Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 17

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 17 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Al-Masyi’ah dan Al-Iradah Allāh ﷻ QS Al-Kahfi Ayat 39, Al-Baqarah Ayat 253, Al-An’am Ayat 125, Dan Al-Maidah Ayat 1

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kita berpindah kepada ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Masyi’ah dan juga Al-Irodah.

Syaikhul Islam beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Didalam surah Al-Kahfi ketika ada hiwar/pembicaraan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir, satunya beriman kepada Allāh ﷻ dan hari akhir yang satunya tidak beriman kepada adanya hari akhir dan dia kufur dengan nikmat Allah ﷻ, Allāh ﷻ mengatakan

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Seandainya ketika engkau masuk جَنَّتَكَ yaitu kebunmu, قُلْتَ مَا شَاء engkau mengatakan Masya Allāh, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, Masya Allāh di sini adalah artinya apa-apa yang dikehendaki oleh Allāh ﷻ artinya Hādza Masya Allāh ﷻ ini adalah dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Ketika dia melihat kebunnya yang luar biasa sifatnya, yang sangat menyejukkan mata harusnya dia mengatakan Masya Allāh ﷻ, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang memberikan rezeki, Allāh ﷻ yang menghidupkan, Allāh ﷻ yang menyuburkan, Allāh ﷻ yang menjadikan dia berbuah, harusnya dia mengatakan Masya Allāh ﷻ ini dengan kehendak Allāh ﷻ, لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ dan mengatakan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allāh ﷻ, yaitu Allāh ﷻ lah yang memberikan kekuatan kepada kita.

Berarti di sini ucapan مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ isinya adalah mensifati Allāh ﷻ dengan Masyi’ah, Allāh ﷻ memiliki Masyi’ah, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, tidak terjadi dengan sendirinya. Ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan seluruh yang terjadi di permukaan bumi adalah dengan kehendak Allāh ﷻ

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ

Apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi, apa yang terjadi di seluruh permukaan bumi baik berupa penciptaan zat maupun penciptaan sifat makhluk-Nya maupun apa yang dilakukan terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ. Adanya kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan apa yang kita lakukan adalah dengan kehendak Allāh ﷻ bahkan kehendak kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
[QS At-Takwir 29]

Tidaklah kalian menginginkan kecuali Allāh ﷻ yang menghendaki.

Artinya keinginan kita dan kehendak kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, inilah makna kehendak kita itu di bawah kehendak Allāh ﷻ, masyi’atu makhluq taḥta masyi’atillāh

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Dan apa yang Allāh ﷻ tidak kehendaki tidak akan terjadi. Maka ketika kita melihat nikmat yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, kita katakan Masya Allāh, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Kita sandarkan nikmat yang Allāh ﷻ berikan ini kepada Allāh ﷻ, jangan kita sandarkan kepada diri kita sendiri, ini adalah dengan kepandaianku dalam bertani, ini adalah kecerdasanku dalam bisnis, ini adalah pengalamanku dalam bekerja selama dua puluh tahun, ini adalah kepandaianku dalam mengatur manusia sehingga negara atau daerah dalam keadaan demikian aman dan seterusnya, tidak, itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ.

لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allāh ﷻ. Kita bisa, kita mampu dan kita memiliki kekuatan adalah dengan pertolongan Allāh ﷻ, kalimat yang indah yang diucapkan oleh orang yang beriman yang dia mengakui bahwasanya nikmat yang ada pada dirinya itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, Alhamdulillah, kalau Allāh ﷻ tidak memudahkan niscaya dia tidak akan mendapatkan yang demikian.

Seandainya ketika engkau masuk dan melihat kebunmu engkau mengatakan demikian, menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia memiliki sifat Masyi’ah kita, makhluk juga memiliki sifat masyi’ah, apakah ketika kita menetapkan sifat Masyi’ah bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk, tidak, Masyiatullah sesuai dengan Kesempurnaan-Nya dan masyi’ah kita sesuai dengan kekurangan kita. Kita memiliki masyi’ah (kehendak) apakah setiap kehendak yang kita inginkan kemudian terkabulkan, kita ingin punya mobil tapi apakah keinginan kita terpenuhi, itulah keadaan masyi’ah kita tapi Masyiatullah adalah manusia yang nafilah, Masyi’ah yang pasti terlaksana

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
[QS Ya-Sin 82]

Sesungguhnya perkara Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu tinggal mengatakanكُنْ (jadilah) فَيَكُونُ (maka dia akan terjadi). Itulah kehendak, kehendak yang apabila Allāh ﷻ menghendaki terjadi

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi dan apa yang Allāh ﷻ tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Sehingga Al-Imam As-Syafi’i beliau mengatakan

مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ

Apa yang Engkau kehendaki ya Allāh كَانَ terjadi وإنْ لم أشَأْ meskipun aku tidak menghendaki, dan apa yang aku kehendaki jika Engkau tidak menghendaki ya Allāh maka tidak akan terjadi.

Berarti kehendak kita itu di bawah kehendak Allāh ﷻ

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidak lah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

Maka tidak ada di sana kelaziman kita menetapkan Masyi’ah bagi Allāh ﷻ kemudian kita berarti menyerupakan Masyi’ah Allāh ﷻ dengan masyi’ah makhluk. Di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ menetapkan masyi’ah bagi kita, makhluk juga memiliki masyi’ah

لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
[QS At-Takwir 28]

Siapa di antara kalian yang ingin istiqomah

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidak berkehendak kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

Berarti kita juga memiliki kehendak. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَقَوْلُهُ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan juga firman Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya tidak akan berperang orang-orang yang datang setelah mereka setelah jelas bagi mereka bertemu, di sini Allāh ﷻ menceritakan tentang adanya iqtital (peperangan) antara orang yang beriman dengan para rasul dan orang yang tidak beriman dengan para rasul, kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya tidak akan berperang tapi terjadi peperangan

وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ

Akan tetapi mereka berselisih kemudian akhirnya mereka berperang

فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ

Ada diantara mereka yang beriman dan ada diantara mereka yang kufur. Kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya mereka tidak berperang

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ

Seandainya Allāh ﷻ menghendaki niscaya mereka tidak akan berperang. Berarti berperangnya mereka dengan kehendak Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki mereka tidak berperang maka mereka tidak akan berperang, menunjukkan bahwasanya peperangan yang terjadi perseteruan yang terjadi antara Ahlul Haq dengan Ahlul Bathil ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, dan apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi. Kita ingin supaya manusia beriman semuanya

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…
[QS Yunus 99]

Seandainya Allāh ﷻ menginginkan niscaya akan beriman seluruh orang yang berada di bumi.
Kita juga inginnya demikian, tapi Allāh ﷻ menghendaki lain, sunnatullah ada diantara mereka yang kufur ada diantara mereka yang beriman

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Allāh ﷻ kehendaki, Allāh ﷻ menghendaki ada diantara mereka yang beriman ada diantara mereka yang kufur sementara kita ingin seandainya manusia semuanya beriman, tapi ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ, Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia inginkan.

Sehingga seseorang bersabar sebagai orang yang telah diberikan hidayah oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada suara, disana ada fitnah, di sana ada ancaman, di sana ada gangguan itu semua terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ, maka kita bersabar dan kalau kita ketahui Allāh ﷻ dengan kehendak-Mu maka akan ada dalam diri kita ketenangan. Tidaklah mereka menulis tulisan yang jelek, mengucapkan ucapan yang menghujat, mencela kecuali itu dengan kehendak Allāh ﷻ untuk menguji kesabaran kita dan menjadikan kita introspeksi diri, mengoreksi diri kita mungkin kita yang kurang hikmah di dalam dakwah, mungkin kita yang kurang ikhlas didalam dakwah, atau untuk mengangkat derajat kita sehingga kita dengan ujian tadi kita bersabar dan diangkat derajat kita.

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Berbeda dengan kita, banyak kehendak kita dalam hati yang kita inginkan/angan-angankan tapi tidak terwujud, sampai kita meninggal dunia tidak terwujud. Ada yang ingin menjadi seorang kaya, ada seorang ingin menjadi seorang dokter, ingin menjadi seorang presiden, ingin menjadi seorang ulama, apakah keinginan mereka pasti terpenuhi, tidak, tapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Disini Masyi’ah yang dimaksud disini adalah Iradah Kauniyah, diawal ayat Allāh ﷻ mengatakan وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ dan kalau Allāh ﷻ menghendaki, kemudian di akhir Allāh ﷻ mengatakan وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa ya Dia kehendaki. Iradah yang terkandung dalam kalimat يُرِيدُ ini adalah iradah kauniyah, ini sinonim dengan Masyi’ah, jadi Masyi’atullah itu sama dengan Iradah Kauniyah.

Para ulama menjelaskan berdasarkan dalil, iradah Allāh ﷻ itu ada dua macam, iradah yang pertama dinamakan dengan iradah kauniyah atau dengan nama lain Masyi’ahtullah, jadi Allāh ﷻ memiliki sifat Masyi’ah dan memiliki sifat irodah, iradah kauniyah sama dengan Masyi’atullah. Seluruh apa yang terjadi di permukaan bumi ini, yang baik maupun yang buruk ini semuanya dengan Masyi’atullah dengan irodatullah yang kauniyah, dan inilah yang dimaksud dalam ucapan kita مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan, ini iradah kauniyah.

Dan dia tidak berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ artinya Allāh ﷻ menghendaki terjadi sesuatu tapi Allāh ﷻ tidak mencintainya, Allāh ﷻ tidak meridhoinya. Diciptakannya syaithan dengan kehendak Allāh ﷻ tapi Allāh ﷻ tidak mencintai syaithan. Adanya kemaksiatan, kesyirikan, bid’ah dengan kehendak Allāh ﷻ tapi Allāh ﷻ tidak mencintai kesyirikan, bid’ah dan juga kemaksiatan. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ menghendaki tapi iradah yang dimaksud disini adalah iradah kauniyah, tidak ada kaitanya dengan mahabbatullah. Dan ayat tentang

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ
[Al-Kahfi:38]

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم

Ini adalah Masyi’ah dan dia adalah iradah kauniyah.

Disana ada iradah syar’iah, iradah syar’iah ini berkaitan dengan mahabbatullah, kalau iradah kauniyah tadi tidak berkaitan dengan mahabatullah tapi ini iradah berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ. Misalnya Allāh ﷻ ingin orang-orang beriman, ingin manusia yang diutus kepada mereka para rasul ini beriman, Allāh ﷻ mengutus kepada mereka Rasul, menurunkan kepada mereka kitab dan juga petunjuk, ingin supaya mereka beriman ini iradah syar’iah, iradah yang berkaitan dengan mahabbatullah.

Apakah iradah syar’iah pasti terjadi sebagaimana iradah kauniyah? jawabannya tidak, buktinya Allāh ﷻ menginginkan manusia beriman tapi yang terjadi iradah kauniyah Allāh ﷻ ada diantara mereka yang beriman ada diantara mereka yang tidak beriman.

Berarti iradah syar’iah tidak mengharuskan terjadinya, jadi kalau kita ditanya perbedaan antara iradah kauniyah dengan iradah syar’iah minimal ada dua,

pertama iradah kauniyah pasti terjadi adapun iradah syar’iah maka murodnya, yang diinginkan oleh Allāh ﷻ belum tentu terjadi,

kedua iradah kauniyah terkadang murodnya dicintai oleh Allāh ﷻ terkadang tidak dicintai oleh Allāh ﷻ tapi iradah yang syar’iah dicintai oleh Allāh ﷻ, murodnya sesuatu yang diinginkan itu pasti dicintai oleh Allāh ﷻ. Contoh iradah syar’iah Allāh ﷻ mengatakan

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ
[Al-Baqarah:185]

Allāh ﷻ menginginkan kemudahan untuk kalian. Ini iroda syar’iah

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ
[An-Nisa’:27]

Dan Allāh ﷻ ingin untuk memberikan taubat kepada kalian. Ini iradah syar’iah yang berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ
[Al-Ahzab:33]

Allāh ﷻ ingin menghilangkan dari kalian رِجْس, perkara yang jelek amalan-amalan yang jelek, wahai Ahlul Bayt. Iradah disini adalah iradah yang sya’iah yang mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi, harus kita bedakan antara dua iradah ini. Karena tidaklah tersesat orang yang tersesat di dalam masalah takdir kecuali di antaranya adalah karena dia tidak bisa membedakan antara iradah kauniyah dengan iradah syar’iah dianggapnya sesuatu yang terjadi pasti dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak membedakan antara Iradah kauniyah dengan iradah syar’iah.

Sehingga jabriyah ketika berbuat maksiat dikatakan kenapa engkau berbuat maksiat, ini terjadi berarti dia dicintai oleh Allāh ﷻ, dia terus berbuat maksiat melakukan kesyirikan melakukan kebid’ahan melakukan dosa besar alasannya karena ini berarti dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak mengetahui bahwasanya iradah ada dua kauniyah dengan syar’iah.

———-

وَقَوْلُهُ: فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ

Dan juga firman Allāh ﷻ, maka barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki untuk diberikan hidayah maka Allāh ﷻ akan membuka dadanya untuk Islam.

Barangsiapa yang Allāh ﷻ ingin untuk memberikan petunjuk kepadanya, Allāh ﷻ jadikan dadanya yang biasanya inginnya menolak, inginnya membantah, inginnya katanya kritis, tapi Allāh ﷻ jadikan hatinya ini yasyraḥ, Allāh ﷻ bukakan dadanya untuk tunduk untuk mengikuti kebenaran. Kalau Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan hidayah kepada seseorang, dijadikan hatinya ini luas untuk menerima kebenaran.

Alhamdulillah yang telah meluaskan dada kita untuk beriman kepada Allāh ﷻ padahal kita tidak pernah melihat Allāh ﷻ, yang meluaskan dada kita untuk beriman dengan Rasul ﷺ padahal kita hanya mendengar nama Beliau ﷺ, mendengar sifat Beliau ﷺ, sampai kepada kita ucapan Beliau ﷺ kita tidak pernah melihat Beliau ﷺ. Siapa yang menjadikan dada-dada kita ini menjadi tunduk dan luas, Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang menghendaki.

Maka ihmadullāh, maka pujilah Allāh ﷻ dan kita memuji Allāh ﷻ yang telah menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita, hamba Allāh ﷻ ini banyak, makhluk Allāh ﷻ ini banyak tapi Allāh ﷻ pilih, Allāh ﷻ kehendaki sebagiannya untuk dibuka dadanya, dilapangkan dadanya, maka jangan kita sia-siakan nikmat Allāh ﷻ ini. Bagaimana cara bersyukurnya, dengan mengamalkan agama ini dengan baik sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ inginkan, ini adalah nikmat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menghendaki itu nikmat sekali, Allāh ﷻ menghendaki kita untuk mendapatkan hidayah.

وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki untuk menyesatkannya, berarti ini iradah kauniyah, yang pertama juga iradah kauniyah, terkadang iradah kauniyah berkaitan dengan kebencian Allāh ﷻ terkadang sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ. Kita mendapatkan hidayah iradah kauniyah sekaligus iradah syar’iah, iradah kauniyah terjadi memang kita mendapatkan hidayah dan iradah syar’iah karena inilah yang dicintai oleh Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang Allāh ﷻ sesatkan, ada orang tersesat yang terjadi di sini adalah berkaitan dengan iradah kauniyah karena kesesatan tidak dicintai oleh Allāh ﷻ tapi ini tidak berkaitan dengannya iradah syar’iah karena Allāh ﷻ tidak mencintai kesesatan.

Barangsiapa yang Allāh ﷻ menghendaki maksudnya adalah iradah kauniyah disini untuk menyesatkan dia

يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا

Allāh ﷻ akan menjadikan dadanya di sini menjadi sempit, menjadi sesak. Ketika ditawarkan Islam, ditawarkan tauhid, hatinya menjadi sempit ketika mendengar tentang tauhid, maunya datang ke wali, maunya bergantung kepada nyi Fulan kyai fulan, tenangnya ketika dia datang ke kuburan dan meminta-minta kepada ahlul kubur, sesak ketika mendengar dakwah tauhid, sesak ketika mendengar orang mengajak kepada sunnah, benci dengan orang yang mengajak kepada sunnah dan mungkin itu adalah keadaan kita dahulu, tapi karunia dari Allāh ﷻ kemudian Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita ini adalah minnah ini adalah karunia dari Allāh ﷻ

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
[Al-Hujurat:17]

Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan karunia kepada kita, karunia-Nya dan kelebihan-Nya dan keutamaan-Nya untuk kita

كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء

Seakan-akan dia seperti orang yang mau naik ke atas, naik kelangit. Bagaimanapun usaha kita tidak bisa, kita bukan malaikat yang diberikan oleh Allāh ﷻ sayap sehingga dia bisa terbang dengan izin Allāh كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء seakan-akan dia seperti orang yang naik ke atas, dalam keadaan susah sekali, dalam keadaan dia sesak. Alhamdulillah yang telah menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita.

ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ
[Saba:13]

Hendaklah kalian beramal wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Jelas disini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat iradah, ada sebagian orang yang Allāh ﷻ irodahkan Allāh ﷻ kehendaki untuk memberikan hidayah, ada di antara yang Allāh ﷻ kehendaki untuk disesatkan. Maka hati-hati dan hendaklah kita banyak membaca doa

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Karena disebutkan dalam hadits bahwasanya hati manusia ini berada diantara dua jari di antara jari-jari Allāh ﷻ, Allāh ﷻ gerakan kapan saja Dia menghendaki, jangan sampai kita termasuk orang yang kufur dengan nikmat Allāh ﷻ, nikmat hidayah. Sudah tahu ilmunya, sudah tahu hidayah maka jalankanlah, pegang erat-erat, jangan kita sepelekan, jangan kita bermudah-mudahan, khawatirnya kalau kita tidak bersyukur nanti akan diambil oleh Allāh ﷻ. Ada yang mengatakan nikmat itu kalau disyukuri akan datang terus, akan ada terus dan kalau jadi kufur maka dia akan meninggalkan kita, dan makna ini ada dalam firman Allāh ﷻ

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
[Ibrahim:7]

Kalau kalian bersyukur kepada Allāh ﷻ niscaya kami akan menambahkan.

Kemudian setelahnya Allāh ﷻ mengatakan

وَقَوْلُهُ: ِ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Dan juga firman Allāh ﷻ, dihalalkan untuk kalian bahīmatul an’ām (yaitu hewan-hewan ternak, tiga jenis unta dengan dua jenisnya baik yang berpunuk satu maupun yang berpunuk dua, sapi dengan dua jenis yaitu sapi dan juga kerbau, demikian pula kambing yang domba atau yang berbulu tipis) maka dihalalkan bagi kalian bahimatul an’am

إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ

Kecuali yang sudah dibacakan kepada kalian. Ada disana yang dikecualikan seperti yang meninggal dalam keadaan terjatuh atau dalam keadaan mayit/bangkai maka ini tidak diperbolehkan

غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ

Dalam keadaan tidak menghalalkan hewan buruan sedangkan kalian dalam keadaan ihram. Termasuk berburu yang dilarang adalah ketika dalam keadaan ihram, Allāh ﷻ menghalalkan bahimatul an’am kemudian Allāh ﷻ mengecualikan keadaan kita dilarang untuk berburu ketika dalam keadaan ihram, kita dilarang untuk memakan bangkai atau memakan hewan yang tidak disebut nama Allāh ﷻ misalnya, Allāh ﷻ mengharamkan dan Allāh ﷻ menghalalkan.

إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Allāh ﷻ menghukumi sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Artinya Allāh ﷻ memberikan hukum, mengatakan ini halal ini haram itu sesuai dengan kehendak Allah, Allāh ﷻ Dia-lah yang berhak. Yang perlu kita pahami dan sudah berlalu bahwasanya Allāh ﷻ diantara namanya Al-Hakim, Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat Al-Hukm dan Dia memiliki sifat Al-Hikmah, meskipun Allāh ﷻ Dia-lah yang berhak mengharamkan dan menghalalkan tapi ketika Allāh ﷻ mengharamkan itu berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ menghalalkan maka itu berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ memerintahkan berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ melarang berdasarkan hikmah.

Jadi jangan dipahami إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ Allāh ﷻ menghukum, mengeluarkan hukum sesuai dengan kehendaknya kemudian dibayangkan seperti makhluk yang lemah, ketika dia memiliki kedudukan kemudian dia sewenang-wenang, terserah saya mau mengatakan ini boleh atau tidak boleh, tidak berdasarkan hikmah, tidak berdasarkan ilmunya keadaan makhluk. Tapi Allāh ﷻ Dia-lah yang يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ, dan ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat iradah, Allāhu A’lam iradah dalam firman Allāh إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ disini adalah Iradah Syar’iah, karena hukum yang dimaksud disini adalah hukum syar’i karena berkaitan dengan tahlil dan juga tahrim maka ini adalah hukum syar’i Allāhu A’lam, dan Allāh ﷻ dalam hukum kauni juga dengan يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ Allāh ﷻ menghukumi dengan hukum yang kauni juga sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana telah berlalu

وَلَـكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ Dia-lah yang melakukan apa yang Dia kehendaki.

Sebagian ahlul bid’ah ada yang menafikan sifat yang iradah ini, seperti mu’tazilah secara umum keyakinan mereka Allāh ﷻ memiliki nama tetapi tidak memiliki sifat sehingga mereka menafikan sifat iradah bagi Allāh ﷻ. Dan ada yang mengatakan bahwasanya iradah Allāh ﷻ itu iradah yang satu saja yaitu iradah yang azaliah tapi mereka menafikan iradah-iradah Allāh ﷻ yang mutajaddidah, yang terus ada, padahal Ahlussunnah dan mereka melihat dalil bahwasanya iradah Allāh ﷻ itu mungkin berulang-ulang

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا
[Yāsīn:82]

Kalau Allāh ﷻ menginginkan sesuatu maka Allāh ﷻ mengatakan كُن fayakun, menunjukkan bahwasanya iradah Allāh ﷻ bisa berulang-ulang. Wallahu A’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 16

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 16 | Penjelasan Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Asy-Syuro Ayat 11

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Syaikhul Islam beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Di dalam Firman Allāh ﷻ لَيْسَ كَمِثْلِهِ, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ maka di sini ada an-nafyu al-mujmal (penafian yang global), yang Allāh ﷻ nafikan di sini adalah mitsliyyah, keserupaan. Berarti ini sifat manfiyah, sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ. Sikap kita menghadapi sifat yang manfiyah seperti ini kita nafikan apa yang Allāh ﷻ nafikan, berarti kita katakan tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Kemudian yang kedua kita tetapkan kesempurnaan dari kebalikan sifat ini, keserupaan berarti lawannya adalah Dia adalah yang memiliki sifat Wahidiyyah atau Wahdaniyah. Allāh ﷻ memiliki sifat wahdaniyah yaitu Dia-lah Yang Esa, tidak ada yang serupa, berarti Dia-lah satu-satunya, Dia-lah Ahdiyah yang memiliki sifat Ahadiyah atau sifat wahdaniyah, maka kita tetapkan kesempurnaan ini bagi Allāh ﷻ. Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat-sifat yang sempurna, Dzat-Nya adalah yang paling sempurna, nama-nama-Nya adalah yang paling sempurna, pekerjaan-pekerjaan Allāh ﷻ dan amalan-amalan Allāh ﷻ adalah yang paling sempurna, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Dan sudah berlalu penjelasan dari apa yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam surat Al-Ikhlas

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَد لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Ini termasuk nafyu yang mujmal, dan sudah kita sampaikan kebanyakan di dalam Al-Qur’an adalah nafyu yang mujmal. Tasbih yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an banyak, sabbaḥa lillāh, yusabbiḥu lillāh, fasabbiḥ biḥamdi robbik, makna tasbih adalah mensucikan Allāh ﷻ dari seluruh sifat kekurangan, isinya maksudnya adalah nafyi.

Dan sudah kita sebutkan bahwasanya di antara nama Allāh ﷻ yang nafiyah adalah subbūḥ, tasbih adalah menafikan dari Allāh ﷻ seluruh sifat kekurangan, dan ayat-ayat tentang tasbih banyak dan itu adalah termasuk nafyu yang mujmal, nafyu yang secara global. Para malaikat mereka bertasbih, kita diperintahkan untuk bertasbih, banyak zikir-zikir yang isinya adalah tasbih, ketika kita sujud bertasbih, ketika kita rukuk bertasbih, setelah kita shalat kita bertasbih, maksudnya adalah kita nafikan dari Allāh ﷻ selalu sifat kekurangan ini adalah nafyu yang mujmal.

Baik sifat kekurangan yang kita tahu bahwa sifat kekurangan yang tidak kita tahu, yang kita dengar dari orang-orang musyrikin ataupun yang tidak kita dengar dari mereka, mereka mensifati Allāh ﷻ dengan sifat-sifat yang jelek maka kita katakan subhanallāh ‘amma yasifūn, Maha Suci Allāh ﷻ dari apa yang mereka sifatkan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Berarti kita tetapkan Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah, Dia saja tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Dan لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ bukan maksudnya adalah menafikan sifat Allāh ﷻ, karena ada sebagian ahlul bid’ah hadahullāh memahami sifat Allāh ﷻ berdalil dengan ayat ini bahwasanya Allāh ﷻ tidak memiliki sifat, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ berarti Allāh ﷻ tidak memiliki sifat karena kalau memiliki sifat berarti serupa dengan makhluk. Sehingga mu’tazilah mereka mengatakan Allāh ﷻ tidak memiliki sifat, dalilnya mereka mengatakan لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, menganggap bahwasanya menentukan sifat bagi Allāh ﷻ berarti menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk.

Padahal kalau kita memahami ayatnya Allāh ﷻ tidak menafikan di sini sifat-Nya sehingga setelahnya, dan ini menunjukkan bahwasanya makna yang dipahami oleh orang-orang mu’tazilah ini salah dan bathil, apa kata Allāh ﷻ setelahnya? Allāh ﷻ menetapkan sifat bagi-Nya

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Berarti disini Allāh ﷻ menetapkan sifat untuk-Nya, sifat yang terkandung di dalam nama-Nya, nama Allāh ﷻ As-Samī’ mengandung sifat As-Sama’, Al-Bashīr mengandung sifat Al-Bashar, berarti لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ini bukan penafian terhadap sifat Allāh ﷻ tapi ini menafikan sesuatu yang semisal dengan sifat Allāh ﷻ.

Ketika kita menyebutkan atau menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ maka kita tidak menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk, kita katakan bahwasanya itu adalah sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Jadi firman Allāh ﷻ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ bukan menafikan sifat Allāh ﷻ tapi menafikan sesuatu yang serupa dengan sifat Allāh ﷻ. Sehingga Allāh ﷻ menetapkan setelahnya nama dan juga sifat-Nya

وَهُوَ

السَّمِيعُ البَصِيرُ.

Karena sebagian orang mentakwil, mentakwil disini Allāh ﷻ tidak mensifati dirinya dengan As-Sama’ wal-Bashar, mentakwil As-Sama’ di sini adalah dan Al–‘Ilm dan Al-Bashar di sini juga Al–‘Ilm. Jadi mereka menetapkan tujuh sifat, Al-‘Ilm, kemudian Al-Irodah, ada Al-Qudroh dan seterusnya, sifat-sifat yang lain mereka kembalikan kepada tujuh sifat ini. Mereka mengatakan maksud dari As-Sama’ adalah ‘ilmuhu bil masmu’at, maksudnya adalah ilmu Allāh ﷻ di sini ilmu Allāh ﷻ terhadap segala sesuatu yang didengar, dikembalikan kepada ilmu.

Ketika mereka membaca Al-Bashir mereka mengatakan maksudnya adalah ilmu Allāh ﷻ terhadap segala sesuatu yang dilihat, jadi muaranya adalah kembali kepada ilmu, tangan ditakwil menjadi qudroh, kemudian di sana ada sifat-sifat yang di takwil dengan Irodah, Rohmah misalnya mereka takwil dengan iradatul in’am, kembali kepada irodah. Sehingga mereka menetapkan tujuh sifat, Irodah qubro dan seterusnya, maka ini adalah kebathilan.

Allāh ﷻ mensifati dirinya dengan As-Sama’ wal-Bashar, dan ini menunjukkan bahwasanya yang namanya itsbat tidak mengharuskan menyerupakan. Allāh ﷻ disini mengitsbat

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Bukankah ini adalah penetapan sifat dan juga nama bagi Allāh ﷻ, dan di ayat yang sama tidak usah jauh-jauh, Allāh ﷻ mengatakan

لَيْسَ كَمِثْلِهِ

Berarti menetapkan nama dan juga sifat Allāh ﷻ tidak melazimkan menyerupakan sifat dan nama tersebut dengan sifat makhluk, karena banyak orang yang tidak paham tentang masalah ini. Menganggap bahwasanya menetapkan berarti mentasybih, sehingga mengatakan ahlussunnah mereka adalah musyabbihah karena mereka menetapkan sifat istiwa bagi Allāh ﷻ, menetapkan sifat mendengar melihat bagi Allāh ﷻ, menetapkan sifat turun bagi Allāh ﷻ, menetapkan sifat tangan mata bagi Allāh ﷻ, berarti mereka mentasybih, tidak.

Menetapkan tidak ada kelaziman dengan menyerupakan, dan sudah kita sebutkan tentang kaidah yang sebelumnya, kaidah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam sebelum beliau memasuki perincian penyebutan ayat-ayat dan juga hadist ini, penetapan tidak mengharuskan menyerupakan Dan mensucikan Allāh ﷻ dari kekurangan tidak harus menafikan sifatnya jadi kita menetapkan tanpa menyerupakan dan kita menafikan tanpa kita menta’til dan menolak sifat Allāh ﷻ.

Dan dalam ayat ini terkumpul an-nafyi wal itsbat, sebagaimana dalam ayat وَ تَوَکَّلۡ عَلَی الۡحَیِّ الَّذِیۡ لَا یَمُوۡتُ, sebagaimana dalam ayat kursi dan apa yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam surat Al-Ikhlas, terkumpul di dalamnya an-nafyu dan juga al-itsbat.

Al-Bashir di sini mengandung tiga sifat, jadi bukan hanya Al- Bashar saja tapi ada sebagian ulama yang menyebutkan mengandung di dalamnya tiga sifat, sifat yang pertama adalah Al- Bashar kemudian yang kedua adalah Al-Bushr dengan mendhommah ب dan mensukun ص, kemudian yang ketiga adalah sifat Al-Bashiroh. Al-Bashar maknanya adalah Allāh ﷻ Melihat atau Maha Melihat. Al-Bashir ini adalah Yang Maha Melihat, ini berkaitan dengan segala sesuatu yang dilihat, maka Allāh ﷻ Dia-lah Al-Bashir.

Dan Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Bushr, dan Al-Bushr ini maknanya adalah jalā’il ma’lumāt yaitu pengetahuan-pengetahuan yang dzhohir, yang dilihat, maka Allāh ﷻ Maha Melihat. Dan Al-Bashiroh ini berkaitan dengan daqā’iq al-ma’lumāt, pengetahuan-pengetahuan yang sangat jeli dan juga sangat teliti. Berarti Al-Bushr ini berkaitan dengan jalā’il ma’lumāt, perkara-perkara yang jelas, adapun Al-Bashiroh ini adalah perkara-perkara yang kecil, perkara-perkara yang teliti.

Ketika kita mempelajari nama Allāh Al-Bashir maka ketahuilah bahwasanya dia mengandung tiga sifat ini, Al-Bashor yaitu Allāh ﷻ memiliki sifat melihat, penglihatan, dan Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Bushr yaitu mengetahui perkara-perkara yang besar wal-Bashiroh dan Allāh ﷻ mengetahui perkara-perkara yang sangat teliti.

Allāh ﷻ Dia-lah As-Sami’ Al-Bashir Dia-lah Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar. Maha yaitu Allāh ﷻ sangat sempurna pendengarannya, mendengar segala sesuatu. Antum berbicara sekecil apapun, di ruangan yang tertutup berlapis-lapis selirih apa pun maka ketahuilah bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang As-Sami’. Allāh ﷻ Maha Mendengar semuanya, selirih apapun seseorang berbicara dan sebanyak apapun orang berbicara, bahkan yang berbicara bukan hanya manusia saja, jin juga berbicara, hewan mereka berbicara dengan bahasa mereka, apakah samar bagi Allāh ﷻ suara-suara tersebut? Tidak.

Allāh ﷻ Maha Mendengar semuanya, Dia-lah yang As-Sami’, seandainya mereka berbicara dengan suara kecil yang paling kecil yang mereka bisa, Allāh ﷻ Maha Mendengar. Sehingga di sini kita mengetahui Allāh ﷻ Dia Mendengar apa yang diucapkan oleh hamba-Nya berupa doa misalnya, Allāh ﷻ samī’uddu’a, Allāh ﷻ Maha Mendengar. Meskipun kita tidak mengeraskan suara kita tapi kita mengatakan ya Allāh ﷻ ya samī’uddu’a, berikanlah aku rezeki mudahkanlah aku dalam menuntut ilmu, berikanlah taufik dan juga hidayah kepada orang tuaku, Allāh ﷻ mendengar yang demikian. Maka seorang muslim tidak berputus asa dari rahmat Allāh ﷻ.

Dan asalnya yang namanya doa ini dilirihkan bukan dikeraskan di hadapan orang lain, asalnya dilirihkan dengan khufiyah yaitu dengan pelan-pelan. Dan Allāh ﷻ Maha Mendengar apa yang diucapkan oleh musuh-musuh Allāh ﷻ yang mereka berbicara tentang Allāh ﷻ dengan pembicaraan yang buruk, menghina rasul-Nya, menghina ayat-ayat-Nya, Allāh ﷻ Maha Mendengar apa yang mereka ucapkan, ketika mereka berkumpul membuat makar atau berkonspirasi, apakah itu samar dari Allāh ﷻ? Allahu Robb kita Maha Mendengar apa yang mereka ucapkan. Tidak usah khawatir, Allāh ﷻ mengetahui rencana mereka dan makar yang ingin mereka lancarkan untuk menghancurkan agama Allāh ﷻ.

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ
[Āli-Imran:181]

Ketika orang-orang yahud mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu faqir, Allāh ﷻ Maha Mendengar. Sungguh Allāh ﷻ telah mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ adalah fakir وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُ dan mereka mengatakan kami adalah orang-orang kaya. Mensifati Allāh ﷻ dengan faqr.

سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ

Sungguh Kami akan menulis apa yang mereka ucapkan.

Ditulis oleh Allāh ﷻ, akan ada perhitungan dengan mereka.

وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ

Dan pembunuhan mereka terhadap nabi-nabi Allāh ﷻ tanpa hak. Dan nanti kelak di hari kiamat akan ada perhitungan

وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ

Dan Kami akan katakan kepada mereka rasakanlah adzab yang membakar ini.

Kita yakin bahwasanya makar yang mereka perbuat, yang mereka bicarakan adalah ada disisi Allāh ﷻ, wa ‘indallāhi makruhum, di sisi Allāh ﷻ makar mereka, Allāh ﷻ mendengar apa yang mereka ucapkan.

Kita lemah kita tidak memiliki kekuatan atau mendengar setiap apa yang diucapkan di dunia ini tapi Allāh ﷻ mendengar, maka kewajiban kita adalah bertawakal kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang akan mengurusi kita semuanya, Allāh ﷻ yang akan menolong kita dengan syarat kita mau menolong agama Allāh ﷻ

إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ
[Muḥammad:7]

Kalau kalian menolong Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan menolong kalian. Bagaimana menolong Allāh ﷻ? Kita melaksanakan perintah dan juga menjauhi larangan, yaitu menolong agama Allāh ﷻ kita sebarkan tauhid, kita sebarkan sunnah dan kita praktekkan pada diri kita sendiri di tengah-tengah manusia yang mereka lalai dan banyak diantara mereka yang tidak melaksanakan apa yang telah diturunkan oleh Allāh ﷻ.

Maka Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar, kalau kita memiliki problem, kita memiliki permasalahan hidup kembali kepada Allāh ﷻ dirikan sholat, yakinlah bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar apa yang antum ucapkan. Dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui sebelum antum ucapkan, hadirkan bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar setiap apa yang diucapkan oleh manusia, sehingga ketika kita Mengetahui Allāh ﷻ Maha Mendengar padahal di dalam hati kita ada ta’dzhim pengagungan terhadap Allāh ﷻ maka malulah untuk mengucapkan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allāh ﷻ.

Sehingga kita menjaga lisan kita, takut untuk bohong karena Allāh ﷻ mendengar, takut untuk mengucapkan ucapan yang tidak baik, ucapan yang jorok, ucapan yang terlalu keras sehingga masuk di dalam larangan

إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
[Luqman:19]

Suara yang paling jelek adalah suara keledai. Kita diperintahkan untuk melirihkan suara, mengeraskan suara kalau memang ada keperluan. Maka orang yang isthdzar dan mengingat selalu bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar, hati-hati dalam mengeluarkan suaranya.

Seandainya kita bertetangga dan mungkin rumah kita posisinya bertolak belakang dengan tetangga kita artinya terkadang kita berbicara di rumah bagian belakang kemungkinan terdengar oleh tetangga kita yang juga sedang di rumah bagian belakang, apa yang kita lakukan, kita melirikan suara, malu kita teriak-teriak kita membentak-bentak anak atau kita membentak suami misalnya atau orang tua, malu. Dan ini adalah perbuatan yang tidak baik tapi kita melirikan suara karena kita tahu bahwasanya kemungkinan tetangga kita dibelakang juga mendengar. Nah harusnya kita terhadap Allāh ﷻ adalah kita malu kepada Allāh ﷻ.

Maka jagalah ucapan jagalah suara kita dan ketahuilah bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar, jadikanlah Allāh ﷻ mendengar yang baik-baik saja dari diri kita, dzikir, kalimat yang toyibah, nasehat, membaca Al-Qur’an, ucapan yang didalamnya ada ikram kepada orang tua, ucapan yang didalamnya ada kasih sayang terhadap anak, ada penghormatan kepada suami, ada ihtirom kepada guru, maka ini adalah suara-suara dan kalimat-kalimat yang baik, dan ini harusnya demikian kita memahami nama Allāh ﷻ As-Sami’.

Dan Allāh ﷻ Dia-lah Al-Bashir, Dia-lah Yang Maha Melihat dan mengetahui perkara yang dzhohir yang jelas, maupun perkara yang teliti yang detail Allāh ﷻ Maha Mengetahui. Maha Melihat dan penglihatan Allāh ﷻ adalah penglihatan yang luar biasa yang sangat sempurna, seandainya ada sesuatu yang sangat kecil yang mungkin warnanya hitam di malam yang gelap gulita dan di tempat yang dilapisi dengan banyak lapisan maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui tidak ada sesuatu yang luput dari penglihatan Allāh ﷻ. Makhluk yang paling kecil virus atau bakteri atau kuman atau yang semisalnya, Allāh ﷻ Maha Melihat, Bahkan Allāh ﷻ yang menciptakan dan Allāh ﷻ melihatnya, bagaimana dia bergerak, bagaimana dia menular, berapa jumlahnya tidak ada yang luput dari penglihatan Allāh ﷻ.
Maka orang yang mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Melihat sama dengan ketika dia mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar, dia berusaha untuk memperlihatkan sesuatu yang baik, berlaku dengan perlakuan yang baik, baik di dalam rumahnya maupun di luar rumah, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain, karena dalam keadaan dia sendiri di kamarnya dan di depannya ada HP ada komputer dia sadar bahwasanya Allāh ﷻ sedang melihat, malu kalau kita melakukan perkara yang tidak baik sementara Allāh ﷻ melihatnya.

Kita bersama keluarga kita sama teman kita atau anak atau istri kita, kita melihat sesuatu yang tidak diperbolehkan sementara dia secara tidak sengaja dia melihat ini sesuatu yang memalukan, kita tahu itu adalah perkara yang tidak diperbolehkan dan dia adalah maksiat, lalu bagaimana karena seharusnya itulah yang dilakukan oleh seseorang dan harusnya dia lebih malu ketika di lihat oleh Allāh ﷻ melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ memberikan nikmat kepada kita dengan mata kemudian kita gunakan untuk sesuatu yang diharamkan, maka seseorang malu melakukan yang demikian.

As-Sami’ Al-Bashir ini adalah nama Allāh ﷻ yang seharusnya diantara faedah yang bisa kita ambil menjadikan kita muraqabah, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ dalam ucapan kita maupun dalam gerak-gerik kita. Dan Allāh ﷻ mengatakan

إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ
[An-Nisa’:58]

Sesungguhnya Allāh ﷻ sungguh baik apa yang Dia nasehatkan kepada kalian

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Abu Huroiroh pernah beliau membaca ayat ini yaitu

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا
[An-Nisa’:58]

Beliau mengatakan, hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ

Aku melihat Rasulullāh ﷺ meletakkan ibhamnya di atas telinganya, ibham ini adalah jempol, meletakkan jempolnya di atas telinganya

وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى عَيْنِهِ

Dan apa yang setelah ibham (jempol)nya, yaitu jari telunjuknya, ke arah matanya. Ini dilihat oleh Abu Hurairah, Abu Hurairah mengatakan dalam riwayat yang lain

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَؤُهَا وَيَضَعُ إِصْبَعَيْهِ

Aku melihat Rasulullāh ﷺ membaca ayat ini dan meletakkan kedua jarinya ini.

Apa maksud Beliau ﷺ dengan meletakkan dua jarinya, maksudnya adalah ingin menunjukkan kepada kita bahwasanya Allāh ﷻ memiliki pendengaran dan juga penglihatan secara hakekat, yaitu Allāh ﷻ benar benar memiliki pendengaran dan juga benar-benar memiliki penglihatan, itu maksudnya. Bukan berarti Beliau ﷺ mentasybih, bukan berarti Beliau ﷺ menyerupakan, mustahil Beliau ﷺ menyerupakan penglihatan Allāh ﷻ dengan penglihatan makhluk, pendengaran Allāh ﷻ dengan pendengaran makhluk padahal Allāh ﷻ mengatakan

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Yang dimaksud Beliau ﷺ adalah hakikatnya, yaitu Allāh ﷻ benar-benar melihat dan Allāh ﷻ benar-benar mendengar, bantahan terhadap sebagian orang yang mereka mentakwil As-Sama’ wal-Bashar tadi dengan ilmu, bantahan terhadap orang yang menafikan sama sekali, bukan hanya mentakwil bahkan dia lebih parah lagi, menafikan yaitu Allāh ﷻ tidak mendengar Allāh ﷻ tidak melihat, mengatakan Allāh ﷻ itu sami’ bi lā sam’I, Allāh ﷻ itu Bashir bi lā Bashar, Allāh ﷻ itu Maha Mendengar tapi tanpa pendengaran, Allāh ﷻ Maha Melihat tapi tanpa penglihatan, berarti dia menetapkan nama bagi Allāh ﷻ dan menolak sifat padahal Nabi ﷺ menyebutkan dengan isyarat ini hakikat dari sifat Allāh ﷻ.

Al-Imam Abu Daud Rahimahumullah ketika beliau menyebutkan riwayat ini beliau menukil ucapan Ibnu Yunus dia mengatakan

قَالَ الْمُقْرِئُ يَعْنِي إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ يَعْنِي أَنَّ لِلَّهِ سَمْعًا وَبَصَرًا

Ini salaf, mereka mengatakan Maha Mendengar Maha Melihat maksudnya adalah Allāh ﷻ memiliki pendengaran dan juga penglihatan, berkata Abu Daud

وَهَذَا رَدٌّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ

Ini adalah bantahan terhadap jahmiyah.

Dan Al-Imam At-Tirmidzi Rahimahullah, beliau juga di dalam sunnah At-Tirmidzi menukil sebagian ucapan salaf dalam masalah ini dengan nukilan yang panjang di sini namun saya sebutkan di sini bahwasanya beliau mengatakan

وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

Demikanlah ucapan ahli Sunnah Wal jamaah, yaitu mereka menetapkan tanpa menyebutkan kaifiyahnya

وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ

Adapun jahmiyah maka mereka mengingkari riwayat ini

وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ

Mereka mengatakan ini adalah tasybih, yaitu menganggap orang yang menetapkan sifat Allāh ﷻ berarti dia mentasybih Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Menjawab Celotehan Anak Durhaka

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Menjawab Celotehan Anak durhaka

Pernah ada yang menyampaikan pertanyaan tentang celotehan sebagian anak durhaka, yang mereka tidak mau taat dan merasa tidak harus berbakti kepada orang tuanya dengan alasan: “Toh aku ngga pernah minta dilahirkan dan dirawat oleh mereka (orang tuanya)”.

Kita jawab:

Pertama, engga gitu konsepnya brader…! Engga ada bayi yang lahir dimintain izin dulu, “Dek, boleh ngga saya lahirin kamu?”. Kalau bayinya OK baru dilahirkan. Ini jelas ngawurnya. Hubungan orang tua dan anak bukan seperti akad kerjasama yang harus deal dulu, baru setelah itu ada timbal balik. Jadi, opini seperti ini ngga mungkin jadi argumen orang yang berakal.

Kedua, Justru di situ letak kemuliaan orang tua anda dan besarnya jasa orang tua anda. Tanpa diminta oleh sang anak, mereka mempertaruhkan nyawa melahirkan anda, merawat anda, membersihkan air kencing anda, menceboki anda, memastikan anda tercukupi makan dan minumnya, membanting tulang memenuhi kebutuhan anda, memberikan pendidikan, keamanan, kasih sayang sampai anda menjadi manusia sekarang.

Jika mereka tidak berbesar hati lakukan itu, tentu anda sekarang mungkin hanya seonggok bangkai janin yang terkubur di dalam tanah atau anak tidak jelas yang ditemukan di tong sampah ketika bayi.

Ketiga, ini sejatinya bentuk protes kepada Allah, “koq saya dilahirkan dari rahim A sih, kenapa tidak dari rahim si B?”. Ini sama juga dengan yang mengatakan, “kenapa koq saya dilahirkan sebagai perempuan, kenapa tidak laki-laki?”, “kenapa koq saya berkulit hitam, kenapa tidak berkulit putih?”, dan semisalnya.

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, justru manusia yang akan ditanya (oleh Allah) kelak” (QS. Al Anbiya: 23).

Brader, jangan kau tambah durhakamu kepada orang tua dengan kedurhakaan kepada Allah ta’ala!

Keempat, jasa orang tua kepada anaknya itu terlalu besar, sehingga tidak mungkin bisa terbalaskan. Sehingga sudah semestinya seorang anak berbakti dan taat kepada orang tuanya. Andai seumur hidup seorang anak berbakti kepada orang tuanya, itu pun belum impas membalas jasa orang tua.

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لا يَجْزِي ولَدٌ والِدًا، إلَّا أنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa orang tuanya. Kecuali jika anak tersebut mendapati orang tuanya menjadi hamba sahaya, lalu ia merdekakan” (HR. Muslim no. 1510).

Ibnu Hubairah rahimahullah menjelaskan :

أن جزاء الولد للوالد بقدر استحقاقه غير متصور… وإنما صور النبي – صلى الله عليه وسلم – صورة نادرة الوقوع

“Balas jasa seorang anak kepada orang tuanya sampai impas adalah perkara yang tidak tergambar dalam benak … Adapun apa yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah kasus yang sangat jarang terjadi” (Al Ifshah ‘an Ma’anis Sihhah, 8/112).

Kelima, andaikan poin 1 sampai 4 anda abaikan, tapi poin kelima ini tidak boleh diabaikan. Berbakti kepada orang tua itu perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

Dari Abud Darda’ radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وأطِعْ والدَيْكَ ، وإنْ أمراكَ أنْ تخرجَ مِن دُنياكَ

“Taatilah kedua orang tuamu, walaupun mereka memerintahkanmu untuk keluar dari (kenikmatan) duniamu” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad [14]).

Silakan anda menganggap orang tua anda tidak berjasa sama sekali kepada anda, namun tetap saja perintah Allah dan Rasul-Nya untuk berbakti dan taat kepada orang tua, wajib untuk ditaati.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik.

@fawaid_kangaswad

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 15

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 15 | Penjelasan Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Adz-Dzariyat Ayat 58

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masih kita pada penyebutan ayat-ayat Al-Qur’aniyyah yang berisi tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Setelah kita membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allāh ﷻ Al-’Ilm dan nama Allāh ﷻ Al-‘Alim maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan setelahnya nama Allāh ﷻ yang lain dan juga sifat.

Allāh ﷻ menyebutkan di dalam surat Adz-Dzariyāt, nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Syaikhul Islam mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Memberikan Rezeki, yang memiliki kekuatan yang sangat kokoh.

Disebutkan di dalam ayat ini empat nama Allāh ﷻ,

pertama adalah lafdzul jalalah Allāh ﷻ, kemudian Ar-Razzaq, kemudian Dzul Quwwah dan yang keempat adalah Al-Matīn, dan masing-masing dari nama ini mengandung sifat.

Adapun lafdzul jalalah maka sifatnya adalah Al-Uluhiyah, Ar-Rozzaq sifatnya adalah Rozq, Dzul Quwwah sifatnya adalah Al-Quwwah, Al-Matīn sifatnya adalah Al-Matanah.

إِنَّ اللَّهَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ.

Nama Allāh ﷻ yang paling agung dan ini pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat para ulama dan ini adalah nama yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Nama yang lain dinisbahkan kepada Allāh ﷻ mengatakan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rahman, diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rohim. Dan tidak sebaliknya diantara nama Ar-Rahman adalah Allāh ﷻ, yang benar diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rahman.

Dan sifat yang terkandung di dalamnya adalah sifat Al-Uluhiyah, sifat ketuhanan dan ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah satu-satunya dzat yang berhak untuk disembah karena Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, sifat-sifat Uluhiyah yang dengannya dia berhak untuk disembah. Dan tidak boleh seorang makhluk memiliki nama ini, karena nama ini mengandung sifat yang tidak berhak menyandang dan memiliki sifat tersebut kecuali Allāh ﷻ, seandainya disana ada makhluk yang disifati dengan sifat uluhiyah oleh makhluk yang lain maka ini adalah kezdoliman, ini adalah kebathilan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ
[Al-Hajj:6]

Yang demikian karena Allāh ﷻ Dia-lah yang benar.

Dia-lah yang memang memiliki sifat-sifat uluhiyah.

وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَٰطِلُ
[Al-Hajj:62]

Dan sesungguhnya apa yang disembah selain Allāh ﷻ itu adalah bathil.

Disifati dengan ketuhanan tapi dia tidak memiliki sifat ketuhanan, yang namanya ilāh adalah yang menciptakan, sementara mereka tidak menciptakan. Al ilāhul haqq, Dia-lah yang mengatur sementara mereka bukan mengatur tapi diatur, maka mereka adalah sesembahan-sesembahan yang bathil.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah, dan هُوَ di sini dinamakan dengan dhamir mufashal (dhamir yang digunakan untuk memisahkan) dan diantara faedahnya adalah untuk menunjukkan ikhtishash yaitu menunjukkan kekhususan. Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang Ar-Razzaq, dan hanya Allāh ﷻ saja yaitu khusus bagi Allāh ﷻ. Ar-Rozzaq nama Allāh ﷻ mengandung sifat Rozq dengan memfathah ر, dan ini adalah sifat atau mashdar, adapun Rizq dengan menkasrah ر maka ini artinya adalah rezeki. Lain antara Rozq dengan tadi Rizq, sifat yang terkandung dalam Ar-Rozzaq adalah Rozq bukan Rizq karena Rizq ini makhluk, rezeki yang Allāh ﷻ berikan kepada makhluk-Nya maka ini adalah makhluk. Adapun Rozq maka ini adalah sifat Allāh ﷻ, dan sifat Allāh ﷻ bukan makhluk.

Rozzaq wazannya adalah فعّال, dan ini adalah termasuk sighah mubalaghah untuk menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ sangat memberikan rezeki. Kalau kita berbicara tentang bagaimana Allāh ﷻ sangat memberikan rezeki, dilihat dari berapa banyak yang diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ, manusia saja kalau kita hitung berapa miliar jumlah mereka, ini yang masih hidup atau sedang hidup sekarang, yang sudah meninggal dunia dan yang akan meninggal dunia dan yang akan datang, semuanya Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada mereka. Dari semenjak mereka dihidupkan oleh Allāh ﷻ sampai mereka meninggal dunia, belum makhluk Allāh ﷻ yang lain.

Semut yang jumlahnya tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ dalam sarang-sarang mereka, ikan-ikan yang tidak ada habisnya, Allāh ﷻ hidupkan di dalam air dalam laut, Allāh ﷻ juga berikan rezeki kepada mereka dari dulu sampai sekarang, seluruh makhluk Allāh ﷻ berikan rezeki kepada mereka. Allāh ﷻ ciptakan mereka dan Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada mereka dari semenjak mereka awal hidup sampai mereka meninggal dunia.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
[Hūd:6]

Tidak ada sesuatu yang melata (merangkak) di permukaan bumi ini kecuali atas Allāh ﷻ rezeki mereka.

Maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq. Kita sebagai seorang manusia ada diantara kita yang sebagai kepala rumah tangga berapa yang bisa kita berikan, kita hanya bisa memberikan kepada orang yang ada di rumah kita, memberikan nafkah untuk diri kita sendiri kepada anak dan juga istri kita itu saja, tapi Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya baik yang kita lihat maupun yang tidak kita lihat. Termasuk di antaranya jin diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ dan menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq.

Demikian pula dilihat bahwasanya Allāh ﷻ adalah sangat memberikan rezeki yaitu Allāh ﷻ berulang-ulang memberikan rezeki. Apakah Allāh ﷻ hanya yang memberikan rezeki kepada kita pagi ini saja? Masing-masing kita diberikan sarapan oleh Allāh ﷻ, ada yang makan lontong ada yang makan nasi uduk, ada yang makan nasi goreng misalnya, nanti siang juga diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ, sore juga demikian, Subhanallāh, maka Allāh ﷻ memberikan rezeki dari waktu ke waktu yang lain, bukan hanya sekali Allāh ﷻ memberikan rezeki dan itu untuk seluruh makhluk, bukan hanya kita, untuk seluruh makhluk diberikan oleh Allāh ﷻ rezeki setelah itu diberikan rezeki lagi dan seterusnya sampai habis jatahnya. Maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq, Dia-lah yang memberikan rezeki.

Dan makhluk yang Allāh ﷻ berikan rezeki bukan hanya makhluk yang terlihat jelas di mata manusia, tapi di sana ada makhluk-makhluk Allāh ﷻ yang tinggal di dalam tanah, ada yang di dasar lautan yang paling dalam, tapi rezeki Allāh ﷻ sampaikan kepada mereka masing-masing dengan cara yang Allāh ﷻ ketahui. Apa yang sudah Allāh ﷻ tulis sebelumnya, Allāh ﷻ akan takdirkan rezeki tersebut sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis, akan datang kepadanya rezeki sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis. Dia-lah yang menyampaikan rezeki kepada makhluk makhluk-Nya dimanapun dia berada, di tempat yang paling sulit di jamah oleh manusia Allāh ﷻ sampaikan rezeki kepada mereka.

Ada di sana seekor makhluk di antara makhluk-makhluk Allāh ﷻ, ada yang menceritakan bagaimana Allāh ﷻ menyampaikan rezeki kepada hewan tersebut. Allāh ﷻ berikan kemampuan kepadanya untuk bisa berdiri seperti tongkat, persis seperti tongkat bisa tenang dan tidak bergerak. Kemudian akan hinggap pada dirinya seekor makhluk yang lain, ketika dia hinggap disitulah dia akan memakan makhluk tadi. Dia tidak memiliki mungkin peralatan atau tangan atau kaki seperti yang kita miliki tapi Allāh ﷻ jadikan dia memiliki kemampuan seperti itu sehingga Allāh ﷻ datangkan makhluk yang lain kemudian dia memakannya.

Kalau kita memperhatikan bagaimana bermacam-macam hewan mereka mendapatkan rezeki dari Allāh ﷻ, ada yang ketika berjalan warnanya berubah seperti warna dasarnya misalnya sehingga tidak terlihat ketika datang hewan dia tidak menyadari bahwasanya dia disitu. Bermacam-macam cara Allāh ﷻ menyampaikan rezeki ini kepada mereka, maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq, bahkan Allāh ﷻ telah menulis rezeki-rezeki tadi sebelum Allāh ﷻ menciptakan makhluk-makhluk yang diberikan rezeki. Mereka telah ditulis rezekinya jauh sebelum mereka lahir, lima puluh ribu tahun sebelum Allāh ﷻ menciptakan langit dan juga bumi-Nya

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Sesungguhnya Allāh ﷻ telah menulis takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allāh ﷻ menciptakan langit dan juga bumi.

Rezeki ana rezeki antum rezeki yang lain sudah Allāh ﷻ tulis. Seorang muslim ketika mengetahui bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rozzaq apakah masih tersisa di dalam hatinya kekhawatiran keresahan terhadap rezeki masa depannya. Nanti khawatir ana miskin atau ana nggak punya apa-apa dan seterusnya, resah dengan masalah rezeki di masa depan, ana nanti jadi apa dan seterusnya, ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari seseorang yang lemah iman.

Adapun seorang yang beriman maka dia meyakini bahwasanya Allāh ﷻ akan memberikan rezeki, selama kita ini masih hidup Allāh ﷻ akan memberikan rezeki. Yang menanggung orang yang bersama kita bukan kita tapi Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengatakan

{وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا الله يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [العنكبوت: 60 al ankabut]

Dan betapa banyak hewan atau sesuatu yang melata (makhluk hidup), engkau tidak menanggung rezeki mereka. Kita dalam keadaan memikirkan diri kita sendiri, memikirkan keluarga kita siapa yang memberikan rezeki kepada tetangga kita, siapa yang memberikan rezeki kepada makhluk hidup yang tidak terhingga ini, Allāh ﷻ, dan kita dalam keadaan memikirkan diri kita sendiri dan orang yang bersama kita.

الله يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ

Allāh ﷻ yang memberikan rezeki kepada mereka dan juga kalian. Jangan merasa kita yang memberikan jasa kepada istri kita, memberikan jasa kepada orang tua kita, memberikan jasa kepada keluarga kita, tidak, Allāh ﷻ yang memberikan rezeki kepada mereka. Seandainya mereka mendapatkan rezeki dari kita maka hanya sekedar wasilah saja, kita ini hanya perantara, dari mana kita dapatkan rezeki tadi, dari Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang memberikan kecerdasan kepada kita, memberikan pekerjaan kepada kita kemudian kita mendapatkan rezeki kemudian kita berikan kepada orang yang menjadi tanggungan kita, Allāh ﷻ yang memberikan, bukan kita. Firman Allāh ﷻ

وَٱرۡزُقُوهُمۡ فِيهَا
[An-Nisa’:5]

Dan berikanlah rezeki kepada mereka. Maksudnya adalah jadilah kalian sebagai perantara, rezeki Allāh ﷻ berikan kepada mereka

وَلَا تُؤۡتُواْ ٱلسُّفَهَآءَ أَمۡوَٰلَكُمُ ٱلَّتِي جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمۡ قِيَٰمٗا وَٱرۡزُقُوهُمۡ فِيهَا

Dan berikanlah rezeki kepada mereka dalam harta kalian.

Maksudnya adalah kalian sebagai perantara yang menyampaikan rezeki yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kalian untuk diberikan dan diinfaqkan kepada mereka, kita hanya perantara saja. Instansi dan lembaga tempat kita bekerja juga hanya perantara, Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki. Kalau ingin memuji pujilah Allāh ﷻ, termasuk kekuatan Iman ketika yang kita puji dalam masalah rezeki adalah Allāh ﷻ bukan makhluk.

Mengucapkan terima kasih, jazakallahu khayran, syukron, itu yang memang diperintahkan dalam syariat kita, tapi memuji hanya kepada Allāh ﷻ berdoa dan mengucapkan syukron itulah yang memang seharusnya kita lakukan sebagai seorang hamba Allāh ﷻ.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.

Tapi pujian, menyandarkan nikmat, maka hanya kepada Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

ذُو الْقُوَّةِ

Dia-lah Allāh ﷻ Yang Dzul Quwwah, yaitu yang memiliki kekuatan. Dzul Quwwah ini termasuk nama Allāh ﷻ dan Dia termasuk nama Allāh ﷻ yang mudhafah yang berupa mudhaf – mudhaf ilaih. Karena nama Allāh ﷻ kalau dilihat dari tarkibnya (susunannya) apakah itu kata yang berdiri sendiri atau dia adalah mudhaf – mudhaf ilaih terbagi menjadi dua. Ada nama Allāh ﷻ yang Mufrodah, dia satu kata saja bukan mudhaf – mudhaf ilaih, ini contohnya banyak, Ar-Rohman, Ar-Rahim, Al-‘Alim, Al-Hakim, Al-Khabir, As-Sami’, Al-Bashir.

Tapi disana ada asma’ al-mudhofah, nama-nama Allāh ﷻ yang di idhofahkan, di sana ada mudhof disana ada mudhof ilahi.

Contohnya adalah Dzul Quwwah disini, dan ذُو maknanya adalah shahib, shahibul quwwah, yang memiliki kekuatan. Contoh yang lain Malikul Mulk, Maliki Yaumiddin, maka ini adalah nama Allāh ﷻ yang mudhofah, atau Robbul ‘Alamin, Robbul ‘Arsy, berarti ini adalah nama Allāh ﷻ yang mudhofah yang di idhofahkan.

Dzul Quwwah,sifat Allāh ﷻ yang terkandung didalamnya adalah Al-Quwwah. Ada sebagian mengatakan apa bedanya dengan Qowi, dan Al- Qowi termasuk nama Allāh ﷻ, namun disana ada makna yang tersembunyi dalam penggunaan ذُو yang artinya adalah yang memiliki. Sebagian mengatakan bahwasanya maksudnya adalah kekuatan yang tidak akan berkurang, Dzul Quwwah yaitu senantiasa memiliki kekuatan yang luar biasa, tidak akan berkurang, maka Allāh ﷻ Dia-lah yang sangat kuat, tidak ada yang mengalahkan kekuatan Allāh ﷻ. Lihat bagaimana Allāh ﷻ menciptakan langit dan Allāh ﷻ menahan langit sebesar itu sehingga tidak jatuh, Dia-lah Allāh ﷻ yang menahan benda-benda angkasa sehingga masing-masing berjalan di jalannya tidak bertabrakan satu dengan yang lain, Allāh ﷻ Dia-lah Dzat Yang Maha Kuat.

Dan diantara faedah yang bisa kita ambil dari nama Allāh Dzul Quwwah, seorang muslim atau seorang yang beriman tidak putus asa dengan apa yang menimpanya, Allāh ﷻ Robb yang dia sembah adalah Dzul Quwwah yang memiliki kekuatan yang luar biasa, Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya. Sehingga ketika dia mendengar kekuatan yang dimiliki oleh musuh-musuh Allāh ﷻ, yang mereka memiliki kekuatan demikian, kekuatan demikian, ketika dia mengingat Allāh ﷻ maka kekuatan-kekuatan musuh Allāh ﷻ adalah tidak ada bandingannya dengan kekuatan Allāh ﷻ.

Ada orang-orang yang lebih kuat dari mereka dan mereka hancur karena mereka menentang Allāh ﷻ. Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Kuat tidak ada yang mengalahkan kekuatan Allāh ﷻ.

Didalam ayat Al-Qur’an Allāh ﷻ ketika menceritakan kaum ‘Ād

فَأَمَّا عَادٌ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ

Adapun ‘Ād maka maka mereka sombong di bumi dengan tanpa hak

وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Dan mereka mengatakan siapa yang lebih kuat daripada kami.

Allāh ﷻ ciptakan mereka menjadi kaum yang memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan yang lain, tapi mereka lupa kepada Allāh ﷻ dan sombong dengan kekuatan tadi, sampai mereka berkata مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً, bahwa siapa yang lebih kuat daripada kami, lupa bahwasanya Allāh ﷻ yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً
[Fushshilat:15]

Apakah mereka tidak melihat bahwasanya Allāh ﷻ yang telah menciptakan mereka itu lebih kuat daripada mereka.

Yang menciptakan mereka, yang memberikan kekuatan kepada mereka lebih berhak memiliki sifat kekuatan lebih daripada mereka, ini menjadi dalil bahwasanya di antara cara untuk mengenal sifat Allāh ﷻ adalah dengan akal dengan qiyas aula. Kalau makhluk yang diciptakan oleh Allāh ﷻ memiliki sifat kesempurnaan, dan kekuatan adalah termasuk sifat kesempurnaan bagi makhluk, makhluk yang lebih kuat maka itu lebih sempurna, maka seluruh sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk dan mungkin bagi Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ lebih berhak memiliki sifat tersebut.

Seluruh sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk dan mungkin Allāh ﷻ bersifat dengannya maka Allāh ﷻ lebih berhak memiliki sifat tersebut. Ini termasuk menetapkan sifat Allāh ﷻ dengan akal, jadi di sana ada sifat Allāh ﷻ yang ada di dalam dalil Al-Qur’an dan juga hadist dan juga bisa dia di waktu yang sama dengan akal juga bisa kita mengakui bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat tersebut. Berarti terkumpul didalamnya dalil naqli dan dalil aqli.

Kalau seorang makhluk dia memiliki sifat kesempurnaan tadi maka yang menciptakan itu lebih berhak, yang memberikan itu lebih berhak memiliki sifat tadi daripada makhluk tadi. Kalau makhluk tadi memiliki sifat kekuatan maka Allāh ﷻ lebih kuat dan Dia-lah yang memiliki sifat kuat tersebut dan sifat kuat yang dimiliki oleh Allāh ﷻ tentunya berbeda dengan sifat kuat yang dimiliki oleh makhluk, Allāh ﷻ memiliki sifat kuat dan makhluk juga memiliki sifat kuat. Allāh ﷻ mengatakan

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً
[Ar-Rūm:54]

Allāh ﷻ Dia-lah menciptakan kalian dari kelemahan kemudian menjadikan setelah kelemahan tersebut kekuatan.

Allāh ﷻ berikan kepada kita kekuatan. Dan di dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam salah seorang dari putri Syu’aib berkata

إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ
[Al-Qashash:26]

Wahai bapakku sewalah dia (Musa), sesungguhnya sebaik-baik orang yang kau sewa adalah orang yang kuat dan juga terpercaya.
Berarti makhluk juga memiliki sifat kuat, apakah ketika kita menetapkan sifat kuat bagi Allāh ﷻ dalam Firman-Nya Dzul Quwwah berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Jawabannya tidak. Kita memiliki kekuatan tapi sangat terbatas, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang paling kuat di dunia, apa yang bisa diangkat, tapi kekuatan Allāh ﷻ adalah kekuatan yang sangat sempurna. Allāh ﷻ kuat dan Allāh ﷻ tidak pernah lelah, Allāh ﷻ mengatakan wa mā massanal bil lughub, dan kami tidak ditimpa oleh lelah atau capek, ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ ,Dia-lah yang memiliki kekuatan yang sangat sempurna dan luar biasa.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Al-Matīn ada yang menafsirkan maknanya adalah asy-syadid yaitu yang sangat kokoh yang sangat kuat, syiddatul quwwah. Sifat yang terkandung di dalamnya adalah Al-Matanah yang artinya adalah syiddatul quwwah, kekuatan yang sangat kokoh. Berarti di sini Allāh ﷻ menetapkan di dalam ayat ini disebutkan ada empat nama Allāh ﷻ dan masing-masing diantara nama tadi mengandung sifat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 14

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 14 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS At-Tahrim Ayat 2 dan 3, Saba Ayat 2, dan Al-Anam 59

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ

Dan juga nama Allāh ﷻ

وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui lagi Maha Al-Hakim. Syahidnya disini adalah وَهُوَ الْعَلِيمُ dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui. Nama Allāh Al-‘Alim kita tetapkan dan mengandung sifat Al-‘Ilmu, Al-Hakim, Dia-lah yang Maha Al-Hakim bisa diartikan Maha Bijaksana bisa diartikan Maha Menghukum dan bisa juga diartikan Maha Kokoh, kokoh dalam menciptakan dalam mensyariatkan.

Kenapa kita katakan di sini bisa diartikan macam-macam, karena Al-Hakim ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung minimal tiga sifat.

Pertama adalah mengandung sifat Al-Hikmah (bijaksana), Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana,

Kedua mengandung sifat Al-Hukum, Dia-lah yang menghukumi,

Ketiga sifatnya adalah sifat Al-Ihkam yang artinya adalah itsqan yaitu kokoh dan teliti, sempurna, kuat.

Berarti ada tiga sifat yaitu Al Hikmah, Al Hukum, dengan Al-Ihkam.

Hikmah yaitu Allāh ﷻ Maha Bijaksana, maksud bijaksana adalah meletakkan sesuatu pas pada tempatnya, tidak ada yang meleset, tidak ada yang kurang. Allāh ﷻ itu hikmah dan Maha Bijaksana baik dalam syariat-Nya maupun dalam penciptaan.

Dalam syariat-Nya, yaitu di dalam Al-Qur’an atau di dalam Sunnah, syariat yang ada dalam agama Islam ini penuh dengan hikmah. Kalau Allāh ﷻ mensyariatkan sesuatu yakin pasti di sana ada hikmahnya, Allāh ﷻ Maha Bijaksana. Kenapa shalat lima kali, kenapa salat dzuhur setelah tergelincirnya matahari, kenapa maghrib setelah terbenamnya matahari, yakin di situ ada hikmanya. Kenapa kita disyariatkan untuk puasa Syawal, kenapa ada syariat puasa tiga hari setiap bulan, kenapa disana rawatib, kita yakin bahwasanya di dalam setiap apa yang disyariatkan oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada hikmanya, kebaikan kembali untuk diri kita sendiri baik di dalam apa yang Allāh ﷻ perintahkan maupun apa yang Allāh ﷻ larang. Allāh ﷻ melarang untuk berzina Allāh ﷻ melarang untuk melihat sesuatu yang diharamkan maka pasti di sana ada hikmahnya.

Dan ditahun-tahun terakhir ini banyak penelitian misalnya tentang akibat seseorang melihat sesuatu yang diharamkan, melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat padahal itu adalah perkara yang diharamkan. Bagaimana itu pengaruhnya terhadap otak seseorang, disana ada hormon tertentu yang akan keluar ketika seseorang melihat perkara yang diharamkan, tetapi ketika itu berlebih-lebihan akhirnya akan banjir hormon tersebut yang akhirnya akan mempengaruhi daya pikir seseorang, menjadi orang yang bodoh, menjadi orang yang tidak bisa berpikir, susah untuk menghafal dan lain-lain.

Berarti secara syariat dilarang oleh Allāh ﷻ dan secara ilmiah dan ini menunjukkan hikmah Allāh ﷻ, ketahuilah bahwasanya dalam syariat yang lain ini juga demikian. Kenapa seorang wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, pasti disana ada hikmahnya, ada yang mengatakan bahwasanya kulit wanita ini berbeda dengan kulit laki-laki, dia mudah terkena mudhorot ketika terkena matahari secara langsung berbeda dengan kulit laki-laki misalnya, jadi di sana ada maslahat tersendiri bagi kita.
Seorang muslim meskipun dia tidak tahu tentang hikmah tadi maka dia beriman, melaksanakan apa yang Allāh ﷻ perintahkan dan meninggalkan apa yang Allāh ﷻ larang dengan hati yang tenang dan yakin itu adalah untuk kebaikan ana sendiri. Orang yang menjalani syariat ini maka dia akan hidup dengan nyaman, hidup dengan sehat.

Hikmah di dalam syariat dan juga hikmah di dalam penciptaan. Ketika Allāh ﷻ menciptakan maka itu semuanya dengan penuh perhitungan, berdasarkan ilmu, Allāh ﷻ menciptakan kita sebagai manusia sudah dengan ilmu dan dengan perhitungan yang sangat matang yang sangat bijaksana, Dia-lah yang menciptakan kita fī aḥsani taqwīm, dengan bentuk yang sangat indah, tangan yang proporsional, kakinya juga demikian, posisinya juga luar biasa, di taruh posisi tangan di sini supaya kita lebih leluasa untuk melakukan berbagai pekerjaan kita, diberikan kita dua tangan bukan satu tangan, diberikan tangan ini jari-jemari yang dengannya kita bisa memegang banyak hal, diberikan kita gigi dan gigi nya bermacam-macam ada yang fungsinya untuk mengunyah ada yang fungsinya untuk mencabik, disana ada lidah yang digunakan untuk menggerakkan makanan ke kanan dan juga kekiri, di sana ada zat yang bisa mematikan kuman, disana ada yang melembutkan, disana ada yang menyerap, disana ada yang mengedarkan, Subhanallāh, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Bijaksana.

Siapa yang menciptakan yang demikian selain Allāh ﷻ, Dia-lah Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan. Siang dan juga malam di bolak balik oleh Allāh ﷻ, hikmah yang sangat dalam, penciptaan langit, penciptaan bumi, bagi orang yang memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ ini maka dia akan mendapatkan bagaimana Allāh ﷻ Dia-lah yang Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana baik di dalam syariatnya maupun dalam penciptaannya.

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang menghukumi baik hukum syar’I, Allāh ﷻ menurunkan hukum-hukum-Nya didalam syariat, maka Allāh ﷻ Dia-lah Al-Hakim yang menurunkan hukum syar’i maupun hukum yang kauni, Allāh ﷻ yang menciptakan.

Demikian pula Al-Ihkam, diantara sifat yang terkandung dalam Al-Hakim adalah Al-Ihkam yaitu kokoh, kokoh dalam syariat maupun kokoh dalam penciptaan maka Allāh ﷻ Dia-lah Al Hakim Yang Maha Bijaksana Yang Maha Menurunkan Hukum, Dia-lah Yang Mutkin dalam hukum-Nya.

Ayat yang selanjutnya adalah firman Allāh ﷻ

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Al-Khobir, syahidnya di sini adalah Al-‘Alim, Allāh ﷻ menetapkan dalam ayat ini nama Allāh Al-‘Alim ini adalah syahidnya, ditambah lagi dengan Al-Khabir.

Ayat yang sebelumnya Al-‘Alim Al-Hakim, hubungan antara hikmah dengan ilmu yang namanya hikmah ini berdasarkan ilmu, seseorang bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya kalau dia memiliki ilmu, adapun orang yang jahil maka dia ngawur dalam meletakkan sesuatu. Kalau kita memang ingin bijaksana, menjadi orang yang bijaksana maka hendaklah kita menuntut ilmu agama, menuntut ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kita akan menjadi orang yang bijaksana adapun orang yang tidak memiliki ilmu maka bagaimana dia akan menjadi orang yang bijaksana.

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Hubungan antara Al-’Alim dengan Al-Khabir, Al-Khabir mengandung sifat khibrah artinya pengalaman dalam bahasa kita, yang dimaksud dengan khibrah dalam bahasa Arab adalah ilmu yang sempurna dan ilmu yang mendalam, yang teliti, itu dinamakan dengan khibrah, khibrah ini adalah kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu tadi. Berarti di sini ada makna yang za’id (tambahan), bukan hanya sekedar ilmu tapi kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu.

Makanya antara tahu dengan berpengalaman ini lebih dalam berpengalaman. Dia pengalaman artinya sudah bertahun-tahun dan sudah mengetahui luar dalamnya, ini pengalaman. Allāh ﷻ Dia-lah Al-Alimul Khobir, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan dua ayat ini untuk menguatkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-’Alim dan diantara sifat Allāh ﷻ adalah Al-‘Ilmu.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ dalam Surat Saba’

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Allāh ﷻ Dia-lah Al-’Alim dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia-lah Al-Khabir Yang Maha Mengetahui perkara dalam sampai yang sedetail-detailnya, Dia-lah Al-Bathin yang mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya, maka di sana ada ayat yang memperinci ilmu Allāh ﷻ diantaranya adalah surah Saba ini, untuk menunjukkan kepada kita tentang bagaimana kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ

Allāh ﷻ mengetahui setiap apa yang masuk ke dalam bumi, yaliju artinya adalah yadkhulu, Allāh ﷻ mengetahui setiap yang masuk kedalam bumi. Disana ada benda-benda, makhluk-makhluk yang masuk ke dalam bumi, semut misalnya, cacing misalnya di atas kemudian dia masuk ke sarangnya, atau air yang turun dari atas masuk ke dalam bumi juga atau orang yang meninggal dunia dikuburkan ke dalam bumi, seluruh perkara atau seluruh benda seluruh makhluk yang masuk ke dalam bumi Allāh ﷻ يَعْلَم, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang masuk ke dalam bumi kecuali Allāh ﷻ tahu apa yang masuk dalam bumi tadi. مَا disini menunjukkan umumnya, apa saja, tidak mungkin masuk ke dalam bumi sesuatu yang tidak diketahui oleh Allāh ﷻ

وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Dan Allāh ﷻ mengetahui apa yang keluar dari bumi. Air keluar dari bumi, barang tambang misalnya keluar dari bumi, minyak bumi, emas misalnya, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, apa yang keluar dari bumi itu di bawah Ilmu Allāh ﷻ. Tumbuhnya tunas misalnya keluar dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, keluarnya setetes air atau sedikit air dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, itu dibawah ilmu Allāh ﷻ, keluarnya minyak bumi itu adalah dengan ilmu Allāh ﷻ, keluarnya lahar misalnya dari gunung berapi maka itu Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ, yang masuk ke dalam bumi yang keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء

Dan apa yang turun dari langit, kalau tadi Allāh ﷻ bicara tentang bumi sekarang bicara tentang langit, makhluk Allāh ﷻ yang sangat besar. Yang turun darinya Allāh ﷻ mengetahui, seperti malaikat Jibril yang datang dari atas menyampaikan wahyu pada seorang nabi atau malaikat-malaikat sebagaimana yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Qadr. Atau yang datang dari atas, مِنَ السَّمَاء di sini juga bisa diartikan dari atas, seperti misalnya hujan, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun berapa kubik dan di mana dia akan turun dan kapan turunnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا

Dan apa yang naik ke atas, baik itu malaikat-malaikat yang Allāh ﷻ tugaskan, karena setiap hari ada malaikat-malaikat yang bergantian naik turun, dan di sana ada amalan-amalan yang naik ke atas disampaikan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun dari atas maupun yang naik ke atas tidak ada yang samar bagi Allāh ﷻ. Tidak mungkin ada yang naik dan tidak mungkin ada yang turun dan itu tidak diketahui oleh Allāh ﷻ, semuanya dengan ilmu Allāh ﷻ, ini menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu, ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ.

Didalam ayat yang lain yaitu surat Al-An’am, Allāh ﷻ mengatakan

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Dan di sisi-Nya ada kunci-kunci ilmu ghoib, ada yang mengartikan kunci-kunci di sini adalah khozā’in yaitu perbendaharaan ilmu ghoib itu di sisi Allāh ﷻ.

لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Disebutkan dalam sebuah hadits tentang makna مَفَاتِحُ الْغَيْبِ, Nabi ﷺ mengatakan

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ

Kunci-kunci ilmu ghoib itu ada lima, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Haditsnya Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.

لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلاَّ اللَّهُ

>>Tidak ada yang mengetahui apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allāh ﷻ, yaitu yang mengetahui dia kelak akan menjadi seorang laki-laki atau wanita dan seterusnya, tidak ada yang mengetahui yang demikian kecuali Allāh ﷻ, ini sebelum Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat, setelah Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat dia laki-laki atau perempuan maka ini tidak lagi menjadi ilmu ghoib karena sudah diberitahukan oleh Allāh ﷻ kepada malaikat sehingga bisa diketahui laki-laki atau wanita setelah berapa bulan, yaitu kalau sudah diketahui berarti ini bukan lagi ilmu ghoib tapi sebelumnya tidak ada yang bisa mengetahui.

وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلاَّ اللَّهُ

>>Dan tidak mengetahui apa yang terjadi besok kecuali Allāh ﷻ.

Dukun tidak tahu, tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang kecuali Allāh ﷻ, bahkan dusta setiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib, para peramal para dukun yang dengan berbagai cara mereka menipu manusia.

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللَّهُ

>>Tidak mengetahui kapan akan datang hujan seorangpun kecuali Allāh ﷻ. Dengan ilmu yang yakin di atas keyakinan besok akan terjadi hujan, yang mengetahui hanya Allāh ﷻ saja, kalau kita hanya memperkirakan, disana ada mendung itu kita hanya memperkirakan saja adapun ilmu yang pasti yang mengetahui Allāh ﷻ.

وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلاَّ اللَّهُ

>>Sebuah jiwa tidak mengetahui kapan dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ, dimana dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللَّهُ

>>Dan tidak mengetahui kapan terjadinya As-Sa’ah (tiupan sangkakala yang pertama) kecuali Allāh ﷻ.


Ini adalah مَفَاتِحُ الْغَيْبِ lima perkara yang merupakan kunci ilmu ghoib, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui apa yang ada di darat maupun yang ada di lautan. Yang ada di darat seluruhnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tentang diri kita, tentang makhluk yang lain, pohon, hewan dan apa yang ada di dalam daratan maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan apa yang ada di lautan dengan berbagai jenis ikannya dan benda-benda yang ada di dalamnya, kapal-kapal yang karam dan seluruh makhluk hidup dan makhluk yang mati di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

Dia-lah Allāh ﷻ yang mengetahui segala sesuatu apa yang terjadi di lautan, mungkin di sana ada peninggalan-peninggalan Firaun yang dikisahkan dalam Al-Qur’an tenggelamnya dia di dalam laut, dan kapal-kapal yang besar yang mereka tenggelam dan tidak diketahui kabarnya, Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang terjadi di dalam sana, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di darat maupun di laut.

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا

Dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allāh ﷻ mengetahui, Subhanallāh, jatuhnya daun misalnya di malam hari dan kalau kita hitung berapa jumlah daun yang ada dibumi, satu persatu jatuhnya dia Allāh ﷻ Maha Mengetahui, kapan jatuhnya, karena sebab apa karena angin atau karena digoyang oleh orang, di mana dia jatuhnya, bagaimana dia jatuhnya itu tidak lepas dari ilmu Allāh ﷻ. Kalau yang demikian saja Allāh ﷻ mengetahui lalu bagaimana dengan yang perkara-perkara yang lain.

وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ

Dan tidak pula biji-bijian yang ada dalam kegelapan-kegelapan bumi. Karena cahaya tidak sampai ke dalam sana tapi biji-bijian yang ada di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan kita tidak melihat ternyata mungkin di bawah rumah kita ada biji ini, ternyata di sana ada biji ini, di bawah bumi itu banyak biji-bijian, mungkin terbawa air, mungkin di bawah burung atau dilempar oleh seseorang, bentuknya kecil tapi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, ketika turun hujan tertimpa air kemudian Allāh ﷻ menghendaki dia untuk tumbuh.

وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِين

Dan tidak ada sesuatu yang basah ataupun yang kering kecuali itu semuanya ada dalam kitab yang jelas, yaitu dalam lauh al-mahfudz. Bagaimana seseorang ragu bahwasanya Allāh ﷻ memiliki ilmu yang Maha Sempurna. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَى وَلا تَضَعُ إِلاَّ بِعِلْمِه

Dan tidaklah seorang wanita mengandung dan tidak melahirkan kecuali dengan ilmu Allāh ﷻ. Mengandung sebabnya apa, berapa lama dia mengandung, apa yang terjadi dalam perutnya dan ketika melahirkan juga demikian kapan dia akan lahir, Allāh ﷻ yang menentukan Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui, dimana dia akan melahirkan Allāh ﷻ yang juga mengetahui tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ. Kemudian ayat yang terakhir

وَقَوْلُهُ: لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Supaya kalian mengetahui bahwa Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Ini Allāh ﷻ sebutkan setelah Allāh ﷻ menyebutkan tentang penciptaan Allāh ﷻ terhadap tujuh langit dan juga bumi, Allāh ﷻ mengatakan

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ

[At-Talaq:12]

Allāh ﷻ Dia-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi yang semisalnya, ada yang mengatakan bumi juga tujuh,

يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ

Perintah Allāh ﷻ turun antara langit dan bumi, yaitu Allāh ﷻ mewahyukan kepada seorang nabi seorang rasul

لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Supaya kalian mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Yaitu Allāh ﷻ menciptakan diantara faedahnya supaya kita paham, supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.

Jadi tidak ada keputusasaan pada diri seorang muslim tidak ada putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ Dia-lah yang untuk mampu melakukan segala sesuatu, Dia-lah yang bisa menghilangkan dari kita bala’ dalam sekejap dalam sedetik atau kurang dari sedetik Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya, senantiasa ada dalam diri seorang muslim harapan, keluar dari berbagai problem baik problem pekerjaan atau rumah tangga, Allāh ﷻ mampu untuk menolong dia dan melakukan apa yang kita minta dari Allāh ﷻ.

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kalau kita memperhatikan ciptaan Allāh ﷻ langit maupun bumi dan bagaimana itqannya (detailnya) Allāh ﷻ menciptakan ciptaan tersebut, di sini kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ ilmunya adalah sangat-sangat luas dan sangat detail, berarti ayat ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat ilmu, yaitu dalam Firman-Nya

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan bahwasanya ilmu Allāh ﷻ ini meliputi segala sesuatu.

Disana ada aliran atau orang yang menyimpang dalam masalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ayat-ayat ini membantah itu semua, seperti misalnya orang-orang qadariyah yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya, ini adalah keyakinan yang menyimpang dan jelas ini bertentangan dengan firman-firman Allāh ﷻ yang sudah disebutkan oleh Syaikhul Islam sebagiannya dalam kitab ini. Dia mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui kecuali setelah terjadinya, padahal Allāh ﷻ mengatakan

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan dalam ayat kursiy

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang sudah berlalu dan apa yang akan terjadi, maka ini menunjukkan tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ, tidak seperti yang di yakini oleh sebagian firoq dhollah (aliran yang sesat), ini semua karena mereka tidak kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits dengan pemahaman para salaf, dan mereka kembali kepada akal-akal mereka sendiri sehingga terjatuh lah mereka ke dalam kesesatan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 13

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 13 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Setelah mendatangkan ayat yang berkaitan dengan nama Allāh Al-Hayyu yang mengandung sifat Al-Haya maka beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Disini ada 7 ayat, 1) Surat Al-Hadid, 2) At-Tahrim وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم, kemudian 3) At-Tahrim lagi, kemudian 4) Surah Saba’, kemudian 5) surah Al-Anam, kemudian 6) surat Fatir, kemudian 7)surat At-Talaq. Ini ada 7 ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Beliau kumpulkan jadi satu supaya mudah bagi kita, dan itu yang akan beliau lakukan setelahnya, mengumpulkan beberapa ayat yang menunjukkan tentang satu sifat, kemudian mengumpulkan beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang satu sifat, ada yang mutajanis (sejenis) beliau kumpulkan, tentunya untuk memudahkan kita dalam menghafal. Dan di sini beliau mendatangkan ayat dan juga mendatangkan hadits, isyarat bahwasanya yang namanya nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyah, kita menerima jadi dari Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya.

Beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ: هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah (Allāh ﷻ) Al-Awwal. Yang dimaksud dengan Al-Awwal adalah yang tidak ada sesuatu yang mendahului Allāh ﷻ.

وَالآخِرُ

Yang dimaksud dengan Akhir, tidak ada suatu setelah Allāh ﷻ artinya Dia yang terakhir. Dia-lah yang tidak akan meninggal, Dia-lah yang tidak akan musnah, Dia-lah yang akan ada selamanya.

وَالظَّاهِرُ

Yang dimaksud dengan Dzohir adalah Yang Maha Tinggi, yang tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada Allāh

وَالْبَاطِنُ

Adalah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara sedalam-dalamnya, sebatin-batinnya. Dan ini ditafsirkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam sebuah hadits dan tentunya ini adalah tafsir yang paling baik, karena ketika seseorang menafsirkan Al-Qur’an yang paling baik adalah

*Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an

*Menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi ﷺ.

Kalau sudah ditafsirkan oleh Nabi ﷺ, kita pegang erat-erat apa yang Beliau ﷺ sampaikan.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dimana hadits ini menceritakan tentang adab diantara adab-adab ketika seseorang akan tidur. Disebutkan Abu Sholih memerintahkan murid-muridnya kalau salah seorang di antara mereka ingin tidur maka hendaklah mereka berbaring di atas badan bagian kanan kemudian dia mengatakan

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيْلَ وَالْفُرْقَانَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

Ya Allāh ﷻ Engkau adalah yang awwal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu.

Allāh ﷻ Dia-lah yang tidak didahului dengan ketidak adaan, Allāh ﷻ dari dulu ada.

وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ

Dan Engkau adalah akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu. Artinya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Hidup, Dia-lah yang akan ada selamanya, dan ini adalah sifat Dzatiyah bagi Allāh ﷻ. Al-Awwal di dalamnya ada sifat Al-Awwaliyyah, Al-Akhir di dalamnya ada sifat Al-Akhiriyah, berarti di sini kita menetapkan dua nama bagi Allāh ﷻ, Al-Awwal Al-Akhir, Al-Awwal mengandung sifat Awwaliyah, Al-Akhir mengandung sifat Al-Akhiriyah

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ

Dan Engkau adalah Adz-Dzohir. Adz-Dzohir artinya adalah Tinggi atau Yang Maha Tinggi, kalimat dzuhur artinya adalah tinggi sebagaimana dalam surat Al-Kahfi Allāh ﷻ ketika menceritakan tentang ya’juj dan juga ma’juj

فَمَا ٱسْطَٰعُوٓا۟ أَن يَظْهَرُوهُ

Mereka, yaitu ya’juj dan juga ma’juj tidak mampu untuk يَظْهَرُوهُ, yaitu naik ke atas tembok raksasa atau dinding raksasa yang dibuat oleh Dzulqarnain, karena sangat tingginya tembok tadi mereka tidak bisa menaiki, naik ke sana adalah sesuatu yang sulit bagi mereka licin dan dia adalah tinggi, mereka tidak mampu untuk menaiki tembok raksasa tadi.

وَمَا ٱسْتَطَٰعُوا۟ لَهُۥ نَقْبًا

Dan mereka tidak mampu untuk melubangi, karena dia adalah terbuat dari logam yang sangat kuat mereka tidak mampu melubangi, jadi naik ke atas tidak bisa melubangi yang di bawah juga tidak bisa. Disini syahid bahwasanya makna dzuhur adalah tinggi. Adz-Dzohir artinya adalah Yang Maha tinggi.

فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ

Tidak ada sesuatu di atas Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Tinggi. Berarti disini kita menetapkan sifat tinggi bagi Allāh ﷻ. Kemudian

وَأَنْتَ الْبَاطِنُ

Dan Engkau adalah Al-Bathin, Engkau adalah Yang Maha Bathin. Bathin adalah dalam, وَأَنْتَ الْبَاطِنُ maksudnya Engkau adalah yang paling dalam

فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ

Maka tidak ada yang lebih dalam dari-Mu. Maksudnya adalah Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu sampai yang paling dalam, yang dzhohirnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, batinnya (dalam-dalamnya) juga Allāh ﷻ Maha Mengetahui.
Berarti di sini di antara nama Allāh ﷻ adalah Adz-Dzhohir, sifatnya adalah Adz-Dzhuhur, diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Bathin dan sifatnya adalah Allahu A’lam bathiniyah, yang Dzhohir juga bisa juga sifat Dzhohiriyah atau sifat di sini sifat bathiniya. Kita terapkan bagi Allāh ﷻ karena setiap nama ini mengandung sifat.

Berarti Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Tinggi, meskipun Allāh ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ, tapi ternyata Allāh ﷻ yang paling mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya. Allāh ﷻ Maha tinggi di atas dan kita berada di sini di bawah tapi yang lebih mengetahui tentang perincian apa yang ada disekitar kita sedalam-dalamnya adalah Allāh ﷻ. Jadi tidak ada di sana pertentangan antara ketinggian Allāh ﷻ dengan Maha Tahunya Allāh ﷻ, Dia-lah Adz-Dzhohir, Dia-lah Al-Bathin, Dia-lah Yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang mengetahui batin-batin seluruh perkara sampai sedalam-dalamnya. Dia-lah yang awal dan Dia-lah yang akhir, Dia-lah yang awal yang tidak didahului dengan sesuatu dan tidak akan binasa, Dia-lah Yang Maha Hidup.

اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ

Ya Allāh ﷻ tunaikanlah, bayarkanlah utang kami

وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Dan cukupkanlah kami dari kefaqiran, artinya cukupkanlah kami dan jauhkan kami dari kefaqiran.

Ini termasuk dzikir yang disyariatkan sebelum kita tidur, di situ ada pujian kepada Allāh ﷻ, ada bertawasul kepada Allāh ﷻ, bertawasul dengan rububiyah Allāh ﷻ kemudian juga bertawasul dengan nama-nama Allāh ﷻ, kemudian di situ ada permintaan kepada Allāh ﷻ supaya di hilangkan atau ditunaikan hutangnya dan dicukupi dari kefaqiran. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ.

Maka ini adalah tafsir yang paling baik karena ditafsirkan langsung oleh nabi kita Muhammad

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Dan Dia-lah yang dengan segala sesuatu Maha Mengetahui, dan disini syahid وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu mencakup apa saja, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, yang sekarang, di masa yang akan datang, semuanya masuk dalam بِكُلِّ شَيْء segala sesuatu. Segala sesuatu baik yang ada dibumi maupun apa yang ada dilangit, segala sesuatu baik yang berkaitan dengan dzat makhluk-Nya maupun perbuatan-perbuatan mereka.

بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu. Dari sini kita mengetahui tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ. Apakah makhluk memiliki ilmu? Na’am ilmu juga merupakan sifat makhluk. Allāh ﷻ menyebutkan dalam Al-Qur’an menyifati sebagian nabi-Nya bi ghulamin ‘alim (seorang anak yang mengetahui), makhluk juga memiliki sifat Ilm.

Apakah ketika kita menetapkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Nyatanya tidak. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna seperti tadi kesempurnaannya, segala sesuatu diketahui Allāh ﷻ yang telah berlalu maupun yang akan datang. Kalau ilmu kita ilmu yang sangat terbatas.

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

[Al-Isra’:85]

Tidaklah kalian diberikan dari ilmu ini kecuali sangat sedikit. Silakan Antum membaca buku sebanyak-banyaknya, belajar sebanyak-banyaknya, berapa sih yang kita dapatkan dari ilmu. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sangat luas. Berarti ketika seseorang menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ, bukan berarti dia menyamakan dengan makhluk, ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna, tidak didahului dengan kebodohan seperti kita dan tidak diakhiri dengan lupa atau hilang ingatan, itu ilmu Allāh ﷻ tidak didahului oleh kebodohan, beda dengan ilmu kita.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا

[An-Nahl:78]

Allāh ﷻ mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu. Setelah itu kita besar kemudian kita belajar dan banyak perkara yang kita ketahui, ketika kita sudah tua ada diantara kita yang sudah mulai berubah, sebelumnya dia tahu dan hafal nama anak-anaknya, sekarang ditanya ini siapa dia tidak tahu. Kemarin dia mahir dalam matematika sekarang dia satu tambah satu saja tidak bisa, itulah ilmu manusia.

Allāh ﷻ Dia-lah yang بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم Dia-lah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Kalau demikian maka kita meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu dan Allāh ﷻ memuliakan orang-orang yang berilmu, maka kita meminta sebagian dari ilmu Allāh ﷻ, meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengajarkan kita.

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ berdoa kepada Allāh ﷻ untuk Abdullah ibn Abbas

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allāh ﷻ jadikan dia paham tentang agamanya dan ajarkan kepada dia ilmu tafsir. Karena Allāh ﷻ Dia-lah yang yufaqqih dan Dia-lah yang yu’allim.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan maka Allāh ﷻ akan menjadikan dia paham tentang agamanya. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ

[An-Nisa’:113]

Dan Allāh ﷻ mengajarkan kepadamu apa yang engkau tidak tahu. Dan Allāh ﷻ mengatakan

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

[Al-’Alaq:5]

Dia-lah yang mengajarkan manusia sesuatu yang dia tidak tahu sebelumnya.

Mintalah kepada Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, mintalah kepada Allāh ﷻ ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada para ulama kita. Sehingga sebagian salaf dahulu atau sebagian ulama seperti Ibnu Hajar, ketika dia mengetahui bagaimana luasnya ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada Al-Imam Adz-Dzahabi beliau berdoa kepada Allāh ﷻ minta supaya diberikan ilmunya Al-Imam Adz-Dzahabi karena dia tahu bahwasanya yang memberikan ilmu kepada Adz-Dzahabi adalah Allāh ﷻ.

Maka ini adalah pemahaman bagi kita, ketika kita melihat, takjub, masya Allāh syekh fulan syekh fulan memiliki ilmu luar biasa, kembali kita kepada Allāh ﷻ, ya Allāh ﷻ ajarkan kepadaku ilmu agama sebagaimana engkau berikan kepada misalnya Syaikhul Islam kepada Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar. Sebagian kita mungkin tidak sampai ke situ dia memikirkan, dia mengatakan masyaAllāh ﷻ syekh fulan demikian dan demikian tidak sampai kepada merendahkan diri kepada Allāh ﷻ untuk mendapatkan ilmu agama ini.

Maka ini adalah ayat yang pertama, menunjukkan kepada kita tentang, pertama penetapan nama Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin dan juga nama Allāh ﷻ Al-’Alim. Kemudian kandungan sifatnya di sini Al-Awaliyah, Al-Akhiriyah, Adz-Dzhohiriya, Al-Bathiniya dan sifat Al-’Ilmu.

Sebagian mengatakan هُوَ الأَوَّل disini adalah mubtada’ dan juga khobar, khobarnya disini ma’rifah, mubtada’nya juga ma’rifah, jelas, maka kalau sama-sama ma’rifah seperti ini menunjukkan kekhususan, artinya nama Allāh Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin ini khusus bagi Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 12

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 12 | Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Al-Furqon 58

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-12 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ: وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ

Dan bertawakal-lah kepada Yang Maha Hidup yang tidak meninggal dunia.

Didalam ayat ini beliau rahimahullah membawakan ayat ini untuk menjelaskan kepada kita bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ tetapkan, yang Allāh ﷻ itsbat di dalam Al-Qur’an adalah Al-Hayy

Dan bertawakal lah kepada Al-Hayy, Al-Hayy adalah yang Maha Hidup, nama diantara nama-nama Allāh ﷻ dan kaidah menyebutkan bahwasanya setiap nama Allāh ﷻ itu mengandung minimal satu sifat dan sifat yang terkandung di dalam nama Allāh ﷻ Al-Hayyu adalah Al-Hayah yang artinya adalah kehidupan. Jadi nama Allāh ﷻ adalah Al-Hayyu dan sifat Allāh ﷻ yang terkandung di dalam Al-Hayyu adalah Al-Hayah atau kehidupan.

Dan nama-nama Allāh ﷻ adalah nama-nama yang Husna, yang paling baik, dan sifat-sifat Allāh ﷻ adalah sifat-sifat yang paling tinggi yang paling sempurna, sehingga di sini kita mengetahui bahwasanya sifat kehidupan yang terkandung di dalam nama Allāh ﷻ Al-Hayyu adalah kehidupan yang sempurna, yaitu kehidupan yang tidak diawali dengan tidak ada dan kehidupan yang tidak diakhiri dengan kematian atau kebinasaan, maka Dia-lah Allāh ﷻ Al-Hayyu dan ini yang membedakan antara sifat hidup bagi Allāh ﷻ dengan sifat hidup yang dimiliki oleh makhluk.

Makhluk memiliki sifat hidup namun sifat hidup yang dimiliki oleh makhluk adalah sifat hidup yang penuh dengan kekurangan, sifat hidup yang diawali dengan ketidakadaan

هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? [Al-Insan:1]

Diawali dengan ketidakadaan kemudian Allāh ﷻ menciptakan sehingga kita menjadi sesuatu yang ada, yang memiliki nama memiliki sifat, apakah kita akan selamanya hidup seperti ini setelah sebelumnya kita tidak ada dan tidak disebut? semuanya akan meninggal dunia, semuanya akan binasa

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
[Ar-Rahman:26]

Dan setiap apa yang ada di atasnya, yaitu di atas bumi, akan فَان yaitu akan binasa, maka kehidupan makhluk diakhiri dengan kebinasaan

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ
[Aali Imran:185]

Setiap yang memiliki jiwa akan merasakan kematian. Inilah sifat hidup yang kita miliki, dari sini juga kita bisa mengambil pelajaran bahwasanya ketika seseorang menetapkan sebuah sifat bagi Allāh ﷻ bukan berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk, kita semua sepakat bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat hidup bahkan ahlul bid’ah sekalipun mereka juga menetapkan, mustahil mereka menetapkan sifat mati bagi Allāh ﷻ, sifat itu adalah di antara sifat-sifat Allāh ﷻ yang dzatiyah yang melazimi Allāh ﷻ.

Apakah ketika seseorang menetapkan sifat hidup bagi Allāh ﷻ sementara dia melihat dirinya juga hidup dan apa yang ada di sekitarnya juga banyak makhluk hidup kemudian dianggap kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Semuanya sepakat jawabannya tidak. Kenapa kita menetapkan sifat hidup bagi Allāh ﷻ, itu adalah sifat hidup yang sesuai dengan kesempurnaan Allāh ﷻ, sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Tidak diawali dengan tidak ada dan tidak diakhiri dengan kebinasaa/ kematian, berbeda dengan sifat hidup yang dimiliki oleh makhluk. Jadi Allāh ﷻ memiliki sifat hidup sesuai dengan kesempurnaan-Nya dan kita juga memiliki sifat hidup sesuai dengan kekurangan kita sebagai seorang makhluk, Allāh ﷻ menetapkan di dalam ayat ini bahwa nama-Nya adalah Al-Hayyu, Yang Maha Hidup.

الَّذِي لا يَمُوت

Yang tidak akan meninggal. Karena disana ada yang disifati dengan hidup dan dia akan meninggal,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

adapun Allāh ﷻ maka Dia-lah Yang Maha Hidup dan tidak akan meninggal. Disini Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya Al Maut berarti ini termasuk sifat manfiyya bagi Allāh ﷻ, sifat yang dinafikan dari Allāh ﷻ. Dan kaidah dalam masalah sifat-sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ seperti ini kita menafikan apa yang dinafikan oleh Allāh ﷻ, kita tetapkan apa yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ untuk diri-Nya dan kita nafikan apa yang dinafikan oleh Allāh ﷻ dari diri-Nya. Ketika Allāh ﷻ mengatakan لا يَمُوت berarti kita nafikan al-maut dari Allāh ﷻ, kemudian yang kedua kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat al-maut yaitu Al-Hayah, kemudian kita tetapkan kesempurnaannya artinya Dia-lah yang memiliki sifat hidup yang sempurna, berarti ini menguatkan dari nama Allāh ﷻ Al-Hayy, didalam ayat ini disebutkan isbat dan juga an-nafyi.

Allahu A’lam, disini beliau rahimahullah mendatangkan ayat yang mulia ini karena sebelumnya mendatangkan ayat kursiy yang di situ juga ada penyebutan Al-Hayyu

اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Kemudian juga yang kedua, Allahu A’lam, di sini beliau mendatangkan ayat ini karena dia juga menggabungkan antara an-nafyu dan juga Al-Itsbat, Al-Hayyu dengan لا يَمُوت, Allahu A’lam.

Kemudian tentang masalah tawakal kepada Allāh ﷻ, dan makna tawakal adalah al-i’timad yaitu menyandarkan diri. Allāh ﷻ mengatakan

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوت

Kalau ingin bersandar, bergantung, yaitu bergantung dalam mendatangkan manfaat dan dalam menolak mudhorat. Kita dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap hari ingin banyak mendapatkan manfaat, sesuatu yang bermanfaat bagi kita, masalah rezeki, masalah ilmu, masalah kemudahan dalam urusan. Dan dalam kehidupan sehari-hari kita juga ingin terhindar dari berbagai mudhorat, berbagai musibah, berbagai bencana baik yang kecil tertusuk duri misalnya atau terjatuh atau sampai musibah yang besar. Bertawakal artinya adalah bergantung dan bersandar dalam mendatangkan manfaat, dalam menolak mudhorot tadi.

Bertawakal-lah kepada Al-Hayyu Yang Maha hidup, yang kehidupan-Nya adalah kehidupan yang sempurna sebagaimana sudah kita singgung ketika kita menjelaskan tentang ayat kursiy, kehidupan yang sempurna berarti disitu mengandung sifat-sifat dzatiyah yang lain. Kehidupan yang sempurna berarti ilmunya sempurna, penglihatannya sempurna, pendengarannya sempurna, iradahnya sempurna, semua sifat-sifat ladzimah yang sempurna terkandung di dalam nama Allāh ﷻ Al-Hayyu.

Bertawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup, yang sewaktu-waktu dimanapun antum ingin mendapatkan manfaat tertolak mudhorot, maka Allāh ﷻ mampu untuk menolong antum, karena Dia-lah Yang Maha Hidup, Dia tidak tidur dan Dia-lah Yang Maha Hidup, Yang Maha Mampu. Maka seorang muslim kalau ingin bertawakal, bertawakal kepada Allāh ﷻ Yang Maha Hidup, tidak boleh dia bertawakal kepada selain Allāh ﷻ, seperti yang dilakukan oleh sebagian, bertawakal kepada orang yang sudah meninggal dunia, bertawakal kepada Nabi, bertawakal kepada wali yang sudah meninggal dunia, maka bagaimana seseorang ridho bertawakal kepada dzat yang sudah meninggal dunia, sementara Allāh ﷻ mengatakan di sini

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَي

Bertawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup, bukan kepada amwats. Karena sebagian orang ketika dia ingin lulus ujian, ketika dia ingin tertolak dari corona misalnya, tawakalnya kepada wali yang sudah meninggal dunia. Allāh ﷻ mengatakan

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَي

Tawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup.

Kemudian Dzat Yang Maha Hidup tadi tidak akan meninggal dunia, berarti bertawakal dengan makhluk hidup tapi kalau dia akan meninggal dunia tidak boleh, wali yang sudah meninggal dunia tidak boleh kita bertawakal kepadanya, wali yang masih hidup juga akan meninggal berarti tidak boleh.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوت

Tawakal-lah kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan meninggal, kalau dia hidup dan akan meninggal tidak boleh, tawakal hanya kepada Allāh ﷻ. Barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allāh ﷻ di dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ maka dia terjerumus ke dalam syirik yang besar. Dan sebagian mengatakan kalau dia bertawakal kepada selain Allāh ﷻ di dalam perkara yang dia memiliki kemampuan atau diberikan kemampuan oleh Allāh ﷻ, seperti misalnya orang yang bertawakal kepada majikannya misalnya karena dia punya uang, punya harta untuk membayar akhirnya dia bekerja di situ, tapi dia memiliki ketergantungan kepada majikan tadi, maka sebagian mengatakan ini masuk dalam syirik yang kecil, karena di situ makhluk tadi diberikan Allāh ﷻ kemampuan harta.

Tapi kalau dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ, seperti orang yang bertawakal kepada orang yang meninggal dunia jelas karena dia tidak mampu melakukan apa-apa atau bertawakal kepada makhluk dalam menurunkan hujan, berarti di sini bertawakal kepada makhluk dalam perkara yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh ﷻ, hukumnya syirik besar.
Disana ada taukil yaitu mewakilkan kepada orang lain tentang sesuatu, misalnya mewakilkan orang lain untuk melamarkan atau mewakilkan orang lain untuk membeli sesuatu misalnya, ini namanya taukil, yang seperti ini tidak masalah seseorang mewakilkan ini bukan tawakal. Tawakal artinya adalah bergantung, bersandar, dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot kepada yang lain.

Maka disini Allāh ﷻ menyuruh kita untuk bertawakal, bersandar dan bergantung hanya kepada Allāh ﷻ dalam urusan kita seluruhnya, dan orang yang bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ memiliki keuntungan yang besar, pahala yang besar, disamping dia adalah ibadah, karena Allāh ﷻ memerintahkan di sini dan Allāh ﷻ mengatakan dalam ayat yang lain

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
[Al-Ma’idah:23]

Dan hanya kepada Allāh ﷻ hendaklah kalian bertawakal kalau kalian benar-benar beriman.

Disamping kita mendapatkan pahala ibadah dari bertawakal kepada Allāh ﷻ, maka kita akan ditolong dan dicukupi oleh Allah. Allāh ﷻ mengatakan

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
[At-Talaq: 3]

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allāh ﷻ, yaitu bersandar bergantung kepada Allāh ﷻ, ini dalam seluruh perkara, antum bertawakal dalam masalah rezeki hanya kepada Allāh ﷻ, yakin bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang mendatangkan rizq dan Dia-lah yang menahan rizq, bukan bergantung kepada kecerdasan kita, pengalaman kita dalam bisnis misalnya, tapi kita berusaha dan berdagang atau berusaha apa saja untuk mendapatkan rezeki yang halal dan di dalam hati kita tawakal kita ketergantungan kita kuat kepada Allāh ﷻ. Maka

فَهُوَ حَسْبُهُۥ

Allāh ﷻ yang akan mencukupi, dan kalau Allāh ﷻ Dia-lah yang mencukupi, siapa yang bisa menahan dan juga menolak kehendak Allāh ﷻ. Kalau kita bertawakal dalam masalah rezeki yaitu mengambil sebab, mungkin kita punya gerobak, kita mungkin punya barang dagangan, yang dilihat oleh orang barang dagangan yang sepele, tidak mendatangkan keuntungan yang besar misalnya, tapi dalam hati kita ada tawakal kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan memberikan kecukupan kepada kita, sebagaimana dalam hadits ketika Nabi ﷺ menyebutkan tentang orang yang bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ

Kalau kalian benar-benar bertawakal kepada Allāh ﷻ dengan sebenar-benar tawakal. Bukan hanya sekedar ucapan, dalam hatinya benar-benar dia bertawakal kepada Allāh ﷻ, seperti tawakalnya para petani, bagaimana mereka bertawakal kepada Allāh ﷻ, mereka menanam, menaruh benih, kemudian setelah itu mereka menunggu apa yang Allāh ﷻ lakukan, hujan, menunggu Rahmat dari Allāh ﷻ dan juga karunia dari Allāh ﷻ, dan menunggu karunia dari Allāh ﷻ bagaimana Allāh ﷻ menjaga tanaman-tanaman tersebut dari berbagai hal yang merusaknya. Kalau kalian benar-benar tawakal kepada Allāh ﷻ maka

لَرَزَقَكُمْ

Allāh ﷻ akan memberikan rezeki kepada kalian

كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ

Sebagaimana diberikan rezeki tersebut kepada burung. Bagaimana burung mendapatkan rezeki dari Allāh ﷻ?

تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Pagi-pagi mereka keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan sudah penuh perutnya dengan makanan. Demikian Allāh ﷻ menjanjikan bagi orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allāh ﷻ, jangan kita bertawakal kepada diri sendiri atau kepada pekerjaan kita bertawakal-lah hanya kepada Allāh ﷻ.

Dan apa yang dimaksud dengan tawakal di sini, apakah seseorang hanya bergantung dan bersandar dalam hatinya memiliki keyakinan dalam hatinya kemudian dia duduk manis tidak bekerja tidak berusaha, bukan itu yang dimaksud dengan tawakal. Tawakal yang sebenarnya adalah dengan seseorang dalam hatinya ada keyakinan yang kuat dan secara dhohir dia mengambil sebab sebagaimana yang Allāh ﷻ dan rasul-Nya perintahkan. Dia bekerja, dia berusaha, dia keluar dari rumahnya dan apa yang ada dalam hatinya adalah keyakinan yang kuat Allāh ﷻ yang akan memberikan rezeki.

Inilah yang dilakukan oleh burung, bagaimana burung bertawakal kepada Allāh ﷻ, apakah mereka diam di sarangnya dan menunggu ada beras yang terbang kemudian sampai ke sarangnya, tidak. Mereka meninggalkan sarangnya terbang dari pohon ke pohon dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari rezeki dan di dalam diri mereka keyakinan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki.

Demikian yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim, sehingga tidak heran kalau ada sebagian orang yang beriman, orang yang sholeh, mungkin kita lihat dia jualan di pinggir jalan perkara-perkara yang remeh, kalau kita pikir dapat berapa dia dalam sehari, seandainya itu laku semua berapa untungnya, tapi dia ada tawakal kepada Allāh ﷻ, dengannya Allāh ﷻ mencukupi dirinya dan juga keluarganya. Dan ada sebagian orang yang dia memiliki harta yang luar biasa tapi tidak pernah kenyang dan tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki, bahkan bertambah kehidupannya ini dari kesengsaraan ke kesengsaraan yang lain. Jadi yang namanya tawakal harus disertai dengan kita mengambil sebab.

Sehingga di dalam hadits yang lain Nabi ﷺ ketika ditanya oleh sebagian sahabah tentang dia memiliki unta dan dia meninggalkan unta tersebut dalam keadaan tidak diikat, hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani. Anas Bin Malik mengatakan

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ

Laki-laki ini mengatakan kepada Rasulullah ﷺ, Ya Rasulullah ﷺ, aku mengikatnya kemudian aku bertawakal, yaitu aku mengikatnya setelah itu aku bergantung dan bersandar kepada Allāh ﷻ, atau aku melepaskan dia begitu saja kemudian aku bergantung kepada Allāh ﷻ.

قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Maka Nabi ﷺ mengatakan اعْقِلْهَا ikatlah kemudian bertawakal-lah kepada Allāh ﷻ. Jadi kita ikat sesuai dengan kemampuan kita, kita ikat sekencang mungkin setelah itu jangan kita bertawakal kepada diri sendiri, kita serahkan kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang akan menjaganya. Ini dalam masalah rezeki

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Demikian pula dalam masalah ilmu, dalam menuntut ilmu kita pun harus bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ, ilmu adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kita, maka dalam mendatangkan manfaat ini kita harus bertawakal dan bersandar, bergantung hanya kepada Allāh ﷻ. Jangan kita bergantung kepada diri kita sendiri, kita ingin menjadi seorang yang berilmu, ingin mendapatkan ilmu, ingin masuk ilmu tersebut kepada diri kita maka bertawakal-lah hanya kepada Allāh ﷻ

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allāh ﷻ maka Dia-lah Allāh ﷻ yang akan memberikan kecukupan.
Allāh ﷻ yang akan menolong kita, memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu-ilmu tersebut, memudahkan kita untuk memahami, memudahkan kita untuk membaca buku yang bermanfaat, memiliki teman-teman yang sholihin, memiliki guru yang bisa membimbing dalam menuntut ilmu tersebut.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dalam seluruh perkara kita bertawakal kepada Allāh ﷻ, dalam ibadah kita, dalam menuntut ilmu, dalam dunia kita, dalam mendidik anak-anak juga demikian kita bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ dan kita berusaha.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 11

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 11 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam Ayat Qursiy

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kita masuk pada ayat Al-Kursiy, kemudian beliau mengatakan

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي أَعْظَمِ آيَةٍ فِي كِتِابِهِ

Dan apa yang Allāh ﷻ sifatkan dengan-Nya نَفْسَهُ (diri-Nya sendiri) di dalam ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yang dimaksud adalah ayat kursiy, أَعْظَمِ آيَة berdasarkan sebuah hadits, yaitu haditsnya Ubay bin Ka’ab dimana Nabi ﷺ pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

Tahukah kamu يَا أَبَا الْمُنْذِر (ini adalah kunyah dari Ubay bin Ka’ab), ayat yang mana di dalam Al-Qur’an yang menurutmu itu adalah ayat yang paling besar, yang paling agung

قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Beliau mengatakan Allāh ﷻ dan Rasul-Nya lebih tahu

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

Wahai Abal Mundzir tahukah kamu ayat yang mana di dalam Al-Qur’an yang menurutmu itu paling besar. Ditanya dua kali oleh Nabi ﷺ, Beliau ﷺ ingin mengajak dia untuk berpikir menurut Abal Mundzir (ubay bin ka’ab) apa ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an

قَالَ قُلْتُ

Maka ubay bin ka’ab membaca firman Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Baqarah 255

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ

Membaca ayat kursiy

قَالَ فَضَرَبَ فِى صَدْرِى

Maka ubay bin ka’ab menceritakan bahwasanya Nabi ﷺ memukul dadanya (menepuk dadanya) kemudian mengatakan

وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

Beliau ﷺ mengatakan demi Allāh ﷻ semoga ilmu ini menjadi mudah bagimu wahai ubay bin ka’ab. Artinya di sini Beliau ﷺ memuji ubay bin ka’ab bahwasanya jawaban dia ini benar, ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an adalah ayat kursiy, ini menunjukkan ilmunya ubay bin ka’ab, dari sekian ribu ayat yang ada dalam Al-Qur’an dan dalam waktu yang tidak lama ketika ditanya oleh Nabi ﷺ beliau langsung bisa menjawab. Dan ini menunjukkan bagaimana para sahabat dahulu ketika mereka membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, bukan hanya sekedar membaca dan menghafal tapi mereka juga menghayati, sehingga taufik dari Allāh ﷻ saat itu ubay bin ka’ab langsung menyebutkan di hadapan Nabi ﷺ ayat kursiy, makanya Nabi ﷺ mengatakan

لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِر

Ini adalah pujian, kemudian yang kedua ini adalah doa, semoga ilmu ini dimudahkan untukmu wahai Abal Mundzir, doa juga untuk ubay bin ka’ab semoga mudah menerima ilmu, bertambah ilmunya. Ini menjadi dalil bahwasanya ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an adalah ayat kursiy dan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ayat kursiy menjadi ayat yang paling agung karena kandungan isinya, kandungan isinya adalah penyebutan beberapa nama dan juga sifat Allāh ﷻ

حَيْثُ يَقُولُ

ketika Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

اللَّه ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung sifat Al-Uluhiyah Dia-lah Allāh ﷻ yang memiliki sifat Uluhiyah, sifat Uluhiyah adalah sifat untuk disembah, hanya Dia saja yang memiliki sifat ini. Tidak ada selain Allāh ﷻ yang memiliki sifat uluhiyah dan kalau di sana ada yang disembah selain Allāh ﷻ disifati dengan sifat Uluhiyah maka ini adalah sesembahan dan pensifatan yang bathil

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم

Allāh ﷻ di sini menafikan dari diri-Nya atau menafikan adanya sesembahan selain Dia

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ

Tidak ada sesembahan selain Dia, ini tidak ada nama dan juga sifatnya, setelah itu Allāh ﷻ mengatakan

الْحَيُّ الْقَيُّوم

الْحَي adalah nama Allāh ﷻ yang artinya adalah yang Maha Hidup,

الْقَيُّوم nama Allāh ﷻ yang artinya adalah yang Maha Berdiri Sendiri, kandungan sifat yang ada di dalam الْحَي sifat Al-Hayya (sifat hidup) adapun الْقَيُّوم maka sifat Al-Qayyumiyyah yaitu sifat berdiri sendiri. الْحَيُّ sebagian ulama menjelaskan الْحَيُّ الْقَيُّوم, ketika kita menetapkan nama Allāh الْحَيُّ maka berarti kita menetapkan sifat-sifat kehidupan yang lain, yaitu sifat As-Sama’ Al-Bashar (sifat mendengar, sifat melihat) kemudian sifat Al-’Ilm (sifat ilmu), sifat Qudroh, sifat Iradah. Ketika seseorang menetapkan kesempurnaan hidup bagi Allāh ﷻ dalam nama-Nya الْحَيُّ dan yang namanya hidup yang sempurna ya ada As-Sama’, Al-Bashar, Al-’Ilm, Al- Qudroh, Al-Iradah sehingga para ulama menjelaskan bahwasanya di dalam nama الْحَيُّ ini mengandung seluruh sifat-sifat yang lazimah bagi Allāh ﷻ, yang senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ.

Adapun di dalam nama Allāh الْقَيُّوم Yang Berdiri Sendiri, dan Dia menegakkan yang lain, yang lain tidak akan tegak kecuali apabila ditegakkan oleh Allāh ﷻ, maka para ulama menjelaskan ini mengandung sifat-sifat yang muta’addiyah yaitu yang berkaitan dengan yang lain, Dia-lah yang mencipta, Dia-lah yang memberikan rezeki, Dia-lah yang mengatur, ini semuanya masuk di dalam الْقَيُّوم Dia-lah Yang Berdiri Sendiri dan Dia-lah yang menegakkan yang lain dengan menciptakan, memberikan rezeki dan seterusnya.

Berarti الْحَيُّ mengandung seluruh sifat dzatiyah bagi Allāh ﷻ adapun الْقَيُّوم maka ini mengandung sifat-sifat yang muta’addiyah (yang berkaitan dengan yang lain) sehingga sebagian ulama ada yang mengatakan bahwasanya nama Allāh ﷻ yang paling besar adalah الْحَيُّ الْقَيُّوم, ini satu pendapat, karena الْحَيُّ mengandung seluruh sifat dzatiya الْقَيُّوم mengandung sifat yang muta’addiyah, berarti semuanya terkandung dalam الْحَيُّ الْقَيُّوم.

Makanya dari sini saja kita mengetahui kehebatan dari ayat kursiy ini, mengandung الْحَيُّ الْقَيُّوم yang di dalamnya ada penetapan sifat-sifat yang dzatiyah bagi Allāh ﷻ yang muta’addiyah bagi Allāh ﷻ

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk dan tidak ditimpa tidur. Sudah kita sebutkan bahwasanya ketika Allāh ﷻ menafikan berarti kita menetapkan kesempurnaan yang sebaliknya dari sifat yang dinafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya ngantuk yaitu pembukaan dari tidur maka kita katakan Allāh ﷻ

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَة

Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk ini, kita nafikan apa yang Allāh ﷻ nafikan

وَلاَ نَوْم

dan Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur, kita nafikan dari Allāh ﷻ sifat tidur, tidak cukup disitu karena ini adalah sifat yang dinafikan maka kita sertai dengan penetapan kesempurnaan kebalikan dari sifat ini, yaitu kita tetapkan kesempurnaan sifat hidup bagi Allāh ﷻ, karena kalau hanya sekedar nafyi saja itu bukan pujian tapi ketika nafyi (dinafikan) dan ditetapkan kesempurnaannya barulah ini pujian, dan didalam diri Allāh ﷻ demikian pula, atau di dalam nama dan juga sifat Allāh ﷻ demikian. Jadi ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat, kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi. Berarti disini ada dua sifat yang dinafikan oleh Allāh

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْض

Bagi Allāh ﷻ apa yang ada di langit maupun apa yang ada di bumi. Lam di sini menunjukkan kepemilikan, bagi Allāh ﷻ, milik Allāh ﷻ apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi seluruhnya. Berarti ini menunjukkan tentang kesempurnaan sifat milik bagi Allāh ﷻ, sifat kepemilikan bagi Allāh ﷻ, ini adalah sempurna, seluruhnya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, apa yang ada di atas maupun apa yang ada di bawah semuanya adalah milik Allāh ﷻ, baik makhluk yang hidup maupun makhluk yang mati. Ini menunjukkan tentang kesempurnaan kepemilikan Allāh ﷻ

Kemudian juga

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِه

Tidak ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin-Nya, ini menunjukkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allāh ﷻ dan kepemilikan Allāh ﷻ. Ketika Allāh ﷻ menyebutkan bahwasanya seluruh apa yang ada di langit dan apa yang di bumi adalah milik Allāh ﷻ, termasuk diantaranya adalah syafa’at itu adalah milik Allāh ﷻ

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا

[Az-Zumar:43]

Katakanlah milik Allāh ﷻ semuanya syafa’at. Syafa’at semuanya adalah milik Allāh ﷻ sehingga tidak ada yang memberikan syafa’at disisi Allāh ﷻ kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ. Ini menguatkan tentang sempurnanya kekuasaan Allāh ﷻ sampai dalam masalah syafa’at baik Nabi maupun malaikat ataupun orang yang Shaleh tidak ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin Allāh ﷻ, berarti ini menguatkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah.

Sifat yang lain

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Ini menunjukkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sempurna. Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang di belakang mereka. Ada yang mengartikan أَيْدِيهِمْ di sini adalah apa yang sudah berlalu/terjadi, وَمَا خَلْفَهُم (di belakang mereka) yang akan terjadi, karena yang sudah terjadi berarti dia di depan, yang akan terjadi maka itu yang di belakang. Ini sebagian ulama ada yang menafsirkan demikian, بَيْنَ أَيْدِيهِمْ adalah yang sudah berlalu yang di belakang mereka adalah yang akan terjadi.

Dan ada yang mengartikan sebaliknya بَيْنَ أَيْدِيهِمْ adalah didepan mereka berarti yang akan terjadi yaitu yang di depan kita, وَمَا خَلْفَهُم yang di belakang mereka berarti yang sudah terjadi. Ini tidak ada pertentangan, Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui seluruhnya, yang sudah terjadi maupun apa yang akan terjadi, tafsir yang seperti ini tidak memudhoroti dan tidak ada pertentangan baik antara tafsir yang pertama dengan tafsir yang kedua ini menunjukkan tentang sempurnanya ilmu Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

Dan mereka, yaitu makhluk-makhluk, tidak bisa meliputi sedikitpun dari ilmu Allāh ﷻ, yaitu tidak bisa mengetahui apa yang Allāh ﷻ ketahui, إِلاَّ بِمَا شَاء kecuali dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Berarti kita tidak bisa mengetahui apa yang Allāh ﷻ ketahui kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki. Menunjukkan tentang lemahnya manusia, dan menunjukkan bahwasanya ilmu yang kita dapatkan itu adalah dengan kehendak Allah, Allāh ﷻ menghendaki kita tahu sehingga kita menjadi orang yang tahu. Dan ini faedah bagi seorang thalabul ‘ilm, dia tidak mungkin menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang tahu kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki, sehingga harusnya dia banyak berdoa kepada Allāh ﷻ mengatakan Allahumma ‘allimniy, Rabbi zidniy ‘ilman, ya Allāh ﷻ tambahkan kepada-ku ilmu. Dia tidak akan menjadi seorang yang ‘alim kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya, Allāh ﷻ akan menjadikan dia faqih (paham) tentang agamanya. Siapa yang menjadikan kita faqih? Allāh ﷻ.

Jadi jangan sampai seorang thalabul ‘ilm lalai tidak berdoa kepada Allāh ﷻ, sibuk dengan dars, sibuk dengan belajar dan seterusnya tapi dia tidak pernah berdoa kepada Allāh ﷻ, tidak pernah meminta kepada Allāh ﷻ ilmu, atau ditambah ilmunya, dimudahkan untuk memahami pelajarannya.

Apa yang terkandung dalam firman Allāh ﷻ

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

Di sini ada penetapan sifat ‘Ilm yaitu مِّنْ عِلْمِه berarti Allāh ﷻ memiliki ilmu, kemudian di sini ada penetapan sifat Masyi’ah di ambil dari firman Allāh إِلاَّ بِمَا شَاء kecuali dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Berarti Allāh ﷻ memiliki Masyi’ah (kehendak)

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ

Kursiy Allāh ﷻ ini seluas langit dan juga bumi, atau meliputi langit dan juga bumi. Seluas ini bukan berarti kursiy Allāh ﷻ sama dengan langit dan bumi, tidak, maksudnya وَسِعَ disini adalah meliputi semua, berarti kursiy lebih besar daripada langit dan juga bumi.

Disebutkan didalam sebuah hadits bahwasanya kalau dibandingkan langit yang tujuh dengan bumi ini dibandingkan dengan kursiy Allāh ﷻ perbandingannya adalah seperti tujuh gelang atau tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir, yang menunjukkan betapa kecilnya tujuh cincin tadi, hampir tidak terlihat ketika dilemparkan di padang pasir, itu adalah perbandingan antara tujuh langit dan bumi ini dibandingkan dengan kursiy Allāh ﷻ. Kalau kursiy Allāh ﷻ saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan yang menciptakan.

Dan kursiy (dinamakan dengan ayat kursiy dari kata ini) ini adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ, sebagaimana ini dikutip dari Abdullah ibn Abbas bahwasanya kursiy ini adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Adapun yang menafsirkan bahwasanya kursiy ini sama dengan Arsy ini sebuah kekeliruan, bahkan di sana ada hadits yang jelas menunjukkan perbandingan antara arsy dengan kursiy menunjukkan bahwasanya arsy dengan kursiy ini sesuatu yang berbeda, arsy lebih besar daripada kursiy Allāh ﷻ.

Maka ini menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ, betapa besarnya kursiy Allāh ﷻ menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ karena yang menciptakan kebesaran Dia lebih berhak bersifat dengan kebesaran tadi, yang menciptakan kebesaran yaitu bisa menciptakan kursiy sebesar itu maka dia lebih berhak memiliki sifat kebesaran. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Besar dan juga menunjukkan tentang qudratullah (kekuasaan Allāh ﷻ) dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Berkuasa melakukan segala sesuatu.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا

Dan tidak memberatkan Allāh ﷻ untuk menjaga keduanya. Beliau mengatakan setelahnya tidak memberatkan Allāh ﷻ dalam menjaga keduanya, yaitu menjaga langit dan juga menjaga bumi, meskipun itu adalah makhluk yang besar tapi bukan sesuatu yang berat bagi Allāh ﷻ untuk menjaga keduanya sehingga bumi terjaga dan langit juga terjaga, tidak menimpa bumi, tidak jatuh sampai dikehendaki oleh Allāh ﷻ. Berarti yang dinafikan disini adalah sifat masyakka, yaitu sifat berat, ini dinafikan dari diri Allāh ﷻ dan sesuai dengan kaidah kalau Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sifat berat dalam menjaga berarti kita menetapkan kesempurnaan qudratullah, kesempurnaan kekuasaan Allāh ﷻ dan menetapkan kesempurnaan kekuatan Allāh ﷻ.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Dia-lah yang Maha Tinggi dan juga Maha Besar. Berarti di sini kita menetapkan nama Allāh ﷻ yang Maha Tinggi, tinggi dalam Dzat-Nya, tinggi dalam kedudukan-Nya, tinggi dalam kekuasaan. Dan sifat yang terkandung dalam nama Al-’Aliy adalah sifat Al-’Ulu (ketinggian). الْعَظِيمُ Yang Maha besar, sifat yang terkandung di dalamnya adalah ‘Adzoma (kebesaran), maka Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang Maha Besar, tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ dan tidak ada yang lebih besar daripada Allāh ﷻ. Tidak memberatkan Allāh ﷻ dalam menjaga langit maupun bumi

Bisa kita simpulkan dari Ayat kursiy ini, disebutkan oleh Allāh ﷻ beberapa nama dan juga beberapa sifat, yang kita urutkan dari depan nama yang terkandung dalam ayat ini;

Lafdzul Jalalah, Al-Hayyu, Al-Qayyum, Al-’Ali, Al-’Adzim. Sifat yang terkandung dalam ayat ini; Al-Uluhiyah, Al-Haya, Al-Qayyum. Sifat manfiyyah yaitu sifat sina (sifat ngantuk) dengan sifat tidur. Kesempurnaan kepemilikan Allāh ﷻ, memiliki sifat idzn (mengizinkan), sifat masyi’ah, sifat ilmu. Jadi semua sifat dzatiyah ada dalam Al-Hayyu dan sifat yang muta’addiyah ini ada dalam nama Allāh ﷻ Al-Qoyyum.

Kemudian beliau mengatakan setelahnya, sehingga barang siapa yang membaca ayat ini dalam satu malam maka senantiasa dia akan dijaga,

لن يزال عليه من اللَّه حافظ

Ada malaikat yang menjaga dia, malaikat yang diutus Allāh ﷻ, dijaga dari seluruh kejelekan dan orang yang Allāh ﷻ jaga maka siapa yang bisa mengganggu orang tersebut

ولا يقربه شيطان

Dan syaiton tidak akan mendekatinya sampai dia memasuki waktu pagi. Haditsnya Abu Hurairah yang di situ beliau menceritakan bagaimana beliau didatangi oleh syaitan yang menjelma sebagai seorang manusia dan saat itu Abu Huroiroh dalam keadaan ditugasi oleh Nabi ﷺ untuk menjaga harta zakat dan kisahnya ma’ruf disini, bahwasanya dia ingin mencuri di antara harta zakat tadi kemudian di tangkap oleh Abu Hurairah kemudian dia mengatakan bahwasanya saya adalah orang yang memiliki anggota keluarga yang banyak dan saya adalah orang yang membutuhkan, kasihanilah saya dan seterusnya akhirnya di lepas oleh Abu Huroirah.

Kemudian di pagi harinya beliau menceritakan kepada Nabi ﷺ kemudian Nabi ﷺ mengatakan ketahuilah bahwasanya dia akan datang, dia akan datang kembali, benar apa yang diucapkan oleh Nabi ﷺ dia datang kembali pada malam berikutnya mau mencuri dan ditangkap kembali oleh Abu Hurairah. Kemudian mengucapkan ucapan yang sama, kemudian dilepaskan lagi oleh Abu Hurairah, kemudian pagi harinya dikabarkan kembali oleh Abu Hurairah kepada Rasulullah ﷺ dan Beliau ﷺ mengatakan dia akan kembali lagi. Dan benarlah ucapan Nabi ﷺ, dia kembali lagi dan setelah itu dia berkata kepada Abu Hurairah ketika ditangkap kemudian dia berjanji untuk mengajarkan kepada Abu Hurairah sebuah kalimat yang bermanfaat untuk beliau dia mengatakan yaitu syaiton ini mengatakan,

دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا

Supaya dia dilepas oleh Abu Huroirah, lepaskan aku, aku akan mengajarkan kepada mu beberapa kalimat yang semoga Allāh ﷻ memberikan manfaat kepada mu dengan kalimat tadi.

قُلْتُ مَا هُوَ

Kemudian Abu Huroirah mengatakan apa kalimat-kalimat tersebut, kemudian syaiton tadi mengatakan

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ

Kalau kamu akan tidur maka hendaklah engkau membaca ayat kursiy

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ

Sampai akhir ayat

فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

Sesungguhnya engkau senantiasa akan dijaga oleh seorang hafidz (penjaga) dari Allāh ﷻ, yaitu malaikat, akan dijaga oleh Allāh ﷻ dari berbagai marabahaya, Allāh ﷻ mengirimkan hafidz malaikat yang menjaga orang tersebut, dan syaiton tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi.

Ini adalah ucapan dari syaiton menasehatkan kepada Abu Hurairah untuk membaca ayat kursiy ketika akan tidur, maka akupun (kata Abu Huroiroh) melepaskan dia dan di waktu pagi beliau ceritakan kepada Nabi ﷺ kemudian Nabi ﷺ mengatakan

مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ

Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا

Wahai Rasulullah dia mengatakan bahwasanya dia akan mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang semoga Allāh ﷻ memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tadi maka akupun melepaskannya.

قَالَ « مَا هِىَ

Nabi ﷺ mengatakan apakah kalimat-kalimat tadi

قُلْتُ قَالَ لِى

Maka Abu Huroiroh mengatakan, dia mengatakan kepadaku

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ

Kalau engkau akan tidur maka bacalah ayat kursiy dari awal sampai akhir ayat, kemudian dia mengatakan kepadaku akan senantiasa ada penjaga dari Allāh ﷻ dan setan tidak akan mendatangimu atau mendekatimu sehingga datang waktu pagi, maka Nabi ﷺ mengatakan

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ

Ketahuilah bahwasanya dia sungguh telah jujur dalam masalah ini, berarti disini takrir dari Nabi ﷺ, apa yang diucapkan oleh syaiton tadi benar kalau kamu membaca ayat kursiy sebelum tidur di waktu malam maka Allāh ﷻ akan menjagamu sampai waktu pagi,

وَهُوَ كَذُوب

Dan dia asalnya adalah makhluk yang banyak bohongnya, cuma kali ini dia jujur. Maka kita mengambil ucapan tadi karena sudah ditakrir oleh Nabi ﷺ

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan

تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ

Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga malam yang lalu wahai Abu Huroiroh

قَالَ لاَ

Abu Huroiroh mengatakan tidak

قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ

Beliau ﷺ mengatakan itu adalah syaiton.

Ini adalah dalil yang menunjukkan tentang apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam tadi dan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari didalam shahihnya. Dengan demikian kita sudah menyelesaikan penjelasan dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwasanya masuk di dalam kaidah ini apa yang Allāh ﷻ sebutkan didalam surat al-ikhlas dan juga ayat kursiy di mana keduanya memiliki keistimewaan, ayat kursiy adalah ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an dan surah Al-Ikhlas dia adalah surat yang sebanding dengan sepertiga dari Al-Qur’an.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana Seharusnya Membela Nabi?

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله


Bagaimana Seharusnya Membela Nabi?

Setiap muslim -apalagi ulama- pasti geram dan marah terhadap penghinaan kepada Nabi Muhammad yang harus kita cintai lebih dari orang tua, istri, anak bahkan diri kita sendiri.

Siapapun yang mencela Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam maka dia kafir dan pedang terhunus pantas untuknya, sebagaimana dijelaskan secara bagus oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Ash Sharimul Maslul ala Syatimi Rasul (Pedang Terhunus Tuk Penghina Rasul).

Namun perlu digarisbawahi bahwa penegakan hukum tersebut adalah wilayah pemimpin bukan individu orang. Para ulama menegaskan: “Tidak boleh menegakkan hukum had kecuali bagi imam atau perwakilannya”. (Syarh Shahih Muslim, An Nawawi, 11/193-194).

Sebab, jika penerapan hukum diserahkan kepada individu orang maka yang terjadi adalah kekacauan dan kerusakan yang lebih besar.

Syaikh Abdur Rahman bin Yahya Al-Mu’allimi mengatakan: “Sebesar apapun kita mencintai kebenaran. Namun kita jangan membela kebenaran kecuali dengan cara yang benar”. (Majmu Muallafat wa Atsar Asy Syaikh, 4/6).

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/12689-bagaimana-seharusnya-membela-nabi.html

Penulis: Ust. Abu Ubaidah As Sidawi

Silakan di-share…

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 10

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 10 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam QS Al- Ikhlas

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Disini beliau akan membawakan dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya nama-nama yang Nafiya dan mutsbitah serta sifat yang manfiyah dan sifat yang mutsbatah, semuanya adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Beliau mengatakan

وَقَدْ دَخَلَ فِي هِذِهِ الْجُمْلَةِ

Dan masuk didalam jumlah ini, yaitu didalam kalimat yang berisi tentang kaidah Ahlussunnah yang isinya bahwasanya Allāh ﷻ menggabungkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات. Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an asalnya ketika mengitsbat kebanyakan didalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ memperinci sifat-sifatnya, nama-namanya. Adapun penafian maka kebanyakan Allāh ﷻ menafikan secara global bukan secara terperinci. Secara terperinci ketika menetapkan makanya banyak di sebutkan nama-nama Allāh ﷻ sifat-sifat Allāh ﷻ dan hampir setiap halaman dari mushaf yaitu disebutkan nama dan juga sifat, tapi ketika menafikan maka kebanyakan adalah secara global.
Terkadang Allāh ﷻ memperinci dalam menafikan, misalnya menafikan dari dirinya kedzoliman, menafikan dari dirinya sinah dan juga naum (ngantuk dan juga tidur), menafikan dari dirinya rasa lelah

وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

[Qaf:38]

Kami tidak ditimpa oleh rasa lelah.

Dan menafikan dari diri-Nya ansiyan (lupa), menafikan dari diri-Nya dholal,

لَّا يَضِلُّ رَبِّى وَلَا يَنسَى

Allāh ﷻ tidak bodoh dan juga tidak lupa.

Ini berarti ada perincian dalam menafikan tapi itu sedikit, sehingga ahlussunnah mengatakan bahwasanya qoidahnya adalah al-itsbatul mufashshal wa nafyul majmul, ini qoidah Ahlussunnah yaitu menetapkan secara terperinci dan menafikan secara global, maksudnya adalah kebanyakan.

Kenapa di sini perlu kita sampaikan, karena disana ada kelompok yang menyelisihi ahlussunnah dimana mereka di dalam masalah menafikan mereka memperinci adapun ketika menetapkan maka mereka menetapkan secara global. Menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ itu ada, tapi ketika menafikan maka mereka menafikan secara terperinci, Allāh ﷻ tidak demikian, Allāh ﷻ tidak demikian, Allāh ﷻ tidak demikian dan seterusnya, ini menyelisihi jalan atau cara Al-Qur’an di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Kembali ke ucapan beliau وَقَدْ دَخَلَ فِي هِذِهِ الْجُمْلَةِ. Masuk didalam jumlah ini yaitu kaidah bahwa Allāh ﷻ mengumpulkan antara itsbat dan juga nafiyan. Beliau memulai dengan surat al-ikhlas dan ayat kursi karena di dalam surat al-ikhlas dan juga di dalam ayat kursi yang telah datang keutamaannya didalam hadith, ternyata di situ Allāh ﷻ mengumpulkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات, ini adalah kenapa beliau memilih surat Al-Ikhlas dan juga ayat kursi dan keduanya sebagian besar kaum muslimin insyaAllāh menghafal. Beliau mendatangkan sesuatu yang mudah dan dihafal oleh sebagian besar kaum muslimin untuk menguatkan apa yang beliau sampaikan sebelumnya, bahwasanya Allāh ﷻ mengumpulkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات. Beliau mulai dengan Al-Ikhlas kemudian Ayat kursi kemudian setelah itu akan menyebutkan ayat-ayat yang lain.

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي سورة الإخلاص

Apa yang Allāh ﷻ sifatkan dan dengannya, yaitu apa yang Allāh ﷻ sebutkan didalam surah Al-Ikhlas, berupa sifat-sifat yang dia sifati dirinya dengan sifat-sifat tadi

الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Dimana surah Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Dan ini berdasarkan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dimana Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan ada seorang laki-laki yang mendengar laki-laki yang lain membaca قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ dan mengulang-ngulangnya. Ketika datang waktu pagi maka laki-laki ini datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan ini kepada Rasulullah ﷺ,

وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا

sepertinya laki-laki ini menganggap ini adalah sesuatu yang sedikit, kenapa membaca Al-Ikhlas tidak membaca ayat-ayat yang lain, surat-surat yang lain kan ada surat-suratnya yang lain yang lebih panjang, kenapa yang dia ulang-ulang adalah surat Al-Ikhlas

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ

Maka Rasulullah ﷺ mengatakan

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh surat Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, sebanding pahalanya. Jadi orang yang membaca surat Al-Ikhlas dari awal sampai akhir maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga dari Al-Qur’an, dari sisi pahalanya dia mendapatkan pahala orang yang membaca sepertiga dari Al Quran, 10 juz. Kalau kita menghitung berapa huruf yang ada dalam 10 juz maka ini adalah jumlah pahala yang besar, satu huruf di dalam Al-Qur’an apabila kita membacanya kita mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan oleh Allāh ﷻ menjadi 10 kebaikan

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dari setiap huruf yang dia baca, dia mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan. Orang yang membaca sepertiga dari Al-Qur’an yaitu 10 juz maka dia mendapatkan pahala yang besar. Ini menunjukkan tentang keagungan surat Al-Ikhlas, dan beliau menyebutkan tentang Hadits ini dan bahwasanya surat Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, berarti di sana ada rahasia yaitu kenapa nabi dan mengapa orang yang membaca Al-Ikhlas ini mendapatkan pahala yang demikian besar, Allāhu A’lam adalah karena kandungannya yang luar biasa kandungan yang ada dalam surat Al-Ikhlas.

Sebagian Ulama menjelaskan Al-Qur’an ini ada tiga bagian, ada ayat-ayat yang berisi tentang ahkam (hukum-hukum) yang di dalamnya ada perintah dan juga larangan, seperti misalnya hukum shalat, zakat, kemudian puasa misalnya atau haji, tata cara pembagian waris misalnya, dan didalamnya ada larangan-larangan berzina, larangan membunuh tanpa hak, larangan riba, ini bagian yang pertama.

Bagian yang kedua adalah qashash (kisah-kisah), ada kisah-kisah para nabi, ada kisah umat terdahulu, orang-orang yang shaleh, maka ini bagian yang kedua. Kemudian yang ketiga adalah tentang Tauhid. Dan Al-Ikhlas ini mengandung Tauhid, berarti dia mengandung sepertiga dari isi Al-Qur’an karena isinya adalah Tauhid dari awal sampai akhir sehingga dinamakan dengan surat Al-Ikhlas yaitu ikhlas hanya untuk Allāh ﷻ.

Kita lihat bagaimana isi dari Al-Ikhlas dan bagaimana dia menunjukkan النَّفْيِ وَالإِثْبَات.

حَيثُ يَقُولُ

Ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah Dia-lah Allāh ﷻ yang ahad. Katakan wahai Muhammad Dia adalah Allāh ﷻ yang Maha Esa. Lafdzul jalalah, ini adalah nama Allāh ﷻ, berarti nama yang ditetapkan di dalam surah ini yang pertama adalah lafdzul jalalah yaitu Allāh ﷻ, yang mengandung sifat Al-Uluhiyah. Berarti disini Allāh ﷻ menetapkan namanya yaitu Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat uluhiyah, ini nama dan juga sifat yang pertama.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan أَحَدٌ, ahadun artinya adalah yang Maha Esa yaitu yang Maha Tunggal dalam fi’il-fi’ilnya dan juga sifat-sifatnya dan juga zatnya. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Esa didalam Dzat-Nya dan Dia-lah yang Maha Esa didalam sifat-Nya dan tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Didalam fi’ilnya juga demikian tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ didalam fi’ilnya. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Esa tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Maka ini menunjukkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Ahad, berarti kita menetapkan diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Ahad dan sifat yang terkandung dalam Al-Ahad adalah Al-Ahadiyah (keesaan). Ini kaidah yang harus kita ketahui bahwasanya setiap nama itu mengandung sifat minimal satu sifat, terkadang bisa mengandung dua sifat atau tiga sifat. Ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

berarti nama yang kedua yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat ini adalah nama Al-Ahad. Apa sifat yang terkandung didalamnya, sifat Al-Ahadiyah. Jadi nama Allāh ﷻ itu adalah nama-nama yang mustaq bukan nama-nama yang jami’, nama yang jami’ ini tidak diambil dari sebuah kata, tapi nama-nama Allāh ﷻ ini diambil dari kata yang lain, ada maknanya, bukan sebuah kata yang tidak ada maknanya.

Dan kata Ahad ini tidak digunakan dalam keadaan Itsbat kecuali untuk Allāh ﷻ saja, seperti dalam ayat ini اللَّهُ أَحَد, inikan positif tidak ada kata tidak atau bukan, sehingga dalam keadaan itsbat ini tidak digunakan kecuali hanya untuk Allāh ﷻ. Tidak boleh kita mengatakan fulan ahad, untuk makhluk tidak boleh, karena Ahad ini hanya untuk Allāh ﷻ dalam keadaan Itsbat, dalam keadaan positif, tapi kalau kalimatnya adalah kalimat yang negatif maka bisa digunakan kalimat ahad untuk selain Allāh ﷻ. Seperti misalnya seseorang mengatakan lam ya’ti ahadun (belum datang seorang pun), berarti di sini negatif karena ada kalimat lam (tidak/belum) datang seorang pun, tapi dalam keadaan yang kalimatnya adalah kalimat yang positif maka tidak dipakai kecuali dalam hak Allāh ﷻ.

Berarti ayat yang pertama didalamnya ada penetapan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah dan sifat Allāh ﷻ Al-Uluhiyah, kemudian menetapkan nama Allāh ﷻ Al-Ahad dan sifat Allāh ﷻ Al- Ahadiyah. Allāhu A’lam disini adalah termasuk nama yang nāfiyah seperti As-Salam, Al-Quddus, kemudian Shubbuh, karena ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد

berarti disini ada menafikan al-matsil, yaitu menafikan sesuatu yang sebanding dengan Allāh ﷻ. Dia adalah Ahad, Dia adalah yang Esa dalam Dzat-Nya, dalam sifat-Nya, dalam af’al-Nya, dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ الصَّمَد

Allāh ﷻ, kembali di sini di sebutkan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat Al-Uluhiyah, Ash-Shomad ini adalah penetapan nama diantara nama-nama Allāh ﷻ. Di sana ada beberapa makna yang disebutkan oleh para ulama tentang makna Ash-Shomad, ada yang mengatakan bahwasanya Ash-Shomad di sini adalah Dzat yang menjadi tempat tumpuan yang lain di dalam hajat-hajat mereka, dan Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, yaitu makhluk-makhluk-Nya mereka di dalam menunaikan hajat-hajat mereka kembalinya kepada Allāh ﷻ. Kenapa kembalinya kepada Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Dalam keadaan sakit mereka kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan penyembuhan, dalam keadaan mereka fakir kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Kaya, dalam keadaan mereka menuntut ilmu kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki ilmu yang sangat luas, yang memberikan ilmu, ketika mereka butuh ampunan kembali kepada Allāh ﷻ karena Dia-lah yang bisa mengampuni. Seluruh makhluk kembali kepada Allāh ﷻ untuk bisa menunaikan hajat-hajat mereka. Berarti disini kita memahami bahwasanya ketika kita menetapkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad berarti ada kandungan menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ.

Di sana ada tafsir dari Abdullah bin Abbas Radiallāhu Ta’ala Anhu, turjumanul Qur’an ketika beliau menafsirkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad ini. Abdullah Bin Abbas mengatakan

السيد الذي قد كمل في شؤدده

Apa yang dimaksud dengan Ash-Shomad, kata beliau Dia adalah As-Sayyid, Dia-lah yang terkemuka yang paling depan, Dia adalah Tuan yang telah sempurna di dalam شؤدده (pertuanannya) artinya adalah dia adalah Tuan yang paling sempurna

والشريف الذي قد كمل في شرفه

Dan Dia adalah yang paling mulia yang sempurna kemuliaannya

والعظيم الذي قد كمل في عظمته

Dan yang Maha Besar yang sempurna di dalam kebesarannya

والحليم الذي قد كمل في حلمه

Dan Dia adalah Dzat yang Halim (Pemurah) yang telah sempurna didalam حلمه

والغني الذي قد کمل في غناه

Dan Dia adalah yang Maha Kaya yang telah sempurna kekayaannya dan seterusnya.

Ash-Shomad di sini ketika kita menetapkan Ash-Shomad bagi Allāh ﷻ dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Dzat yang kembali kepada-Nya makhluk didalam menunaikan hajat- hajat mereka, kita telah menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ didalam Ash-Shomad. Berarti disini ada Itsbat, kita menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ, seluruh sifat-sifat yang jelek, yang buruk, dinafikan dari Allāh ﷻ dan seluruh sifat yang sempurna kita tetapkan untuk Allāh ﷻ, Maka Ash-Shomad ini adalah Al-Asma Al-Mutsbitah.

Sampai disini kita memahami bahwasanya surat Al-Ikhlas ini mengandung nafi dan juga Itsbat, ada nama yang mutsbitah ada nama yang nāfiyah.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Allāh ﷻ tidak melahirkan, yaitu Allāh ﷻ tidak memiliki anak, bantahan kepada orang-orang musyrikin dan juga ahlul kitab yang mereka menishbahkan anak kepada Allāh ﷻ, orang yahud mengatakan uzair ibnullah, orang nasaroh mengatakan al-masih ibnullah, orang-orang musyrikin mengatakan mala’ikah banatullah, Allāh ﷻ adalah Dzat yang tidak melahirkan dan ini adalah perincian dari yang sebelumnya.

Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang semisal dengan Allāh ﷻ, karena ketika melahirkan berarti yang namanya anak itu semisal dengan asalnya. Maka ini adalah diantara penjelasan dari, yang pertama adalah Allāh ﷻ itu adalah Ahad dan bisa juga dia adalah penjelasan dari Allāhush Shomad juga karena Allāhush Shomad, Allāh ﷻ Dia-lah yang makhluk kembali kepadanya dalam berbagai urusan dan juga hajat mereka. Allāh ﷻ tidak butuh dengan makhluk tapi makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ, makhluk yang memiliki hajat kepada Allāh ﷻ.

Kemudian

لَمْ يَلِدْ

Allāh ﷻ tidak melahirkan karena ketika seandainya Allāh ﷻ melahirkan berarti Allāh ﷻ butuh kepada anak tersebut, padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ bukan Allāh ﷻ yang butuh kepada makhluk. Ketika seorang ayah dan seorang ibu ingin memiliki anak, dia merasa butuh dengan anak yang akan akan mewarisi dia yang akan membantu dia dan seterusnya. Allāh ﷻ Dia tidak melahirkan, Dia tidak butuh, Dia-lah yang Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan anak.

Demikian pula firman Allāh ﷻ

وَلَمْ يُولَد

Dan Allāh ﷻ Dia tidak dilahirkan, ini juga menjelaskan Allāhu Ahad Allāhush Shomad. Allāh ﷻ tidak dilahirkan, Dia bukan seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya karena kalau di sana ada orang tua bagi Allāh ﷻ maka berarti ada yang serupa dengan Allāh ﷻ padahal Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, dan kalau Allāh ﷻ memiliki orang tua berarti dia butuh kepada yang lain padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad. Diperinci oleh Allāh ﷻ di sini dan asalnya yang namanya nafyi dalam Al-Qur’an adalah penafian yang global bukan penafian yang terperinci, tapi di sini diperinci oleh Allāh ﷻ untuk membantah sebagian munharifin, orang-orang yang menyimpang yang mereka meyakini bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak.

Berarti ini nafyi, ini adalah sifat yang manfiyyah. Allāh ﷻ tidak memiliki anak, Allāh ﷻ tidak beranak dan Allāh ﷻ tidak dilahirkan. Berarti di sini ada sifat yang manfiyyah, dan ini juga kaidah yang harus kita pahami bahwa ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat maka konsekuensinya kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat yang di nafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak atau Allāh ﷻ melahirkan dan Allāh ﷻ juga menafikan dari diri-Nya bahwasanya Allāh ﷻ memiliki orang tua.

Berarti di sini yang perlu kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari keduanya, yaitu kita tetapkan kesempurnaan ke Esaan Allāh ﷻ, menetapkan Ahadiyah Allāh ﷻ. Ini kaidah yang harus kita pahami kalau Allāh ﷻ menafikan sebuah sifat dari diri-Nya kita harus menetapkan kesempurnaan sifat yang kebalikan dari sifat yang dinafikan tadi. Ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak dan juga orang tua berarti kita tetapkan kesempurnaan keesaan Allāh ﷻ, berarti di sini ada sifat manfiyah didalam surat Al-Ikhlas ini.

Demikian pula ini

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Sifat kesempurnaan yang bisa kita tetapkan di sini adalah sifat ghina yaitu bahwasanya Allāh ﷻ tidak butuh dengan yang lain. Tadi kita sebutkan, yang melahirkan dan dilahirkan itu berarti butuh dia kepada yang lain, ketika dinafikan berarti kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi, selain kesempurnaan sifat ke-Esaan, yaitu kesempurnaan ke-Esaan Allāh ﷻ, juga menunjukkan kesempurnaan tidak butuhnya Allāh ﷻ dengan yang lain, kesempurnaan kekayaan Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang menjadi kufuwan lahu yaitu bagi Allāh ﷻ. Kunfuan artinya adalah musāwiyah, yang sama serupa dengan Allāh ﷻ, tidak ada. Berarti Allāh ﷻ di sini menafikan adanya sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ. Kalau ayat sebelumnya dinafikan anak dan anak adalah cabang, kemudian Allāh ﷻ menafikan orang tua dan orang tua adalah asalnya, baik cabang/anak maupun asalnya/orang tua dinafikan oleh Allāh ﷻ, demikian pula yang sebanding ini juga dinafikan oleh Allāh ﷻ.

Maka di sini ada nafyul kufu, disini Allāh ﷻ menafikan al-kufu yaitu yang serupa dengan Allāh ﷻ maka konsekuensinya kita tetapkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Sempurna dalam ke-Esaan-Nya dan Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ baik didalam sifat-Nya, dalam Dzat-Nya, dalam apa yang Dia lakukan.

Berarti jelas di dalam surat Al-Ikhlas ini Allāh ﷻ menyebutkan an-nafyu dan juga itsbat, ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan dia mengandung sifat, ada nama yang nafia karena di dalamnya ada kandungan makna menafikan dari Allāh ﷻ sesuatu yang semisal dengan Allāh ﷻ, baik nama baik sifat maupun dzat-Nya.

Jadi kalau kita ulang lagi di dalam surat Al-Ikhlas ini nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ, Lafdzul Jalalah, kemudian nama Al-Ahad, kemudian Ash-Shomad, tiga nama.

Kemudian di sini ada sifat yang Allāh ﷻ tetapkan (mutsbatah), Lafdzul Jalalah mengandung sifat-sifat Uluhiyah, kemudian Al-Ahad, sifat Al-Ahadiyah ini terkandung dalam nama Allāh ﷻ Ahad, ada lagi dalam Ash-Shomad sifat Ash-Shomadiyyah yaitu sifat bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hajat-hajat mereka ini namanya sifat Ash-Shomadiyyah, sifat Al-Ahadiyah yaitu sifat ke-Esaan. لَمْ يَلِدْ itu sifat manfiyah tersendiri, لَمْ يُولَد itu sifat manfiyah tersendiri.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Berarti Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak, menafikan dari diri-Nya orang tua dan menafikan dari diri-Nya sesuatu yang setara atau sesuatu yang sama dengan Allāh ﷻ. Itulah nama dan juga sifat yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam surat Al-Ikhlas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته