Menjaga Muru’ah (Kehormatan)

Menjaga Muru’ah (Kehormatan)

Saat ini banyak orang yang sudah tidak peduli lagi dengan rasa malu, kehormatan dan harga dirinya.
Banyak muslim yang sudah tidak lagi memiliki muru’ah.
Apa saja yang dia suka, dia makan. Apa saja yang dia inginkan, dia lakukan. Apa saja yang dia maui, dia sikat.
Tak peduli halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka.
Yang penting dia senang dan bahagia, tentu berdasarkan kriteria hawa nafsunya.
Zina tak lagi dianggap nista.
Perkawinan sejenis tak lagi dianggap miris.
Mengumbar aurat tak lagi dinilai maksiat.
Pornografi-pornoaksi tak lagi dipandang tindakan jijik.
Riba tak lagi diakui sebagai dosa.
Korupsi sudah menjadi tradisi.
Suap-menyuap telah menjadi ‘adat-istiadat’.
Memberi  penguasa/pejabat hadiah sudah dianggap lumrah.
Melayani rakyat dipandang beban berat.
Sebaliknya, melayani pengusaha dan konglomerat dianggap tindakan terhormat.
Bahkan tunduk kepada pihak penjajah asing yang kafir pun dipandang mulia dan bermartabat.
Semua itu akibat penghambaan mereka kepada dunia dan hawa nafsunya belaka.
Inilah yang menjadikan mereka sudah lama kehilangan sikap muru’ah; hilang rasa malu, harga diri dan kehormatan mereka sebagaimuslim, bahkan sebagai manusia.
Orang yang telah hilang sikap muru’ah-nya dipastikan telah ‘hilang’ akalnya.
Dalam arti, dalam menjalani kehidupannya ia tidak lagi menggunakan akalnya yang sehat.
Perilakunya lebih banyak dikendalikan oleh hawa nafsu dan syahwatnya.
Karena itu, benarlah sabda Rasulullah SAW, sebagaimana dituturkan oleh Abdullah bin Umar ra,
“Kemuliaan seseorang itu ada dalam ketakwaannya. Kehormataan (muru’ah)-nya ada pada akalnya. Harga dirinya ada pada akhlaknya.”
(HR al-Baihaqi dan Ibn Hibban)