmatan kekal di dalam kenikmatan itu adalah kenikmatan tersendiri, dan tempat tinggal tempat tinggal yang baik, kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَرِضۡوَٰنٞ مِّنَ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۚ

Dan keridhoan dari Allāh ﷻ kepada mereka, yaitu orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita, itu adalah Akbar, sesuatu yang lebih besar, yang demikian adalah keberuntungan yang sangat besar.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah, Rasulullāh ﷺ mengatakan

إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ

Sesungguhnya Allāh ﷻ berkata kepada penduduk surga, Wahai penduduk surga

فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ

Iya ya Allāh ﷻ, iya wahai Robb kami

فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan, Apakah kalian sudah ridho?, yaitu ketika mereka diberikan oleh Allāh ﷻ surga dan berbagai kenikmatan karena sebab amalan-amalan dan iman yang mereka lakukan di dunia

هَلْ رَضِيتُم apakah kalian telah ridho

فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ

Kemudian mereka mengatakan, bagaimana kami tidak ridho ya Allāh ﷻ sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang Engkau tidak berikan kepada seorangpun dari makhluk-mu.

Jadi masing-masing dari mereka merasa dirinya yang paling diberikan kenikmatan oleh Allāh ﷻ padahal sebagaimana kita tahu hum darojatun ‘indallah, mereka ini adalah berderajat-derajat, mereka ini memiliki kedudukan yang berbeda-beda di surga, seorang Nabi ﷺ tentunya beda tingkatannya dengan siddiq, orang yang shaleh tentunya dengan orang yang ashi yaitu orang yang berbuat maksiat di antara orang-orang yang beriman.

Masing-masing dari mereka saat itu merasa diberikan oleh Allāh ﷻ sesuatu yang paling nikmat yang tidak diberikan kepada yang lain dan Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu sehingga dalam ayat wa rodhu ‘anhu, dan merekapun ridho, yaitu mereka gembira dengan kenikmatan-kenikmatan yang Allāh ﷻ berikan kepada mereka saat itu dalam surga, dan masing-masing merasa dirinya diberikan yang paling baik, yang paling nikmat dari Allāh ﷻ, wa rodhu ‘anhu, dan merekapun ridho kepada Allāh ﷻ

فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan, Aku akan berikan kepada kalian sesuatu yang lebih afdhol, yang lebih nikmat dari itu semuanya, Subhanallāh, maka orang-orang yang beriman penduduk surga saat itu mengatakan

فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟

Mereka mengatakan wahai Robb ku apa sesuatu yang lebih afdhol dari apa yang sudah Engkau berikan kepada kami. Mereka sudah merasakan nikmatnya nikmat surga, ternyata di sana ada yang lebih afdhol daripada kenikmatan surga tadi, semoga Allāh ﷻ memasukkan kita semuanya ke dalam surga dan memberikan kepada kita apa yang lebih baik daripada kenikmatan surga yaitu ridho Allāh ﷻ, disini Allāh ﷻ mengatakan

فَيقُولُ

Allāh ﷻ mengatakan

أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي

Aku halalkan untuk kalian keridhoan-Ku, Allāh ﷻ ridho, Allāh ﷻ ridho dan senang dengan kita dan ridho dengan kita

فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً

Maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya, Subhanallāh, Allāh ﷻ ridho kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kepada penduduk surga dan berjanji tidak akan marah kepada mereka selama-lamanya.

Kita di dunia seandainya kita sering dimarahi misalnya oleh orang tua kita ketika kita masih kecil, kemudian orang tua kita mengatakan bapak tidak akan marah sama kamu setelah ini, ibu tidak akan marah sama kamu setelah ini, bagaimana perasaan kita, gembira dan bahagia, Alhamdulillah berarti setelah ini aku tidak akan dimarahi lagi, yang ada adalah rahmah, yang ada adalah kelembutan, yang ada adalah kasih sayang.

