MENJAUHI HAL-HAL SYUBHĀT

BimbinganIslam.com
Selasa, 13 Dzulqa’dah 1437 H / 16 Agustus 2016 M
Ustadz Firanda Andirja, MA
Kitābul Jāmi’ | Bab Az-Zuhd Wal Wara’
Hadits 01 | Menjauhi Hal-Hal Syubhāt
⬇ Download Audio: https://goo.gl/peysa3
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MENJAUHI HAL-HAL SYUBHĀT

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān wa akhwāt, kita masuk pada hadits yang pertama dari Bab Az Zuhd wal Wara’.

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رضي الله تعالى عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُوْلُ -وَأَهْوَى النُّعْمَانُ بِإِصْـبَعَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-: “إِنَّ الْحَلالَ بَـيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّـبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِيْ الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الْحَرَامِ: كَالرَّاعِيْ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ: مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ: اَلْقَلْبُ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari shahābat Nu’mān bin Basyīr -semoga Allāh meridhai keduanya-, ia berkata:

Aku mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda-lantas Nu’mān memberi isyarat dengan kedua jarinya ke kedua telinganya-:

⇒ Menunjukkan beliau mendengar langsung hadits ini dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.

Dan di antara keduanya (antara haram yang jelas dan halal yang jelas) ada perkara-perkara yang musytabihāt (samar/rancu tentang haram dan halalnya).

Kebanyakan orang tidak mengetahui hakikat dari perkara yang rancu ini.

⇒ Apakah dia halal ataukah dia haram.
Barangsiapa yang menjauhkan diri dari syubhāt (perkara-perkara yang rancu) maka sungguh dia telah mensucikan agamanya dan harga dirinya.

Dan barangsiapa yang terjerumus dalam perkara-perkara yang syubhat maka dia akan terjerumus dalam perkara-perkara yang haram.

Sebagaimana penggembala yang dia menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah terlarang, dikhawatirkan hewan-hewannya akan masuk ke dalam daerah larangan tersebut.

Ketahuilah, bahwasanya setiap raja itu memiliki daerah larangan.
Ketahuilah, bahwasanya daerah larangan Allāh adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ketahuilah bahwasanya di dalam jasad itu ada segumpal daging.
Jika segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh jasad.
Dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh jasad.
Ketahuilah, dia adalah jantung.”

(HR Al Imām Bukhāri dan Al Imām Muslim, Muttafaqun ‘alayhi)

Ikhwan wa akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhanahu wa Ta’āla.

Hadits ini adalah hadits yang pertama yang dibawakan dalam bab Az Zuhd wal Wara’, menjelaskan akan pentingnya kita zuhud dan wara’.

Yaitu menjauhkan diri kita dari hal-hal yang diragukan akan kehalalan dan keharamannya.

■ PERKARA HALAL

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan (bahwa) ada perkara yang jelas kehalalannya, dan ini banyak seperti:

• Roti
• Buah-buahan
• Madu
• Susu dan makanan-makanan yang sudah jelas kehalalannya.
• Pakaian-pakaian yang boleh kita pakai.
• Masalah transaksi.

Dan yang paling banyak adalah perkara yang halal.

■ PERKARA HARAM

Perkara-perkara yang haram juga banyak yang jelas.

Contohnya seperti:
• Daging babi
• Minum khamr
• Memakai emas & sutra untuk lelaki
• Perbuatan perbuatan yang haram (zina, ghībah, namimah, dengki, hasad)
• Dan yang lainnya banyak juga perkara-perkara yang jelas keharamannya.

■ PERKARA SYUBHAT

Diantara keduanya ada perkara perkara yang diragukan tentang kehalalan atau keharamannya.

Dan kebanyakan orang tidak mengetahui hakikatnya apakah ini halal atau haram, karena mungkin:

• Perkaranya yang pelik.
• Ada khilaf dalam permasalahan tersebut.
• Perkara-perkara yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama tentang hakekatnya.
• Banyak yang tidak sadar kalau itu haram.
• Disangka itu haram (tapi) ternyata halal.

Namun para ulama yang rāsikhūna fil ‘ilmi (yang ilmu mereka kuat), mereka tahu hakikat perkara tersebut, halal atau haram.

Oleh karenanya, perkara ini perkara yang nisbi, tidak diketahui oleh banyak orang.

⇒ Ini menunjukkan, bahwa ada sebagian orang yang mengetahui hakikatnya (halal atau haram), yaitu para ulama.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan jalan keluar ketika kita bertemu perkara-perkara yang kita ragukan.

Caranya bagaimana?
Kita tinggalkan/jauhkan perkara yang meragukan tersebut, karena itu adalah perkara syubhat.

Inilah yang disebut dengan wara’ (yaitu) kita menjauhi perkara yang kita ragu tentang kehalalannya.

Karena apa?

◆ Karena barangsiapa yang menjauhkan diri dari perkara yang syubhat maka dia telah mensucikan agamanya dan harga dirinya.

Agamanya terjaga karena yang tidak jelas kehalalannya dia jauhi.
Apalagi yang haram, tentu lebih dia jauhi lagi.
Dia menjaga agamanya dan dia juga harga dirinya.

Dan sebaliknya, barangsiapa yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, dia lakukan (tetapi) dia tidak tahu itu halal atau haram, lama-lama mungkin bisa jadi:

⇒ Syubhat ke-1 ternyata hakikatnya halal.
⇒ Syubhat ke-2 yang dia tembusi juga hakikatnya halal.
⇒ Syubhat ke-3, ke-4, ke-5 dan ke-6 ternyata hakikatnya haram.

Ini sama seperti jika dia menggembalakan kambing di daerah terlarang.

Dimana di sekitar daerah terlarang adalah daerah syubhat karena dikhawatirkan kambingnya lepas kemudian masuk ke dalam daerah yang terlarang.

Demikian juga orang-orang yang senantiasa melakukan perkara-perkara yang syubhat, (maka) dikhawatirkan suatu saat akan terjerumus dalam perkara yang haram.

Oleh karenanya sifat wara’ mengkonseksuensikan kita untuk menjauhkan diri kita dari perkara perkara yang syubhat.

Karena ini akan menjatuhkan agama & harga diri kita dan suatu saat kita akan terjerumus ke dalam perkara yang haram.

Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di akhir hadits menyebutkan tentang masalah jantung, yang sering diterjemahkan dalam bahasa indonesia dengan masalah hati

⇒ Ini dalil bahwasannya perkara yang halal atau haram berkaitan dengan masalah hati kita.

Seandainya kita melakukan perkara yang haram dan kita menembus perkara-perkara yang syubhat maka ini akan berpengaruh dengan hati kita, hati kita akan kurang baik.

Kita harus menjaga hati kita.

Barangsiapa yang wara’, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang syubhat, maka dia telah menjaga kesucian hatinya

Dan kalau hatinya sudah baik maka niscaya akan berpengaruh kepada seluruh anggota tubuhnya.

والله أعلم بالصواب
______________

 

MENJAUHI HAL-HAL SYUBHĀT