Mahazi 38 adalah Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Mabit atau Bermalam di Muzdalifah

Halaqah 38 Beberapa Perkara dan Hukum Berkaitan Dengan Mabit atau Bermalam di Muzdalifah

Setelah tenggelam matahari pada Hari Arafah, Jemaah Haji berangkat meninggalkan Arafah menuju Musdalifah dengan tenang, tanpa menyakiti orang lain.

Apabila sudah sampai Musdalifah, hendaklah dia meyakinkan dirinya bahwa dia sudah berada di Musdalifah dan didalam batas-batasnya. Karena apabila sampai dia bermalam di luar Musdalifah berarti dia meninggalkan salah satu diantara kewajiban haji.

Batas-batas Musdalifah dilihat dari papan-papan besar yang tertulis awal Musdalifah dan akhir Musdalifah, dan juga dilihat dari lampu-lampu yang terang yang berada di Musdalifah.

Yang pertama dilakukan ketika seseorang sampai Musdalifah adalah shalat maghrib dan shalat Isya dijama’ qoshor dengan 1 adzan dan 2 iqomah, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, sama saja apakah dilakukan shalat maghrib dan isya tersebut ketika waktu shalat maghrib atau ketika waktu shalat isya. Dan tidak ada disana shalat apapun diantara shalat maghrib dan isya.

Apabila takut baru sampai Musdalifah setelah pertengahan malam maka shalat di perjalanan, dan tidak boleh dia mengakhirkan shalat sampai setelah pertengahan malam.

Termasuk kesalahan seorang jamaah ketika sampai Musdalifah dia langsung mencari kerikil. Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak dicarikan kerikil kecuali ketika beliau Shalallahu Alaihi Wassalam akan meninggalkan Musdalifah di pagi hari.

Tidak boleh melakukan thawaf ifadhah dan melempar jumroh aqobah sebelum pertengahan malam.

Orang yang meninggalkan Musdalifah sebelum pertengahan malam maka diharuskan membayar dam.

Setelah shalat isya, seseorang beristirahat sampai subuh dan tidak mengisi malam tersebut dengan ceramah atau mencari kerikil.

Malam tersebut tidak ada ibadah yang khusus kecuali shalat witir yang biasa dilakukan oleh seseorang di malam yang lain, maka boleh dia melakukan shalat witir karena tidak ada dalil yang melarang, dan dahulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tidak meninggalkan shalat witir baik ketika safar maupun ketika mukim.

Setelah terbit fajar maka dia shalat subuh diawal waktu, kemudian menyibukkan diri dengan dzikir dan doa sampai langit menguning sekali.

Ketika berdoa di Musdalifah disunnahkan untuk mengangkat kedua tangan.

Ust Abdullah Roy