PERBEDAAN TANGGAL

KTQS # 925-927

PERBEDAAN TANGGAL (1)

 

Perbedaan tanggal dalam menentukan Idul fitri atau Idul Adha dan Puasa Arafah, memunculkan pertanyaan : apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah?

Pendapat yg benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.

Misalnya kemunculan hilal Dzulhijjah di suatu negara  berbeda dgn di Makkah. Maka penduduk negara tsb berpuasa Arofah pada tgl 9 Dzulhijjah menurut negeri mereka meski hari tsb tgl 10 Dzulhijjah di Mekkah.

Dalilnya adalah, “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al Baqarah: 185)

Dipahami dari ayat ini, barang siapa yg tidak melihat hilal, maka ia tidak diharuskan untuk puasa.

Adapun dalil dari As Sunnah, sabda Nabi saw, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan, maka berpuasalah. Jika kalian melihat hilal Syawal, maka berhari rayalah”. (HR. Bukhari no. 1900 dan Muslim no. 1080)

Dipahami dari hadits ini, siapa saja yg tidak menyaksikan hilal, maka ia tidak punya kewajiban puasa dan tidak punya keharusan untuk berhari raya.

Sebagaimana kita bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, karena sebab itulah waktu shalat ditiap negara berbeda-beda sesuai waktu di negara tsb.

Kalaulah disamakan dgn waktu Mekkah, maka kita harus melaksanakan shalat shubuh di negeri kita pkl. 00.30 WIB bukan 04.30 WIB seperti sekarang ini.

Demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”.
(Baca Majmu’ Fatawa wa Rosa-il 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya)

Intinya, kita tetap mengikuti penetapan hilal yg ada di negeri sendiri, walaupun nantinya berbeda dgn puasa, hari raya atau wukuf di Saudi Arabia, karena semua ibadah ditentukan dgn waktu/tanggal berdasarkan hilal dinegeri masing-masing.

Masih ragu? Tunggu kajian berikutnya akan lebih jelas!

 

 

KTQS # 926
PERBEDAAN TANGGAL (2)

 

Ummul Fadhl binti Harits pernah mengutus Kuraib ke Syam, lalu beliau pulang dari Syam ke Madinah di akhir bulan.

Ibnu Abbas bertanya kepadanya tentang hilal, Kuraib menjawab: “Kami melihatnya malam jum’at”.

“Kamu melihatnya sendiri?” tanya Ibnu Abbas.

“Ya, saya & masyarakat (syam) melihatnya ”. Jawab Kuraib

Ibnu Abbas berkata: “Tetapi kami melihatnya malam sabtu (dimadinah), maka kami tetap berpuasa sampai menyempurnakan tiga puluh hari atau melihat hilal (sampai hari Sabtu)”.

Kuraib bertanya: “Mengapa engkau tidak mengikuti ru’yah Syam ?”

Ibnu Abbas menjawab: “Tidak demikian Rasulullah memerintahkan kepada kami”. (HR. Muslim 2580, Nasai 2111, Abu Daud 2334, Turmudzi 697, dll)

Jelas hadits ini menyebutkan bahwa sesuai petunjuk Rasulullah saw, Ibnu Abbas (di Madinah) tidak mengambil ru’yah Muawiyah (di Syam, kini Suriah), padahal keduanya perbedaan jarak dan waktunya sangat dekat.

Maka setiap negara mengambil ru’yah negaranya sendiri, bukan ru’yah Negara lainnya”. (Lihat al-Mufhim al-Qurthubi 3/142, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an al-Qurthubi 2/295,Nailul Author asy-Syaukani 4/230)

Ternyata…
Ketika Nabi SAW puasa tgl 9 dzulhijjah belum ada umat Islam yg wuquf di Arafah. Sebab ibadah haji baru terlaksana di tahun ke-10 hijriyah (baca : Zaadul maad II : 101, Manarul qari III : 64).

Sedangkan puasa 9 dzulhijjah sudah disyariatkan sejak tahun ke-2 hijriyah jauh sebelum wukuf haji disyariatkan (baca : shubhul a’sya II : 444, Bulughul Amani Juz VI : 119, Subulus salam I : 60).

Jelas, penamaan shaum Arafah bukan karena fi’lun (wukuf di Arafah dalam ibadah haji).

Dan istilah “Arafah” hanya sekedar mim bab Taghlib (penggunaan istilah untuk sesuatu yg biasa atau banyak dipakai) dan Arafah adalah ismul yaum (nama hari) ke 9 (tis’a) dibulan dzulhijah.

Sudah sangat jelas dan terang benderang penjelasannya tanpa keraguan sedikitpun.

Jadi, di Indonesia shaum Arafah adalah hari Sabtu 4 Okt dan Idul Adha hari Ahad 5 Okt (tahun 2014)

 

KTQS # 927
PERBEDAAN TANGGAL (3-habis)

Wukuf di Arafah dan Shaum Arafah merupakan dua Syari’at yg BERBEDA.
Wukuf diArafah adalah bagian dari haji & shaum Arafah bukan bagian dari haji, dan bukan karena wukuf di padang Arafah.

Kenapa sebabnya?
1. Dari sisi penamaan :

– Ibnu Abidin, “Arafah adalah ismul yaum (nama hari)”. (Hasyiah Raddil Mukhtar, II:192)

– Imam ar-Raghib, al-Baghawi, dan al-Kirmani, “Arafah adalah nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah (tis’a dzulhijah)”.

– Mimpinya Nabi Ibrahim yg diperintah utk menyembelih anaknya, “Maka ia mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah. Maka (hari itu) dinamakan hari Arafah”. (Lihat, al-Mughni, III:58)

– Ta’arufnya antara Nabi Adam dan Hawa. Ibnu Abas, “Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai ‘Arafat”. (Lihat, al-Kamil fit Tarikh, I:12).

Dari keterangan diatas penamaan Arafah, sebagai ismu yaum (nama hari) maupun ismul makan (nama tempat), sudah digunakan sebelum disyariatkan ibadah haji.

2. Dari sisi tarikh tasyri’ :
Penamaan Arafah bukan karena fi’lun (wukuf dlm ibadah haji). Karena, Ketika Nabi SAW puasa tgl 9 dzulhijjah belum ada umat Islam yg wuquf di Arafah. Sebab ibadah haji baru disyariatkan di thn ke-10 hijriyah (baca : Zaadul maad II : 101, Manarul qari III : 64).

Sedangkan puasa 9 dzulhijjah sudah disyariatkan sejak thn ke-2 hijriyah, (baca : shubhul a’sya II : 444, Bulughul Amani Juz VI : 119, Subulus salam I : 60).

3. Dari sisi ilmu falakh :
Jelas berbeda karena terbit hilalnya berbeda. Dan bumi ini bundar tidak datar, jadi mustahil akan sama diseluruh dunia.

Selama ratusan tahun sebelum alat komunikasi diciptakan, bagaimana caranya utk mengetahui para hujjaj sedang wukuf?. Jadi mustahil Allah menurunkan syariat yg tidak pasti.

So, shaum Arafah ditentukan oleh tanggal, yaitu 9 (tis’a) Dzulhijah.
“Rasulullah saw. shaum tis’a Dzulhijjah..”. (Sunan Abu Daud, Juz VI:418, No. 2081; Musnad Ahmad No. 21302/25263, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra,IV:285)
Salam !

copas dari KTQS

Leave a Reply