Menutupi Aib

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw beliau bersabda: “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim : 4692)

Manusia terlahir dalam bentuk jasmani dan rohani, jasmani adalah bentuk tampilan luar dan rohani adalah sisi bagian  dalamnya, keduanya berpotensi melakukan kebaikan dan keburukan, semuanya sangat tergantung kepada kemauan dan usaha untuk selalu berada dalam kebaikan atau sebaliknya.

Pada zaman sekarang, dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi dan hampir terjadi pada setiap keadaan, rasanya sulit untuk mendapatkan orang atau sahabat yang bisa dipercaya untuk menjaga ‘rahasia’, mereka yang selalu dekat dan mendapat ‘hidayah’ dariNya sajalah yang akan ‘menggenggam’ kencang ‘rahasia’ saudaranya.

“INNAHUU ‘ALAA ROJ’IHII LAQOODIR, YAUMA TUBLA as-SAROOIR, FAMAA LAHUU MIN QUWWATIN WALAA NAASHIRIN”

(sesungguhnya Allah benar2 kuasa untuk mengembalikannya, pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia kekuatan dan penolong).

Hadits  ini menjanjikan kepada orang2 yang menutupi ‘aib’ saudaranya akan mendapatkan perlakuan yang sama dari Allah pada hari kiamat nanti, saat dibuka semua ‘rahasia’ dan tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuatan buat menutupinya lagi juga tak ada penolong baginya.

Membuka aib saudaranya adalah bentuk perbuatan ‘pengkhianatan’, Nabi saw sangat menekankan ummatnya untuk menjaga nama baik saudaranya dan itu termasuk sebuah keutamaan akhlak. Sayangnya, banyak orang yang malahan merasa puas dan bangga ketika ‘membuka’ aib saudaranya, temannya atau bahkan pasangan hidupnya (na’adzu billahi).

Hampir setiap hari, di televisi dipenuhi dengan tontonan para ‘budak dunia’ yang saling membuka ‘aib’ saudaranya, bahkan menjadi konsumsi publik, bukan hanya satu atau dua orang yang menjadi tahu, tetapi ratusan juta pasang mata dan telinga mengetahuinya.

Zaman memang sudah semakin ‘rusak’ dan tidak ‘bermoral’, kepentingan dunia telah mengabaikan kepentingan akhirat, sehingga semua yang salah dan diharamkan sudah tidak dihiraukan lagi, bahkan anehnya sebagian kita ‘terjebak’ dan menikmati informasi yang merupakan aib bagi orang lain melalui infotainment dan berbagai bentuk pemberitaan di televisi, para pelakunya hanya mementingkan kebahagian pribadi, padahal banyak airmata yang membasahi pipi akibat ulahnya, ada dada-dada yang sesak tak terperi lantaran aibnya dibuka didepan khalayak ramai, dan bila melihat hadits ini maka bisa dibayangkan bagaimana ‘pedih’ dan ‘sakit’ perlakuan Allah nantinya terhadap orang2 tersebut, yang telah membuka aib saudaranya. Naudzubillah.

Biarlah, memang begitulah kehidupan, tak mesti semua menjadi baik, tetapi yang pasti, siapa yang MENABUR ANGIN maka pasti akan MENUAI BADAI.

Simpan saja segala aib saudaramu, agar banyak aibmu yang ditutupi olehNya di dunia ini dan setelahnya, karena seperti yang kau lakukan terhadap saudaramu maka demikianlah Dia akan memperlakukanmu.

Wallahu A’lam Bisshowab

Dari ustadz Syarif Matnadjih

Foto dari New Collection


berdoalah-berdoalah-berdoalah

Leave a Reply