Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 03

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 03 | Muqoddimah #03 Penjelasan Umum Tentang Kitab Aqidah Wasithiyyah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kitab Aqidah Wasithiyyah memiliki kedudukan yang tinggi di antara kitab-kitab yang lain, dia memiliki beberapa kelebihan dan juga keistimewaan.

Diantara yang menjadi keutamaan kitab aqidah Wasithiyyah,

Yang Pertama

Bahwasanya aqidah yang disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab ini adalah aqidah yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi ﷺ dan juga ijma’ para salaf, ijma’ imam-imam para salaf.

Diantara keutamaan kitab ini juga beliau sangat teliti didalam masalah penggunaan lafadz, jadi sebisa mungkin lafadz yang digunakan adalah lafadz yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits atau yang diucapkan oleh para salaf.

Beliau berusaha untuk menjaga lafadz dan juga makna, beliau mengatakan, aku berusaha, berusaha di dalam menulis aqidah ini, yaitu Aqidah Wasithiyyah, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah baik lafadz maupun maknanya. Didalam ucapan beliau, beliau mengatakan, dan setiap lafadz yang aku sebutkan di dalam kitab ini maka aku berusaha untuk menulis ayat atau hadits atau ijma para salaf, artinya lafadz yang beliau sebutkan di dalam kitab ini berusaha semaksimal mungkin adalah lafadz-lafadz yang syar’i tidak keluar dari lafadz-lafadz yang syar’i.

Ini menunjukkan tentang ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dan kehati-hatian beliau dalam menulis kitab ini, karena ini akan dibaca oleh banyak orang sehingga beliau berusaha untuk benar-benar baik lafadz maupun maknanya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan juga hadits, tidak mendatangkan makna atau lafadz yang baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ahlul kalam mereka mendatangkan lafadz-lafadz yang baru, istilah-istilah yang baru yang tidak disebutkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya dan mereka menginginkan untuk mentalbis yaitu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebatilan, mempermainkan manusia dengan lafadz-lafadz tadi.

Kemudian juga diantara kelebihan kitab ini selain dia adalah berdasarkan Al-Quran dan Hadits, dan nanti akan kita lihat bagaimana beliau rahimahullāh ketika berbicara tentang masalah nama dan juga sifat hanya menyebutkan ayat, tentang masalah Allāh ﷻ berbicara disebutkan oleh beliau ayat-ayat bahwasanya Allāh ﷻ berbicara, ketika beliau menyebutkan bahwasanya Allāh ﷻ beristiwa beliau sebutkan ayat tentang istiwa, demikian pula menyebutkan tentang hadits Nabi ﷺ. Ini adalah cara syaikhul Islam di dalam menulis kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah.

Dan kedua

adalah apa yang beliau tulis dalam Aqidah Wasithiyyah ini adalah hasil dan juga buah dari tatabbu dan juga istikra’, hasil penelitian beliau dan hasil membaca beliau terhadap ucapan-ucapan para salaf baik didalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ atau tentang hari akhir atau tentang iman dengan takdir atau tentang sikap kita terhadap para sahabat dan permasalahan-permasalahan akhirnya yang lain.

Beliau mengatakan, tidaklah aku menulis dalam kitab ini kecuali aqidah para Salafus Sholih semuanya. Orang semisal beliau banyak membaca kitab-kitab para ulama yang isinya adalah nukilan-nukilan dari para ulama salaf tentang masalah aqidah, beliau baca dan beliau simpulkan dan kemudian beliau tuangkan di dalam kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah ini. Diantara keutamaan kitab ini bahwasanya beliau rahimahullāh berusaha dengan seluruh tenaga yang beliau miliki untuk mentaḥrir, untuk benar-benar teliti dalam menyebutkan masalah aqidah ini, beliau memberikan khulashoh, memberikan ringkasan.

Diantara ketelitian beliau, beliau mengatakan, diantara kehati-hatian beliau, dan ini menunjukkan tentang tawadhu beliau, aku telah memberikan kesempatan kepada setiap orang yang menyelisihi aku dalam perkara-perkara ini, tiga tahun beliau memberikan kesempatan. Artinya beliau membuka pintu siapa yang ingin menunjukkan kesalahan dari kitab ini, selama tiga tahun beliau menunggu dan beliau mengatakan kalau memang ada yang menyelisihi, artinya ini bukan keyakinan para salaf, maka beliau siap untuk kembali artinya siap untuk menghilangkan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah para salaf tadi kemudian kembali kepada jalan yang benar.

Ini menunjukkan tentang tawadhu beliau dan bagaimana kehati-hatian beliau, beliau tidak ingin tersebar kitab tadi dalam keadaan salah, beliau bahkan menawarkan kepada para ulama khususnya bahkan yang menjadi orang-orang yang berseberangan dengan beliau, kalau muridnya saja atau orang yang sepaham dengan beliau mungkin biasa-biasa saja suruh meneliti mereka sudah percaya begitu saja, tapi kalau musuh, ini maka ketika mereka meneliti kitab musuhnya maka dia berusaha tapi ternyata selama 3 tahun diberikan kesempatan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak ada diantara mereka yang memberikan bantahan atau bisa menunjukkan mana aqidah beliau yang tidak sesuai dengan aqidah pada salaf.

Ini menunjukkan tentang tentunya keyakinan beliau, tentang ilmu beliau yang dalam dan tawadhu beliau, beliau mengatakan yang demikian bukan karena sombong atau menentang atau hanya sekedar ingin berdebat, tidak, beliau ingin kebenaran, kalau memang ada yang tidak sesuai dengan pemahaman para salaf untuk apa kita mempertahankan sebuah kebathilan, maka beliau siap untuk ruju’, dan ketika ditunggu sedemikian lamanya tiga tahun, bukan satu bulan dua bulan, ternyata tidak ada. Ini menunjukkan bahwasanya kitab ini memiliki kelebihan, sudah dibaca oleh musuh-musuh beliau dan dibaca oleh orang yang sependapat dengan beliau dan ternyata para ulama menerima kitab ini dengan qabulan hasanah, yaitu menerima dengan baik.

Kemudian diantara keutamaannya yg lain,

kitab ini adalah kitab yang ringkas, subhanallāh, menyebutkan dalil, menyebutkan ringkasan aqidah ahlussunnah wal jama’ah, meskipun dia ringkas ternyata isi dari kitab Al-Aqidah Wasithiya ini sebagian besar permasalahan-permasalahan aqidah yang merupakan ushul, pondasi aqidah ahlussunnah wal jamaah, disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab ini. Jadi dia adalah kitab aqidah yang ringkas dan dia lengkap meskipun tidak semua tapi sebagian besar permasalahan aqidah yang membedakan antara ahlussunnah dengan ahlul bid’ah disebutkan oleh beliau rahimahullāh, tentunya ini adalah sebuah kelebihan, kita cari kitab-kitab yang seperti ini.

Kemudian juga ditambah oleh beliau di akhir kitabnya

tentang pentingnya seorang ahlussunnah, dan ini adalah ciri ahlussunnah wal jama’ah firqatun najiyah, bahwasanya mereka ya’muruna bil ma’ruf, mereka menyuruh kepada yang baik, melarang dari yang mungkar, mereka ini berakhlak yang baik. Beliau sebutkan tentang masalah akhlak karena tidak cukup seseorang menjadi ahlussunnah wal jama’ah hanya memperhatikan masalah aqidah, bahkan kalau aqidah yang dia pelajari ini benar dan dia adalah orang yang mengamalkan aqidah tadi, ini akan memunculkan, akan mewariskan rasa takut kepada Allāh ﷻ yang akan terlihat pada baiknya akhlak dia kepada orang lain.

Inilah beberapa keutamaan kitab Al Aqidah Al Wasithiya sehingga tidak heran kalau

Adz-Dzahabi rahimahullāh

ketika beliau berkomentar tentang kitab Al Aqidah Al Wasithiya beliau mengatakan, telah sepakat baik musuh maupun kawan maupun lawan bahwasanya ini adalah aqidah salafi yang jayyid yaitu aqidah para salaf yang bagus.

Dan Ibnu Rajab Rahimahullāh

beliau mengatakan (ini juga muridnya syaikhul Islam), telah sepakat semuanya bahwasanya aqidah wasithiyyah ini adalah aqidah yang sunniyyah yang salafiyyah, yang sesuai dengan sunnah dan adalah aqidah para salaf kita.

Para ulama dan juga para penuntut ilmu agama mereka memperhatikan kitab ini, memiliki perhatian yang besar terhadap kitab Al aqidah Al Wasithiyyah ini baik dengan menghafalnya ataupun mengajarkannya atau mempelajarinya sehingga banyak diantara ulama yang mensyarah yaitu menjelaskan tentang kitab ini, yang akan kita sebutkan bahwasanya disana ada sebagian ulama yang ringkas didalam mensyarahnya, ada yang diantara mereka yang panjang didalam syarahnya berbeda-beda. Ada diantara mereka yang mensyarah kitab Al aqidah Wasithiyyah dengan ucapan syaikhul Islam juga, mu’alifnya yaitu di dalam kitab-kitab yang lain.

Saya sebutkan disini beberapa syarah yang mungkin bisa kita ambil faedahnya yang telah ditulis oleh para ulama kita diantaranya adalah

Syarah Al aqidah Wasithiyyah yang ditulis oleh Haras, beliau adalah Muhammad Khalil Haras,

kelebihannya adalah syarah beliau ringkas dan jelas, tidak bertele-tele namun ketika kita melihat, beliau meringkas dan bagus tapi ketika di akhir-akhir sangat ringkas sehingga sebagian dari ucapan syaikhul Islam ini bahkan di lewati artinya mungkin beliau memandang itu adalah perkara yang sangat jelas sehingga tidak perlu di syarah secara panjang lebar. Wallāhu ta’ala a’lam.

Kemudian di antara Syarah aqidah Wasithiyyah adalah Tanbihat Al Lathifah fī mā ihtawat ‘alaihi al wasithiyah minal mabahit al manīfah, ini ditulis oleh Syaikh As sa’di.

kemudian juga Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin beliau juga punya syarah Al Aqidah Wasithiya.

Dan kita mengetahui bagaimana kedudukan Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, bagaimana penjelasan beliau yang sangat mudah dipahami, tidak menggunakan kata-kata yang sulit, dan banyak faedah-faedah yang bisa kita ambil selain dari pembahasan utama yang disebutkan oleh mu’allif. Disana ada yang menjadikan soal dan jawab, pertanyaan dan juga jawaban tentang hal yang berkaitan dengan Al aqidah Al Wasithiyyah.

Syaikh shalih Al Fauzan juga memiliki syarah terhadap aqidah Wasithiyyah,

kemudian di sana ada Ar-Raudah An-Nadiyah yang ditulis oleh Zaid bin Abdil Aziz bin Fayyadh dan dia adalah syarah yang luas.

Kesimpulannya disini banyak yang telah mensyarah kitab Al aqidah Al Wasithiyyah ini, ada yang sedang ada yang ringkas ada yang panjang lebar, maka seorang thalabul ‘ilm mengambil faedah dari apa yang dijelaskan oleh para ulama dan saya mendorong bagi yang memiliki kemampuan untuk bisa menghafal, antum yang hafal Quran itu lebih mudah InsyaAllāh, kan syaikhul Islam banyak menyebutkan ayat, maka ini kesempatan bagi antum di waktu yang pas sebisa mungkin antum menghafal apa yang disebutkan oleh beliau, dan kalau kita punya keinginan ada waktu luang dan kalau bisa di sana ada tempat orang yang kita setorkan hafalan kita mungkin dengan teman-teman maka ini lebih baik, jangan kita sia-siakan waktu yang sangat panjang dan sangat luas ini dalam perkara yang sia-sia, untuk murojaah untuk menghafal untuk berbagai perkara yang bermanfaat insya Allāh.

Untuk perkara-perkara yang disebutkan dalam kitab ini,

disebutkan oleh syaikhul Islam didalam aqidah wasithiya di antara yang beliau sebutkan

Pertama adalah tentang masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ,

Kemudian beliau menyebutkan aqidah ahlussunnah wal jamaah tentang masalah Iman,

Kemudian beliau menyebutkan tentang masalah nama yang muslim, kafir, iman, Islam wal ahkam dan hukum-hukum mereka ini semua berkaitan dengan aqidah ahlussunnah yang membedakan antara mereka dengan ahlul bid’ah,

Beliau juga menyebutkan tentang masalah takdir,

Beliau juga menyebutkan tentang masalah hari akhir dan beberapa perinciannya seperti misalnya hisab kemudian syafaat kemudian timbangan, surga dan juga neraka beliau sebutkan. Masalah nama dan juga sifat tadi berkaitan dengan beriman kepada Allāh ﷻ, kemudian beliau juga menyebutkan iman dengan takdir iman dengan hari akhir.

Beliau juga menyebutkan tentang masalah karomāh

karena disana ada ahlul bid’ah yang berbeda dengan ahlul sunnah didalam masalah karomah, ada yang berlebihan, ada yang menyia-nyiakan, ada yang mengingkari, ada yang meyakini sesuatu yang bukan karomah, diyakini itu sebagai sesuatu karomah, tidak bisa membedakan antara karomat dengan apa yang dinamakan dengan sihir.

Kemudian juga beliau menyebutkan tentang sikap ahlul sunnah terhadap pemerintah, ini juga ada ahlul bid’ah yang menyimpang didalam masalah ini,

Kemudian juga sikap ahlussunnah terhadap para sahabah, sikap ahlussunnah di dalam masalah mashadil talaqqi, yaitu darimana mereka mengambil ilmu ini, mengambil agama ini.

Bahkan beliau juga menyebutkan tentang bagaimana akhlak ahlussunnah, bagaimana suluq mereka dan bagaimana mereka beramar ma’ruf nahi mungkar, dan sikap ahlus sunah dalam berjihad dalam menegakkan syiar-syiar Allāh ﷻ.

Kemudian beliau mengakhiri kitabnya dengan menyebutkan berbagai tingkatan ahlussunnah wal jamaah, bahwasanya ternyata mereka ini bukan hanya satu golongan, mereka ada yang ada yang fuqahah ada yang muhadditsun dan mereka semuanya ahlul sunnah, ada yang ahlu tafsir ada yang bermacam-macam jadi mereka semuanya adalah ahlul sunnah yang mengumpulkan mereka adalah keinginan untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Kemudian tentang masalah sebab ditulisnya kitab ini.

Bahwasanya kitab ini sebabnya adalah sebagian qadhi yang ada di daerah yang dinamakan dengan Wāsith (sebuah daerah di Irak saat itu). Ada seorang qadhi yang beliau ini diceritakan syaikhul Islam datang kepadanya kemudian menceritakan tentang kebodohan yang ada di negara beliau, karena beliau sebagai seorang qadhi melihat bagaimana kerusakan manusia di daerah beliau, banyaknya kebodohan, banyaknya kedzholiman, banyak perkara-perkara agama yang ditinggalkan oleh manusia, maka qadhi ini dengan tawadhonya meminta kepada syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tolong dituliskan sebuah kitab tentang masalah aqidah.

Apa yang menjadi jawaban beliau, beliau mengatakan banyak ulama yang sudah menulis tentang kitab-kitab aqidah, kenapa harus saya. Ini menunjukkan tentang tawadhu’nya syaikhul Islam. Maka qadhi ini pun dia meminta dengan sangat mengulang-ulang permintaan, dan ini menunjukkan seseorang kalau memang memandang itu ada banyak kebaikan ya kita sungguh-sungguh ketika meminta kepada orang lain, artinya di sini meminta kepada gurunya karena dia tahu kedudukan syaikhul Islam dan bagaimana tulisan beliau maka beliau berusaha bukan hanya meminta sekali, ketika tahu itu ditolak kemudian dia mundur ke belakang, tidak, dia punya hirs.

Kemudian qadhi ini yang berasal dari Wāsith mengatakan aku tidak senang kecuali sebuah aqidah yang kamu tulis, meskipun mungkin sama apa yang disebutkan oleh syaikhul Islam dengan yang disebutkan oleh ulama ahlussunnah wal jamaah karena beliau juga mengambil dari ulama ahlus sunnah sebelum beliau, tapi dia ingin tulisan syaikhul Islam. Ini mungkin bisa diambil faedah terkadang tidak ada salahnya seorang ustadz dia mengarang tentang sebuah kitab yang mungkin sama dengan yang dikarang oleh ustadz yang lain atau da’i yang lain, jangan kita mengatakan itu kan ustadz beliau sudah menulis.

Kenapa demikian, karena yang ada di bawah kita mereka ini banyak, ada diantara mereka yang Allāh ﷻ jadikan lebih senang untuk mendengarkan ceramah ustadz fulan karena menurut dia lebih bisa menangkap misalnya, tapi yang lain ternyata pendapatnya berbeda. Dia lebih bisa menangkap kalau yang menyampaikan adalah ustadz fulan. Jadi yang sini memiliki perhatian terhadap kitab-kitab si fulan, yang lainnya memiliki perhatian terhadap kitab-kitab ustadz yang lain sehingga tidak ada salahnya masing-masing menulis kitab. Dan demikian yang dilakukan oleh para salaf, ini menulis tentang aqidah ahlussunnah, ini aqidah ashabul hadits dan sampai sekarang kitab-kitab tersebut dipelajari dan saling melengkapi satu dengan yang lain.

Disini syaikhul Islam akhirnya beliau menulis kitab ini dan beliau tulis ini waktunya setelah shalat ashar, kitab aqidah Wasithiyyah ini dari awal sampai akhir ini beliau tulis setelah shalat ashar dan ini menunjukkan tentang bagaimana berkahnya ilmu beliau dan bagaimana ilmu itu sudah melekat pada diri beliau sehingga ketika diminta untuk menulis aqidah ahlussunnah langsung beliau tulis dalam waktu yang sangat singkat dan ternyata kitab tadi adalah kitab yang mutqan, sangat teliti dan disebutkan dalil-dalilnya dan dengan istidlal yang kuat dan diteliti oleh kawan maupun lawan dan mereka tidak menemukan disana sesuatu yang bertentangan dengan manhaj salaf, ini semua menunjukkan tentang keutamaan beliau.

Dan ini adalah sejarah dari ditulisnya kitab ini dan sampai sekarang kitab ini terus dipelajari oleh para thulabul ‘ilm dan mereka mengambil faedah dari kitab yang berharga ini dan antum bisa lebih mengetahui tentang kedudukan kitab ini kalau antum mempelajari kitab aqidah yang lain.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته