Pelajaran dari tafsir Arrazi Surah Azzumar ayat 22

Pelajaran dari tafsir Arrazi Surah Azzumar ayat 22

 
من صفات القرآن قوله :
Termasuk bagian sifat Alquran adalah Firman Allah :

تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ
Gemetar karena Alquran kulit orang2 yang takut kepada Tuhan mereka, kemudian menjadi tenanglah kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.

وفيه مسائل:
Didalamnya ada beberapa pembahasan.

المسألة الأولى:
Pembahasan pertama :

معنى تَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ تأخذهم قشعريرة وهي تغير يحدث في جلد الإنسان عند الوجل والخوف
Arti dari “Gemetarlah kulit mereka” mereka dibawa kepada keadaan merinding/gemetar. Yaitu keadaan yg terjadi pada kulit seseorang ketika gelisah dan takut.

قال المفسرون: والمعنى أنهم عند سماع آيات الرحمة والإحسان يحصل لهم الفرح فتلين قلوبهم إلى ذكر الله
Para ahli tafsir berkata : Mereka ketika mendengar tentang ayat rahmat dan ihsan otomatis mereka akan bahagia untuk berzikir kepada Allah.

وأقول إن المحققين من العارفين قالوا:
Aku berkata, sesungguhnya ahli hakikat dari para ‘arif billah mereka berkata :

السائرون في مبدأ إجلال الله
Mereka yg menempuh perjalanan menuju tajalli nya Allah.

إن نظروا إلى عالم الجلال طاشوا،
Jika mereka melihat kepada alam tajalli pasti mereka terpana.

وإن لاح لهم أثر من عالم الجمال عاشوا،
Dan jika mereka mendapatkan kilatan atsar dari alam keindahanNya, mereka hidup.

ويجب علينا أن نذكر في هذا الباب مزيد شرح وتقرير،
Dan menjadi wajib bagi kami untuk menerangkan dan menjelaskan tambahan dari bab ini.

فنقول الإنسان إذا تأمل في الدلائل الدالة على أنه يجب تنزيه الله عن التحيز والجهة.
Maka kami berkata, manusia itu jika menghayati dari keterangan yg telah diterangkan, bahwasanya wajib baginya untuk mensucikan Allah dari pikiran dan teori.

فهنا يقشعر جلده،
Maka dengan seperti ini akan merinding kulit nya.

لأن إثبات موجود لا داخل العالم ولا خارج
Karena untuk menetapkan wujudnya Allah tidak didalam bumi, tidak juga diluar bumi.

ولا متصل بالعالم ولا منفصل عن العالم،
Dia tidak bersambung dengan alam, tidak juga terpisah dari alam.

مما يصعب تصوره فههنا تقشعر الجلود،
Sangat sulit sekali untuk menggambarkanNya melalui akal, dan dalam kondisi inilah akan bergetar kulit seseorang.

وأما إذا تأمل في الدلائل الدالة على أنه يجب أن يكون فرداً أحداً،
Dan jika di pelajari dari keterangan2 itu menunjukkan bahwa seseorang untuk menempuh perjalanan itu harus dengan sendiri-sendiri.

وثبت أن كل متحيز فهو منقسم فههنا يلين جلده وقلبه إلى ذكر الله.
Keterangan ini juga menunjukkan bahwa setiap yg menggunakan teori akal pasti akan terpecah dan terbagi/tidak tetap. Maka dengan kondisi ini merindinglah kulit orang yg beriman.

وأيضاً إذا أراد أن يحيط عقله
Dan juga jika seseorang ingin mengukur akalnya.

بمعنى الأزل
Dengan makna azali.

فيتقدم في ذهنه بمقدار ألف ألف سنة
Maka dia harus melakukan lompatan jauh kedepan yg jaraknya sejuta tahun.

ثم يتقدم أيضاً بحسب كل لحظة من لحظات تلك المدة ألف ألف سنة،
Kemudian setiap satu detik dari waktu itu membutuhkan waktu satu juta tahun juga lamanya.

ولا يزال يحتال
Itupun dia tidak akan sampai.

ويتقدم ويتخيل في الذهن،
Dan masih saja terus dia berada dalam khayalan pikirannya.

فإذا بالغ وتوغل وظن أنه استحضر معنى الأزل
Dan jika mereka mengakui bahwa mereka sdh merasa sampai kepada perjalan panjang itu, kepada makna azali.

قال العقل هذا ليس بشيء، لأن كل ما استحضرته في فهو متناه
Akalnya pasti akan berkata ini belum seberapa. Karena setiap apa yg disampaikannya dari makna tsb pasti ada habisnya. Pasti ada batasnya.

والأزل هو الوجود المتقدم على هذه المدة المتناهية،
Sedangkan azali itu sendiri adalah Wujud/adanya Allah yg tiada terbatas melampaui dari waktu yg tiada batasnya.

فههنا يتحير العقل ويقشعر الجلد،
Maka disnilah akal akan menyerah dan merindinglah kulit orang yg beriman.

وأما إذا ترك هذا الاعتبار وقال ههنا موجود
Dan adapun jika ia meninggalkan gambaran ini menuju kepada iman bahwa Allah itu maujud.

والموجود إما واجب وإما ممكن،
Sedangkan maujud itu lepas dari kepastian atau kemungkinan.

فإن كان واجباً فهو دائماً منزه عن الأول والآخر
Sesuatu yg pasti itu selama nya pasti terbebas dari hukum awal akhir.

وإن كان ممكناً فهو محتاج إلى الواجب فيكون أزلياً أبدياً،
Begitu juga sesuatu yg mungkin pasti butuh kepada yg wajib untuk menjadi azali dan abadi.

فإذا اعتبر العقل فهم معنى الأزلية فههنا يلين جلده وقلبه إلى ذكر الله
Maka akal cukup mengibaratkan saja dia akan paham apa itu azali, dalam kondisi inilah akan bergetar kulit dan hatinya untuk berdzkir kepada Allah.