Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 68 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25 Bag 02

Halaqah 68 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25 Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-68 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,

۞ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Oleh karena setelahnya disebutkan orang² yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu.

Berarti dosa yang harus mereka tanggung jawabkan dipertanggung jawabkan oleh mubtadi tadi adalah dosa bidah yang dengannya dia menyesatkan manusia tanpa ilmu,

أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Sungguh jelas apa yang mereka tanggung (dosa yang harus mereka tanggung).

Dia mempertanggung jawabkan dosanya sendiri sudah berat apalagi kalau harus ditambah lagi dengan dosa bidah yang dilakukan oleh lain yang dia dakwahkan /ajak/sesatkan, maka ini menunjukan tentang bahaya bidah & mengajak orang lain untuk melakukan bidah & ini berbeda keadaannya dengan ahlul maksiat, ahlul bidah ketika dia menyangka itu adalah taqarub kepada Allāh. Ahlu bidah meniatkan bahwasanya dia sedang beribadah kepada Allāh, menganggap ini adalah sebuah kebaikan karena ini adalah bentuk beribadah kepada Allāh, sebuah kebaikan, maka dia tidak ragu² lagi untuk mengajak orang lain untuk melakukan bidah tadi, akhirnya dia sesatkan & juga menyesatkan orang lain akhirnya dia melakukan dosa bidah & menjadikan orang lain melakukan dosa bidah tadi, itu orang yang melakukan bidah karena menyangka itu adalah ibadah akhirnya dia dakwahkan kepada orang lain.

Berbeda dengan maksiat atau dosa besar maka masing² dari pelaku dosa besar tadi merasa & menyadari bahwasanya itu adalah dosa besar, malu untuk melakukannya apalagi mengajak orang lain untuk melakukannya.

Misal dia berzina kemudian setelah melakukan dosa zina menyesal (ko bisa terjadi/kenapa ini terjadi dst) malu kalau itu sampai dilihat orang lain, bagaimana dia mengajak orang lain untuk melakukan perzinahan tadi, dia sendiri malu, kerja misalnya disebuah tempat yang ribawi dia tau bahwsanya dia Salah, tempat dia bekerja ini bermasalah bertentangan dengan syariat, ketika ditanya mungkin orang kerja dimana dia tidak mau menyebutkan malu , tau bahwasanya ini sebuah kesalahan bagaimana dia mengajak orang lain untuk melakukan maksiat tersebut dst.

Orang² yang melakukan dosa² besar tadi melakukan kemaksiatan² tadi rata² mereka tau bahwasanya itu adalah dosa besar, mereka meskipun tidak bisa mengendalikan dirinya tapi mereka tidak ingin orang lain juga terkena seperti mereka, sembunyi dari anaknya, sembunyi dari tetangganya, sembunyi dari orang lain tidak ingin orang lain apa yang dia perbuat, karena dia tau ini adalah sebuah kemaksiatan/ini adalah sebuah kesalahan.

Berbeda dengan orang yang melakukan kebidahan tadi maka dia mengajak orang lain bahkan terang²an menyangka ini adalah ibadah ketika dia mengajak orang lain berarti memasukkan mereka didalam ibadah .

Kenapa beliau mendatangkan ayat ini dalam bab ini, babnya tentang bahwasannya bidah itu lebih dahsyat daripada kemaksiatan karena orang yang melakukan bidah kebanyakan dia karena menganggap itu adalah taqarub ibadah oleh karenanya dia tidak segan² untuk mengajak orang lain melakukan bidah tadi & ketika dia mengajak kemudian diterima dakwahnya maka semakin besar dosanya.

Adapun orang yang melakukan kemaksiatan maka tidak demikian keadaannya dia dalam keadaan malu, malu diketahui orang lain bagaimana ia mengajak orang lain untuk melakukan kemaksiatan tersebut sehingga dia menanggung dosa kabirah tadi, dosa² besar tadi.

Tentunya ini menunjukan bahwasanya bidah ini adalah sesuatu yang berbahaya lebih berbahaya daripada kemaksiatan karena pelaku bidah dia mendakwahkan & mengajak orang lain untuk melakukan bidah & itu semakin menambah dosanya berbeda dengan kemaksiatan maka dia mencukupkan diri dengan dirinya & mengetahui bahwasanya dirinya bersalah/keliru tidak sampai mendakwahkan kepada orang lain, sehingga tidak salah apabila syaikh rahimahullah disini mendatangkan ayat ini untuk menunjukan kepada kita tentang bahwa bidah ini lebih besar dosanya daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 67 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25

Halaqah 67 | Pembahasan Dalil Ketiga QS An Nahl 25

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-67 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ,

۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dan juga firman Allāh didalam Surat An Nahl bahwasanya Allāh mengatakan

۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُو

Diantara yang menunjukan bahwasanya Bidah ini lebih besar daripada dosa² besar adalah apa yang ditunjukan oleh ayat yang mulia ini, dimana Allāh Subhanahu wa Taalā mengatakan

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Supaya mereka membawa dosa² mereka secara sempurna dihari kiamat

Jadi dosa² yang mereka lakukan akan mereka pertanggung jawabkan di hari Kiamat, apakah hanya sebatas disitu saja ternyata ada dosa yang lain dia pikul, bukannya dosanya saja yang akan dia pikul

۞ وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ

[QS Az-Zalzalah 8]

Tapi disana ada tambahan yang lain yang juga dia pikul yaitu

وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan diantara dosa² orang² yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu

وَمِنْ أَوْزَارِ

Dan diantara

Artinya tidak semua dosa orang yang telah mengikuti dia dalam kesesatan tadi kemudian ditumpahkan dosanya kepada mubtadi tadi,

Contoh
Seorang Mubtadi kemudian dia mengajak orang lain untuk melakukan bidah tadi (misal 3 orang), orang pertama dia ikut melakukan bidah tadi, yang kedua & ketiga juga demikian disamping dia melakukan bidah tadi (yang diajak oleh mubtadi tadi) dia juga melakukan dosa Zina(misalnya) yang lain Riba, mencuri, berarti yang pertama melakukan dosa bidah tadi & zina, yang kedua bidah & mencuri, yang ketiga bidah & Riba. Ketika mubtadi ini dia mendakwahi kemudian yang pertama itu dakwahnya /mengamalkan bidahnya, yang kedua & ketiga mengamalkan bidahnya, dosa yang ditanggung Mubtadi tadi dosanya & dosa orang yang mengikuti, apakah maksudnya keseluruhan dosa atau hanya dosa bidahnya saja? (Dosa bidahnya saja), adapun dosa zina ditanggung oleh dirinya sendiri, dia melakukan bidah (orang yang pertama tadi) dia akan merasakan dosanya jika Allāh menghendaki.

Mubtadi tadi selain dia mempertanggung jawabkan dosanya sendiri dia juga akan terkena & akan menanggung dosa bidah yang telah dilakukan oleh yang pertama, kedua & ketiga, adapun dosa Zina, Riba & mencuri dia tidak ikut merasakan akibatnya .

Jadi dosa mubtadi tadi yang pertama adalah dosa bidah yang dia lakukan sendiri, kemudian yang kedua adalah dosa bidah orang yang mengikutinya, jika dia merasakan/ atau dia akan menangggung dosa bidahnya & dosa orang yang mengikutinya apakah orang yang mengikutinya di azab dengan sebab bidahnya? Sama dia juga di azab, orang yang pertama, kedua & ketiga dia juga di azab dengan sebab sebuah bidah tadi & mubtadi yang pertama (yang mengajak) dia lebih berat lagi lebih besar lagi lebih berlipat karena dia akan menanggung bidahnya sendiri(dosa bidahnya) & juga dosa bidah orang yang mengikutinya, jadi disini menjadi 2 dosanya, dosa mubtadi tadi kemudian orang yang diajak dia juga melakukan bidah tadi maka dosanya mubtadi dua kali lipat, jika 3 orang yang dia ajak berarti lebih besar lagi, apalagi sampai puluhan atau ratusan orang maka mubtadi tadi dia akan mempertanggung jawabkan disanyai sendiri & juga oleh Allāh akan ditambahi dengan dosa bidah yang dilakukan oleh orang² yang dia dakwahi karena sebab dia mereka menjadi melakukan bidah dan pelaku bidah tadi juga akan mempertanggung jawabkan dosa bidahnya sendiri.

Jadi jangan dipahami bahwasanya dosa tadi akan ditanggung sepenuhnya oleh mubtadinya tidak, orang yang mengikuti dakwah mubtadi tadi juga akan mempertanggung jawabkan dosanya, disamping itu mubtadinya juga akan mempertanggung jawabkan dosa bidah yang diamalkan oleh pengikutnya.

Oleh karenanya disini disebutkan menggunkan min yang artinya menunjukan sebagian, beda dengan jika misalnya bunyi ayatnya

و أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Kalau ayatnya – و أَوْزَارِ – di athofkan kepada – أَوْزَارِ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 66 | Pembahasan Dalil Kedua QS Al An’am 144

Halaqah 66 | Pembahasan Dalil Kedua QS Al An’am 144

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-66 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻ

۞ وقوله:

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ

_Maka siapakah yang lebih dholim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu_

[QS Al-An’am 144]

Masuk didalam – افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا – adalah orang yang melakukan bidah,

kenapa bisa dimasukkan orang yang melakukan bidah ini dengan berdusta atas nama Allāh, orang yang melakukan bidah seakan² dia mengatakan ini adalah dari Allāh, dia melakukan amalan² yang bidah ketika dia mengamalkan & mendakwahkan (apalagi) seakan² dia mengatakan bahwasanya ini dari Allāh padahal bukan dari Allāh berarti dia berdusta, mengatakan & disyariatkan padahal itu tidak disyariatkan, (contoh) maulid Nabi perayaan ini dianggap adalah disyariatkan padahal itu tidak disyariatkan.

Ketika dia mengatakan Maulud Nabi ini disyariatkan berarti dia berdusta atas nama Allāh oleh karena itu dia masuk didalam berdusta atas nama Allāh karena seakan² dia mengatakan Allāh mensyariatkan hal ini padahal Allāh tidak pernah mensyariatkannya, oleh karenanya beliau mendatangkan firman Allāh

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Darimana kita mengetahui dengan ayat ini bahwsanya berdusta atas nama Allāh tadi lebih besar dosanya daripada dosa besar, bahwasanya – افْتَرَى عَلَى اللَّهِ – ini adalah lebih besar daripada dosa besar, masuk didalam افْتَرَى عَلَى اللَّهِ adalah perbuatan bidah, disini kuncinya adalah pada kalimat

فَمَنْ أَظْلَمُ

Siapakah yang lebih dholim daripada orang yang berdusta atas nama Allāh untuk menyesatkan manusia dari jalan Allāh, tahu bahwasanya ini adalah jalan Allāh jalan yang lurus kemudian dia berdusta atas nama Allāh yang benar adalah jalan tsb, ingin menyesatkan manusia jalan Allāh.

Maka siapakah yang lebih dholim dari pada orang yang – افْتَرَى عَلَى اللَّهِ – dan Masuk didalamnya adalah bidah

karena dia adalah berdusta atas nama Allāh, menunjukan bahwasanya apa yang disampaikan mualig didalam judul bab tadi adalah benar adanya bahwasanya bidah adalah lebih besar daripada dosa² besar karena dia adalah termasuk kedholiman dia adalah berdusta atas nama Allāh

Dan Allāh mengatakan – فَمَنْ أَظْلَمُ – siapa yang lebih dholim daripada orang yang berdusta atas nama untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Doa Agar Musibah Tidak Menimpa Agama Dan Agar Dunia Bukan Sebagai Tujuan

Doa Agar Musibah Tidak Menimpa Agama Dan Agar Dunia Bukan Sebagai Tujuan

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِن الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

“Allahumma-qsim lana min khashyatika ma tahulu bihi bainana wa baina ma’asika, wa min ta’atika ma tuballighuna bihi jannataka, wa minal-yaqini ma tuhawwinu ‘alaina bihi masa-‘ibad-dunya.
Allahumma matti’na biasma’ina, wa absarina, wa quwwatina ma ahyaitana, waj’alhul-waritha minna, waj’al tharana ‘ala man zalamana, wansurna ‘ala man ‘adana, wa la taj’al musibatana fi dinina, wa la taj’alid-dunya akbara hammina, wa la mablagha ‘ilmina, wa la tusallit ‘alaina man-la yarhamuna”

“Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan-perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan Kami ke surga-Mu dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.
Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami, berkuasa (jadi pemimpin) atas kami.”

([1])


([1]) HR. Tirmidzi no.3502, HR, An-Nasa’I no. 6/106, di hasankan oleh Al-Albany dalam Sahih At-Tirmidzi 3/168.

TEGUHKAN NIAT SEGALA KEHIDUPAN DAN KEMATIAN KITA HANYA KARENA ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA

KTQS # 1843

TEGUHKAN NIAT SEGALA KEHIDUPAN DAN KEMATIAN KITA HANYA KARENA ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA

Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan :

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّى یَأۡتِیَكَ ٱلۡیَقِیْن.

“Dan sembahlah Tuhan-mu sampai yakin (ajal) datang kepadamu”.

(QS. Al-Hijr : 99)

Maksud ayat tersebut adalah : “Teruslah beribadah dan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada setiap waktu dalam hidupmu sampai kematian mendatangimu dan sampai usiamu habis. Kehidupan manusia adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ingin agar seorang hamba mengisinya dengan ketaatan dan ibadah, bukan dengan yang lainnya”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلۡ إِ نَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحۡیَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِیْن.

“Katakanlah (Muhammad) “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam”.

(Qs. Al-An’am : 162)

Maka barangsiapa yang waktunya, umurnya, kesehatannya, waktu luangnya, kekuatannya, masa mudanya, akalnya, pikirannya, hatinya, lisannya dan anggota tubuhnya sibuk dengan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atau tidak disyari’atkan oleh Rasul-Nya, dari perkara-perkara yang hukumnya : Wajib, Sunnah, atau Mubah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sungguh dia telah berbuat buruk dan menzholimi dirinya sendiri. Di hari kiamat kelak, dia akan dilanda kekecewaan dan penyesalan sebesar waktu yang telah ia sia-siakan.

Sebuah kaidah mengatakan, barang siapa yang biasa melakukan suatu amalan (yang baik maupun buruk) maka ia akan mati dan akan dibangkitkan sebagaimana kebiasaannya. Ini sudah menjadi sunnatullah (ketetapan) yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan atas makhluk-Nya.

Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala meminta para hamba-Nya agar terus membiasakan diri dan konsisten di atas agama Islam, hukum dan syi’arnya sampai meninggal dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِیْنَ ءَامَنُوْا۟ ٱتَّقُوْا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَاتَمُوْتُنَّ
‎إِلَّا وَأَ نْتُمْ مُّسۡلِمُوْن
.

“Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim”.

(Qs. Ali Imran : 102)

Semoga renungan ini dapat memberikan manfaat dan semangat buat kita semua untuk terus istiqamah meniatkan segalanya hanya karena Allah subhanahu wata’ala hingga ke akhir hayat kita. Aamiin.

Allahu yubarik fiik.

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 – Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Halaqah 65 | Pembahasan Dalil Pertama QS An Nisa 48 dan 116

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-65 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.


Beliau disini membawakan beberapa dalil, yang menunjukan tentang apa yang beliau tetapkan/simpulkan bahwasanya bidah itu lebih dahsyat daripada dosa² besar.

Kalau yang dimaksud al Kabair disini adalah kabair makna yang khusus, kalau disebutkan bidah

البدعة أشد من الكبائر

Isyarat bahwasanya yang dimaksud al kabair adalah yang berada dibawah bidah yaitu kabair dengan makna khusus.

Mustaqim kah ( Bisa kah) Seandainya kabair disini kita bawa kepada makna umum?

_tidak bisa_

Bagaimana bidah lebih dahsyat daripada dosa² besar termasuk diantaranya adalah syirik, dalam hadits disebutkan bahwasanya syirik adalah

أعظم ذنبٍ إلا الله

dosa yang paling besar disisi Allah adalah kesyirikan.

Disini kita tau bahwa makna kabair disini adalah makna yang khusus (bukan makna yang umum).

Beliau mendatangkan dalil dari beberapa al Quran & juga beberapa dalil dari sunnah Nabi ﷺ, adapun dalil dari al Quran maka yang pertama beliau bawakan adalah firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

[QS An Nisa 48]

_Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik_

Ayat ini ayat yang pertama yang dibawakan oleh beliau beliau ingin tunjukan dengan ayat ini bahwasanya Bidah itu lebih besar daripada Al Kabair, ini perlu taamul yang demikian karena ayat disini berbicara tentang syirik padahal didalam bab ini yang beliau sebutkan hanya bidah dengan dosa² besar, didalam judul babnya tidak disebutkan tentang syirik, jika disebutkan didalam babnya (disebutkan ttg syirik)

أن الشرك أشد من الكبائر

Tepat kita mendatangkan firman Allāh

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

Itu jika babnya

باب ما جاء أن الشرك أشد من الكبائر

Itu jika kalimatnya syirik karena kita ingin menjelaskan bahwasanya syirik adalah yang paling besar sehingga dia tidak diampuni dosanya, adapun dosa² besar yang lain masih

۞ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ

Yang disebutkan ayat ini adalah syirik kemudian yang kedua adalah yang ada dibawah syirik, Bidah & juga Kabair, itulah yang ada dibawah syirik. Berarti yang beliau sebutkan disini adalah syirik & apa yang ada dibawah syirik.

Lalu kenapa beliau disini mendatangkan ayat ini, padahal disini perbandingannya antara syirik dengan apa yang ada bawah syirik & apa yang ada dibawah syirik masuk didalamnya bidah & juga kabair, kalau yang dibandingkan adalah syirik dengan apa yang ada didalamnya ini jelas, kalau disini beliau mendatangkan ayat ini dengan bab

ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

Bidah itu lebih dahsyat daripada dosa besar.

Maka sebagian syuro menjelaskan bahwasanya bidah kalau tadi kita lihat disini urutannya syirik, bidah dengan kabair maka dia memiliki sifat yang menjadikan dia lebih dekat kepada syirik daripada kepada dosa² besar.

Apa diantara kesamaannya?

Disebutkan bahwasanya diantara kesamaanya bahwasanya orang yang melakukan syirik ketika dia melakukan syirik niatnya adalah ibadah, seseorang melakukan sesuatu didepan patung Yesus misalnya ketika dia melakukan kesyirikan niat nya adalah ibadah & makna ini ada juga didalam bidah kalau orang yang melakukan bidah niatnya ingin beribadah.

Adapun Kabair ketika dia melakukan dosa besar tadi (orang yang melakukan kabair) niatnya bukan ibadah, dia memahami & mengetahui bahwasanya itu adalah dosa, dia melacur, minum²an keras tidak ada niat ibadah dia tau kalau itu dosa, berbeda dengan bidah maka niat orang yang melakukannya adalah ibadah & ini makna juga ada didalam orang yang melakukan kesyirikan sehingga dari sisi ini bidah lebih dekat & memiliki persamaan dari kesyirikan dari sisi lain orang yang melakukan bidah seakan² dia telah menjadikan dirinya sebagai musyariq, menjadikan dirinya yang mensyariatkan dia menentukan ini disunnahkan, ini diwajibkan, ini disyariatkan itu adalah orang yang mubtadi atau orang yang melakukan bidah & orang yang melakukan demikian berarti dia telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Tauhid masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah yaitu mengEsakan Allāh didalam masalah hukum syar’i, sebagaimana disebutkan oleh syaikh Abdul Muhsin didalam beliau membantah sebagian jamaah yang mereka menambah didalam bagian Tauhid dengan Tauhid al Hakimiyyah.

Beliau mengatakan bahwasanya tidak perlu menambah dengan Tauhid al Hakimiyyah karena al Hakimiyyah disini Hukum disini ada 2 bisa artinya Hukum Syar’i atau hukum kauni, kalau dia Hukum Kauni maka ini masuk didalam Tauhid Rububiyyah, hukum Kauni maksudnya adalah diciptakannya alam, hidup & meninggal, digerakkannya Matahari dst, maka ini adalah hukum kauni, kita Esakan Allāh didalam hukum kauni berarti ini masuk didalam Rububiyyah, tapi kalau masuk didalam hukum yang Syar’i maka ini masuk didalam Tauhid al Uluhiyyah.

Orang yang melakukan Bidah berarti dia bertentangan dengan Tauhid al Uluhiyyah sehingga dia digabungkan disamakan dengan kesyirikan lebih dekat kepada syirik daripada kepada kabair, sehingga beliau mendatangkan ayat ini

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Bidah ini lebih dekat kepada kesyirikan daripada kabair, karena masing-masing dari syirik maupun bidah itu adalah ingin bertaqarub kepada Allāh , ingin beribadah kepada Allāh.

Dari sisi ini menunjukkan bahwasanya Bidah itu lebih Asyad daripada Kabair, lebih dahsyat lebih besar dosanya daripada dosa² yang besar karena sama² pelakunya melakukan bidah maupun kesyirikan & niatnya adalah bertaqarub kepada Allāh ajja wa jalla, itu adalah sebab kenapa beliau mendatangkan ayat ini ingin menunjukan kepada kita bahwasanya bidah ini lebih dekat kesyirikan daripada dosa besar.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 8 WAJIBNYA MASUK KE DALAM ISLAM SECARA TOTAL DAN MENINGGALKAN SELAINNYA- Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03

Halaqah 64 | Penjelasan Umum Bab Bag 03

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-64 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

أشد من الكبائر

Dia lebih dahsyat/ besar dosanya daripada dosa² besar.

Al Kabair jama’ dari kadziroh, yang dimaksud adalah dosa² yang besar, terkadang maknanya adalah makna yang umum masuk masuk seluruhnya seluruh dosa² yang besar baik dosa² yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islām maupun dosa² yang sampai mengeluarkan seseorang dari agama Islām, terkadang makna kabair adalah sesuatu yang umum seluruh dosa besar baik yang tidak mengeluarkan maupun mengeluarkan dari agama Islām.

Dari sisi ini berarti syirik termasuk Kabair, ini kabair secara makna yang umum, bid’ah termasuk dosa besar Rasulullah ﷺ bersabda

ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْكَبَائِرَ، أَوْ سُئِلَ عَنِ الْكَبَائِرِ

Nabi ﷺ ditanya tentang dosa besar, kemudian beliau menyebutkan

فَقَالَ ‏”‏ الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

_syirik kepada Allāh, membunuh jiwa & juga durhaka kepada kedua orangtua

Al Kabair disini makna yang umum, buktinya disebutkan disini – الشِّرْكُ بِاللَّهِ – berarti disini disebutkan didalam hadits ini adalah kabair dengan makna yang umum masuk didalamnya kesyirikan.

Ada makna Kabair yang lebih khusus yaitu dosa² besar dibawah kesyirikan & juga bidah, seluruh dosa besar dibawah bidah & kesyirikan ini dinamakan dengan al Kabair. Urutannya yang tertinggi adalah syirik kemudian yg kedua adalah bidah kemudian yang ketiga adalah kabair, yang paling besar dosanya adalah syirik kemudian urutan yang kedua adalah bidah kemudian yang ketiga adalah Kabair. Kabair didoni adalah makna khusus yaitu seluruh dosa besar dibawah syirik & dibawah bidah itu dinamakan dengan kabair.

Oleh karena itu jangan ada yang mengatakan syirik itu dosa besar, yang kita pakai ini adalah kabair makna yang khusus yaitu dosa² besar dibawah syirik & juga bidah, adapun yang ada dalam hadits tadi maka itu adalah kabair dengan makna yang umum masuk didalamnya syirik & juga bidah.

Pengertian kabair adalah seluruh dosa yang diancam yang pertama dengan laknat atau diancam dengan Neraka, disebutkan ancaman neraka secara khusus atau hukuman didunia contoh laknat misalnya meratap ada ancaman laknat disana, atau menyerupai lawan jenis seorang wanita yang berdandan seperti laki² atau sebaliknya, ancaman dengan Neraka seperti Isbal, hukuman didunia seperti mencuri dipotong kemudian membunuh tanpa hak, berzina baik yang mukhson ataupun uang bukan kedua²nya mendapatkan hukuman didunia.

Bagaimana para ulama bisa mengarang al Kabair seperti adzahabi adalah dengan Qoidah ini tathabu, istiqro ayat & juga hadits yang isinya adalah tentang ancaman dari sebuah dosa, jika itu disebutkan disana laknat atau hukuman dengan Neraka, hukuman didunia maka ini termasuk dosa besar, manakah yang lebih besar dosanya bidah atau al Kabair inilah yang ingin beliau sebutkan disini.

Akibat seseorang tidak pasrah didalam masalah tata cara beribadah & dia kelakuan didalam agama maka dia terjerumus kedalam sebuah dosa yang besar bahkan dia lebih besar daripada dosa² besar, kita tau bahwasanya dosa² besar didalamnya ada membunuh ternyata orang yang melakukan bidah lebih besar dosanya daripada orang yang berzina & kita tau bagaimana hukuman zina & bagaimana besar dosanya sampai orang yang mukhson Kalau dia berzina maka dia dihalalkan darahnya di rajam sampai dia meninggal dunia adapun orang yang belum pernah menikah yang syari maka dia dicambuk kemudian dia di asingkan selama 1 tahun.

Kalau berzinanya 2 kali mana yang lebih besar dosa bidahnya atau zinahnya? Tetap bidah. Kalau berzinanya 3 kali tetap bidah lebih besar, seandainya dia berzina 10 kali maka tetap besar dosa bidah ini menunjukan tentang bahayanya melakukan bidah bahayanya tidak kaafah didalam Islām, tidak pasrah didalam masalah tata cara ibadah sampai dosa tersebut lebih besar daripada dosa kabair membunuh kalau kabair itu sudah menghancurkan seseorang mengurangi keimanannya & bisa menghancurkan kehidupan seseorang lalu bagaimana dengan bidah yang dia dosa nya lebih besar daripada dosa² besar tadi.

Tentunya ini adalah menunjukan tentang betapa bahayanya bidah betapa bahayanya orang yang tidak pasrah didalam masalah tata cara Ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 08: Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total Dan Meninggalkan Selainnya – Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02

Halaqah 63 | Penjelasan Umum Bab Bag 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-63 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Yang dimaksud dengan bid’ah sebagaimana diterangkan oleh al Imam Asy Syatibi rahimahullah didalam beliau (al Itishob), beliau menyebutkan bahwasanya yang dimaksud dengan bidah adalah:

عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه الله و تعالى

Yang dimaksud dengan Bidah adalah sebuah jalan / cara didalam agama,

Ucapan beliau _didalam agama_ keluar darinya jalan didalam urusan dunia. Masalah Dunia, Listrik microphon, internet dll, ini bukan pembahasan kita.

طريقة في الدين

Sebuah jalan didalam agama/ibadah – مخترعة – dan dia Adalah sesuatu yang baru tidak pernah diajarkan oleh agama Islām yang Murni, tidak ada dalilnya didalam al Quran, tidak ada dalilnya didalani as Sunnah – تضاهي الشرعية – dan dia menyerupai sesuatu masyruk sesuatu yang disyariatkan sehingga orang yang jahil karena dia menyerupai syariatkan menyangka bahwasanya itu adalah bagian dari agama.

Contoh, di dalam agama kita ada disyariatkan seseorang untuk memperbanyak dzikir kemudian ada orang yang membuat tata cara beribadah yang secara dhohir seakan² dia adalah sesuatu yang disyariatkan, kita baca لا إله إلا الله misalnya 1000 kali.

Hampir mirip dengan syariat, dari lafadznya kemudian disana juga disebutkan ketentuan jumlahnya, karena terkadang didalam hadits Nabi ﷺ menyebutkan jumlah, membaca tasbih 33X Tahmid 33X , takbir 33X (setelah shalat) disebutkan disana jumlah, ada sebagian orang mendatangkan lafadznya kemudian mendatangkan jumlahnya tapi dia ganti bilangan, diganti waktunya, kalau tadi setelah shalat dia tambah dengan membaca-لا إله إلا الله

1000X setelah pertengahan malam, orang jahil mendengar seperti itu dia menyangka ini bagian dari syariat karena mirip lafadznya, kemudian disitu disebutkan tentang jumlahnya.

تضاهي الشرعية

Dia serupa / mirip dengan syariat tetapi tidak memiliki dalil yang shahih didalam agama ini.

يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه الله و تعالى

Dimaksudkan menempuh jalan ini yaitu menempuh Toriqoh / cara ini tujuannya adalah untuk – المبالغة – berlebih²an didalam beribadah kepada Allāh, ingin lebih & ingin ghuluw didalam beribadah kepada Allāh.

Jadi tujuan dibuatnya jalan yang baru ini adalah ingin tambah didalam beribadah kepada Allāh.

Itu adalah pengertian bidah secara syariat adapun secara bahasa jelaa bahwasanya bidah ini adalah sesuatu yang baru, segala sesuatu yang baru dinamakan dengan bidah, maka Listrik bidah menurut bahasa, internet bidah menurut bahasa, adapun secara syariat maka hanya berkaitan dengan agama berkaitan dengan ibadah, ditempuh jalan tadi dengan tujuan untuk beribadah kepada Allāh subhanahua wa Taalā, itu adalah pengertian bidah secara syariat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām – Bab 08 : Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid’ah termasuk Dosa Besar yang Paling Dahsyat – Halaqah 62 | Penjelasan Umum Bab

Halaqah 62 | Penjelasan Umum Bab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-62 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhāb bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullāh.

قال رحمه اللّٰه : (باب) ما جاء أن البدعة أشد من الكبائر

“Bab apa-apa yang datang berupa penjelasan, berupa dalīl yang menjelaskan bahwasanya bid’ah, ini lebih keras, lebih besar dosanya daripada Al-Kabāir”

Di dalam bab ini beliau ingin menjelaskan kepada kita (masih temanya) tentang masalah Islām.

Kitāb ini berbicara tentang keutamaan Islām, kewajiban Islām, Intisab kepada Islām, kewajiban untuk kaffah di dalam Islām.

Beliau ingin menjelaskan di sini, satu di antara bentuk keislāman kita, adalah pasrah kepada Allāh di dalam masalah tata cara beribadah (ini juga bagian dari Islām).

Orang yang sudah tunduk kepada Allāh dengan bertauhīd, maka di antara ketundukkan dia adalah tunduk di dalam masalah tata cara beribadah. Bukan hanya sekedar tunduk kepada Allāh dalam hal tauhīd saja, sehingga dia tidak menyembah kepada selain Allāh bersama Allāh, tapi dia juga menyerahkan diri di dalam masalah tata caranya.

“Ya Allāh, ana pasrah, semua ibadah ana serahkan kepada diri-Mu dan tata caranya juga ana serahkan kepada diri-Mu, ana ikut dan ana taat”.

Pasrah kepada Allāh termasuk di antaranya adalah dalam tata cara beribadah.

Dan beliau ingin menunjukkan bahwasanya orang yang tidak demikian, berarti masih ada kekurangan di dalam keIslāmannya, berarti dia belum sempurna keIslāmannya, belum benar-benar pasrah kepada Allāh, masih mengikuti hawa nafsunya, menganggap bahwasanya apa yang dia lakukan itu lebih baik daripada yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Ini adalah termasuk ketidak sempurnaan Islām seseorang. Dan Ahlus Sunnah wal Jamā’ah sebagaimana sudah kita sampaikan, mereka adalah orang-orang yang memiliki bagian yang besar di dalam masalah Islām ini.

Bukan hanya sekedar tauhīd yang mereka perjuangkan (yang mereka amalkan), tetapi mereka juga berusaha bagaimana amalan yang mereka lakukan ini bukan amalan yang bid’ah, tapi dia adalah amalan yang sunnah (sesuai dengan sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Dan di dalam bab ini, ada makna bukan hanya sekedar penjelasan dan isyarat bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām.

Jadi, kenapa di sini beliau berbicara tentang bid’ah?

Ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan termasuk Islām, dan orang yang melakukan bid’ah berarti dia memiliki kekurangan di dalam keIslāmannya.

Dan kesempurnaan Islām seseorang adalah ketika dia meninggalkan bid’ah-bid’ah dan berpegang teguh dengan sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Seandainya antum ditanya, “apa hubungan antara bab ini dengan keIslāman?”

Jadi, kesempurnaan Islām seseorang di antaranya adalah pasrah, menyerahkan diri di dalam tata cara beribadah.

Dan orang yang melakukan bid’ah, ini bertentangan dengan pasrah tadi, karena dia masih melakukan bid’ah, melakukan ibadah bukan dengan tata cara Islām yang dibawa oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tapi dengan cara yang lain.

Dan di sini beliau ingin memasukkan makna yang lebih daripada itu, bahwasanya bid’ah ini, ternyata dia lebih dahsyat, lebih keras, lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.

Berarti :

⑴ Yang pertama, tujuannya ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini bukan dari Islām dan bahwasanya orang yang melakukan bid’ah adalah orang yang kurang keIslāman-nya.

⑵ Kemudian, juga ingin menjelaskan bahwasanya bid’ah ini ternyata berbahaya, bahkan dia lebih berbahaya daripada dosa-dosa besar.

Akibat seseorang tidak Islām secara kaffah dan masih mengikuti hawa nafsunya, kemudian melakukan bid’ah di dalam agama, maka dia terjerumus ke dalam sebuah dosa, yang dia lebih besar daripada dosa-dosa besar.

Ini adalah hubungan antara bab ini dengan Islām itu sendiri.

Thayyib.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, semoga bermanfaat, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهPost

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 07: Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total Dan Meninggalkan Selainnya – Halaqah 61 | Pembahasan Dalil Keenam Dan Ketujuh

Halaqah 61 | Pembahasan Dalil Keenam dan Ketujuh

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau menyebutkan hadits yang merupakan dalil atas kewajiban masuk kedalam Islām secara kaffah,

وهو في حديث معاوية (عند) أحمد وأبي داود

Dan dia adalah didalam hadits Muawiyyah, ada didalam Musnad Imam Ahmad & Abu Daud

وفيه:

Didalamnya ada tambahan,

أنه سيخرج من أمتي قوم تتجارى بهم الأهواء

Akan keluar diantara umatku,

Didalamnya mereka ini masih umat Islām yang iftiroq, apa sifatnya?

قوم تتجارى بهم الأهواء

Ternyata masih mengalir – تتجارى – hawa nafsu, sehingga dengan hawa nafsu tadi akhirnya mereka melaksanakan Islām dengan memisah² tadi, yang sesuai dengan hawa nafsunya diambil, dia tinggalkan Islām, adapun yang sesuai dengan hawa nafsunya dia amalkan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan, inilah memisah² agama.

Adapun Ahlu sunnah tidak mengikuti hawa nafsunya, justru hawa nafsunya mereka tundukan kepada Islām yang mereka pasrahkan semuanya kepada Allāh & mereka tidak mengikuti hawa nafsunya,

كما يتجارى الكَلَب بصاحبه،

Sebagaimana penyakit Rabies itu menjalar kepada orangnya,

Kalau sudah masuk kedalam jasad seseorang maka penyakit tadi maka itu akan segera menjalar kepada dirinya

فلا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخله

Maka tidak akan tersisa dari jasadnya baik berupa urat ataupun sendi²nya yang ada didalam dirinya kecuali disitu ada virusnya.

Sehingga dia mudah mengikuti hawa nafsunya, yang sesuai dengan hawa nafsunya dia laksanakan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan.

Ini menunjukan faedah tentang kenapa sebab mereka memisah²kan agama tadi karena disini ada perang hawa nafsu & hawa nafsu bertentangan dengan Islām, Islām menyerahkan diri,, adapun hawa nafsu berarti masih mengikuti hawa nafsunya bukan lagi Islām menyerahkan diri kepada Allāh

وتقدم قوله: ومبتغ في الإسلام سنة جاهلية.

Sudah berlalu didalam bab ketika beliau menyebutkan

Diantaranya adalah orang yang mencari didalam Islām sunnah jahiliyyah, sudah kita sebutkan maknanya, sudah masuk Islām,, sudah diberi hidayah kepada Islām.. kepada cahaya ini,, kepada sesuatu yang terang benderang ini,, tetapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah,, masih mengikuti hawa nafsunya.

Berarti disini dia – مبتغ إلإسلام – orang Islām ada sebagian yang dia amalkan sebagai seorang Muslim, tetapi ternyata masih mubtaghin, masih mencari² sunnah jahiliyyah berarti tidak sempurna / tidak kaafah didalam Islāmnya – مبتغ إلإسلام – berarti dia seorang Muslim tapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah, sunnah yang bertentangan dengan Islām, sudah kita sebutkan bahwa makna Jahiliyyah adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islām, berarti ada sebagian Islām yang diamalkan ada sebagian yang tidak dia amalkan, berarti disini memisah² agamanya.

Beliau datangkan kembali dalil ini karena dia juga mengisyaratkan bab ini yaitu wajibnya masuk Islām secara keseluruhan.

Bagaimana cara berdalil dengan hadits ini, jangan sampai memisah² agama,, sudah diberikan hidayah kepada Islām tapi mencari selain Islām & selain Islām dinamakan Jahiliyyah.

Maka ketika Nabi ﷺ mengabarkan ini adalah bentuk sesuatu yang dimurkai oleh Allāh menunjukan bahwasana memisah²kan agama adalah sesuatu yang dibenci oleh Allāh, menunjukan tentang wajibnya masuk Islām secara kaffah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته