Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 02

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 02 | Muqoddimah #02 Pujian Para Ulama, Ujian, dan Wafatnya Penulis Kitab

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Adapun pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, maka ini telah banyak pujian kepada beliau baik dari orang yang merupakan teman-teman beliau atau murid-murid beliau bahkan juga termasuk pujian dari musuh-musuh beliau, maka ini sesuatu yang luar biasa tentunya seseorang dipuji oleh musuhnya sendiri, mereka melihat tentang bagaimana sidq (kejujuran) Syaikhul Islam dalam menyampaikan hujjah, bukan orang yang curang dalam bermunadzaroh dan mereka mengetahui tentang akhlak beliau, tidak menjadikan permusuhan yang terjadi antara beliau dengan ulama yang lain kemudian beliau menjadi orang yang dzholim ini diakui oleh para ulama.

Saya sebutkan di sini di antara ucapan para ulama tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Sayyidinnas ulama yang mengarang kitāb ‘Uyunul Atsar beliau mengatakan

Aku mendapatkan beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) ini adalah orang yang mendapatkan bagian yang banyak dari ilmu. Ketika beliau memperhatikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka beliau hampir-hampir menguasai hadits-hadits dan juga atsar-atsar para salaf dengan hafalan beliau, hampir-hampir beliau itu menguasai hadits-hadits Nabi ﷺ dan juga atsar – atsar para salaf bukan hanya dengan maknanya saja

Kalau beliau berbicara di dalam masalah tafsir maka beliau adalah orang yang membawa benderanya, membawa benderanya maksudnya adalah orang yang jago di dalam masalah ilmu tafsir, kalau bicara tentang ayat, bicara tentang surat, berbicara tentang tafsir Al-Quran seakan-akan tidak ada yang lebih halim tentang tafsir dan perkara-perkara yang detail dan faidah-faidah yang bisa diambil dari sebuah ayat dari beliau rahimahullāh, maka beliau adalah orang yang membawa bendera

Kalau beliau berfatwa tentang masalah fiqih maka beliau sampai kepada tujuan, sampai kepada puncaknya, artinya ketika berbicara tentang hukum, bicara tentang fiqih ternyata beliau juga orang yang luas ilmunya tentang masalah madzahib al-arba’a juga madzhab yang lain dan apa dalil mereka, apa alasan mereka dan mana yang rojih, kenapa yang rojih adalah demikian, ternyata beliau adalah seorang yang faqih

Dan kalau sedang bermudzakarah tentang masalah hadits maka ternyata beliau adalah orang yang punya ilmunya dan belia punya riwayatnya

Atau ketika beliau memberikan ceramah, memberikan pengetahuan tentang masalah aliran-aliran, tentang agama-agama, tidak dilihat orang yang lebih luas pengetahuannya tentang aliran dan juga agama tadi daripada beliau rahimahullāh. Jadi kalau berbicara tentang aliran, tahu siapa yang mendirikan, apa isinya, apa syubhat mereka, apa alasan mereka sehingga sebagian atau banyak diantara aliran-aliran tadi ataupun pembesar-pembesar aliran tadi yang mengakui bahwasanya Syaikhul Islam itu lebih tahu tentang alirannya dari pada mereka sendiri dan ini menunjukkan tentang luasnya ilmu beliau, dan beliau tahu bagaimana kok bisa sampai mereka kepada kesesatan-kesesatan tadi

Dan tidak ada yang lebih tinggi daripada beliau dalam masalah pemahaman tentang aliran-aliran tadi

Beliau muncul didalam setiap ilmu, di atas orang-orang yang sebaya dengan beliau, artinya nampak dan terlihat ilmunya daripada yang lain, maka orang yang melihatnya tidak pernah melihat yang semisal dengan beliau, dan mata beliau, yaitu Syaikhul Islam, tidak melihat orang yang semisal dengan dirinya sendiri. Ibarat seperti ini menunjukkan tentang pujian dan menunjukkan tentang bagaimana kelebihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau rahimahullāh.

Adz-Dzahabi rahimahullāh, murid beliau,

mengatakan beliau Syaikhul Islam yaitu guru Adz-Dzahabi, beliau mengatakan bahwasanya orang yang semisal sepertiku ini tidak pantas untuk mensifati beliau, artinya beliau lebih tinggi daripada sifat yang aku berikan kepada beliau, seandainya, kurang lebih demikian makna ucapan Adz-Dzahabi, seandainya saya mensifatkan sesuatu tentang Syaikhul Islam ketahuilah bahwasanya kenyataannya lebih daripada itu

Maka seandainya aku ini disuruh untuk bersumpah antara rukun dengan maqam, maksudnya adalah rukun Hajar Aswad dengan maqam Ibrahim, seandainya aku disuruh untuk bersumpah niscaya aku akan bersumpah aku tidak melihat orang yang semisal dengan beliau, dan tentunya sumpah atas nama Allāh ﷻ ini adalah sumpah yang harus jujur, seandainya aku disuruh untuk bersumpah dengan nama Allāh ﷻ antara rukun Hajar Aswad dengan makam Ibrahim niscaya aku akan mengatakan aku tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Adz-Dzahabi, shahibus siyr, memiliki kitab Siyar A’lamin Nubala’ yang dikenal tentang keahliannya dalam masalah hadits dalam masalah tarikh dalam masalah geografi dan ilmu-ilmu yang lain mengatakan ucapan ini, saya tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam dan demi Allāh ﷻ beliau tidak pernah melihat orang yang semisal dengan beliau di dalam masalah ilmu. Maka ini juga termasuk keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Kemudian saya sebutkan disini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki beliau adalah bapak dari Tajuddin shabibut thabaqat al-syafi’iyah al-kubra, beliau mengatakan

Telah besar keutamaan beliau dan juga luasnya ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dalam ilmu syar’i maupun dari bukti-bukti yang berkaitan dengan akal, jadi beliau dalam berdalil selain berdalil dengan dalil-dalil yang syar’i dari Al-Quran dan as-sunnah dengan dalil-dalil yang kuat dan istidlal yang kuat maka beliau juga banyak menyampaikan dalil dari akal

Dan bagaimana cerdasnya beliau dan kesungguhan beliau, dan bagaimana sampainya beliau di dalam setiap perkara-perkara tadi sampai pada derajat yang tidak bisa disifatkan. Ini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki.

As-Subki Muhammad bin Abdul Barr asy-Syafi’I

yang meninggal pada tahun 777 Hijriyah, beliau mengatakan tidak membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsu,

ini semuanya menunjukkan tentang bagaimana pujian para ulama terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ini menunjukkan tentang keutamaan beliau.

Saya nukilkan juga di sini ucapan dari Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengarang kitab Fathul Bari.

Ibnu Hajar memuji Syaikhul Islam dan mengatakan bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang paling kuat di dalam memerangi ahlul bid’ah dari kalangan orang-orang Rafidhah dan orang-orang Hululiyah dan Ittihadiyah (yaitu orang-orang yang mengaku Allāh ﷻ bersatu dengan makhluk-Nya atau Allāh ﷻ di mana-mana), dan karangan-karangan beliau didalam masalah ini adalah banyak syahirah dan dikenal dan fatwa-fatwa beliau tentang aliran-aliran tadi tidak bisa dibatasi, karena saking banyaknya yaitu dengan ilmu kita, kita tidak bisa menentukan batasnya karena keterbatasan ilmu yang kita miliki.

Didalam ucapan beliau yang lain Ibnu Hajar mengatakan seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memiliki keutamaan kecuali keutamaan yang satu yaitu dia memiliki seorang murid yang bernama Ibnu Qayyim, yang memiliki karangan-karangan yang banyak yang telah mengambil manfaat dari karangan beliau orang yang setuju dengan beliau maupun orang yang memusuhi beliau, niscaya ini menunjukkan tentang keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Kemudian setelahnya beliau rahimahullāh, ini adalah sunnatullah bagi setiap orang yang berdakwah kepada apa yang didakwakan oleh para Nabi dan juga para rasul banyak menerima ujian dan juga cobaan,

banyak musuh musuh beliau yang ada di zaman beliau yang berdusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mereka adalah orang-orang Sufi, orang-orang ahlul kalam, ahlul bid’ah dan ini bukan hanya di zaman beliau saja bahkan sampai hari ini.

Ini menunjukkan tentang bagaimana ujian yang beliau terima dan sebagian berdusta atas nama beliau, seperti misalnya

*Dusta yang diucapkan oleh sebagian bahwasanya dia melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sedang menjelaskan tentang turunnya Allāh ﷻ ke langit dunia kemudian dia menceritakan, dan ini adalah dusta, mengatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah saat itu berada di atas mimbarnya kemudian dia turun dari atas mimbarnya pelan-pelan, yaitu satu tingkat kemudian tingkat berikutnya dan seterusnya kemudian mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu turun seperti turunku ini, maka ini adalah dusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan yang menceritakan tadi dia mengatakan bahwasanya dia melihat itu pada tahun 726 Hijriyah, artinya dua tahun sebelum beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah meninggal dunia.

Dan kalau diteliti yang menunjukkan tentang kedustaannya, ternyata saat itu karena saat itu yang menceritakan ini dia melihatnya di bulan Ramadan tahun 726 Hijriyah, dan kalau kita melihat sejarah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari murid-murid beliau bahwasanya beliau pada tahun 726 Hijriyah di bulan Sya’ban ini beliau sudah dipenjara, tidak bebas lagi dalam berdakwah dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah ucapan yang dusta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seorang musyabbih (orang yang menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk) dan insyaAllāh nanti akan kita melihat sendiri bagaimana beliau rahimahullāh berlepas diri dari tasybih, dari takyif, dari tamsil.

Beliau rahimahullāh diuji oleh Allāh ﷻ dengan berbagai ujian

Dan diantara orang-orang yang banyak memusuhi beliau saat itu adalah qurra yaitu para qadhi dan juga para fuqoha karena mereka merasa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka di dalam fatwa mereka dan juga dapat pendapat-pendapat mereka,

Karena beliau bukan orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu tetapi beliau ta’asubnya adalah kepada dalil. Demikian pula di antara musuh-musuh beliau adalah orang-orang Sufiyyah dan juga ahlul kalam sehingga dengan sebab ini beliau beberapa kali di penjara di antaranya adalah pada tahun 705 Hijriyah kemudian pernah beliau juga dikeluarkan kemudian masuk dan dikeluarkan lagi kemudian masuk kembali dan sebabnya adalah bermacam-macam terkadang sebabnya adalah dari tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah pernah beliau di penjara karena tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah atau terkadang mereka adalah dari para qurro tadi dari para qodhi tadi yang merasa bahwasanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka dalam masalah fatwa dan juga pendapat-pendapat.

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beliau meninggal dunia pada malam Senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 Hijriyah dan yang menghadiri jenazah beliau saat itu adalah cukup banyak dan ini adalah seperti yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal
Katakan kepada ahlul bid’ah bahwasanya yang akan menentukan antara kami dan juga kalian adalah ketika disaksikannya jenazah-jenazah itu, maksud beliau adalah diantara hal yang menunjukkan bahwa seseorang diatas haq adalah ketika manusia memiliki qobul, memiliki rasa cinta Allāh ﷻ menanamkan rasa cinta tadi kepada para hamba-Nya, ketika Allāh ﷻ mencintai seorang hamba maka Allāh ﷻ akan menjadikan di dalam hati para hamba-Nya yang lain ini rasa cinta terhadap hamba tadi, sehingga ketika dia meninggal dunia banyak orang yang berkeinginan untuk menghadiri jenazahnya, mendoakan beliau.

Berbeda dengan ahlu bid’ah yang mereka adalah orang yang melakukan perkara-perkara yang menyimpang yang menjadikan murka Allāh ﷻ dan terkadang mereka melakukan itu diantaranya adalah untuk mencari pujian manusia atau pengikut yang banyak tapi justru yang mereka dapatkan adalah kebencian dari manusia, meskipun secara dhohir mungkin mereka mengikuti di belakang ahlul bid’ah tapi didalam hatinya tidak ada kecintaan sebagaimana mereka mencintai ulama ahlussunnah, sehingga ketika meninggal dunia para ahlul bid’ah tadi yang mungkin dalam kehidupan sehari-hari sebelumnya dia punya banyak pengikut tapi ketika meninggal dunia ternyata tidak menghadiri jenasahnya kecuali sangat sedikit, karena manusia benci dan ditancapkan didalam hati mereka oleh Allāh ﷻ perasaan tidak senang dengan ahlul bid’ah tadi.

Maka itu adalah sejarah singkat, biografi singkat tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهPost