Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 45 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Ketiga

Halaqah 45 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Ketiga

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-45 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan,

وفي الصحيح:

Di dalam Ash-Shahih

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته جاهلية

_barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah_, memisahkan dari jamaah nya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabatnya yang mereka berada diatas jalan yang lurus, _شبرا meskipun hanya sejengkal kemudian dia meninggal_
Dan tidak kembali ke jalan yang lurus tadi / tidak bergabung kembali kepada jamaah nya Rasulullāh ﷺ & juga para shahabat sebelum dia meninggal dunia, _فميتته جاهلية maka meninggalnya dia adalah (sifatnya) Jahiliah_

Dan bukan berarti disini dia meninggal dalam keadaan kafir (diluar agama Islām), karena mufarroqotu jamaah sudah kita sebutkan ada bermacam², terkadang meninggalkan jamaah atau berpisah dengan jamaah meninggalkan atslul Islām / meninggalkan Islām yang merupakan jalan ini & dia adalah sesuatu yang membatalkan keIslāman nya maka meninggalnya disini adalah meninggal dalam keadaan kafir, kalau memang dia memisahkan dari jamaah tersebut dengan sesuatu yang membatalkan keIslāman.

Tapi kalau mufaroqoh nya disini / meninggalkan jamaah disini melakukan sesuatu yang tidak sampai membatalkan keIslāman dia, bid’ah yang tidak mukafiro atau kemaksiatan, kemudian dia meninggal dunia maka meninggalnya adalah meninggal Jahiliah tapi tidak sampai kepada keluar dari agama Islām.

Dan segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Jahiliah ini adalah perkara yang tercela karena dia adalah bertentangan dengan Islām & sesuatu yang bertentangan dengan Islām ada bermacam², ada yang memang bertentangan secara Ushul, Islām menyeru pengesaan kepada kepada Allāh ﷻ di dalam Ibadah kemudian Jahiliah menyeru kepada menyekutukan Allāh ﷻ, maka ini jelas bertentangan dengan fatslul Islām, ini mengeluarkan seseorang dari agama Islām. Tapi disana ada sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, seperti kemaksiatan & juga bid’ah yang tidak mukafiro maka ini bukan sesuatu yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Syahidnya kenapa disini Beliau mendatangkan lafadz ini karena diantara bentuk mufaroqotul jamaah adalah memberikan nama kepada dirinya selain dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepadanya, semuanya yang ada disini memberikan kepada mereka nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada mereka, muslimin mukminin ibadallāh.

Ternyata dia lebih memilih nama² yang lain selain nama muslimin mukminin ibadallāh, maka ini termasuk mufaroqotu Al Jamaah, karena seluruh jamaah yang ada disini jamaahnya Rasulullāh ﷺ & seluruh yang ada diatas jalan yang lurus nama mereka adalah nama yang Allāh ﷻ berikan kepada mereka.

Maka jika masih memilih nama yang lain, tidak kembali kepada Islām berarti dia termasuk orang yang mufaroqotu Al Jamaah, akibat nya jika dia meninggal dunia maka dia meninggal dunia dalam keadaan sifat kematiannya adalah sifat Jahiliah, Jadi sifat yang tercela dengan perincian yang tadi disebutkan, tapi disini jika hanya sekedar berbeda penisbatan kemudian pelanggaran yang ada di dalamnya (disana ada pelanggaran) tetapi tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām maka jahiliah disini adalah jahiliah yang tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām, tapi jika dia mengajak kepada nama selain Islām ditambah lagi ajaran yang ada di dalamnya yang dia seru adalah ajaran yang merupakan satu diantara pembatal keIslāman maka _mitatuhu Jahiliah_ jahiliah disini sampai maknanya mengeluarkan dia dari agama Islām.

Jadi jahiliah disini umum, bisa jahiliah yang mengeluarkan seseorang dari agama Islām bisa jahiliah tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām dan semuanya dinamakan dengan Jahiliah.

Misalnya menjadikan orang yang sholeh yang sudah meninggal sebagai perantara, termasuk pembatal keIslāman & dia termasuk perkara jahiliah. Ta’asub terhadap orang tua, suku tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, terkadang ada ta’asub terhadap kesukuan, ta’asub terhadap negaranya termasuk perkara jahiliah tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Jadi jahiliah jangan langsung di pahami setiap yang jahiliah berarti mengeluarkan seseorang dari agama Islām, harus ada perincian disana.

Berarti disini ada ancaman yang lain yaitu meninggal dalam keadaan jahiliah & termasuk mufaroqotul jamaah adalah menamakan dirinya dengan selain Islām dan juga Iman selain hamba Allāh ﷻ.

Hadits Ini diriwayatkan Bukhori & juga Muslim dari Abdullah Ibnu abbas , di dalam shahih Muslim juga dari Abdullah Ibnu Abbas.

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً».

Dalam shahih Muslim

«مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ فمِيتَةً جَاهِلِيَّةً».

Ini lafadz yang ada di shahih bukhori & Muslim, adapun disini disebutkan famitatuhu jahiliyatun & makna nya sama.

Kenapa beliau mendatangkan lafadz ini, makna mufaroqotu jamaah diantara bentuknya adalah memberikan nama dengan nama yang bukan diberikan oleh Allāh ﷻ, ini termasuk menyelisihi jamaah mereka semua menamakan diri dengan muslimin, mukminin ibadallāh tapi dia sendiri menisbahkan bukan kepada Islam, iman & juga Ibadallāh maka ini termasuk mufaroqotu jamaah yang ancamannya jika dia meninggal dunia maka mitatun jahiliyyah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 44 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua Bag 03

Halaqah 44 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-44 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda

ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم

_Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliah_
Yang dimaksud dengan seruan jahiliah adalah seruan selain seruan kepada agama Islām, Islām & jahiliah ini adalah bertolak belakang satu dengan yang lain.

Segala sesuatu yang menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām dinamakan dengan Jahiliah, menyeru kepada selain Islām maka ini menyeru kepada Jahiliah.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

_Apakah mereka mencari hukum jahiliah_

Jadi yg dimaksud dengan Jahiliah adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām, dakwah jahiliah berarti seruan untuk mengajak manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan agama Islām yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

ومن دعا بدعوى الجاهلية

Barangsiapa yang menyeru kepada seruan jahiliah.