Maka orang-orang yang beriman yang mereka memiliki rasa takut terhadap azab Allāh ﷻ, takut terhadap kemarahan Allāh ﷻ ketika mendengar bahwasanya Allāh ﷻ menghalalkan atas mereka keridhaan Allāh ﷻ dan Allāh ﷻ tidak akan marah kepada mereka selama-lamanya tentunya ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan mereka, yang sangat membahagiakan mereka, tidak dimarahi oleh Allāh ﷻ setelah itu, Allāh ﷻ akan ridho kepada mereka dan ridho Allāh ﷻ sekali lagi berdasarkan ilmu. Kalau Allāh ﷻ sudah meridhoi sebuah kaum maka itu adalah keutamaan yang besar, para sahabat radhiallāhu Ta’ala Anhu adalah orang-orang yang sudah di kabarkan oleh Allāh ﷻ bahwasanya Allāh ﷻ ridho kepada mereka

رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ

Allāh ﷻ ridho kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allāh ﷻ, dan ridho Allāh ﷻ berdasarkan ilmu, Allāh ﷻ tahu tentang kedudukan mereka dan keistiqomahan mereka dan keimanan mereka, keikhlasan mereka, muroqobahnya mereka, sungguh-sungguhnya mereka dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Dan apakah ilmu Allāh ﷻ hanya terbatas satu waktu saja, tidak, tentunya ilmu Allāh ﷻ Maha Luas, segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ mengetahui bahwasanya para sahabat Radhiallāhu Ta’ala Anhum di masa yang akan datang mereka akan Istiqomah di atas Islam dan meninggal di atas Islam, maka Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’an bahwasanya Allāh ﷻ Ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allāh ﷻ, yaitu ridho Allāh ﷻ sebagai Robb-nya, sebagai sesembahannya, bahagia menjadi seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh ﷻ, bersyukur kepada Allāh ﷻ dijadikan dan dipilih sebagai seorang hamba di antara hamba-hamba Allāh ﷻ.

Maka ini adalah sifat yang harus kita tetapkan bagi Allāh ﷻ yaitu sifat ridho, ridho sesuai dengan kesempurnaan Allāh ﷻ dan sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, tidak ada di sana tasybih, tidak ada di sana penyerupaan sifat ridho Allāh ﷻ dengan ridho makhluk, makhluk ridho sebagaimana dalam ayat ini dan Allāh ﷻ juga memiliki sifat ridho, ridho yang pertama tidak sama dengan yang ridho yang kedua. Ridho yang pertama yaitu ridho Allāh ﷻ sesuai dengan keagungan-Nya dan ridho makhluk ini sesuai dengan kekurangan mereka.

Kemudian setelahnya beliau Rahimahullah mendatangkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ di antara namanya adalah Ar-Rahman Ar-Rahim dan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Rahmah. Ayat yang pertama yang beliau datangkan adalah

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

بسم الله الرحمن الرحيم

Ini adalah ayat di dalam Al-Qur’an, untuk Al-Fatihah maka basmalah ada yang mengatakan bahwasanya bismillahirrahmanirrahim ini adalah bagian dari Al-Fatihah, dia adalah ayat yang pertama dan ada yang mengatakan dia adalah ayat yang pertama dalam Al-Quran tapi bukan termasuk Al-Fatihah, Al-Fatihah diawali dengan alhamdulillahirobbilalamin. Basmalah- basmalah yang seterusnya yang ada di awal Al-Baqarah Ali-Imran An-Nisa’ dan seterusnya sampai An-Nas maka itu adalah yang menandai awal dari sebuah surat, yang memisahkan antara satu surat dengan surat yang lain, kecuali basmalah yang ada dalam surat An-Naml (ayat 30)

إِنَّهُۥ مِن سُلَيۡمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

maka ini adalah bagian dari sebuah surat dan semuanya sepakat bahwasanya ini semua adalah termasuk ayat di antara ayat-ayat Allāh ﷻ, termasuk diantaranya ayat yang memisahkan antara surat maka ini ayat dia cuma tidak dihitung, tidak dihitung misalnya Al-Ikhlas ayat yang pertama qul huwallahu ahad, bismillahirrohmanirrohim bukan termasuk Al-Ikhlas.

بسم الله

Dengan menyebut nama Allāh ﷻ. Yang ditetapkan di dalam ayat ini di antara nama-nama Allāh ﷻ yaitu Lafdzul Jalalah, yang memiliki sifat uluhiyah, mengandung sifat Uluhiyah, kemudian Ar-Rahman mengandung sifat Rahmah, Ar-Rahim juga mengandung sifat Rahmah, apa beda antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim kalau dua-duanya sama-sama mengandung sifat Rahmah yang artinya adalah kasih sayang, Allāh ﷻ memiliki sifat kasih sayang.

Ada di antara ulama yang mengatakan bahwasanya Ar-Rahman ini adalah sifat Rahmah bagi Allāh ﷻ yang umum, umum untuk seluruh makhluknya karena makhluk-makhluk Allāh ﷻ ada diantara mereka yang taat, ada diantara mereka yang maksiat, ada diantara mereka yang muslim, ada diantara mereka yang kafir, masing-masing dari mereka merasakan rahmat Allāh ﷻ yang umum, seperti nikmat diberikan umur, nikmat rezeki, nikmat sehat nikmat anak dan juga istri dan keluarga, maka ini adalah umum, baik orang yang beriman maupun orang yang kafir semuanya mendapatkan rahmat ini.

Ar-Rahman mengandung sifat Rahmah yang rahmat ini adalah rahmat yang Ammah, rahmat yang umum, adapun Ar-Rahim maka mengandung sifat Rahmah yang khusus yaitu sifat Rahmah ya Allāh ﷻ khususkan bagi orang-orang yang beriman, di sana ada kasih sayang Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang beriman, iman mereka ini adalah bagian dari kasih sayang Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menyayangi mereka sehingga diberikan mereka iman, amal shaleh mereka ini juga termasuk bagian dari rahmat Allāh ﷻ, maka ini adalah Rahmat yang khusus bagi orang-orang yang beriman dan juga beramal sholeh, nikmat hidayah. Dan didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

إن الله يعطي الدنيا من يحب ومن لا يحب ولا يعطي الدين إلا من يحب

Sesungguhnya Allāh ﷻ memberikan dunia ini bagi orang yang Allāh ﷻ cintai dan orang yang Allāh ﷻ tidak cintai, dan tidak memberikan agama kecuali bagi orang yang Allāh ﷻ cintai saja. Rahmat khusus ini hanya untuk orang-orang yang beriman, sehingga dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا

[Surah Al-Ahzab:43]

Dan Allāh ﷻ itu dengan orang-orang yang beriman Rohim, menunjukkan bahwasanya nama Ar-Rahim ini mengandung sifat Rahmah yang khusus yang Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang beriman.

Sifat Rahmah ini juga ditakwil oleh orang-orang yang mereka menyangka bahwasanya kalau kita menetapkan rahmat bagi Allāh ﷻ berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk, karena yang memiliki kasih sayang dan memiliki sifat kasih sayang yang didalamnya ada perasaan kasihan ini adalah makhluk dan Allāh ﷻ kalau memiliki sifat Rahmah berarti Allāh ﷻ sama dengan makhluk atau kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk-Nya. Sehingga ada diantara mereka, mu’tazillah jelas mengingkari sifat Rahmah, dan asy-sya’iroh mereka kembali mentakwil sifat Rahmah bagi Allāh ﷻ. Mereka mengatakan Rahmah adalah irodah juga, irodatul in’am, irodah Allāh ﷻ untuk memberikan kenikmatan, jadi dikembalikan ridho Rahmah ini kepada irodah.

Dan sifat rohmah ini adalah termasuk sifat yang bisa dzatiya bisa fi’liyah sekaligus, jadi ada di antara sifat yang disifati dengan dzatiya fi’liyah. Dzatiya karena dia senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ, Allāh ﷻ dari dulu memiliki sifat Rahmah, sehingga ada yang mengatakan bahwasanya Ar-Rahman ini mengandung sifat Rahmah Allāh ﷻ yang lazimah, adapun dinamakan dengan sifat yang fi’liyah karena dia berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ, Allāh ﷻ merahmati siapa yang dikehendaki, Allāh ﷻ memberikan rahmat kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki. Sehingga dari sisi ini karena dia berkaitan dengan masyiatullah sehingga dia merupakan sifat fi’liyyah, ini mungkin sama dengan sifat Al-Kalam, Allāh ﷻ memiliki sifat kalam dzatiya fi’liyyah, zatiyah karena dari dulu Allāh ﷻ memiliki sifat kalam, fi’liyyah karena Allāh ﷻ berbicara kepada siapa yang Dia kehendaki, kapan Dia kehendaki. Kalau ada pertanyaan apakah sifat Rahmah khobariyah atau aqliyah, sifat Rahmah Allāh ﷻ adalah sifat aqliyah karena dia bisa ditetapkan dengan khobar dan sekaligus dengan akal.

Kemudian beliau membawakan firman Allāh ﷻ

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا

Ini adalah ucapan para malaikat yang mereka bertawasul dengan menyebut sifat dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu Rahmah dan juga Ilm, mereka mengatakan

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ

Wahai Robb kami, Engkau meluasi segala sesuatu dengan rahmat dan juga dengan ilmu, artinya segala sesuatu pasti terliputi dengan rahmat Allāh ﷻ tidak terkecuali dan pasti terliputi dengan ilmu Allāh ﷻ, Allāh ﷻ Maha Mengetahuinya dan mengetahui tentang sesuatu tersebut, كُلَّ شَيۡءٖ segala sesuatu, tidak mungkin di dunia ini ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Allāh ﷻ dan semuanya merasakan rahmat Allāh ﷻ. Ada yang mengartikan

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا

yaitu wasi’at rahmatuka wa ilmuka kulla syai’, Rahmat-Mu ya Allāh ﷻ dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.

Rahmat Allāh ﷻ sebagaimana telah disebutkan, Ar-Rahman mengandung sifat Rahmah yang sifatnya umum termasuk makhluk hidup maupun makhluk mati yang beriman maupun yang kafir, segala sesuatu pasti merasakan rahmat Allāh ﷻ, virus sekalipun dia merasakan rahmat Allāh ﷻ, makhluk yang kafir sekalipun dia juga merasakan rahmat Allāh ﷻ, dia merasakan nikmatnya hidup, nikmatnya makanan, nikmatnya minuman, ini adalah kasih sayang Allāh ﷻ tapi kasih sayang Allāh ﷻ yang umum untuk mereka, segala sesuatu baik makhluk yang mati maupun makhluk yang hidup yang di atas maupun yang di bawah merasakan rahmat Allāh ﷻ, rahmat Allāh ﷻ ada yang umum dan ada yang khusus.

Adapun yang khusus sebagaimana kita sebutkan, nikmat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ berikan bagi orang-orang yang beriman, diberikan dia hidayah kepada jalan yang lurus, diberikan petunjuk, di terangkan jalan hidupnya, di jadikan dia bersabar di tengah-tengah bencana dan juga musibah, maka ini nikmat, ini adalah bagian dari rahmat Allāh ﷻ. Dijadikan dia bersyukur ketika dia mendapatkan kenikmatan, maka ini juga bagian dari rahmat Allāh ﷻ yang dengannya mereka mendapatkan pahala dan akan dibalas oleh Allāh ﷻ kelak di hari kiamat dengan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, ini juga rahmat Allāh ﷻ, rahmat Allāh ﷻ yang khusus bagi orang-orang yang beriman.

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا

Berarti di sini ada penetapan sifat rahmah bagi Allāh ﷻ, ditambah lagi Al-Ilm (sifat ilmu bagi Allāh ﷻ) dan sudah berlalu penjelasan dan ayat-ayat yang berkaitan dengan penyebutan sifat ilmu. Ini menunjukkan adanya hubungan antara sifat rahmah dengan ilmu, jadi rahmat Allāh ﷻ itu berdasarkan ilmu, berbeda dengan rahmat makhluk yang terkadang dia menyayangi tapi bukan berdasarkan ilmu, berdasarkan perasaannya saja, perkiraan saja, mengetahui di jalan misalnya ada orang yang kelihatannya dia kasihan padahal dia adalah orang yang punya, orang yang kaya, dia mengemis karena di dalam hatinya ada penyakit ingin mengemis, tapi hakikatnya dia adalah orang yang punya sebenarnya, ini kasih sayang yang kita miliki.

Terkadang menggunakan perasaan, ketika seorang orang tua misalnya menyayangi anaknya juga tidak jarang demikian, menyayangi anak dengan memberikan sesuatu yang justru memudhoroti dia. Adapun Allāh ﷻ maka Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Menyayangi dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui

رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا

Orang yang kafir sekalipun, orang yang fajir sekalipun maka mereka juga merasakan rahmat Allāh ﷻ dan di akhirat Rahmat tersebut hanya Allāh ﷻ berikan kepada orang-orang yang bertakwa, adapun orang-orang kafir maka mereka tidak akan merasakan Rahmat Allāh ﷻ, di akhirat hanya untuk orang-orang yang bertakwa saja, yang ada di dalam neraka hanyalah azab dan azab bagi orang-orang yang kafir.

Adapun orang yang berbuat maksiat di kalangan kaum muslimin maka mereka akan mendapatkan rahmat Allāh ﷻ dan mungkin mereka mendapatkan azab setelah itu mereka mendapatkan rahmat Allāh ﷻ, adanya orang yang memberikan syafaat atau makhluk yang memberikan syafaat atau memang rahmat Allāh ﷻ saja, bukan syafaatusyafi’in, tidak ada yang memberikan syafaat tapi Allāh ﷻ menyayangi dia, merahmati dia kemudian mengeluarkan dia dari neraka.

Allāh ﷻ mengatakan

فَسَأَكۡتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ

[Surah Al-A’raf:156]

Maka Aku akan menulisnya, akan menetapkannya untuk orang-orang yang bertaqwa.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته