Larangan Menyerupai Kaum Kafir (Bagian 2)

? BimbinganIslam.com
Jum’at, 13 Muharram 1438H / 14 Oktober 2016M
? Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
? Kitābul Jāmi’ | Bab Zuhud Dan Wara’
? Hadits 04 | Larangan Menyerupai Kaum Kafir (Bagian 2)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS03-FA-Bab03-H4-2
~~~~~~~~~
LARANGAN MENYERUPAI KAUM KAFIR (BAGIAN 2)
بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــــــــم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Kita lanjutkan penjelasan hadits yang ke-4:
“مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ”
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.”
(HR Imām Abū Dāwūd dalam Sunannya dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbān)
Hadits ini dibawakan oleh Ibnu Hajar rahimahullāh dalam kitab “Bulūghul Marām” dalam bab Zuhud Dan Wara’.
⇒ Mengisyaratkan kepada kita:
⑴ Agar kita berusaha meniru orang-orang yang hidupnya zuhud yaitu Nabi dan para shahābatnya.
⑵ Agar kita termasuk dalam golongan mereka.
⑶ Agar berhati-hati sekaligus peringatan agar kita tidak meniru orang-orang kafir dan fasik.
⇒ Yang hidup mereka jauh dari kezuhudan, yang seakan-akan kehidupan ini hanyalah dunia saja. Mereka menghabiskan waktu dan harta mereka untuk perkara yang sia-sia.
Maka kita jangan meniru-niru gaya hidup mereka.
Namun menjadi perkara yang menyedihkan yaitu kaum muslimin benar-benar meniru-niru gaya hidup orang-orang kafir, sampai-sampai dalam suatu hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:
“لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ ، فَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ ” ، قَالُوا : مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى ؟ قَالَ : ” فَمَنْ إِلا هُمْ ” .
Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti langkah/cara/gaya orang-orang sebelum kalian (orang-orang kafir; Yahudi dan Nashrani) sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta (sama persis) sampai seandainya mereka masuk dalam lubang “dhab” (kadal padang pasir) maka kalian akan ikut masuk.”
Kami (para shahābat) berkata, “Wahai Rasūlullāh, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”
Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”
(HR Muslim no. 2669)
#Dalam riwayat lain: Sebagaimana bulu anak panah yang satu dengan yang lainnya.
⇒ Apabila seseorang hendak membuat anak panah di belakangnya dikasih bulu, atau di depannya dikasih dua penyeimbang kanan dan kiri dan penyeimbang itu harus sama persis agar anak panah bisa lari dengan tepat. Seandainya tidak seimbang maka tidak akan tepat larinya, akan miring ke kanan atau ke kiri.
Jadi maksudnya adalah kalian akan meniru orang Yahudi atau Nasrani sebagaimana samanya penyeimbang anak panah, bulu yang kanan dan yang kiri, sama persis, sulit dibedakan mana yang kanan mana yang kiri.
⇒ Kita tahu, lubang dhab (kadal padang pasir) adalah lubang yang kecil (sempit) yang terdapat lubang masuk dan lubang keluar dan lubang itu kecil (tidak besar) sehingga sulit dimasuki manusia. Dan kata para ulama, kalau sudah masuk (tampak) lubangnya berkelak-kelok sehingga sulit untuk dimasuki manusia.
Orang yang masuk lubang dhab maka akan sulit: ⑴ lubangnya sempit, ⑵ lubangnya berkelok-kelok
Kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ini sebagai mubālaghah (perbandingan) karena tidak ada orang Yahudi dan Nasrani yang bisa masuk lubang tersebut, tetapi kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam “seandainya mereka masuk kalianpun akan mengikutinya”
⇒ Ini menunjukkan hirsh (semangat) kaum muslimin untuk meniru-niru orang-orang kafir dalam kehidupan, ini kenyataan menyedihkan yang kita lihat.
⇒ Model apa saja yang dilakukan oleh orang-orang kafir maka akan ditiru oleh kaum muslimin, (mulai dari) gaya, budaya, tradisi bahkan yang lebih parah adalah dalam hal beragama (tata cara beragama).
Oleh karenanya para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh  Allāh Subhānahu wa Ta’āla,
Hadist ini adalah hadits yang memberi peringatan dan juga memberi kabar gembira;
• Memberi peringatan agar tidak meniru-niru orang yang dibenci oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla seperti: orang kafir, orang yahudi, nasrani, orang fasik, orang fajir dan ahlul bida’.
• Sekaligus sebagai kabar gembira kepada kita agar meniru-niru orang yang dicintai oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yaitu orang shalih. Kita berusaha meniru mereka dalam banyak beribadah dan beristighfar.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Sesunguhnya seorang akan dikumpulkan oleh Allāh pada hari kiamat bersama orang yang dia cintai.”
(HR Tirmidzi)
Kalau kita mencintai orang shalih tentu kita akan meniru mereka dan gaya hidup mereka dan akan menghapalkan ucapan-ucapan mereka.
Maka, kita mengatakan:
✓Kita berusaha untuk mencintai Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mencintai Abu Bakar, Umar dan para Sahabat.
✓Kita berusaha meniru mereka, bertasyabbuh dengan mereka
✓Kita berharap termasuk ke dalam golongan mereka.
✓Dan kita berharap dikumpulkan dengan mereka pada hari kiamat.
Ingat perkataan Anas bin Mālik radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu:
“Sesungguhnya aku mencintai Nabi, mencintai Abu Bakar, mencintai ‘Umar dan aku berharap dikumpulkan bersama mereka meskipun aku tidak bisa beramal dengan mereka, karena kecintaanku kepada mereka aku dikumpulkan bersama mereka.”
Demikianlah para ikhwan dan akhwat.
وبالله التوفيق
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________
Info Program Cinta Sedekah Bulan ini :
1. Pendirian Rumah Tahfidz di 5 Kota
2. Membantu Operasional Radio Dakwah di 3 Kota
? Salurkan Infaq terbaik anda melalui
| Bank Syariah Mandiri Cab. Cibubur
| No. Rek : 7814500017
| A.N : Cinta Sedekah (infaq)
| Konfirmasi Transfer :
+62878-8145-8000
*_Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah_*
——————————————
larangan-menyerupai-kaum-kafir-bagian-2