Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 05

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 05 | Inti Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau Rahimahullāh mengatakan

فَهَذَا اعْتِقَادُ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ الْمَنْصُورَةِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ

I’tiqād yaitu keyakinan (aqidah) dan i’tiqād diambil dari kata ‘aqada yang artinya adalah mengikat. Yang dimaksud dengan aqidah adalah sesuatu yang kita gunakan untuk mengikat hati kita sehingga dia tidak bergerak kemana-mana dan itulah keyakinan dia, dan i’tiqād atau aqidah itu terbagi menjadi dua, ada Al-Aqidah yang shahihah dan ada di antaranya adalah aqidah yang Al-Bathilah.

Aqidah yang Shahihah adalah aqidah yang berdasarkan Al-Qur’an, berdasarkan Hadits Nabi ﷺ dengan pemahaman para salaf, ini adalah keyakinan yang benar, bersumber dari sumber yang benar yaitu Al-Qur’an dan Hadits karena itu adalah wahyu dari Allāh ﷻ. Allāh ﷻ dialah yang mengabarkan kepada kita tentang keyakinan-keyakinan yang benar tadi melalui Al-Qur’an dan Hadits, dengan pemahaman para salaf (pendahulu kita) yang telah dipuji oleh Allāh ﷻ, ini adalah aqidah yang benar.

Dan disana ada aqidah yang bathilah, ini adalah keyakinan-keyakinan yang digunakan oleh sebagian orang untuk mengikat hatinya tapi dia tidak berdasarkan Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman para salaf.

Dan yang ingin disampaikan oleh beliau disini adalah aqidahnya الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ. Beliau mengatakan

اعْتِقَادُ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ

Aqidah dan keyakinan firqoh (kelompok) yang nājiyah, kelompok yang selamat.

Pertama adalah selamat dari perpecahan, mereka tidak menyimpang dari jalannya Rasulullāh ﷺ dan juga para sahabat dan kelompok ini adalah yang akan selamat dari nerakanya Allāh ﷻ, sehingga dinamakan dengan an-nājiyah, kelompok yang selamat.

Diambil dari hadits di mana Rasulullāh ﷺ mengabarkan tentang adanya perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan kemudian Beliau ﷺ mengatakan kulluha fīnnār (semuanya masuk ke dalam neraka), perpecahan masuk ke dalam neraka illa wāhidah (kecuali satu), berarti ada satu ini yang selamat dari perpecahan dan mereka selamat dari nerakanya Allāh ﷻ. Kemudian beliau mengabarkan bahwasanya golongan yang selamat ini mereka adalah orang-orang yang menetapi jalan Beliau ﷺ dan juga jalan para sahabatnya sehingga dinamakan mereka ini sebagai golongan yang selamat.

Semuanya ada tujuh puluh tiga firaq, tapi tujuh puluh dua firqah terancam dengan neraka adapun satu firqoh maka merekalah yang selamat sehingga kelompok ini dinamakan dengan Al Firqotun nājiyah, ini adalah golongan yang selamat. Di sana ada al firq al hālikah (aliran-aliran yang binasa) dan di sana ada al-firqoh an-najiyah. Kalau kita mengambil aqidah firoq tadi maka tempat ancamannya adalah sebagaimana dalam hadits kulluha fīnnār, itu kalau kita mengambil aqidah mereka, aqidah khawarij, aqidah mu’tazilah, aqidah murji’ah. Tapi kalau kita mengambil aqidahnya firqotun nājiyah maka InsyaAllāh kita akan selamat, sebagaimana firqotun najiyah mereka selamat.

Yang akan beliau sampaikan dalam kitab ini bukan aqidahnya firoq (aliran-aliran yang sesat) tapi yang akan beliau sampaikan adalah aqidah dari firqatun nājiyah (kelompok yang selamat) yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits tadi

الْمَنْصُورَةِ

Dan mereka adalah golongan yang manshūroh (yang ditolong oleh Allāh ﷻ) diambil dari hadits juga, Nabi ﷺ mengatakan yang maknanya

لا تزال طائفة من امتي على الحق منصورة لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ولَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang mereka berada di atas kebenaran, berpegang teguh dengan kebenaran, Al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman para salaf, kemudian beliau mengatakan منصورة (mereka akan senantiasa di tolong), mereka ditolong karena mereka berada di atas kebenaran, orang yang berada di atas kebenaran, istiqomah menyebarkan Al-Haqq berarti dia menolong Allāh ﷻ dan orang yang menolong Allāh ﷻ dialah yang akan ditolong oleh Allāh ﷻ

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ؛ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

[QS. Muhammad: 7]

Kalau kalian menolong Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan menolong kalian dan menjadikan kalian istiqomah di atas agama-Nya. Akan senantiasa ada diantara umat ini segolongan mereka atau sekelompok mereka yang berada diatas kebenaran, merekalah yang ditolong oleh Allāh ﷻ

لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ ولَا مَنْ خَالَفَهُمْ

Tidak akan memudhoroti mereka orang yang meninggalkan mereka, ketika mereka butuh pertolongan manusia meninggalkan tidak peduli dengan nasib mereka, maka ini tidak memudhoroti mereka, yang akan menolong mereka Allāh ﷻ, kemudian juga

ولَا مَنْ خَالَفَهُمْ

Dan orang-orang yang menyelisihi mereka juga tidak akan memudhoroti mereka, senantiasa ditolong oleh Allāh ﷻ dimanapun mereka berada, di berikan istiqomah di tengah-tengah fitnah

حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

sampai datang perkara Allāh ﷻ, yaitu dengan diutusnya angin yang apabila dihirup oleh seorang yang beriman maka dia akan meninggal dunia.

Berarti kalimat الْمَنْصُورَةِ disini juga diambil dari hadits, golongan inilah yang akan disebutkan oleh syaikhul Islam aqidah mereka, tentunya kita ingin mempelajari tentang aqidah golongan yang selamat ini dan golongan yang ditolong oleh Allāh ﷻ supaya kita ditolong oleh Allāh ﷻ, supaya aqidah kita ini sama dengan aqidah mereka sehingga kita ditolong oleh Allāh ﷻ sebagaimana mereka ditolong oleh Allāh ﷻ

إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ

Aqidah Al-firqotun nājiyahAl-mansyuroh sampai datangnya hari kiamat. Yang dimaksud dengan datangnya hari kiamat disini bisa diartikan yang pertama ilā qurbi qiyāmissā’ah, sampai dekatnya datangnya hari kiamat, menjelang, bukan pas hari kiamat ketika ditiup sangkakala yang pertama, tidak, tapi menjelang terjadinya qiyāmussā’ah, karena yang akan menghadapi qiyāmussā’ah hanyalah orang-orang kuffar, meskipun bukan semua orang kafir tapi yang saat itu menghadapi qiyāmussā’ah mereka adalah kuffar, merekalah syirārul halq ‘indallāh sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Adapun seorang muslim maka dia tidak akan menemui qiyāmussā’ah, Allāh ﷻ dengan rahmatnya akan mencabut nyawa mereka sebelum datangnya qiyāmussā’ah, yang dimaksud dengan إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ adalah sampai menjelang datangnya hari kiamat dan ini menunjukkan bagaimana aqidah ahlussunnah wal jama’ah ini adalah aqidah yang tsabitah (aqidah yang kokoh), dia tidak akan berubah dimanapun dia, kapanpun dia, sampai menjelang hari kiamat, sampai firqoh najiyah yang mereka yang terakhir di ambil nyawanya oleh Allāh ﷻ aqidahnya sama dengan aqidah firqoh nājiyah yang sekarang masih hidup, karena dia berdasarkan al-quran dan hadits dengan pemahaman para sahabah.

Dan ada yang mengartikan إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ disini adalah ilā qiyāmissā’ati mautihim, yaitu sampai kematian mereka. Allāhu a’lam yang pertama itu yang lebih jelas menurut saya yaitu sampai mendekati hari kiamat dan ini sesuai dengan yang ada dalam hadits tadi حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ sampai datang diutus angin yang barangsiapa diantara orang beriman yang menghirup angin tadi dia akan meninggal dunia. Disebutkan dalam hadits yang bahkan seandainya ada seorang yang beriman masuk ke dalam gunung niscaya angin tadi akan mengikuti, artinya menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman saat itu sekecil apapun iman dia, dia akan meninggal dunia dengan sebab menghirup angin tadi.

: أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

Ahli sunnah wal jama’ah, ini adalah nama lain dari Al-firqoh An-Nājiyah (golongan yang selamat), nama lain dari Ath-Thā’ifah Al-Manshūrah (golongan yang ditolong), mereka adalah ahlussunnah wal jama’ah dan ini adalah isyarat bahwa sifat dari golongan yang selamat dan tertolong tadi mereka adalah ahli didalam sunnah Nabi ﷺ dan sunnah Nabi ﷺ adalah jalan Rasulullāh ﷺ, jalan hidup Rasulullāh ﷺ adalah Islam sehingga sunnah di sini adalah Islam itu sendiri, Islam adalah jalan hidup Rasul ﷺ dan itulah jalan hidup kita.

Ahlussunnah adalah orang yang ahli di dalam Islam, kenapa mereka bisa dinamakan dengan ahli, ahli ini adalah orang yang paling dekat dengan sesuatu. Ada seorang Arab misalnya mengatakan āli ahli, isyarat kepada anaknya, kepada istrinya, kenapa dinamakan ahli karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan kita. Ahli waris artinya adalah orang yang paling dekat dan dia adalah pewaris, dialah yang berhak untuk mewarisi harta seseorang.

Dan ahlussunnah kenapa dinamakan dengan ahlul sunnah, karena mereka sangat dekat dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ, bukan hanya sekedar mengaku saya adalah muslim tapi mereka getol dalam mempelajari islam itu sendiri, ditelusuri oleh mereka, dipelajari aqidahnya, dipelajari fiqihnya, sampai ada yang terus mengembangkan ilmunya, belajar tentang Ushul fiqih, belajar tentang bahasa yang digunakan, ini adalah sifat Ahlul Sunnah. Dan mereka bukan hanya mempelajari tapi mereka juga dekat dari sisi pengamalan, mereka bukan hanya masalah aqidah yang mereka amalkan, tentang tata cara shalatnya, bagaimana cara berpakaian mereka perhatikan, bagaimana mereka bermuamalah dengan orang lain juga mereka perhatikan, ingin benar-benar mempraktekkan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ bukan hanya sekedar pengakuan atau hiasan saja tapi benar-benar mereka praktekkan, merekalah ahlussunnah. Berarti kenapa mereka selamat dan kenapa mereka ditolong, karena sifat ini, karena mereka ahli dalam sunnah ‘ilman wa ‘amal (baik ilmu maupun amalan).

وَالْجَمَاعَةِ

Dan mereka adalah ahli Al jama’ah, asalnya ahli sunnah ahli al jama’ah. Yang dimaksud dengan jama’ah, ini adalah mashdar, Al jama’ah artinya adalah Al-ijtima’, sehingga ahlussunnah wal jama’ah artinya adalah ahlussunnah wal ijtima’, mereka adalah ahli dalam persatuan. Mereka dinamakan dengan ahli dalam persatuan karena mereka menjaga persatuan umat Islam, yaitu persatuan mereka di atas jalan Nabi ﷺ. Mereka firqoh, mereka adalah sebuah kelompok, mereka adalah sebuah golongan tapi mereka adalah golongan Nabi ﷺ yang terus berkumpul bersama Nabi ﷺ menetapi jalan Beliau ﷺ sampai mereka meninggal dunia.

Sehingga merekalah orang-orang yang menjaga persatuan, berbeda dengan aliran-aliran yang menyimpang ke kiri dan juga menyimpang ke kanan mereka berarti tidak sabar untuk berjalan di atas jalannya Rasul ﷺ, maunya terpecahbelah, maunya berpisah-pisah sehingga di sana ada ahlussunnah wal jama’ah dan di sana ada ahlul bid’ati walfurqoh, karena bid’ah ini berarti mengharuskan adanya perpecahan. Adapun sunnah, kalau semua kita mengamalkan maka ini akan membawa kita kepada persatuan, jadi orang yang sebenarnya menjaga persatuan Islam, menjaga persatuan kaum muslimin adalah ahlussunnah wal jama’ah, berarti aqidah mereka inilah yang akan kita pelajari, aqidah firqoh yang selamat dan merekalah yang ditolong oleh Allāh ﷻ dan mereka adalah orang yang ahli didalam sunnah dan merekalah yang menjaga persatuan umat, aqidah mereka yang akan kita pelajari di dalam kitab ini.

Apa aqidah mereka yang menjadikan mereka memiliki sifat-sifat yang mulia seperti itu aqidah mereka itu intinya adalah pada rukun iman yang enam, aqidah mereka dari sekian banyak masa’il (permasalahan) aqidah, maka ini intinya adalah pada rukun iman yang ke enam, sehingga beliau mengatakan di sini

اعْتِقَادُ الْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ الْمَنْصُورَةِ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ: أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَهُوَ الإِيمانُ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ، والإِيمَانِ بِالْقَدَرِ خِيْرِهِ وَشَرِّهِ

Rukun iman yang enam, beriman kepada Allāh ﷻ, malaikat malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, rasul rasul-Nya, dan beriman dengan kebangkitan setelah kematian, dan beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk. Ini adalah rukun iman yang enam yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam Firman-Nya

وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ

[Al Baqarah:177]

yang Allāh ﷻ sebutkan didalam Firman-Nya

ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ

Kemudian setelahnya Allāh ﷻ mengatakan

وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ

[Al Baqarah:285]

Berarti disebutkan lima rukun iman ditambah dengan rukun iman yang keenam yaitu yang disebutkan oleh Allāh ﷻ

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ

[Al Qamar:49]

Dan disebutkan oleh Allāh ﷻ

وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا

[Al Furqan:2]

Dan ayat-ayat yang lain yang menunjukkan tentang keharusan kita untuk beriman dengan takdir. Dan keenam rukun Iman ini disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam sebuah hadits yaitu hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khattab bahwasanya Nabi ﷺ ditanya oleh malaikat Jibril yang menjelma sebagai seorang laki-laki beliau mengatakan

فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ

Dan kabarkan kepadaku tentang masalah Iman, kemudian Nabi ﷺ menjawab

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ

Itu adalah dalil yang menunjukkan tentang rukun Iman yang enam ini, jadi rukun iman yang enam ini adalah inti dari aqidah ahlussunnah wal jama’ah sehingga tidak heran ketika misalnya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika beliau menulis kitab Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang beliau tulis adalah penjelasan dari rukun iman yang enam. Demikian pula Syaikh bin Baz kalau tidak salah beliau juga mengarang sebuah kitab yang judulnya Al Aqidah shahihah wa ma yudhoduha, aqidah yang benar dan apa yang bertentangan dengannya, beliau juga bahas penjelasan tentang rukun iman yang enam.

Jadi inti dari aqidah kita umat Islam adalah benar rukun iman yang enam ini sehingga kalau kita ingin mengajari aqidah kepada orang lain maka ajarkanlan kepada mereka rukun iman yang enam. Beriman kepada Allāh ﷻ yang didalamnya ada iman kepada rububiyah Allāh ﷻ, kepada uluhiyah Allāh ﷻ, kepada nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Kemudian beriman dengan malaikat bahwasanya malaikat ini ada, dia adalah makhluk Allāh ﷻ yang memiliki sifat baik sifat yang ma’nawi maupun sifat yang khalqi, maka kita beriman dengan nama-namanya dengan sifat-sifatnya sesuai dengan apa yang ada dalam dalil.

Kemudian juga kita beriman dengan kitab-Nya, bahwasanya Allāh ﷻ menurunkan kitab kepada manusia lewat para rasul, yang didalamnya ada petunjuk, ada diantaranya yang diberitahukan kepada kita tentang namanya, ada di antaranya tidak diberitahukan kepada kita tentang namanya. Jadi kita yakini bahwasanya kitab tersebut yang paling akhir adalah Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya ini adalah di mansukh dengan Al-Qur’an, kewajiban kita adalah beramal dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an.

Beriman dengan para rasul, bahwasanya Allāh ﷻ mengutus para rasul kepada manusia dan masing-masing umat diutus kepadanya Rasul dan kewajiban kita adalah beriman secara global dan Allāh ﷻ mengutus para rasul, ada di antara yang diberitahukan kepada kita namanya dan ada diantaranya yang tidak diberitahukan kepada kita. Maka yang diberitahukan kepada kita, kita tetapkan namanya dan adapun beriman dengan Rasulullāh ﷺ maka ini beriman secara terperinci karena kita diperintahkan untuk mengikuti syariat Beliau ﷺ.

Kemudian juga beriman dengan hari akhir, yaitu beriman dengan seluruh apa yang terjadi setelah kematian, baik adzab kubur maupun nikmat kubur, kemudian hari kebangkitan kepada Mahsyar, hari dikumpulkannya manusia, dihisabnya manusia kemudian sampai masuknya manusia ke dalam surga dan juga neraka.

Beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk dan bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya dan Allāh ﷻ menulis segala sesuatu dan tidak lah terjadi sesuatu kecuali dengan kehendak Allāh ﷻ dan sesuai dengan kehendak Allāh ﷻ, kemudian juga bahwasanya segala sesuatu adalah dengan diciptakan oleh Allāh ﷻ, ini adalah penjelasan secara singkat dari beriman dengan enam perkara ini.

Tadi disebutkan oleh beliau disini

وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ

Dan beriman dengan kebangkitan setelah kematian, dan dalam lafadz yang lain wal yaumil ākhir, beriman dengan hari akhir, yang beliau datang kan di sini adalah satu lafadz di dalam sebuah riwayat, ada memang di sebagian riwayat disebutkan وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ yaitu beriman dengan kebangkitan setelah kematian.

Dan didalam sebuah hadits ketika Nabi ﷺ kedatangan sebuah rombongan, utusan dari sebuah qabilah, maka beliau memerintahkan kepada mereka dengan lima perkara, yaitu beriman kepada Allāh ﷻ, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan beriman dengan kebangkitan setelah kematian. Sebagaimana kita tahu bahwasanya orang-orang kafir saat itu mereka mengingkari kebangkitan setelah kematian, kalau kebangkitan setelah kematian saja diingkari apalagi pengumpulan, hisab, surga dan neraka, bangkit saja tidak. Karena ini adalah inti dari pengingkaran itu semua sehingga disebutkan oleh Nabi ﷺ beriman dengan kebangkitan, karena ketika sudah beriman dengan kebangkitan berarti dia konsekuensinya ada di sana hisab, di sana ada hasyr dan seterusnya.

Makanya disini beliau menggunakan lafadz ini

وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ

Kemudian beliau menjelaskan disini

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

Diantara beriman kepada Allāh ﷻ adalah

الإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتِابِهِ الْعَزِيزِ، وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم ؛ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلاَ تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلاَ تَمْثِيلٍ
بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللهَ ِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Beliau mengatakan

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

Diantara iman kepada Allāh ﷻ, setelah beliau menyebutkan secara global maka beliau ingin menjelaskan sekarang tentang rukun iman yang pertama namun yang beliau jelaskan pada rukun iman yang pertama ini tidak secara keseluruhan, beliau tidak berbicara terlebih dahulu tentang rububiyah kemudian uluhiyah tapi langsung berbicara tentang masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ mengatakan

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

Diantara iman kepada Allāh ﷻ, dan setelahnya beliau akan berbicara tentang iman kepada nama dan juga sifat Allāh ﷻ secara panjang lebar. Dimulai dengan kaidah secara umum dan ini bagusnya kitab beliau dan seperti yang sudah kita sebutkan bahwasanya kitab ini adalah kitab yang sangat bernilai dan sangat berharga.

Beliau memulai dengan kaidah secara umum, bagaimana ahlussunnah wal jama’ah, Al firqotun nājiyah, Ath-Thā’ifah Al-Manshūrah, mereka memahami nama dan juga sifat Allāh ﷻ, akan beliau sebutkan kaidah nya secara umum, kemudian setelah itu akan diperinci dengan menyebutkan satu persatu dari sifat-sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam Al-Qur’an atau yang disebutkan oleh Rasulullāh ﷺ didalam sunnah Beliau ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته