ISTIHADHAH

Kajian Tematis al-Qur’an & as-Sunnah # 523

ISTIHADHAH

Istihadhah adalah darah yg keluar terus-menerus dari rahim seorang wanita tanpa henti sama sekali atau berhenti sebentar 1 atau 2 hari dalam sebulan.

Jika ia mempunyai jadwal haidh yg teratur maka berpedomanlah kepada jadwal haidhnya yg biasanya. Dan pada masa itu dihitung sebagai haidh & selain masa tsb dianggap istihadhah.

Namun apabila tidak memiliki siklus haidh yg tidak jelas waktunya & tidak bisa membedakan ciri-ciri  darahnya mana yg haid dan istihadhah, maka hendaklah ia mengambil masa haidh kebiasaan kaum wanita pada umumnya/wanita kerabatnya (6 atau 7 hari).

Darah ini membatalkan wudhu tetapi tidak mewajibkan wanita tersebut mandi junub dan tidak boleh meninggalkan shalat. Oleh karena itu wanita yang keluar darah tsb hendaklah membasuhnya atau membalut tempat keluarnya dan hendaklah berwudhu setiap kali hendak shalat fardhu.

Dari Aisyah ra berkata : “Fatimah Binti Abi Hubaisy telah datang menemui Nabi SAW dan berkata : Wahai Rasulullah, aku mendapatkan istihadhah, oleh karena itu aku tidak suci, maka adakah aku perlu meninggalkan shalat? Sabda Rasulullah SAW : Tidak, itu hanyalah darah penyakit dan bukan darah haid. Ketika kedatangan haid hendaklah engkau meninggalkan shalat, dan apabila waktu kebiasaan nya telah lewat, maka hendaklah engkau membasuh  darah yang berada pada diri engkau (dan berwudhu) dan hendaklah engkau shalat”. (HR. Bukhari)

Tidak menjadi halangan bagi suami yang ingin menjimak isterinya ketika istihadhah, karena tidak satu dalilpun yang mengharamkannya.

Wanita istihadhah boleh mengerjakan shalat, puasa, thawaf, membaca Al-Quran, menyentuh Al-Quran dan sebagainya.

Wanita haid tidak boleh shalat, puasa, thawaf dan jimak saja, sedangkan membaca Al-Quran dan menyentuh Al-Quran dibolehkan karena hadits yg melarangnya adalah DHAIF.

Salam !
copas dari KTQS

Leave a Reply