Kecerdasan Sosial

Khutbah Jumat  di Masjid Salman ITB, 17 Mei 2013
Khatib: Drs. H. Mustafid Amna, MA

 


doa dan kajian Islami

 

 

“Demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati dalam menetapi kebenaran.”

(QS 103: 1-3)

 

Allah SWT menjadikan Rasulullah Muhammad Saw sebagai Nabi al-ummiy, Nabi yang tidak bisa baca tulis. Allah tentu punya maksud untuk hal ini, di mana segala titah-Nya tidak ada yang sia-sia. Ma khalaqta haza batila.

Sangat boleh jadi salah satu di antara maksud Allah SWT menjadikan Rasul Nabi ummiy itu adalah agar tidak ada anggapan di kemudian hari bahwa Al-Quran yang dibawa oleh Nabi adalah karangan Muhammad.

Namun, sekalipun Rasul itu nabi ummiy, tidak bisa baca tulis, tapi beliau itu fathanah, cerdas, tahu, mengerti dan memahami. Dalam artian beliau bisa “membaca” pikiran orang. Apa yang dirasakan orang, Rasululah Saw bisa memahami. Beliau bukan cerdas individual semata, tapi juga cerdas sosial. Itulah namanya fathanah.

Kita kadang-kadang tidak mengerti apa yang dipikir orang. Kita lebih sering tidak bisa membacanya. Cerdas atau fathanah di sini mungkin bisa diartikan dengan cukup tepat dalam bahasa Sunda: surti. Itu adalah: mengerti apa yang tidak diomongkan. Bisakah misalnya kita membaca keadaan kalau kita bertemu saudara atau teman kita: apakah dia sudah makan atau belum? Ketika kita ke rumah teman kita, kira-kira apakah dia sudah makan atau belum? Apakah dapur tetangga mengepul atau tidak? Rasulullah Saw mampu membaca hal0hal seperti itu. Itulah fathanah. Cerdas. Surti.

Pada suatu saat, Rasulullah Saw di jalan berpapasan dengan Abu Bakar. Demikianlah, Rasulullah langsung segera bisa membaca: Abu Bakar belum makan! Segeralah Rasul pun berinisiatif: tolong temani aku makan, katanya kepada Abu Bakar. Sedang lapar tiba-tiba ditraktir orang; itu hal yang membahagiakan, bukan? Tetapi di rumah tidak ada makanan, sahut Rasul. Boleh jadi di rumah putri saya Fatimah ada makanan, lanjut beliau. Maka mereka pun berjalan menuju rumah Fatimah.

Sampai di rumah Fatimah, Rasulullah tidak langsung masuk. Walaupun itu rumah putrinya sendiri. Rasulullah tetap memakai etika: ketuk-ketuk pintu dan mengucapkan salam. Dan saat itu dari balik pintu Fatimah memberi jawaban. Tapi pintu tidak segera dibuka. Juga tidak ada pertanda Rasulullah dipersilakan masuk. Maka, Rasullullah mengucapkan salam sekali lagi. Dijawablah lagi salam itu, tapi tetap tidak ada tanda-tanda tuan rumah mempersilakan tamunya masuk.

Etika bertamu Rasul menyatakan: tiga kali ucapkan salam. Maka kembali Rasul mengucap salam sekali lagi; dijawab lagi salam itu oleh yang punya rumah. Tapi tetap Rasul yang tidak lain tidak bukan adalah ayahya sendiri, belum juga diperkenankan masuk. Yang ada adalah Fatimah bertanya: dengan siapa Rasulullah datang dan mau apa berkunjung. Sungguh itu buat kita sesuatu yang mengejutkan. Rasulullah pun menjelaskan maksud dan tujuannya secara jujur.

Namun, kembali ucapan putrinya itu di luar dugaan. “Ya Rasulullah, ayahku, saat ini engkau kuharamkan masuk ke dalam rumahku ini.” “Ada apa gerangan?” “Sebab aku sedang berpakaian minim. Bajuku sedang dicuci dan belum kering. Pakaian yang lain sedang dipakai suamiku pergi dan dia belum kembali.”

Mendapati hal itu Rasulullah pun bersedih hati dan segera mengangkat tangan, bermunajat kepada Allah SWT. Ia berdoa: Ya Allah, cukupkanlah yang engkau uji seberat ini hanya keluargaku saja, ya Allah. Umatku jangan!

Demikianlah oleh karenanya barangkali sekarang kita pun jarang ada yang kekurangan pakaian. Itu karena doa Rasulullah. Doa seseorang yang mulia, yang fathanah, yang tahu dan mau mengerti keadaan umat lebih dari kepentingan keluarganya sendiri. Subhanalah.

Dari sekelumit kisah tersebut, kita pun diajak merenung: sudahkah kita memiliki kepedulian sosial? Sudahlah kita mampu membaca keinginan orang-orang di sekeliling kita?

Saat ini kita sudah masuk di bulan Rajab. Rasulullah mengajarkan agar kita banyak-banyak berdoa agar diberi keberkahan bulan Rajab, bulan Syaban, dan disampaikan umur agar sampai juga kelak di bulan Ramadan. Itulah doa yang sering dipanjatkan Rasulullah kepada Allah SWT di bulan Rajab ini. Tapi apakah berkah itu? Apakah yang dimaksud dengan keberkahan dalam doa Rasulullah itu? Barangkali salah satu jawabannya adalah: semakin bertambah kebaikan dalam segala hal.

Berkah itu merupakan hal yang indah. Dalam konteks ceramah ini, berkah adalah lebih bisa memahami orang lain; kehendaknya, keinginannya, harapannya. Dan dengan lebih banyak memahami orang lain ketimbang melulu ingin dipahami orang lain, sebenarnya kita bisa lebih merasakan keindahan, bisa lebih bahagia, lebih dewasa dan matang.

Ada sebuah hadis Rasululah yang bisa kita renungkan juga: “Allah akan peduli kepada hambanya selagi hamba itu terbiasa peduli kepada sesamanya.”

 

Wallahu’alam bishawab.

Copas dari  http://khutbahjumatsalmanitb.blogspot.com/