Sabar

 

Saat seseorang sakit, apalagi sampai dirawat di rumah sakit, para penjenguknya biasanya akan berbasa-basi bertanya, “Sudah berapa lama sakit, Pak?” Atau, “Sejak kapan sakit dan dirawat di sini, Bu?
Kontan, orang sakit biasanya akan menjawab:
tiga hari, lima hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dst. Ia akan begitu hapal masa-masa
sakitnya. Ia akan berusaha menghitung hari-hari sakitnya. Bukan apa-apa. Masa-masa sakit
adalah masa-masa penderitaan yang seolah dianggap ‘penting’ untuk dihitung dan diingat-ingat.

Namun, cobalah sesekali kita bertanya kepada orang sakit tersebut, termasuk bertanya kepada
diri sendiri yang sekian lama hidup sehat, “Sudah berapa lama merasakan sehat?” Pasti, kebanyakan dari kita tak akan mampu menjawab secara pasti. Mengapa? Karena bagi kebanyakan
kita, sehat adalah perkara biasa. Sehat adalah perkara yang tidak penting apalagi istimewa.
Sehat baru dianggap penting dan istimewa justru saat kita sakit.

Begitulah manusia. Tak pandai menghitung nikmat. Hanya pandai menghitung musibah dan bencana yang menimpa dirinya. Karena itu saat dikarunia banyak nikmat—di antaranya nikmat sehat—kebanyakan manusia tak bersyukur.
Sebaliknya, ia akan mudah berkeluh-kesah saat ditimpa musibah, seperti sakit. Padahal, jika ditafakuri, kebanyakan manusia jauh lebih sering sehatnya daripada sakitnya. Sakitnya hanya
sesekali, kadang-kadang tak terlalu lama, tentu jika dibandingkan dengan masa-masa sehatnya
yang amat panjang, sepanjang usia
kehidupannya di dunia. Coba saja renungkan, selama sekian puluh tahun kita hidup di dunia, berapa kali kita sakit dan dirawat di rumah sakit? Pasti dengan mudah bisa kita hitung.
Tentu, karena kebanyakan orang jarang sekali yang keluar-masuk rumah sakit selama hidupnya.

 

Dari Yuk Ngaji