Diantaranya misalnya dia menisbahkan diri kepada sesuatu yang bukan kembali kepada Islām diantaranya adalah
Pertama, menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām, Islām mengajarkan kita beriman dengan Nama & sifat Allāh ﷻ kemudian dia menyeru kepada pengingkaran kepada Nama & juga Sifat Allāh ﷻ, Islām mengajarkan kita untuk tidak menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk kemudian dia menyeru kepada penyerupaan Nama dan sifat Allāh ﷻ terhadap makhluk

Maka ini masuk kedalam sabda Nabi ﷺ

فإنه من جثى جهنم

Dia termasuk جثى جهنم yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam

Dan ini adalah ancaman bagi orang yang menyeru kepada dakwah jahiliah, menyeru kepada sesuatu yang bertentangan dengan Islām.

Bisa maknanya kalau dia menyeru kepada sesuatu yang membatalkan keIslāman berarti جثى جهنم menjadi orang yang kafir & dia kekal di dalam neraka, tapi kalau yang dia seru dia adalah jahiliah bertentangan dengan agama Islām tetapi tidak sampai kepada pembatal keIslāman maka dia terancam dengan masuk kedalam Neraka, dan kalau dia seorang muslim maka dia kelak akan keluar dari Neraka dan akan masuk kedalam Surga.

Jadi جثى جهنم apakah dia kekal atau tidak kekal dilihat dari dakwah jahiliah yang dia serukan, apakah Jahiliah disini sampai membatalkan keIslāman dia atau tidak.

فقال رجل يا رسول الله: وإن صلى وصام؟

Maka seorang laki-laki mengatakan _Ya Rasulullāh, meskipun orang tersebut shalat & juga puasa?
Dia shalat, melakukan 5 shalat waktu, berpuasa di bulan Ramadhan tapi sayang diwaktu yang sama dia mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Islām.

قال: وإن صلى وصام،

_Meskipun dia orang yang shalat & berpuasa_

Menunjukkan bahwasanya disana terkadang ada orang yang secara dzhohir, shalat bersama kita melakukan shalat 5 waktu dan juga berpuasa di bulan Ramadhan tapi dia mengajak kepada aliran yang sesat, mengajak kepada kemaksiatan, kebidahan.

فادعوا بدعوى الله الذي سماكم

Maka hendaklah kalian mengajak / memanggil dengan panggilan Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ namakan kalian dengannya.

Berarti

ومن دعا بدعوى الجاهلية

Bisa juga diartikan _Barangsiapa yang memanggil dengan panggilan jahiliah_ bisa diartikan yang pertama menyeru kepada selain Islām atau yang kedua memanggil dengan panggilan selain agama Islām, panggilan jahiliah selain Islām, selain Iman, selain hamba Allāh ﷻ maka balasannya adalah dia termasuk jama’ahnya jahanam yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam.

Apa nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, Al Muslimin wal Mu’minin Ibadallāh, diantaranya adalah muslimin atau orang² yang beriman atau hamba² Allāh ﷻ, atau mengatakan

يا عباد الله اوصيكم ونفسي بتقوى الله

atau mengatakan ayyuhal muslimin, ma’asyirol mu’minin dan seterusnya, kita memanggil mereka dengan nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, ketika beliau mengatakan – فادعوا – maka ini adalah perintah & perintah asalnya adalah wajib, berarti wajib bagi kita untuk memberikan nama diri kita dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan.

Kemudian yang sebelumnya ancaman orang yang menyeru dengan seruan jahiliah atau memanggil dengan panggilan jahiliah bukan dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita bahwasanya dia adalah – من جثى جهنم – dan جثى artinya adalah jama’at, جثى جهنم maksudnya adalah jamaah nya jahanam. Ini menunjukkan tentang larangan menyeru dengan seruan jahiliah, memberi nama dengan nama² Jahiliah,
Apa yang dimaksud dengan nama² jahiliah : nama² dimana Wala dan Baro tidak kembali kepada Islām itu sendiri tapi kembali kepada negara, orang, kembali kepada organisasi, ormas, suku, itu dinamakan dengan دعوى الجاهلية bukan dakwah Islām.

Berarti hadits ini jelas menunjukkan kepada kita tentang bab yang disebutkan oleh muallif tentang celaan keluar dari dakwah Islām, keluar dari nama² Islām, ini adalah perkara yang diharamkan, wajib bagi kita untuk tetap berada di dalam nama Islām, jangan membuat nama² sendiri & ini adalah termasuk bagian dari menyerahkan diri kita kepada Allāh ﷻ.

Selain kita menyerahkan diri di dalam masalah aqidah, menyerahkan diri di dalam Ibadah, tidak beribadah kecuali dengan cara yang Allāh ﷻ ajarkan kepada kita melalui lisan Nabi Nya, menyerahkan diri dengan akhlak, demikian pula dengan masalah Nama, jangan kita mencari nama yang lain, kita mencukupkan diri dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, Muslimin, mukminin, ibadallāh, kalau tidak demikian maka kita telah menyelisihi perintah Nabi ﷺ yang mengatakan

فادعوا بدعوى الله

Dan dikhawatirkan masuk kedalam ancaman Nabi

ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم.

Awalnya adalah dari nama yang tidak disyariatkan di dalam Islām akhirnya menyeret manusia kepada perkara yang lebih jauh dari itu, awalnya diawali dari sebuah nama yang tidak disyariatkan.

رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad & juga ath Tirmidzi & dia adalah dikatakan oleh Al Imam ath Tirmidzi حديث حسن صحيح.
Syaikh Al Albani beliau menshahihkan hadits ini, Al Imam ath Tirmidzi mengatakan حديث حسن صحيح.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 43 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua bag 02

Halaqah 43 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-43 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda

فإنه من فارق الجماعة قيد شبر

Ketika beliau menyebutkan tentang masalah Al Jamaah, perintah untuk kumpul & bersatu diatas Islām, maka beliau menyebutkan tentang ancaman orang yang memisahkan diri dari jama’ahnya Rasulullāh ﷺ yang mereka berkumpul diatas jalan yang satu

فإنه من فارق الجماعة قيد شبر

Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah meskipun hanya sepanjang 1 jengkal

فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

_Sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya_

إلا أن يراجع

_kecuali dia mau kembali_

Yang dimaksud dengan – ربقة – asalnya adalah tali yang digunakan untuk mengikat unta & dengannya seseorang bisa mengatur unta tersebut, menyeretnya kemanapun kita inginkan, biasanya ada dileher unta atau yang semacamnya, ini dinamakan – ربقة – selama kita pegang tali tersebut Maka kita masih bisa mengatur dengan baik hewan tersebut tapi kalau kita lepas – ربقة – tadi yang ada pada leher hewan tadi maka dia akan pergi, berpisah dengan kita.

