Ilmu Tawadhu

Ilmu Tawadhu’ Puasa

 

Ilmu Tawadhu’ Puasa bukan untuk menjadikan seseorang beriman, karena yang dipanggil puasa sudah beriman. Puasa untuk membentuk seseorang menjadi muttaqin (bertaqwa).

Indikator Taqwa

Menurut Imam al-Kusairy, taqwa dibentuk dari huruf ta – qaf – wawu – ya. Huruf Ta adalah simbol dari Tawadhu’. Puasa melatih tawadhu’.

Tawadhu’ karena puasa itu tidak bisa dipamerkan. Orang bisa pamer sholat, zakat, haji. Tapi tidak bisa pamer dirinya puasa!

Untuk menunjukkan dirinya tidak puasa, sangat mudah. Tinggal makan atau minum saja di siang hari. Tetapi untuk menunjukkan dirinya puasa? Bagaimana bisa? Bahkan sekalipun sejak fajar tadi dia tidak makan minum, tetapi kalau dia tidak pernah niat puasa, dia tidak dihitung puasa.

Apalagi jika dia “korupsi waktu” 1 menit mendahului berbuka dari waktunya. Pasti tidak sah puasanya.

Dengan kesadaran bahwa puasa tidak bisa dipamerkan, hanya Allah yang tahu, maka kita paham, bahwa manusia ini lemah. Di hadapan Allah, manusia itu tidak memiliki sesuatu yang pantas disombongkan. Ingat, iblis dihukum karena sombong. Takabbur lawan dari tawadhu’. Iblis kenal Allah, beriman bahwa Allah itu penciptanya. Iblis sadar bahwa Muhammad saw itu Rasul utusan-Nya. Tetapi, iblis takabbur di hadapan Allah, merasa memiliki kelebihan dari Nabi Adam as., sehingga iblis menolak perintah Allah untuk sujud hormat kepada Nabi Adam as.

Di masa modern ini, banyak orang sanggup puasa, tetapi mereka tidak berhasil meraih tawadhu’. Mereka merasa sistem yang mereka buat, lebih hebat dari aturan Allah.

Mereka merasa demokrasi itu lebih tepat mengatur masyarakat majemuk, seolah-olah Nabi Muhammad tidak pernah mengatur masyarakat yang lebih majemuk. Bahkan mereka merasa perlu menambah Islam dengan nasionalisme agar tidak menjadi extrim. Hasilnya adalah Islam Nusantara yang katanya lebih rahmatan lil ‘alamin, seolah-olah Islam yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad belum lengkap, belum rahmatan lil ‘alamin.

(diedit dari status Prof. Fahmi Amhar)

Line : yukngaji