MENJAWAB ADZAN dan DOA SETELAH MENDENGAR ADZAN

– – – – – – – 〜✽〜 – – – – – – –
MENJAWAB ADZAN
– – – – – – – 〜✽〜 – – – – – – –

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudry, Rasulullah saw pernah bersabda: “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin”.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda,
“Apabila muadzin mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka salah seorang dari kalian mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.”
~Kemudian muadzin mengatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah”, maka dikatakan, “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.”
~Muadzin mengatakan setelah itu, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, maka dijawab, “Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.”
~Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alash Shalah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.”
~Saat muadzin mengatakan, “Hayya ‘Alal Falah”, maka dikatakan, “La Haula wala Quwwata illa billah.”
~Kemudian muadzin berkata, “Allahu Akbar Allahu Akbar”, maka si pendengar pun mengatakan, “Allahu Akbar Allahu Akbar.”

Di akhirnya muadzin berkata, “La Ilaaha illallah”, ia pun mengatakan, “La Ilaaha illallah”
Bila yang menjawab adzan ini mengatakannya dengan keyakinan hatinya niscaya ia pasti masuk surga.”
(HR. Muslim no. 848)

Setelah itu berdoa :

للَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ

Allahuma rabbahadhihiddawatitammati washsalatil qoimah ati muhammadal wasyiilata wal faaaaadhiilata wab ashu maqoman mahmuudalladzii wa adtahu

“Ya Allah, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah Al-Wasilah (derajat di Surga) dan keutamaan kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan.”
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat Baihaqi pada akhir do’a tersebut ditambahkan:

إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ “

“Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji”.
Tambahan ini adalah lemah, riwayatnya syadz (ganjil), jangan diamalkan.

(copas dari KTQS Bandung)

Leave a Reply