Maka barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah Nabi ﷺ meskipun hanya 1 jengkal maka sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya, maka menunjukkan tentang peringatan dari memisahkan diri dari Jamaah Rasulullāh ﷺ.

Dan mufarroqoh disini ada 2 makna, mufarroqoh sampai dia meninggalkan ajaran Nabi ﷺ yang menjadikan dia keluar dari Islām seperti misalnya orang yang melakukan syirik yang besar atau melakukan 1 diantara pembatal² keIslāman, mufarroqoh jenis ini tentunya dia sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām

Tapi disana ada mufarroqoh yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, seorang melakukan kebidahan ghoiro mukaffiro atau dia melakukan kemaksiatan maka ini termasuk jenis mufarroqoh tapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām.

Yang dimaksud dengan Jamaah adalah jama’ahnya Rasulullāh ﷺ, jangan kita maknai sendiri, kemudian menamakan jamaah kita adalah yang dimaksud di dalam hadits ini, membuat sebuah jamaah kemudian menganggap bahwasanya seluruh hadits yang disitu ada kalimat jamaah berarti itu adalah jamaah nya, barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah kemudian dia langsung menafsirkan jamaah kita ini berarti dia telah melepaskan ikatan Islām dari lehernya, kemudian mengkafirkan selain jama’ahnya. Jamaah yang ada di luar sana juga menganggap jamaah disini adalah jamaah mereka dan mereka juga mengeluarkan orang lain dari Islām karena tidak mengikuti jamaahnya mereka.

Dan pemahaman yang benar bahwasanya jama’ah disini adalah jama’ahnya Rasulullāh ﷺ yang mereka berada diatas jalan yang lurus, maka barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah tersebut sungguh dia telah melepaskan tali keIslāman dari lehernya & tali keIslāman disini mungkin yang dia lepaskan adalah Ushul diantara Ushul² Islām atau yang dia lepaskan dia adalah sesuatu yang merupakan kesempurnaan di dalam agama Islām bukan termasuk Ushul nya, karena Al Islām itu sendiri ada arkan dan dia memiliki furu’ nya. Kalau yang dia tinggalkan adalah satu diantara perkara yang merupakan Ushulul Islām kemudian dia melakukan 1 diantara pembatal² keislaman maka ini yang dia lepaskan adalah seluruh keIslāman itu sendiri, tapi kalau yang dia lepaskan adalah bagian dari Islām tetapi tidak sampai membatalkan keIslāman dia berarti yang dia lepaskan adalah bukan Ushulnya tapi adalah bagian dari Islām yang tidak sampai mengeluarkan dia dari agama Islām apabila dia melepaskan 1 unsur tadi.

إلا أن يراجع

Kecuali dia dalam keadaan mau bertaubat & kembali kepada Islām.

Mungkin kembali kepada Ushul Islām berarti dia kembali Muslim setelah murtadnya atau dia kembali menyempurnakan Islām, pokok Islām nya masih hanya ada kekurangan di dalam Islāmnya kemudian dia bertobat maka akan kembali sempurna lagi keIslāman dia yang sebelumnya berkurang dengan sebab kebidahan, dengan sebab kemaksiatan yang dia lakukan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 42 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 42 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Kedua

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-42 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau rahimahullah mengatakan

عن الحارث الأشعري رضي الله عنه عن النبي ﷺ أنه قال: آمركم بخمس الله أمرني بهن السمع، والطاعة، والجهاد والهجرة، والجماعة. فإنه من فارق الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه، إلا أن يراجع. ومن دعا بدعوى الجاهلية فإنه من جثى جهنم. فقال رجل يا رسول الله: وإن صلى وصام؟ قال: وإن صلى وصام، فادعوا بدعوى الله الذي سماكم المسلمين والمؤمنين عباد الله
رواه أحمد والترمذي وقال: حديث حسن صحيح

Dari Harits Al Asy’ari semoga Allāh ﷻ meridhoi beliau bahwasanya Rasulullāh ﷺ bersabda: Aku memperintahkan kalian dengan 5 perkara & Allāh ﷻ telah memerintahkan aku dengan 5 perkara tersebut, perkara yang pertama & kedua adalah mendengar & taat dan berjihad, dan Allāh ﷻ juga memerintahkan diriku (dan ini adalah perintahku untuk kalian) yaitu untuk berhijrah & yang kelima adalah Al Jamaah, maka barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah meskipun hanya 1 jengkal maka dia telah melepaskan ikatan Islām dari lehernya kecuali dia dalam keadaan mau bertaubat & kembali kepada Islām & barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyah maka dia termasuk جثى جهنم yaitu orang² yang masuk kedalam Jahanam

Maka seorang laki² mengatakan Ya Rasulullāh meskipun orang tersebut shalat & juga berpuasa?_meskipun dia adalah orang yang shalat & berpuasa. Maka hendaklah kalian memanggil dengan panggilan Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ telah menanamkan kalian dengan panggilan tersebut, Al Muslimin wal Mu’minin Ibadallāh diantaranya adalah muslimin atau orang² yang beriman atau hamba² Allāh ﷻ.
Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad & juga ath Tirmidzi & dia adalah dikatakan oleh Al Imam ath Tirmidzi حديث حسن صحيح.
Syaikh Al Albani beliau menshahihkan hadits ini, Al Imam ath Tirmidzi mengatakan حديث حسن صحيح.

Beliau mengatakan

عن الحارث الأشعري رضي الله عنه

Dari Al-Harits Al Asy’ari رضي الله عنه

عن النبي ﷺ أنه قال قال: آمركم بخمس الله أمرني بهن:

_aku memperingatkan kalian dengan 5 perkara & 5 perkara tadi Allāh ﷻ telah memerintahkan aku dengan 5 perkara tersebut_
Kemudian beliau sampaikan ini kepada umat beliau & ini menunjukkan tentang kedudukan 5 perkara tersebut, Allāh ﷻ perintahkan ini kepada Nabi-Nya & Allāh ﷻ juga perintahkan ini kepada umat-Nya.

