Istiqomah Dalam Melakukan Keta’atan Pada Allah


حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قِرَاءَةً قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ ابْنِ الْحَكَمِ بْنِ ثَوْبَانَ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ بِمِثْلِ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan, sebelumnya ia rajin Qiyamullail (shalat malam), namun ia kemudian hari meninggalkannya.” (HR. Muslim : 1965)

“INNA al-LADZIINA QOOLUU ROBBUNA ALLAHU TSUMMASTAQOOMUU TATANAZZALU ‘ALAIHIMU al-MALAAIKATU ALLA TAKHOOFUU WALAA TAHZANUU WA ABSYIRUU BI al-JANNATI al-LATII KUNTUM TUU’ADUUN” (sesungguhnya orang2 yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian mereka berpegang teguh, maka malaikat akan turun kepada mereka (berkata) : ‘janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah kalian dengan Syurga yang kalian dijanjikan).

Ayat ini sungguh menjadi sebuah motivasi yang kuat buat kita semua, Allah memberikan ‘perlakuan’ khusus kepada setiap hambaNya yang ‘istiqomah’ dengan ucapannya yang berkata bahwa Allah sebagai Tuhannya.

Ayat ini seakan juga memberikan pemahaman, bahwa banyak orang yang mengaku menjadi hambaNya, tetapi hanya sebatas ucapan saja, dengan bahasa al-Qur’an : “YAQUULUUNA BIAFWAAHIHIM MA LAISA FI QULUUBIHIM” (mereka berkata dengan mulut mereka apa2 yang tidak ada dihati mereka), terbukti dengan ‘berani’ melanggar norma2 agama, atau bahkan menjadi ‘pendosa’ dihadapanNya. Mereka inilah yang hanya mengaku mempunyai Tuhan tetapi tidak berpegang teguh terhadap yang telah diucapkannya.

Hadits awal pekan ini, merupakan pesan khusus Nabi saw kepada sahabatnya yang juga ditujukan kepada setiap ummatnya, untuk istiqomah dalam melakukan keta’atan, dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, seorang muslim sejatinya akan tetap menjadi orang2 yang selalu dalam kebaikan ucap dan sikap dihadapanNya.

Siapa orang yang tidak bisa ‘istiqomah’ dalam menetapi sifat dan perbuatan baiknya, maka berarti orang tersebut tidak meng’upgrade’ kedudukan dan kedekatannya kepada Allah, sehingga terjadilah ‘kesedihan2’ dan ‘ketakutan2’ dalam urusan kehidupan dunia ini, malaikat tidak lagi ‘diutus’ olehNya buat menemani hambaNya yang tidak istiqomah dalam ketaatan kepadaNya.

Satu bulan Romadhon mungkin ‘volume’ ibadah meningkat dahsyat, rajin bangun malam dan membaca. Al-Quran, ‘berani’ bersedekah dan suka menolong orang, tentunya ini sesuatu yang patut di syukuri, karena telah terjadi perubahan hebat dalam penghambaan, tetapi akan menjadi lebih indah tentunya bila semangat ibadah dan berbuat kebaikan di bulan Romadhon tetap ‘terawat’ pada bulan2 selanjutnya.

Inilah yang nabi saw pesankan pada hadits diatas, agar menjadi orang yang terus dalam keta’atan kepadaNya, agar selalu dalam penjagaanNya, agar tiada getar takut dalam urusan yang dihadapi, agar tak ada airmata duka dalam keseharian kita.

“INNA WA’DA ALLAHI HAQQUN” (sesungguhnya Janji Allah adalah benar), maka ‘singsingkan’ selimut kemalasan, dan bergeraklah menuju kebahagiaan tak berkesudahan, hanya satu pilihannya dan sungguh tidak sulit buat melakukannya, yaitu berkata Bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kemudian berpegang teguh kepadaNya, maka nikmati ‘belai kasih’Nya.

Wallahu A’lam Bisshowaab

Copas Dari Ust Syarif Matnadjih

foto: New Collection

Leave a Reply