SEJARAH SHAUM ASYURA

Kajian Tematis al-Qur’an & as-Sunnah # 510 dan 512

SEJARAH SHAUM ASYURA

Dulu Nabi saw biasa melakukan shaum asyura. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ummul Mu`minin Sayyidah ‘Aisyah ra :
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ r يَصُومُهُ.
“Dulu kaum Quraisy biasa bershaum hari ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Dan Rasulullah saw juga terbiasa bershaum pada hari tersebut (yakni sebelum beliau berhijrah ke Madinah)”. [HR. Al-Bukhâri 2002, Muslim 1125]
Ketika Rasulullah saw telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut.
Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas ra :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ r قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ r « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ r : « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ r وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.
Bahwa Nabi saw ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura.
Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?”.
Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut”.
Maka Rasulullah saw bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.
Maka Rasulullah saw bershaum. pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut”. [HR. Al-Bukhari 2004,  3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Kajian Tematis al-Qur’an & as-Sunnah # 512

SHAUM TASU’A & ‘ASYURA’

Dari Ibn Abbas ra, beliau mengatakan: “Saya tidak pernah melihat Nabi saw memilih satu hari untuk puasa yg lebih beliau unggulkan dari pada yg lainnya kecuali puasa hari ‘Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharam) dan puasa bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw tidak suka kalau hanya dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram saja.
Beliau ingin berbeda dgn kaum Yahudi yg juga punya kebiasaan bershaum ‘Asyura`. Maka beliau menginginkan untuk melaksanakannya pada tanggal 9 dan 10 Muharam.
Hal ini sebagaimana dituturkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas ra : Ketika Rasulullah saw bershaum pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan untuk bershaum pada hari itu, para sahabat berkata : “Itu adalah hari yg diagungkan oleh Yahudi dan Nashara”. Maka Rasulullah saw bersabda : “Bila tiba tahun depan Insya Allah kita (juga) akan bershaum pada hari ke-9 (bulan Muharram). Namun belum sampai tahun depan Nabi saw telah wafat”. (HR. Muslim no. 1134)
Oleh karena itu ‘Abdullah bin ‘Abbas ra menegaskan :

صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ.

“Bershaumlah pada hari ke-9 dan ke-10, berbedalah dengan kaum Yahudi!”. (HR. ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf – nya 7839, Al-Baihaqi IV/287. Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya di bawah hadits no. 755)
Jadi berpuasalah tanggal 9 & 10 Muharam atau hanya tanggal 10 Muharam saja pun tidak mengapa, namun lebih utama shaum 2 hari, tanggal 9 & 10 Muharam.
Adapun sebagian orang mengatakan agar berpuasa tanggal 11 Muharam agar berbeda dgn yahudi ini berdasarkan HADITS DHOIF, sehingga tidak bisa dijadikan dalil :
“Berpuasalah pada hari ‘Asyura’ dan berbedalah dgn yahudi, dgn berpuasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya”. (HR. Ahmad 2418, Khuzaimah 2095)

Fadhilah shaum ‘Asyura’,

“Puasa ‘Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yg telah lewat”. (HR. Muslim 1162)

Salam !
copas dari KTQS

Leave a Reply