KAIDAH-KAIDAH DALAM BERDOA DAN DZIKIR

1. Dzikir dan do’a adalah ibadah yang bersifat tauqifiyah dengan syarat ikhlas dan sesuai dengan contoh Rasulullah.

2. Dibedakan antara dzikir yang mutlak dengan dzikir yang muqayyad.

Dzikir/do’a yang muqayyad (yang telah ditentukan) waktunya, tempat, tata cara, jumlah, sebab dan jenisnya tidak boleh dirubah-rubah, dan ada dalil yang melandasinya.

Dan dzikir/do’a yang mutlak tidak ditentukan, waktunya, tempat, tata cara, jumlah, sebab dan jenisnya.

3. Do’a yang tidak berasal dari Nabi diperbolehkan dengan syarat:

a) Memlih lafadz yang paling bagus.

b) Tidak mengandung sesuatu yang terlarang.

c) Hanya pada dzikir/do’a mutlak saja.

d) Tidak boleh dijadikan sebagai sunnah atau rutinitas.

4. Setiap dzikir/do’a yang mempunyai lebih dari satu macam lafadz seperti do’a istiftah, bacaan ruku’ dan sujud, sebaiknya dibaca bergantian, dibaca terkadang dengan ini dan terkadang dengan itu.

5. Setiap dzikir/do’a yang banyak macamnya dalam satu waktu, maka boleh dibaca semuanya seperti do’a pagi dan petang.

6. Pada asalnya dzikir/do’a adalah dibaca dengan lirih, kecuali yang ditunjukkan dalil boleh mengeraskannya atau disyari’atkan dengan keras, seperti adzan, takbir hari raya, talbiyah.

7. Setiap perbuatan yang haram atau makruh tidak boleh dimulai dengan dzikir/do’a.

(Diringkas dari kitab tashih ad du’a karya syaikh Bakr Abu Zaid).

copas dari KTQS Al Fikri Daarul Arqom-Bandung

 

Leave a Reply