السمع، والطاعة،

Perkara yang pertama & kedua adalah mendengar & taat.

Yang dimaksud adalah mendengar & taat kepada penguasa, ini menunjukkan tentang kedudukan – السمع، والطاعة – di dalam agama Islām, mendengar dan taat kepada penguasa didalam agama Islām, Allāh ﷻ yang memerintah kepada Nabi-Nya sebagaimana Allāh ﷻ memerintahkan kepada kita (Umat Nya) karena di dalam mendengar dan taat kepada pemerintah dan juga penguasa ini ada maslahat yang besar bagi rakyat, dan sebaliknya di dalam pemberontakan, tidak mendengar dan juga tidak taat kepada penguasa maka ini ada mudhorot bagi rakyat.

والجهاد

Dan berjihad

Maka Allāh ﷻ memerintahkan kepada Nabi-Nya sebagaimana Allāh ﷻ juga memerintahkan kepada umat beliau ﷺ, untuk berjihad fisabilillah, berjihad berperang fisabilillah dengan menggunakan harta & juga dengan jiwanya.

والهجرة والجماعة

Dan Allāh ﷻ juga memerintahkan kepada diriku & ini adalah perintah ku untuk kalian yaitu untuk berhijrah & sudah berlalu pengertian hijrah ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul, berpindah dari negeri kesyirikan menuju negeri Islām kalau memang disana ada sebabnya maka disyariatkan disana untuk berhijrah & sudah berlalu pembagian hukum hijrah menjadi 2, wajib & juga mustajab. والهجرة ini adalah perintah Allāh ﷻ kepada Nabi Nya dan dia juga adalah perintah Nabi ﷺ untuk kita semuanya.

والجماعة

Dan yang kelima adalah Al Jamaah.

Dan makna Al Jamaah adalah Al Ijtima, kita diperintahkan untuk bersatu & yang dimaksud adalah bersatu diatas Islām bersatu diatas kitabullah, ini adalah perintah Nabi ﷺ untuk kita semuanya diantaranya adalah perintah untuk berijtima/bersatu, berpegang dengan jamaahnya Rasulullāh ﷺ & tidak keluar dari jamaah beliau ﷺ, yang terdiri dari orang² yang berpegang teguh dengan agama beliau ﷺ, berpegang teguh dengan sunnah beliau ﷺ .

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 41 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama Bag 02

Halaqah 41 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-41 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Allāh ﷻ telah menamakan kita & menamakan orang² sebelum kita yang mereka adalah orang² yang meng Esa kan Allāh ﷻ di dalam ibadah sebagai muslimin, maka cukupkan dengan nama tersebut, jangan kita memilih nama yang lain, karena Allāh ﷻ sudah memberi nama kita dengan nama tersebut .

Di dalam penamaan Allāh ﷻ tentunya disana adalah penanaman yang paling baik, Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan kita dengan nama tersebut & tidak sembarangan Allāh ﷻ memberikan nama. Oleh karena itu keluar dari nama ini yaitu nama Islām atau nama yang tidak kembali kepada makna Islām maka ini termasuk ketidaksempurnaan di dalam keislaman seseorang.

Bahkan memberi nama kita dengan Muslimin atau dengan nama yang kembali makna nya kepada Islām ini adalah hukumnya wajib. Tidak boleh seseorang keluar dari nama selain nama Islām, sebagaimana Allāh ﷻ telah menanamkan kita dengan Muslimin maka itulah yang kita jadikan nama, jangan kita keluar dari selain nama tersebut kemudian membuat nama² yang lain yang mubtadaah yang mungkin nama nya dilihat dari lafadz nya tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam agama Islām demikian pula isinya bahkan tidak sesuai & tidak mencerminkan agama Islām itu sendiri.

Seandainya seseorang yang diamalkan adalah amalan Islām dari awal hingga akhir tapi dia tidak memberikan nama kepada dirinya sendiri dengan nama yang Allāh ﷻ berikan, tidak kembali dengan makna Islām maka ini adalah perkara yang diharamkan. Apalagi selain nama & nisbah tidak sesuai dengan Islām & tidak kembali kepada nilai² Islām ternyata isinya juga bertentangan dengan agama Islām maka ini – ظلمات فوق زلمة (kegelapan diatas kegelapan) .

Jadi keharusan kita adalah isinya sesuai dengan Islām penamaannya juga harus sesuai dengan Islām, itu yang Allāh ﷻ inginkan dari kita. Jangan kita mencari nama yang lain, kita berikan kepada diri kita sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, muslimin, mukminin, ibadallah, orang-orang yang beriman atau orang² Islām atau hamba² Allāh ﷻ, ini semua kalau dilihat maka kembali kepada satu makna atau nama² yang lain yang kembali kepada nilai² Islām itu sendiri.

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا

Dia lah Allāh ﷻ yang telah menanamkan kalian dengan Muslimin, sebelum ini, yaitu yang ada di dalam kitab² sebelumnya Allāh ﷻ menamakan umat² sebelumnya adalah muslimin juga -وَفِي هَذَا – dan di dalam Al Qur’an ini Allāh ﷻ menamakan kita sebagai muslimin.

Maka ini adalah dalil tentang wajibnya menamakan diri sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, karena nama ini jelas ada pengaruhnya kepada diri seseorang & Allāh ﷻ sekali lagi memberikan nama kepada kita dengan Muslimin mukminin ibadallāh pasti disana ada hikmahnya.

Allāh ﷻ pilih diantara sekian banyak nama, kemudian Allāh ﷻ memilih nama² tersebut. Nama ini berpengaruh dengan kejiwaan, dengan amalan seseorang, ketika diberi nama dengan Muslimin & kita mengetahui dengan maknanya muslimin berarti menyerahkan diri, berarti kita sebagai seorang yang muslim harus menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ secara total, kami dinamakan dengan mukminin yaitu orang² yang beriman maka kalau orang yang beriman konsekuensinya adalah demikian & demikian, kita harus percaya, harus beramal, harus beriman dengan takdir, beriman dengan hari akhir & jika beriman kita harus beramal.

