Niat Puasa Ramadhan

 

Niat Puasa Ramadhan

Jika meniatkan puasa sebulan maka itu sah sah saja. Namun jika tiap malam kita niat untuk puasa besok, maka itu lebih afdhol. Dgn bangun untuk bersahur saja sudah berniat utk shaum hari itu.

Niat ada didalam hati. Tidak perlu diucapkan. Karena niat adalah amalan hati.

Perhatikan pendapat 3 ulama as-syafi’iyah ttg niat :
“Niat dalam semua ibadah adalah hati…dan tidak disyaratkan dilafalkan”. (Abdul Hasan Al Mawardi as-Syafi’iyah, Imam Nawawi, Imam Abu Bakr ad-Dimyati as-Syafi’i)

Kita seharusnya bisa memahami apa itu amalan lisan dan apa itu amalan hati.

Niat yg didalam hati inilah yg akan menentukan ikhlas dan tidaknya suatu amalan maka ia bisa merupakan ibadah yg diterima Allah atau ditolak lantaran niat yg salah.

Fungsi niat menurut fiqh:
1. Membedakan antara adat kebiasaan dan ibadah.
Contoh: Beda antara puasa untuk tujuan operasi (kata dokter) Dan puasa ibadah (karena Allah)

2. Membedakan antara amalan ibadah satu dan lainnya. Contoh : Puasa sunnah pada hari senin dan puasa qodho’ yg bertepatan dihari senin.

Perbedaan kedua shaum ini  cuma dalam niat. Niat adalah kesadaran atas apa yg akan dilakukan.

Ibnu Taimiyyah mengatakan : “setiap org yg tahu (dan sadar) bahwa esok hari adalah Ramadhan dan dia ingin berpuasa, maka dia telah berniat berpuasa”. (Majmu Fatawa 6:79)

Tidak ada lafadz atau bacaan niat yg dicontohkan nabi. Hadits palsupun tidak ada, apalagi yg shahih.

Salah satu contoh lafadz niat dari beberapa lafadz niat yg ada :
“Nawaitu Shauma Ghadin An Ada’i Fardhi Sahri Ramadhana Hadzihis Sanati Lillahi Ta’Ala”.

Ini bukan dari nabi Saw, tapi karangan orang saja, tidak ada susunan kalimat niat yg diajarkan Nabi saw, tidak ada di kitab manapun. Tidak perlu diamalkan, karena Nabi tidak melakukannya dan mencontohkannya.

Salam !

Copas dari KTQS Bandung

Leave a Reply