NISFU SYA’BAN

KTQS # 1036

NISFU SYA’BAN

NISFU artinya pertengahan, maka malam Nisfu Sya’ban adalah malam tgl 15 Sya’ban yaitu tgl 14 Sya’ban Malam (malam ini).

Benarkah ada tuntunan dari Rasulullah saw? Mari kita kaji…

Sesungguhnya Aisyah ra berkata, “Aku tidak pernah sekali pun melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali (pada) bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau (banyak berpuasa) dalam suatu bulan kecuali bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada kebanyakan hari di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari: 1868 dan HR. Muslim: 782)

“Banyak berpuasa” yg dimaksud adalah puasa sunnah, senin kamis, daud, yaumil bidh.

Adapun pengkhususan hari-hari tertentu pada bulan Sya’ban untuk berpuasa, dzikir, doa atau qiyamul lail, seperti pada malam Nisfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya lemah bahkan palsu. Di antaranya adalah hadits:

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yg minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yg meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yg diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah: 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman: 3/378)

Hadits ini adalah hadits maudhu’/palsu, karena ada perawi pendusta yaitu Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yg memalsukan hadits”. ( Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132)

Maka dari sini kita ketahui bahwa hadits tentang fadhilah (keutamaan) menghidupkan malam Nisfu Syaban dan berpuasa di siang harinya tidaklah sah dan tidak bisa dijadikan hujjah/dalil. (Lihat Fatawa Lajnah Da’imah: 4/277, fatwa no. 884)

Kesimpulan : Amalan-amalan khusus tertentu pada malam nisfu sya’ban bukan dari ajaran Rasulullah Saw.

 

Salam !

copas dari KTQS