Keutamaan Membalas Kebaikan

BimbinganIslam.com
Senin, 05 Dzulqa’dah 1437 H / 08 Agustus 2016 M
Ustadz Firanda Andirja, MA
Kitābul Jāmi’ | Bab Al-Birru (Kebaikan) Wa Ash-Shilah (Silaturahim)
Hadits ke-14 | Keutamaan Membalas Kebaikan
⬇ Download Audio | bit.ly/BiAS03-FA-Bab02-H14
➖➖➖➖➖➖➖
KEUTAMAAN MEMBALAS KEBAIKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
Kita sampai pada hadits terakhir pada Bāb Al-Birru Wa Ash-Shilah.
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله تعالى عنهما: عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “مَنِ اسْتَعاَذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيْذُوْهُ، وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوْهُ، وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكَافِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فاَدْعُوْا لَهُ.” أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ.
Dari shahābat Ibnu ‘Umar Radhiyallāhu anhumā ia berkata: Dari Rasūlullāh Shallallāhu ‘Alayhi Wasallam, Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang memohon pertolongan kepada kalian dengan bertawasul (dengan menyebut nama Allāh) maka tolonglah dia. Dan barangsiapa yang meminta kepada kalian dengan menyebut nama Allāh maka penuhilah permintaannya. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikan tersebut). Jika kalian tidak mendapati (apa yang bisa kalian buat balas kebaikan tersebut) maka do’akanlah dia (orang yang berbuat baik tersebut).”
(HR. Imam Baihaqi, hadist shahīh, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullāh Ta’āla)
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhānahu wa Ta’āla,
Hadits ini mengandung 3 permasalahan:
■ PERMASALAHAN PERTAMA
Barang siapa yang memohon perlindungan kepada kalian dengan menyebut nama Allãh Subhānahu wa Ta’āla maka lindungilah.
Kenapa?
Karena dia meminta kepada kita dengan nama Allãh.
Dia mengatakan, “Tolonglah aku, demi Allãh, tolonglah aku.”
Maka kita harus menolong dia kalau kita mampu, karena sebagai bentuk pengagungan terhadap Allãh, karena dia telah minta kepada kita dengan nama Allãh Subhānahu wa Ta’āla.
■ PERMASALAHAN KEDUA
Kemudian juga, jika dia minta sesuatu yang lain yang kita mampu untuk melakukannya, maka kita lakukan.
Contohnya:
⑴ Dia punya hutang kepada kita, dia belum mampu membayar dan dia mengatakan:
“Demi Allãh, tolong beri aku kesempatan lagi, aku belum bisa bayar, tundalah jatuh temponya.”
Kalau kita mampu, kita harus memberi kesempatan karena dia minta dengan nama Allãh, kita tunda waktu pembayaran hutangnya.
Demikian juga misalnya,
⑵ Dia minta sesuatu yang kita mampu untuk memberikan sesuatu tersebut, dia minta dengan nama Allãh Subhānahu wa Ta’āla, kalau kita mampu maka bantu karena kita mengagungkan Allãh, dia minta dengan nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Karena dengan kita membantu dia berarti kita telah mengagungkan Allãh Subhānahu wa Ta’āla, berarti kita akan medapatkan pahala dari Allãh Subhānahu wa Ta’āla.
Namun ini semua, sebagaimana penjelasan para ulama, kalau tidak menimbulkan kemudharatan bagi kita.
Jika dia minta sesuatu kepada kita yang kita tidak mampui atau memberi kemudharatan kepada kita, maka tidak perlu kita penuhi.
Adapun kalau di luar kemampuan kita, meskipun dia minta dengan nama Allãh maka kata Allãh:
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا
“Allãh tidak membebani seorang hamba di luar daripada kemampuannya.” (Al-Baqarah 286)
■ PERMASALAHAN KETIGA
Barang siapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikan tersebut.
Ini adalah ajaran Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, sehingga tatkala ada orang yang berbuat baik kepada kita, kita berusaha membalas agar kita tidak punya hutang budi.
Karena hutang budi itu sesuatu yang tidak enak dirasakan oleh seseorang.
Jika seseorang berusaha hanya tunduk kepada Allãh Subhānahu wa Ta’āla tetapi punya hutang budi sama orang lain maka akan ada sedikit ketundukan kepada orang lain tersebut.
Untuk itu, jika ada yang berbuat baik kepada kita, kita berusaha balas kebaikannya sebisa mungkin.
Namun kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kalau kita tidak punya kemampuan maka do’akan dia.
Kita mengucapkan:
جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا
“Semoga Allāh membalasmu dengan kebaikan.”
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 6368. Dari shahābat Usāmah Bin Zayd)
Atau,
“Terima kasih”
Kemudian kita berdo’a dalam shalat misalnya. Dalam riwayat disebutkan:
فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Berdo’alah sampai kalian tahu bahwa kalian sudah bisa setimpal dalam membalas kebaikannya.” (HR. Imām Ahmad)
Artinya, kita berdo’a dan berdo’a untuk dia sampai menurut kita sudah cukup dengan do’a kita yang sering ini untuk dia. Kalau kita tidak mampu untuk membalas kebaikan dia maka kita do’akan dia.
Ini adalah pelajaran yang indah dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam agar kita tidak merasa punya hutang budi dengan orang lain sehingga kita berusaha berbuat baik kepada orang.
Kalau kita hutang budi tetap kita balas kebaikanya tetapi maksudnya dengan semakin kita membalas kebaikan tersebut maka kita semakin tidak memiliki ketergantungan atau kerendahan di hadapan orang yang membantu kita.
Maka jika tidak mampu membalas dengan harta maka kita balas dengan banyak mendo’akan dia.
Kecuali jika orang yang membantu kita adalah orang yang memang menurut ‘urf (kebiasaan) dia tidak butuh balasan.
Misalnya:
• Seorang raja membantu kita, kita tidak perlu membalas. Namanya raja, kalau kita balas dia akan merasa malu, merasa dipermalukan, “Kok perlu dibalas?.”
• Seorang mentri
• Atau orang kaya sekali.
Maka kita balas dengan do’a. Mereka tidak butuh dengan harta dan pemberian karena mereka sudah berlebihan.
Orang-orang seperti itu kita balas dengan do’a. Sering kita do’akan mereka dalam shalat kita, dalam ibadah-ibadah kita.
Tapi kalau orang yang membantu kita adalah orang yang sederajat dengan kita atau lebih sedikit dari kita (tidak terlalu kaya) maka kalau bisa kita balas dengan harta sebagaimana dia berikan harta kepada kita, maka itu yang terbaik dan kalau tidak mampu maka dengan do’a.
Demikianlah para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhānahu wa Ta’āla.
Kita telah sampai pada hadits yang terakhir dari Bab Al-Birru Wa Ash-Shilah.
In syā Allāh pada pertemuan yang berikutnya kita masuk dalam Bab yang baru dari Kitābul Jāmi’ yaitu Bab Zuhd wal Wara’.
والله تعالى أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________

 Keutamaan Membalas Kebaikan