Atau dinamakan dengan ibadallāh berarti kita adalah hamba Allāh ﷻ, yang namanya hamba harus beribadah kepada Al Ma’bud, taat kepada-Nya bukan membangkang, membenarkan apa yang Dia ucapkan & bukan mendustakan apa yang Dia ucapkan, mengikuti Rasul yang Dia utus, bukan membangkang kepada Rasul yang Dia utus. Itu adalah pengaruh dari sebuah nama kepada kejiwaan seseorang.

Maka Allāh ﷻ memberikan nama kepada kita dengan muslimin, mukminin, ibadallāh, tentunya disana ada hikmah, ada pengaruh terhadap diri kita maka jangan kita mencari nama yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 40 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama

Halaqah 40 | Bab 06 Tentang Keluar dari Penamaan Islam – Pembahasan Dalil Pertama

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-40 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

باب ما جاء في الخروج عن دعوى الإسلام

Ini adalah bab yang keenam yang didatangkan oleh Mualif di dalam kitab beliau fadhlul Islām.

Setelah beliau menyebutkan beberapa bab yang penting tentang masalah Islām,

Bab tentang keutamaan Islām,
Bab Wujubul Islām,
Bab Tafsiril Islām
Bab tentang kebatilan selain agama Islām

Dan kita telah mengambil bab yang kelima yaitu Bab وجوب الاستغناء بمتابعته الكتاب عن كل ما سواه. Bab tentang kewajiban untuk merasa cukup dengan mengikuti Al Qur’an dari segala sesuatu selain Al Qur’an & maksud dari penyebutan Al Qur’an mencakup di dalamnya adalah Sunnah Rasulullāh ﷺ.

Semakin kesana semakin jelas tentang makna Islam yang dibawa beliau rahimahullah & bahwasanya termasuk konsekuensi dari keIslāman kita adalah merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Islām, merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga Sunnah & meninggalkan segala sesuatu selain agama Islām ini.

Maka di dalam bab yang keenam beliau ingin menyampaikan kepada kita bahkan tentang masalah nama / penyandaran / penisbatan, termasuk diantara konsekuensi dari keIslāman kita adalah kita menisbahkan diri kita / memberikan nama diri kita dengan nama² yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita. Kalau sebelumnya seseorang dia di dalam Islām tetapi memakai nama² yang lain, bangga dengan nama² tersebut padahal itu semua adalah isinya bertentangan dengan agama Islām, mungkin namanya Islām tapi isinya bertentangan dengan agama Islām, atau memang aslan nama tersebut adalah nama yang tidak kembali kepada agama Islām itu sendiri.

Maka termasuk kesempurnaan keIslāman kita & konsekuensi dari keIslāman kita, kita lepas baju² yang tidak ada kaitannya dengan Islām & kita merasa cukup dengan nama yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kita, kita adalah muslim, kita adalah orang yang beriman, kita adalah hamba Allāh ﷻ atau nama² yang lain yang kalau dicermati Itu kembali kepada agama Islām (Itu tidak masalah).

Tapi kalau sampai kita masih taasub & fanatik bukan dengan Islām, Taasub & fanatik terhadap sukunya- negeri nya- yayasan nya/organisasi nya kemudian membangun loyalitas dan juga berlepas diri berdasarkan itu semua. Misalnya kalau sesama suku kita cintai diluar suku tidak dicintai meskipun dia berada diatas kebenaran, kalau berasal dari negara kita dicintai/loyal kepada nya kalau tidak kita berlepas diri, kalau sesama Yayasannya/organisasinya maka wala kepadanya tapi jika diluar organisasinya meskipun dia adalah muslim menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ maka dia berlepas diri. Maka ini bukan termasuk Islām seseorang.

Bahkan termasuk keIslāman seseorang adalah dia harus melepas itu semua & menjadi Wala dan juga Baro nya ini kepada Islām, berbaju dengan baju Islām memberikan nama kepada dirinya sesuai dengan nama yang Allāh ﷻ berikan kepadanya.

Beliau mengatakan disini

باب ما جاء في الخروج عن دعوى الإسلام

Bab tentang apa² yang datang yaitu dalil² yang datang di dalam masalah keluar dari dakwah Al Islam, penyebutan Al Islam. Maksudnya adalah ancaman, kalau disini berbicara tentang Al khuruj keluar nya dari sebutan Islām menggunakan nama² yang lain, menggunakan nama diambil dari Imam nya, atau diambil dari ajaran nya yang dengannya dia menyelisihi ajaran Islām.

Berarti disini – الخروج عن دعوى الإسلام – disini tercela kalau itu tercela maka – ما جاء – disini apa yang datang minal Wa’id berupa ancaman. Dalil² disini adalah ancaman. Beliau mengatakan

وقوله تعالى: هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا [الحج: 78].

Mendatangkan firman Allāh ﷻ _Dia lah yang telah menamakan kalian sebagai Al Muslimin sebelumnya & di dalam Al Qur’an_

Kelengkapan dari ayat ini firman Allāh ﷻ dalam surat Al Hajj

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Naam

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

Dialah Allāh ﷻ telah menyelamatkan kalian (setiap orang yang menyembah kepada Allāh ﷻ saja) sebagai muslimin sebelumnya,

Yaitu semenjak sebelumnya yaitu sebelum kita / sebelum umatnya Rasulullāh ﷺ yang di dalam kitab² sebelumnya, Allāh ﷻ menamakan setiap hamba Allāh ﷻ yang meng Esa kan Allāh ﷻ dinamakan sebagai muslimin, sebagaimana sudah berlalu ketika kita menyebutkan bagaimana dakwah Nabi Sulaiman

واعيني مسلمين

_hendaklah kalian datang kepadaku dalam keadaan muslimin_

Dan Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan,

إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
QS Yunus 89

Dan Allāh ﷻ mengatakan kepada Ibrahim

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

QS Al Baqarah 131-133

Demikianlah Allāh ﷻ menamakan orang² sebelum kita, para hamba Allāh ﷻ yang mereka meng Esa kan Allāh ﷻ di dalam ibadah dinamakan dengan Muslimin

وفي هذا

Demikian pula di dalam Al Qur’an orang yang menyembah Allāh ﷻ saja maka dinamakan sebagai seorang muslimin.

Allāh ﷻ mengatakan

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ

Dan ini di dalam Al Qur’an, Dia-lah yang menamakan kalian sebagai الْمُسْلِمِينَ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 39 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Bag 03

Halaqah 39 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-39 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Di dalam Sunan Ad Darimy, disini disebutkan,

جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مَرَرْتُ بِأَخٍ لِي مِنْ بَنِي قُرَيْظَةَ

Berarti beliau melewati seorang Yahudi dari Quraidzhoh,

فَكَتَبَ لِي جَوَامِعَ مِنْ التَّوْرَاةِ

maka dia menuliskan beberapa kalimat² yang jawami’ di dalam Taurat.

أَلَا أَعْرِضُهَا عَلَيْكَ

Maukah aku bacakan ini kepadamu,

قَالَ فَتَغَيَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَقُلْتُ لَهُ أَلَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا قَالَ فَسُرِّيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَصْبَحَ فِيكُمْ مُوسَى ثُمَّ اتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظِّي مِنْ الْأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنْ النَّبِيِّينَ

Adapun Syaikh Al Albani rahimahullah maka beliau memandang bahwa Hadits ini adalah Hadits yang Hasan. Beliau mengatakan disini (beliau menyebutkan syawahidnya disini sehingga beliau menghukumi hadits ini sebagai hadits yang hasan sebagaimana dalam misykatu al mashabih dengan sebab adanya syawahid tersebut yang menguatkan hadits ini). Wallahu a’lam hadits ini adalah hadits yang hasan sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah.

Ikhwani wa rahimakumullah

Bab ini jelas menunjukkan kepada kita tentang wajibnya mencukupkan diri dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga di dalam Sunnah Rasulullāh ﷺ & ini mencakup hal² yang berkaitan dengan berita² dari apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga Hadits maka itulah yang kita cukupkan, perincian² yang mungkin disebutkan di dalam kitab sebelumnya yakinlah bahwasanya apa yang ada di dalam Al Qur’an dan hadits itu sudah cukup. Mungkin di kitab sebelumnya disebutkan tentang berapa hari terjadinya banjir, apakah air, air tersebut yang asin atau tawar misalnya.

Disana ada beberapa perkara yang mungkin tidak disebutkan di dalam Al Qur’an dan ada di dalam kitab sebelumnya maka kita katakan kita cukupkan diri dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga di dalam Sunnah ﷺ berupa akhbar, kalau Allāh ﷻ mengabarkan sesuatu kemudian Allāh ﷻ tidak memberi tahukan kepada kita tentang sesuatu maka kita cukupkan diri dengan apa yang Allāh ﷻ kabarkan, itu sudah cukup untuk keselamatan kita, keimanan kita, sudah cukup, tidak perlu kita takalluf / membebani diri dengan sesuatu yang tidak kita mampu, kemudian berusaha untuk mencari² kemudian berusaha untuk mengotak atik dengan akalnya atau dengan sumber yang lain, yang disitu seakan² dia tidak merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan apa yang ada di dalam As Sunnah, seperti yang dilakukan oleh sebagian yang mungkin mencari² sesuatu yang sebenarnya cukuplah kita dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an.

Tentang misalnya beberapa tahun lagi umat Islām ini masih ada, kita sekarang berada disini dan sebentar lagi akan demikian² kemudian mengotak atik dan seterusnya maka ini termasuk takalluf, yang demikian cukup dengan firman Allāh ﷻ

يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

Cukup Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui kapan terjadinya As Sa’ah & kewajiban kita adalah mempersiapkan saja sebagaimana di dalam Hadits, Nabi ﷺ ditanya oleh sebagian shahabat

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ عَنِ السَّاعَةِ فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟

Ya Rasulullāh kapan terjadinya hari Kiamat?

Maka Nabi ﷺ mengarahkan penanya ini dengan sesuatu yang lebih penting dari pada sibuk dengan kapan hari kiamat (kita sudah diakhir zaman, kurang berapa tahun lagi dan seterusnya), maka beliau mengarahkan kepada sesuatu yang lebih penting daripada itu beliau mengatakan,

قَالَ: وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟

_apa yang sudah engkau persiapkan?_

Engkau bertanya tentang kapan terjadinya As Sa’ah, apa yang sudah engkau persiapkan? Ini yang lebih penting.

As Sa’ah akan terjadi dalam waktu dekat atau tidak itu akan terjadi tapi apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapi hari tersebut .

Maka ini termasuk praktek dari merasa cukup dengan apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga apa yang ada di dalam as Sunnah & ini banyak juga bukan hanya di dalam masalah akhbar tapi juga di dalam masalah ibadah, di dalam masalah hukum² maka kita harus yakin bahwasanya masalah halal dan juga haram apa yang ada di dalam Al Qur’an dan juga Sunnah ini sudah cukup untuk mengetahui mana yang halal mana yang diharamkan sehingga tidak perlu seseorang mencari² dari yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post navigation

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 38 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Bag 02

Halaqah 38 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-38 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan rahimahullah

وفي رواية: لو كان موسى حياً ما وسعه إلا اتباعي

_Seandainya Musa dalam keadaan hidup maka tidak luas bagi beliau kecuali mengikuti diriku_.

Kalau yang

ولو كان موسى حياً واتبعتموه وتركتموني ضللتم

Yang dibicarakan disini Umat nya, seandainya Musa hidup, kalian kemudian ikut beliau dan meninggalkan Muhammad maka kalian sesat.

Adapun

لو كان موسى حياً ما وسعه إلا اتباعي

Yang dibicarakan disini adalah Musa, seandainya beliau hidup maka kewajiban dia adalah mengikuti Muhammad ﷺ.

Oleh sebab itu beliau mengatakan – وفي رواية – di dalam riwayat yang lain (sebagaimana diatas) berarti bisa dikatakan ini adalah sisi yang keempat.

Seorang Nabi saja seandainya dia hidup sekarang maka kewajiban dia adalah mengikuti Nabi ﷺ & mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Musa meskipun dia yang diturunkan kepadanya Taurat jika bertemu dengan Nabi ﷺ maka dia harus tinggalkan Taurat & beriman dengan Nabi ﷺ mengikuti syariat beliau ﷺ, itu Musa alaihissallam yang memiliki Taurat ini yang lembaran nya sedang engkau bawa ini, seandainya dia masih hidup sekarang maka tidak luas bagi beliau kecuali mengikuti diriku.

Jika Nabi nya saja yang diturunkan kepadanya Taurat wajib bagi dia mengikuti Nabi ﷺ & mencukup kan diri dengan apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ berupa Al Qur’an dan Sunnah lalu bagaimana dengan pengikut nya, & orang yang tentunya derajat lebih rendah daripada beliau maka tentunya ini lebih harus mencukupkan diri dengan apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

فقال عمر: “رضينا بالله رباً، وبالإسلام ديناً، وبمحمد ﷺ رسولاً”

Maka Umar mengatakan setelah mendengar ucapan Nabi ﷺ _kami ridho Allāh ﷻ sebagai Rabb kami & kami ridho Islām adalah agama bagi kami & kami ridho Muhammad ﷺ adalah Rasul bagi kami_

Ini adalah ucapan Umar RadhiyAllāhu Anhu ketika mendengar nasihat & ucapan dari Nabi ﷺ.

Beliau mengatakan disini diriwayatkan oleh an Nasaii. Dan kalau kita melihat di dalam sunan an Nasaii tidak kita temukan yang demikian, Hadits ini diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad di dalam Musnad nya & di sini disebutkan

عن عمر بن الخطاب عن النبي ﷺ بكتاب أصابه من بعد أهل الكتب فقرأه على النبي ﷺ فغضب

Datang kepada Nabi ﷺ yang beliau dapatkan kitab tersebut dari ahlul Kitab, karena beliau mungkin dalam peperangan atau yang lain, maka Nabi ﷺ membacanya kemudian beliau marah, di dalam Nuskhoh ini yang membaca Nabi ﷺ dan ini tidak mungkin karena beliau ﷺ ummi, dan kedua disini ada marah karena tidak mungkin beliau ﷺ yang baca beliau yang marah ﷺ, yang benar yang membaca adalah Umar bin Khattab sebagaimana hadits yang lain

بكتاب أصابه من بعد أهل الكتب فقرأه على النبي ﷺ

Maka dia membaca di depan Nabi ﷺ

فغضب

Maka Nabi ﷺ marah yang demikian

فقال أم متهفون فيها يا ابن الخطاب

Kemudian beliau ﷺ mengatakan ucapan ini

والذي نفسي بيده لقد جئتكم فيها بيضاء نقية لا تسألهم عن شيء فيخبركم بحق فتكذب به أو بباطل فتصدق به والذي نفسي بيده لو أن كان موسى حيا ما وسعه إلا أن يتبني

Ini di dalam Musnad Al Imam Ahmad.

Ucapan beliau – و غيره – berarti beliau juga tahu bahwasanya Hadits ini diriwayatkan oleh yang lain juga, diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal di dalam Musnad beliau.

Hadits ini didhoifkan oleh sebagian namun Syaikh Al Albani rahimahullah beliau menghasankan, demikian pula yang menta’liq Musnad Ahmad juga menghasankan hadits ini. Syuaib al-Arnauth mengatakan isnadnya dhaif. (…)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām-Halaqah 37 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Radhiyallohu ‘Anhu

Halaqah 37 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua Hadits Riwayat Imam An Nasai Dari Sahabat Jabir Radhiyallohu ‘Anhu

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-37 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Untuk menunjukkan wajibnya mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah yang merupakan dasar agama Islām, beliau mendatangkan 1 ayat & 1 Hadits yang disini dikatakan oleh beliau – روى النسائي وغيره – diriwayatkan oleh Al Imam an Nasaii & juga yang lain.

عن النبي ﷺ: أنه رأى في يد عمر بن الخطاب رضي الله عنه ورقة من التوراة،

Diriwayatkan oleh Al Imam an Nasaii & juga yang lain dari Nabi ﷺ , bahwasanya Beliau ﷺ melihat ditangan Umar bin Khattab ada 1 lembar dari Taurat.

Bukan Taurat sempurna tapi dia adalah 1 lembar dari Taurat, Maka Nabi ﷺ berkata kepada Umar bin Khattab

أمتهوكون يا ابن الخطاب؟

Apakah kalian dalam keadaan bingung wahai Umar bin Khattab?
Sehingga masih membaca kitab seperti ini, kitab yang sudah di nashk oleh Al Qur’an & seluruh kebaikan kalau memang disitu ada Wahyu maka kebaikan tersebut ada di dalam Al Qur’an -تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ –

لقد جئتكم بها بيضاء نقية،

Sungguh aku telah datang kepada kalian dengannya (dengan syariat ini, dengan Islām ini) dalam keadaan putih bersih,

Ini adalah sesuatu yang sangat jelas & terang, jelas memberikan petunjuk kepada manusia tidak ada di dalamnya ghumuh (sesuatu yang samar) sehingga perlu untuk mencari kejelasannya di dalam Taurat atau Injil. Tidak ada yang samar sehingga jangan ada diantara kalian mengatakan perlu kita mencari penjelasannya di dalam Taurat & juga di dalam Injil, seandainya seseorang selama hidupnya memeluk agama Islām & tidak pernah membaca Taurat & juga Injil maka itu sudah mencukupi baginya, karena Nabi ﷺ telah datang kepada kita dengan sesuatu yang sangat jelas terang benderang.

Ucapan beliau

أمتهوكون يا ابن الخطاب؟

Ini adalah pertanyaan yang sifatnya pengingkaran, apakah Hamza di sini adalah hamazatul Istifham (pertanyaan), tapi ada diantara pertanyaan yang maksudnya adalah pengingkaran,

_apakah kamu bingung wahai Umar bin Khattab?_

Ini adalah mengingkari beliau , kenapa melakukan nya demikian…
Pengingkaran disini menunjukkan tentang wajibnya mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah, karena Beliau ﷺ mengingkari, mengingkari kenapa masih memegang Taurat/lembaran dari Taurat.

Pengingkaran beliau menunjukkan tentang wajibnya mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah, ini syahidnya dari hadits yang mulia ini. Ditambah lagi beliau mengatakan

لقد جئتكم بها بيضاء نقية

Menyebutkan tentang keutamaan apa yang Beliau ﷺ bawa, keutamaannya adalah jelas & terang benderang, ini juga menguatkan keharusan untuk mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Ditambah sisi yang ketiga, beliau menyebutkan tentang akibat orang yang tidak mengikuti Sunnah beliau

لو كان موسى حياً

Seandainya Musa – حياً – dalam keadaan sekarang ini masih hidup

واتبعتموه

Kemudian kalian mengikuti beliau, mengikuti Taurat yg beliau bawa

وتركتموني

_Kemudian kalian meninggalkan diriku_
Padahal beliau juga Nabi, Nabi Muhammad ﷺ juga Nabi

ضللتم

Niscaya kalian akan sesat.
Disini sisi yang ketiga, orang yang tidak mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan Sunnah, setelah kedatangan Nabi ﷺ maka pasti dia akan sesat, menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Al Qur’an dan Sunnah mengikuti Nabi ﷺ yang telah membawa Al Qur’an dan Sunnah tadi, berarti ini juga menunjukkan tentang kewajiban mencukupkan diri tadi.

Dari lafadz ini ada 3 sisi yang dengannya kita mengetahui tentang kewajiban mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah yang dibawa oleh Nabi ﷺ,

1. Ucapan beliau

أمتهوكون يا ابن الخطاب؟

Ini adalah pengingkaran. Pengingkaran kepada Umar Ibnu Khattab yang saat itu membawa lembaran Taurat & pengingkaran ini tentang wajibnya mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan Sunnah.

2. Sifat Al Qur’an dan juga Sunnah yang disebutkan oleh beliau bahwasanya dia adalah – بيضاء نقية – terang benderang, disini ada isyarat dari beliau untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah yang terang benderang tadi yang tidak ada kesamaran di dalamnya.

3. Kabar dari beliau seandainya kita meninggalkan beliau ﷺ dan mengikuti seorang Nabi sebelum beliau ﷺ niscaya ini akan menjadikan kita tersesat, padahal itu seorang Nabi, lalu bagaimana seandainya yang dia ikuti bukan seorang Nabi.

Seorang Nabi saja setelah diutusnya Nabi ﷺ, kalau kita masih mengikutinya maka kita tersesat, mengikuti Taurat yang asli misalnya, Injil yang asli misalnya seandainya dia ada kemudian selama hidup berpegang dengan Taurat & Injil tadi setelah kedatangan Nabi ﷺ maka kita dinamakan orang yang sesat & ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Post

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Halaqah 36 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Pembahasan Dalil Pertama QS An Nahl 89

Halaqah 36 | Bab 05 Mencukupkan Diri Dengan Mengikuti Alquran dan Sunnah – Pembahasan Dalil Pertama QS An Nahl 89

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-36 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan 1 ayat & 1 hadits untuk menunjukkan tentang wajibnya mencukupkan diri dengan Al Qur’an dan juga Sunnah yang merupakan dasar agama Islām.

Beliau mengatakan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

[النحل:89] An Nahl }

Dan Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) sebagai penjelas untuk segala sesuatu

Menunjukkan kepada kita bahwasanya di dalam Al Qur’an adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia di dalam kehidupan dia, kebahagiaan dia di dunia maupun di Akhirat.

Allāh ﷻ mengatakan – تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ – sebagai penjelas terhadap segala sesuatu, apa yang kita perlukan yang mendekatkan diri kita kepada surga dan dijauhkan dari neraka sudah diterangkan di dalam Al Qur’an, dia adalah kitab yang sempurna & di dalamnya telah dijelaskan segala sesuatu.

Hanya saja tidak semua orang mengetahui tentang kesempurnaan Al Qur’an tersebut. ada diantara mereka sesuai dengan ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepadanya bisa mengetahui dari sebuah ayat bahwasanya dia mengandung demikian & demikian, dan faedah ini tidak diketahui oleh yang lain, yang jelas Allāh ﷻ sudah mengabarkan bahwasanya di dalam Al Qur’an itu ada penjelasan terhadap segala sesuatu.

Jika memang itu sudah sempurna berarti seluruh kebaikan yang kita perlukan ada di dalam Al Qur’an, seandainya itu ada di dalam Taurat, Injil atau di dalam Weda atau Tripitaka ketahuilah bahwasanya itu sudah ada di dalam agama Islām. Kalau memang itu sebuah kebaikan maka itu ada di dalam agama Islām, lalu untuk apa kita mencari kebaikan tersebut di dalam kitab yang lain di dalam agama yang lain, kalau memang itu sudah ada di dalam agama Islām.

Seperti itu juga tentang masalah mengambil kebaikan dari ahlu bid’ah, ketahuilah bahwasanya seluruh kebaikan yang kita perlukan itu sudah ada di dalam ahli Sunnah, karena Ahlul Sunnah berpegang teguh kepada – القرءان تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ – dan berpegang kepada Sunnah Nabi ﷺ yang diwariskan oleh Nabi ﷺ

بيضاء نقية ما مامن شيء يقرب من الجنة ويباعد عن النار إلا وقد بين لكم

Oleh karena itu seluruh kebaikan yang kita perlukan di dalam dunia & agama kita ada di dalam agama Islām, ada di dalam Sunnah Nabi ﷺ.

Seandainya seseorang mengatakan itu aliran ada kebaikannya, mereka semangat di dalam ibadah, dakwah, amal ma’ruf nahi mungkar, ketahuilah sebenarnya kebaikan itu ada di dalam agama Islam, kalau kita urutkan kebaikan tersebut maka akan kembali kepada Al Qur’an dan juga hadits.

Oleh karena itu tidak perlu seseorang mengikuti seluruh aliran, kita ambil baiknya dan ditinggalkan kejelekannya, kalau mereka memiliki kebaikan ketahuilah bahwasanya Ahlussunah sudah ada, tidak perlu kita mengikuti aliran² tersebut, kalau masih demikian berarti dia masih bingung/belum sadar bahwasanya di dalam Ahlussunah sendiri mereka berpegang dengan sesuatu yang sempurna, semua kebaikan ada di dalam Ahlusunnah.

Jadi kebaikan² yang ada di dalam aliran² tersebut pasti ada di dalam diri Ahlussunah, adapun kebaikan yang ada di dalam Ahlusunnah belum tentu ada pada diri mereka.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته