Hari Raya Umat Islām

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Selasa, 25 Dzulqa’dah 1442 H/06 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 02: Hari Raya Umat Islām

〰〰〰〰〰〰〰

HARI-HARI RAYA UMAT ISLĀM

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث رحمة للعالمين و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita akan bersama mendengarkan paparan tentang :

▪︎ Hari-Hari Raya Umat Islām

Ketika Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tiba di Madīnah yaitu pada peristiwa hijrah. Orang-orang Madīnah memiliki dua hari di mana mereka biasa bermain-main pada kedua hari tersebut, yaitu mereka memiliki hari raya.

Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَانِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

“Sesungguhnya Allāh telah mengganti untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari daripada hari raya kalian sebelum ini yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.”

(Hadīts riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nassā’i)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengganti untuk umat ini dari dua hari bermain-main dan bersenda-gurau menjadi dua hari raya yang berisi dzikir, syukur, ampunan dan pemberian maaf.

Di dalam kitab Al-Bida’ wa Al-Akhtha’ Tata’ alaqu Bil Ayyam Was Syuhur disebutkan bahwa pada hari raya kita diperbolehkan untuk saling berkunjung satu sama lain, menyambung silaturahim, kemudian memakan makanan yang lezat yang mungkin tidak biasa kita makan, menghidangkan minuman yang istimewa, kemudian saling memberikan hadiah, memberikan hadiah pula kepada anak-anak dengan hadiah yang mereka sukai.

Di samping tentunya pada dua hari tersebut, yang lebih utama kita memperbanyak dzikir, syukur, istighfar serta memaafkan orang lain.

Di samping dua hari raya tersebut, ada hari raya yang berulang pada setiap pekannya, dan ini yang menyebabkan kesempurnaan shalat-shalat wajib. Dan di dalam aktifitas menghadiri shalat Jum’at terdapat kemiripan dengan ibadah haji.

Hari raya yang terulang setiap pekannya adalah hari raya hari Jum’at. Adapun dua hari raya yang lain tidak berulang pada setiap tahunnya. Dia hanya terjadi satu tahun sekali, Idul Fithri sekali kemudian Idul Adha sekali.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketika hari raya penyembelihan atau Idul Adha, merupakan hari raya yang paling besar dan paling utama di antara kedua hari raya tersebut.

Kenapa demikian?

Karena di Idul Adha terkumpul padanya keutamaan tempat dan keutamaan waktu, bagi orang yang menunaikan ibadah haji. Mereka memiliki hari-hari raya lain sebelum dan sesudahnya yaitu hari Arafah sebelum Idul Adha kemudian hari-hari Tasyrik setelah Idul Adha.

Jadi bagi orang yang menunaikan ibadah haji sebelum tibanya hari raya Idul Adha, mereka memiliki hari raya yang lain yaitu hari Arafah kemudian setelah Idul Adha mereka memiliki hari Tasyrik.

Sebagaimana disebutkan dalam hadīts ‘Utbah bin Amir dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ النَّحْرِ وَأَيَّامَ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari Arafah, hari penyembelihan dan hari-hari tasyrik merupakan hari raya kita orang Islām dan ia merupakan hari untuk makan dan minum.”

(Hadīts ini diriwayat oleh para penulis kitab As-Sunnan dan dishahīh oleh Imam At-Tirmidzi rahimahullāhu ta’āla)

Maka dari itu tidak disyari’atkan bagi orang yang menunaikan ibadah haji untuk berpuasa di hari Arafah. Puasa Arafah disyariatkan bagi umat Islām yang tidak (sedang) menunaikan ibadah haji.

Diriwayatkan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

أنه صلى الله عليه وسلم ما نهى يوم عرفة بعرفة

“Bahwasanya beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang puasa pada hari Arafah di Arafah.”

Melarang puasa pada hari Arafah di Arafah. Adapun bagi orang yang tidak menunaikan ìbadah haji disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah.

Beberapa keutamaan hari Arafah:

⑴ Hari Arafah merupakan hari disempurnakannya agama dan nikmat.

⑵ Diriwayatkan bahwa hari Arafah merupakan hari yang paling utama.

Ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban di dalam shahīhnya yang bersumber dari hadīts Jabīr radhiyallāhu ta’ala ‘anhu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau mengatakan:

أفضل الأيام يوم عرفة

“Hari yang paling utama adalah hari Arafah”

Namun sebagian ulama (yang lainnya) menyatakan bahwa hari yang paling utama adalah hari penyembelihan yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan hari Arafah merupakan hari haji akbar menurut sekelompok ulama Salaf di antaranya adalah Umar radhiyallāhu ‘anhu dan yang lainnya.

Namun ini ditentang oleh sekelompok ulama Salaf yang lain, dan mereka mengatakan, “Haji akbar adalah hari penyembelihan” yaitu tanggal 10 Dzulhijjah pada saat hari raya Idul Adha.

⑶ Berpuasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun.

Kenapa koq puasa Asyura hanya menghapuskan dosa satu tahun, sedangkan puasa di hari Arafah bisa menghapuskan dosa dua tahun (yang telah berlalu dan yang akan datang)?

Di antara jawabannya adalah Asyura itu adalah harinya Musa sedangkan Arafah adalah harinya Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dan Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah افضل الأنبياء و رسول (Nabi dan Rasul yang paling utama dibandingkan nabi dan rasul yang lainnya). Maka hari Arafah memiliki keutamaan yang besar.

Bagi orang yang tidak berhaji disunnahkan berpuasa di hari Arafah.

Puasa hari Arafah akan mendapatkan pengampunan dosa setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang.

⑷ Hari Arafah merupakan hari pengampunan dan pemaafan dosa-dosa, pembebasan dari api neraka dan hari dibanggakannya orang-orang yang sedang melakukan wuquf di padang Arafah.

Jadi Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan kaum muslimin yang berhaji dan berkumpul di Arafah pada hari tersebut, sebagaimana disebutkan di dalam shahīh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Tidak ada satu hari di mana Allāh Subhānahu wa Ta’āla lebih banyak membebaskan hamba dari neraka dibandingkan hari Arafah. Sesungguhnya Allāh benar-benar mendekat, kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat. Kemudian Allāh berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka?’.”

(Hadīts shahīh riwayat Imam Muslim nomor 3354)

Itu adalah beberapa paparan tentang hari raya umat Islām dan beberapa keutamaan hari Arafah.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab.