PAKAIAN DALAM SHALAT

PAKAIAN DALAM SHALAT

 
Pakaian sebagai kebutuhan primer kita sehari-hari sangat layak diperhatikan terlebih ketika kita menghadap Allah di dalam sholat. Kita diharuskan berpakaian bersih suci dari segala jenis najis dan menutup aurat.

Syarat pakaian dalam sholat adalah:

1. Tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk aurat.

Mengenakan pakaian ketat jelas tidak disukai syariat baik pria maupun wanita, apalagi yg berpakaian ketat atau sempit membentuk lekuk badannya.

Al Hafizh Ibnu Hajar meceritakan sebuah riwayat dari Asyhab tentang seseorang pria yang sholat hanya dengan menggunakan celana panjang ketat dan tipis “hendaknya ia mengulangi sholatnya ketika itu juga kecuali bila celananya tebal.”

Adapun celana, auratnya antara pusar hingga lutut atau lebih rendah hingga pertengahan betis atau mata kaki. Yang demikian lebih sempurna dalam menutup aurat. (Al Fatawa 1/69).

2. Tidak tipis dan tidak transparan

Sebagaimana makruh (dibenci)nya sholat dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk aurat, maka demikian pula tidak boleh sholat dengan pakaian yang tipis yang tampak secara transparan.

Para fuqaha dalam membahas syarat-syarat sahnya sholat yaitu pada pembahasan “Menutup Aurat”, mereka mengatakan, “Syarat bagi pakaian penutup adalah tebal, tidaklah sah bila tipis dan mengesankan warna kulit.”

Semua ini berlaku bagi pria dan wanita, baik pada sholat sendiri ataupun sholat berjamaah. Dengan demikian siapa saja yang terbuka auratnya padahal ia mampu menutupnya, maka sholatnya tidak sah walaupun sholat sendiri di tempat yang gelap, karena sudah merupakan ijma’ akan wajibnya menutup aurat di dalam sholat.

يَا بَنِيْْ آدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
Allah ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al A’raf: 31)

 

Yang dimaksud dengan zinah (perhiasan) pada ayat Al A’raf: 31 yaitu pakaian, sedangkan yang dimaksud dengan masjid yaitu sholat. Artinya, “Pakailah pakaian yang menutup aurat kalian ketika sholat.”

Sabda Rosulullah saw : “Akan ada kelak pada umatku wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang…” (HR Malik dan Muslim).

Ibnu Abdil Barr berkata, “Yang dimaksud Rasulullah saw adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis atau mini yang membentuk tubuh dan tidak menutup auratnya. Mereka disebut berpakaian tetapi pada hakekatnya telanjang.”

Kata As Safarini dalam Gidza`ul Albab, “Bila pakaian itu tipis hingga tampak aurat si pemakainya, baik lelaki maupun wanita, maka dilarang dan haram mengenakannya. Sebab secara syariat dianggap tidak menutup aurat sebagaimana diperintahkan.” (Ad Dinul Kholish 6/180)

Kata Imam As Syaukani dalam Nailul Author 2/115, “Wajib bagi wanita menutup badannya dengan pakaian yang tidak membentuk tubuh, inilah syarat dalam menutup aurat.”

3. Tidak membuka aurat

Ada beberapa orang yang terkadang sholat dengan aurat terbuka, di antaranya, Mereka yang mengenakan celana panjang dengan kemeja pendek. Ketika ruku’ dan sujud, kemeja tertarik ke atas sedang celana tertarik ke bawah. Sehingga punggung dan sebagian auratnya tampak, jelas hal ini membatalkan sholat. (Tanbihat Hammah ‘ala malabisil muslimin al-yaum, hal. 28)

Juga Wanita yang tidak menjaga pakaian dan tidak menutup seluruh badan, sehingga kaki tampak. sedang ia berada di hadapan Robbnya. (Bidayatul Mujtahid 1/115, Al Mughni 1/603, Al Majmu’ 3/171 dan I’anatut Tholibin 1/285)

Pakaian bermotif / bercorak tidaklah mengapa tapi tidak yang bergambar dan mencolok.

 

Nabi saw bersabda, “Allah tidak menerima sholat wanita yang telah haid (baligh) kecuali dengan kerudung.”

(HSR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan yang lain).

Hadits shahih diatas menyatakan, bahwa menutup aurat adalah wajib dan Allah tidak akan menerima shalatnya jika auratnya tidak tertutup.

Imam Syafi’i berkata, “Wanita wajib menutup seluruh tubuhnya di dalam sholat kecuali dua telapak tangan (telapak dan punggung tangan) dan mukanya.”

Beliau juga berkata, “Apabila di tengah sholat tersingkap apa yang ada antara pusar dan lutut bagi pria sedang bagi wanita tersingkap sedikit dari rambut atau badan atau yang mana saja dari anggota tubuhnya selain yang dua tadi dan pergelangan –baik tahu atau tidak- maka mereka harus mengulang sholatnya.” (Al Umm 1/77)

Mengingat meluasnya pemakaian jilbab pendek di kalangan muslimah, maka penting dijelaskan, jilbab haruslah menutup dada serta pakaian menutup telapak punggung kaki.

Dalilnya Allah swt berfirman, “Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (An Nur: 31).

Penjelasanannya Ibnu Hazm berkata, “Ini adalah nash yang menunjukkan bahwa kaki dan betis termasuk aurat yang mesti disembunyikan dan tidak halal menampakkannya.” (Muhalla 3/216)

Imam Al Baihaqi berkata, “Riwayat ini merupakan dalil tentang wajibnya menutup kedua punggung telapak kaki bagi wanita.” (Tirmidzi berkata dalam Al Jami’ 4/224)

Didalam Islam tidak dikenal mukena, karena pakaian sehari-hari itu adalah pakaian yg bisa dipakai untuk shalat, namun jika ingin memakai mukena pun tidaklah mengapa jika khawatir masih ada aurat yg tampak atau menggunakan mukena sebagai pengganti pakaian, yg terpenting pada akhirnya pakaian/mukena tsb menutupi aurat dan tidak menampakan aurat.

Sejatinya berpakaian didalam shalat & diluar shalat adalah sama.

 

 

 

 

Salam !

 

copas dari KTQS

Leave a Reply