KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

🌍 BimbinganIslam.com
📆 Senin, 24 Dzulqa’dah 1442 H/05 Juli 2021 M
👤 Ustadz Abul Aswad Al-Bayaty, BA
📗 Lathā’if Ma’ārif Karya Imam Ibnu Rajab dan Talkhish Kitab Ahkam Udhiyyab wa Ad-Dzakah Karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
🔊 Halaqah 01: Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

〰〰〰〰〰〰〰

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين وأفضل الصلاة وأتم التسليم على
نبينا هذا الآمين المبعوث في رحمة للعالمين و على آله و أصحابه أجمعين اما بعد

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ahlan wa Sahlan, kepada antum dan antunna semua.

In syā Allāh pada kesempatan kali ini kita akan sama-sama mempelajari beberapa hal yang berkaitan dengan keutamaan bulan Dzulhijjah dan apa saja yang berkaitan dengannya, demikian pula ibadah qurban.

▪︎ Keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Imam Al-Bukhāri meriwayatkan hadīts dari Ibnu Abbās dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ

“Tidaklah ada hari-hari

الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها

Di mana amal shalih di dalamnya

أَحَبُّ إِلَى اللَّه

Lebih dicintai oleh Allāh

مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ

Dibandingkan dari hari-hari ini

يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ

Yaitu hari-hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

“Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai oleh Allāh daripada amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

قال:

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟

“Wahai Rasūlullāh, amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu lebih dicintai oleh Allāh daripada jihad fīsabilillāh?”

قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Nabi mengatakan, “Meskipun jihad fīsabilillāh, tidak bisa menandingi amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ

Kecuali seorang laki-laki yang dia keluar berjihad dengan membawa jiwanya dan hartanya

فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dan dia tidak kembali dengan membawa jiwa dan hartanya”

Maknanya dia berjihad kemudian meninggal dunia (mati syahid) fīsabilillāh.

Maknanya adalah amal shalih yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah itu adalah amalan yang tidak bisa ditandingi dengan amal lain yang dilakukan di luar sepuluh hari tersebut.

Kecuali ditandingi dengan orang yang berjihad fīsabilillāh dengan harta dan jiwanya kemudian dia (mati syahid) fīsabilillāh.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemudian di dalam hadīts yang lain Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَفضل مِنْ أَيَّامَ الْعَشْرِ.

“Tidaklah ada hari-hari الْعَمَلُ الصَّالِحُ فيها di mana amal shalih di dalamnya افضل من ايام العشر lebih utama di bandingkan, apa? Amal yang dilakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah”.

Bulan Dzulhijjah lebih utama dan lebih dicintai oleh Allāh di sepuluh hari pertamanya, dibandingkan amal-amal yang dilakukan pada hari-hari yang lain dalam setahun.

Maka amal pada waktu tersebut (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah) walaupun pada asalnya tidak utama menjadi lebih utama, daripada amal yang dilakukan pada waktu-waktu yang lainnya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam hadīts yang tadi kita baca, baru keutamaan amal shalih di bulan Dzulhijjah, di sepuluh hari pertamanya itu bisa ditandingi tatkala seorang berjihad dengan jiwa dan hartanya dan dia tidak kembali.

Ini dikuatkan pula oleh sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala beliau ditanya. “Apakah jihad yang paling utama?”

Beliau menjawab:

مَنْ عُقِرَ جَوادُه، وأُرِيقَ دَمُه

“Seorang mujahid yang kudanya disembelih oleh musuh dan darah mujahid tersebut ditumpahkan sehingga dia gugur (mati syahid fīsabilillāh).”

Ada beberapa amal shalih yang bisa kita lakukan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, di samping amal-amal yang umum di sana ada beberapa amal-amalan khusus:

⑴ Puasa

Disebutkan di dalam Musnad dan Sunnan dari Hafshah radhiyallāhu ‘anhā.

إن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام عاشوراء، والعشر، وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ

“Adalah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak meninggalkan puasa di hari Asyura yaitu di bulan Muharram, dan puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan puasa tiga hari di setiap bulannya.”

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Di dalam riwayat yang lain, diriwayatkan dari salah seorang istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, disebutkan di sana:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يدع صيام تسع ذي الحجة

“Bahwasanya Nabi tidak pernah meninggalkan puasa sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah.”

Kenapa koq sembilan?

Karena tanggal sepuluh adalah hari raya Idul Adha dan para ulama kita ijma’ (sepakat) haram melakukan puasa di hari raya.

Sahabat BiAS yang senantiasa dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun puasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah yang pertama, itu diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mengatakan boleh, sebagian mengatakan yang disyari’atkan hanya puasa di tanggal 09 Dzulhijjah saja yang disebut dengan puasa Arafah.

Puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah sebelum Idul Adha, karena apa?

Karena di sana ada riwayat lain dari ‘Aisyah yang menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kecuali puasa Arafah bagi orang-orang yang tidak melaksanakan ibadah haji dan hukumnya sunnah.

Namun diriwayat yang lain, dari istri-istri Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang lain, menyebutkan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan puasa تسع (puasa sembilan) di bulan Dzulhijjah.

Para syurah (para pensyarah) Sunnan Abī Dawud mereka memberikan alasan lain yang dimaksud dengan تسع (puasa sembilan) adalah bukan berpuasa sembilan hari, tetapi berpuasa di tanggal 9 bulan Dzulhijjah yang disebut dengan puasa Arafah.

Syaikh Masyhur Hasan Ali Salman menyatakan, “Ini adalah masalah khilafiyyah العمر وَسِعَ (perkaranya luas), silahkan bagi yang ingin berpuasa sembilan hari, dan silahkan pula yang hanya ingin puasa di tanggal 9 Dzulhijjah”.

Syaikh Abdul Azīz bin Abdillah bin Baz menyatakan, “Salah satu bentuk penggabungan dua riwayat adalah bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ‘Sesekali beliau berpuasa sembilan hari dan sesekali beliau tidak melakukan puasa sebanyak sembilan hari’ “.

Ketika beliau melakukan puasa sembilan diketahui oleh sebagian istri beliau, kemudian istri beliau meriwayatkannya. Ketika beliau tidak sedang puasa diketahui oleh sebagian istri beliau dan sebagian istri menyatakan beliau tidak berpuasa.

Jadi yang di fatwakan oleh Imam Abdul Azīz bin Baz yang dilakukan oleh Nabi adalah beliau sesekali puasa sembilan hari, namun sesekali beliau tidak berpuasa sembilan hari (wallāhu ta’āla a’lam bishawab).

⑵ Memperbanyak Dzikir

Yaitu ditunjukkan oleh firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْلُومَـٰتٍ

“Dan agar mereka menyebut asma-asma Allāh pada hari-hari yang telah ditentukan.”

(QS. Al-Hajj: 28)

Hari-hari yang telah ditentukan adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Menurut jumhur (mayoritas para ulama) pembahasan tersebut dibahas oleh para ulama dengan pembahasan yang panjang lebar.

Kemudian diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhumā dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau bersabda:

ما مِن أيَّامٍ أَعظَمَ عِندَ اللهِ ولا أَحَبَّ إلَيهِ فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ.

“Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allāh

ولا أَحَبَّ إلَيهِ

Dan tidak dicintai amal di dalamnya

فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ

Dibandingkan hari-hari pertama di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah

فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ

Maka perbanyaklah oleh kalian di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah membaca kalimat tahlil (Lā ilāha illallāh لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) membaca takbir, dan membaca tahmīd.”

Di dalam kondisi biasa saja, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

لأنْ أقولَ : سُبحانَ اللهِ والحمدُ للهِ ولا إلهَ إلَّا اللهُ واللهُ أكبَرُ

“Aku membaca Subhānallāh, Walhamdulillāh, Lā ilāha illallāh, Allāhu akbar

أحَبُّ إليَّ ممَّا طلَعَتْ عليه الشَّمسُ

Lebih aku cintai daripada dunia dengan seluruh isinya.”

Itu di hari biasa, bagaimana di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah? Tentu akan lebih besar lagi pahalanya.

Dan para ulama kita mengatakan:

“Sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhān, malamnya lebih utama, dibandingkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, tapi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah siangnya lebih utama dibandingkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhān.”

√ Siangnya lebih utama bulan Dzulhijjah.
√ Malamnya lebih utama bulan Ramadhān.

Jadi kita bisa membayangkan betapa besar keutamaan yang dimiliki oleh sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan taufik kepada kita semua untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya.

Semoga bermanfaat.
Wallāhu ta’āla a’lam bishawab

〰〰〰〰〰〰〰

〰〰〰〰〰〰〰