NIKMAT ALLAH SWT

NIKMAT ALLAH SWT

“Wa idz ta adzdzana rabbukum lain syakartum la aziidannakum wa lain kafartum inna ‘adzaabii la syadiid.”
“Dan (ingatlah juga) tatkala Allah memaklumkan; sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
[QS.Ibrahim 7]

“Fabbi ayyi alaa i rabbikuma tukadz-dziban”.
“Maka ni’mat Tuhanmu manakah yang kau dustakan ?” [Ar Rahmaan]

Kita membahas tentang ni’mat (blessing) dari Allah SWT yang tak mungkin dapat kita hitung.

Sering kali kita hanya melihat apa yang tidak kita miliki dan lupa dengan ni’mat yang kita miliki. Ketika kita berkata, saya tak punya sepatu. Kita tak sadar bahwa ada orang yang bahkan tak punya kaki.

Ada dua macam keni’matan: ni’mat lahir (zahir) dan ni’mat batin.

Ni’mat lahir dapat dengan mudah kita ketahui, seperti ni’mat rezeki yang Allah berikan, ni’mat menjadi Muslim dan Mu’min, dll.
Namun ni’mat batin mungkin kita lupa. Antara lain ni’mat dalam bentuk ditutupnya aib dan perbuatan buruk kita oleh Allah SwT khususnya yang hanya diketahui oleh kita sendiri atau pasangan kita. Bayangkan sekiranya ni’mat batin ini tidak ada, apakah berani kita menghadapi masyarakat ramai yang tahu seluk beluk dan keburukan kita ?
Segala puji bagi Sattaral ‘Uyub, Yang Menutupi aib kita.

Menurut Imam Muhammad Baqir, ni’mat lahir adalah ni’mat atas diberikannya hidayah kepada kita untuk bertauhid dan mengimani Nabi Muhammad (Syahadat). Sementara ni’mat batin berupa petunjuk dalam menerima pedoman dari Al Quranul Karim dan Khalifah Rasulullah.

Ada tiga hal penting agar kita termasuk orang yang beruntung dalam hubungannya dengan ni’mat Allah SwT ini, yaitu :

Pertama, mengetahui dan menyadari (recognizing) ni’mat Allah SwT,

Kedua, men-syukuri (thankful, grateful) ni’mat dan karunia Allah SwT,

Ketiga, berbagi ni’mat dan karunia Allah SwT (sharing) dengan makhluk Allah lainnya.

Ada sebuah kisah yang mungkin berguna untuk menjadi renungan kita tentang ni’mat yang kita terima dari Allah SWT :

Suatu saat Nabi Daud A.S. berdo’a dan bertanya kepada Allah SwT tentang siapa yang akan menjadi tetangganya di surga.
Allah berfirman: “Orang yang pertama engkau temui hari ini.”
Nabi Daud A.S. dalam perjalanannya ke hutan berjumpa dengan seorang tukang kayu yang baru saja mengumpulkan kayu bakar untuk dijual ke pasar. Nabi Daud berpikir keras apa benar sang tukang kayu ini yang akan menjadi tetangganya di Surga nanti.

Beliau meminta izin untuk bertandang ke rumah tukang kayu untuk mengetahui lebih lanjut. Sang tukang kayu menyanggupi namun memohon maaf untuk pergi dahulu menjual kayunya ke pasar. Uang penjualannya kemudian ia belikan terigu yang selanjutnya ia bakar di rumah untuk menjadi roti yang siap dihidangkan kepada Nabi Daud A.S.

Sebelum mereka mulai makan, sang tukang kayu berdo’a dan bersyukur kepada Allah SwT :
“Ya Allah, terima kasih dengan telah Engkau ciptakannya alam semesta. Hamba bersyukur di dunia yang jadi bagian alam semesta itu Kau tumbuhkan hutan dan pepohonan. Aku bersyukur karena Engkau ciptakan matahari yang mengeringkan pohon yang kutebang itu. Aku berterima kasih Kau beri aku kesehatan dan kekuatan badan untuk menyiapkan dan membawa kayu bakar itu dari hutan ke pasar. Aku syukuri adanya makhluk-Mu yang lain yang menjadi pembeli kayu bakarku. Aku berterima kasih atas rezeki-Mu dengan adanya uang dari pembeliku untuk membeli tepung terigu. Aku bersyukur Kau beri aku tangan yang dapat membuat terigu itu menjadi roti. Dan, ya Allah, terima kasih atas jari-jariku yang Kau ciptakan sehingga aku dapat menjemput makanan dengannya dan memasukkannya ke mulutku”. Lalu baru ia mulai makan rotinya.

Melihat itu semua, Nabi Daud berdiri, menghampiri dan memeluk sang tukang kayu, seraya berkata, “Masya Allah. Sekarang aku mengerti mengapa Allah SwT menjadikanmu tetangga dan sahabatku di Surga.”

Ternyata cara sang tukang kayu berdo’a men-syukuri ni’mat Allah SwT inilah yang menjadikan dirinya sebagai insan yang luar biasa dan membawanya ke tempat yang sangat mulia …

Sahabatku, “Maka ni’mat Tuhanmu manakah yang kau dustakan ?”
Sudahkah kita men-syukuri ni’mat-NYA dengan benar ??

Semoga bermanfaat …