Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 06

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 06 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 01

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

Dan termasuk iman kepada Allāh ﷻ, merupakan rukun iman yang pertama dan disini beliau akan berbicara tentang beriman dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ, mengapa beliau tidak berbicara tentang masalah rububiyah Allāh ﷻ dan juga uluhiyah Allāh ﷻ. Wallāhu a’lam mungkin beliau ingin mengkonsentrasikan tentang masalah nama dan juga sifat ini karena sebagaimana yang sudah kita sampaikan bahwa asal dari Al aqidah Al wasithiyah ini adalah permintaan dari seorang qadhi yang berasal dari Wāsith yang dia mengabarkan tentang keadaan daerahnya, dan mungkin di antara yang disebutkan oleh qadhi tersebut adalah penyimpangan manusia di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beliau ingin mengkonsentrasikan dan memperbanyak tentang masalah beriman kepada nama dan juga sifat Allāh ﷻ, Allāhu a’lam.

Maka beliau mengatakan

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ

termasuk beriman kepada Allāh ﷻ adalah

الإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتِابِهِ الْعَزِيزِ، وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

Beriman dengan apa-apa yang Allāh ﷻ sifati diri-Nya di dalam kitab-Nya, وَصَفَ disini ini fa’ilnya adalah dhamir mustatir taqdiru huwa kembali kepada Allāh ﷻ.

Termasuk beriman kepada Allāh ﷻ kita beriman, kita meyakini, kita percaya, kita menetapkan dan juga mempercayai apa yang Allāh ﷻ sifati diri-Nya di dalam kitab-Nya, yaitu dengan percaya dengan sifat-sifat Allāh ﷻ yang telah Allāh ﷻ kabarkan sifat-sifat-Nya tersebut didalam kitab ini maka ini termasuk beriman kepada Allāh ﷻ, dan insya Allāh namanya orang yang beriman, beriman kepada rukun Iman.

Kalau masing-masing kita memang mengakui dan mempercayai, beriman kepada Allāh ﷻ maka ketahuilah termasuk di antara iman kepada Allāh ﷻ adalah beriman dengan sifat Allāh ﷻ yang telah Allāh ﷻ kabarkan kepada kita di dalam kitab-Nya.
Kita imani, kita yakini bahwasanya itu adalah sifat Allāh ﷻ. Misalnya di dalam kitab Allāh ﷻ, di dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ mengabarkan tentang bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat tinggi

ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ

[Al Mulk:16]

Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang berada di atas.

Diantara sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ mengatakan

بَلۡ يَدَاهُ مَبۡسُوطَتَانِ

[Al Ma’idah:64]

Akan tetapi kedua tangan Allāh ﷻ terbentang.

Diantara sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an bahwasanya Allāh ﷻ memiliki pendengaran, Allāh ﷻ memiliki penglihatan dan dalil-dalil yang lain dan sebentar lagi InsyaAllāh akan kita pelajari bersama sebagian dari ayat-ayat didalam Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sifat Allāh ﷻ.

Allāh ﷻ telah menyebutkan di dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang berisi tentang sifat-sifat Allāh ﷻ. Tidaklah kita membuka satu halaman di dalam mushaf kecuali akan kita dapatkan di situ sifat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengabarkan kepada kita sebagian sifat-sifat-Nya di dalam Al-Qur’an. Termasuk di antara iman kita kepada Allāh ﷻ dan keyakinan kita kepercayaan kita kepada Allāh ﷻ adalah kita menetapkan dan kita mengimani, membenarkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan di dalam kitab-Nya berupa sifat-sifat-Nya.

Apakah hanya di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ menyebutkan sifat-Nya, tidak. Ada di antara sifat-sifat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan melalui lisan rasul-Nya kalau kita cari dalam Al-Qur’an tidak ada tapi disebutkan oleh Rasulullāh ﷺ dan dia juga adalah termasuk Wahyu

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ

[ الـنحـم:3 An Najm]

Dia yaitu Muhammad ﷺ tidak berbicara dari hawa nafsunya

إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ

[ الـنحـم:4 An Najm ]

Tidaklah itu kecuali Wahyu yang diwahyukan kepada Beliau ﷺ.

Itu adalah wahyu, sebagaimana Al-Qur’an adalah wahyu maka ucapan dan sunnah Nabi ﷺ juga merupakan wahyu yang harus kita yakini

وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

Dan beriman dengan apa yang رَسُولُهُ, utusan-Nya nabi Muhammad ﷺ telah mensifati Allāh ﷻ dengan sifat tersebut.

Allāh ﷻ memilih nabi kita Muhammad ﷺ untuk menjadi rasul, menjadi utusan, utusan Allāh ﷻ untuk kita, menjadi perantara antara Dia dengan kita. Diantara yang Beliau ﷺ bawa adalah tentang sifat-sifat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ mengabarkan kepada Beliau ﷺ diantara sifat Allāh ﷻ adalah demikian dan demikian dikabarkan kepada kita, maka termasuk beriman kepada Allāh ﷻ adalah kita mensifati Allāh ﷻ dengan sifat yang dikabarkan oleh Rasulullāh ﷺ.

Ini termasuk iman kita kepada Allāh ﷻ yang harus dilakukan oleh seorang yang beriman dan ini menunjukkan kepada kita isyarat dari mu’allif bahwasanya yang namanya nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyah yaitu kita menerima jadi dan bahwasanya tidak boleh kita menetapkan sifat Allāh ﷻ kecuali berdasarkan dalil. Dari mana dalil tersebut kita dapatkan, dari kitabihi atau dari sunnah Rasulullāh ﷺ, tidak boleh kita mengada-ngada membuat sifat diantara sifat-sifat Allāh ﷻ atau mengada-ngada nama diantara nama-nama Allāh ﷻ. Kembali kepada dalil, apa yang memang datang di dalam dalilnya kita tetapkan yang tidak ada dalilnya maka tidak boleh kita tetapkan.

Kemudian di antara yang bisa kita ambil faedahnya dari ucapan beliau

وَمِنَ الإيمَانِ بِاللهِ: الإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ

dan seterusnya, di sana ada yang dinamakan dengan isbat yaitu menetapkan, jadi termasuk beriman kepada Allāh ﷻ adalah kita menetapkan, yaitu menetapkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan untuk diri-Nya dan menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullāh ﷺ untuk Allāh ﷻ. Maka nama dan juga sifat yang Allāh ﷻ tetapkan dan juga Rasulullāh ﷺ tetapkan kita sebagai orang yang beriman harus menetapkan, tidak ada pilihan yang lain, kata para salaf hendaklah kalian jalankan sebagaimana datangnya. Allāh ﷻ mengatakan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ

[ النساء An Nisa :136]

Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya

Kita disuruh untuk beriman, disuruh untuk percaya, meyakini Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya, di antaranya adalah termasuk masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Kemudian setelah itu beliau memberikan kaidah yang lain, pertama kita tetapkan kemudian beliau menambah kaidah yang lain dan ini adalah kaidah yang penting yang harus kita pahami sebelum kita masuk pada perincian penyebutan sifat-sifat Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an maupun di dalam hadits.

Yang akan beliau sebutkan di sini adalah kaidah-kaidah yang penting yang di atasnya Ahlul sunnah wal jamaah yang insya Allāh dengan kita memegang kaidah ini apapun yang sampai kepada kita tentang sifat Allāh ﷻ tidak akan masalah bagi kita, bukan sesuatu yang musykilah, bukan sesuatu yang problem bagi kita selama kita memegang kaidah.

Dan kaidah yang beliau sebutkan di sini adalah kaidah para salaf kaidah yang berjalan di atasnya para sahabah, para tabi’in, para tabi’-tabi’in, inilah aqidah ahlussunnah wal jamaah dari zaman dahulu dan sampai dekatnya hari kiamat, mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya, bukan menolak, Allāh ﷻ menetapkan kemudian ada di antara manusia yang menafikan. Allāh ﷻ mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Rahmah, ada sebagian orang menolak Allāh ﷻ tidak memiliki sifat Rahmah karena sifat kasih sayang ini seperti makhluk. Allāh ﷻ menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki dua tangan, ada sebagian orang mengatakan tidak, Allāh ﷻ tidak memiliki dua tangan. Ini berarti bukan menetapkan apa yang Allāh ﷻ tetapkan tapi dia menolak, menafikan apa yang Allāh ﷻ tetapkan, tentunya ini bertentangan dengan ikrar kita terhadap Allāh ﷻ dan iman kita kepada Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya.

Kemudian beliau mengatakan

مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلاَ تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلاَ تَمْثِيلٍ

Ahlul sunnah wal jamaah mereka menetapkan apa yang Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya tetapkan sebagaimana datangnya namun مِنْ غَيْرِ تَحْرِيفٍ, tanpa mereka melakukan taḥrīf.

Dan taḥrīf secara bahasa artinya adalah taghyīr, merubah dan perubahan di sini bisa merubah dengan cara menambah huruf atau mengurangi huruf atau bisa juga dengan merubah harokat, berarti perubahan di sini bisa berupa perubahan yang berkaitan dengan lafadz dari sifat tersebut.

Maka ini termasuk taḥrīf, contohnya adalah apa yang dilakukan oleh sebagian mereka ketika membaca firman Allāh ﷻ

وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا

[An-Nisa’:164]

Kemudian merubahnya, merubah harokat lafdzul jalālah menjadi fatha, kemudian membacanya وَكَلَّمَ ٱللَّه مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا, dirubah harokat. Harokat yang asalnya adalah وَكَلَّمَ ٱللَّهُ berarti Allāh ﷻ (lafdzul jalālah) di sini sebagai fa’il, Allāh ﷻ yang kallam (berbicara) kepada Musa sesuai dengan keagungan-Nya, dengan pembicaraan yang sesuai dengan keagungan-Nya tidak sama dengan bicaranya makhluk, demikian ahlus sunnah menetapkan. Namun al-muḥarrif (orang yang ingin merubah, mentaḥrīf) dia rubah harokatnya dan mengatakan dan membacanya

وَكَلَّمَ ٱللَّه مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا

Dan Musa berbicara kepada Allāh ﷻ, dibalik, bukan Allāh ﷻ yang berbicara kepada Musa tapi Musa yang berbicara kepada Allāh ﷻ, maka ini termasuk taḥrīf lafdzi, perubahan yang berkaitan dengan lafadz, ahlul sunnah tidak melakukan yang demikian. Nabi Musa ‘alaihissalam adalah kalimullāh, ini adalah keistimewaan yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau karena Allāh ﷻ berbicara dengan beliau, tidak semua nabi Allāh ﷻ berbicara langsung kepada mereka, Allāh ﷻ mengatakan

تِلۡكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۘ مِّنۡهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُۖ

[Al Baqarah:253]

Ada diantara mereka yang Allāh ﷻ berbicara kepadanya, termasuk diantaranya adalah Nabi Musa.

Kalau dibaca وَكَلَّمَ ٱللَّه مُوسَىٰ تَكۡلِيمٗا Musa berbicara kepada Allāh ﷻ, maka hamba-hamba Allāh ﷻ mereka semuanya pernah berbicara kepada Allāh ﷻ, ketika mereka mengatakan ya Allāh ﷻ ya Rabb berbicara kepada siapa, mereka tidak lain kecuali mereka berbicara kepada Allāh ﷻ. Kalau hamba yang berbicara kepada Allāh ﷻ maka hamba-hamba Allāh ﷻ mereka berbicara kepada Allāh ﷻ di dalam dzikirnya didalam doanya.

Maka ini dinamakan dengan taḥrīf lafdzi, dan di sana ada taḥrīf merubah dari sisi makna seperti misalnya orang yang memaknai istawa yang asalnya adalah ‘ala wartafa’a, washa’ada wastaqarr, meninggi, kemudian merubah namanya menjadi istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya adalah menguasai. Maka ini merubah makna yang benar yang sesuai dengan bahasa Arab, kemudian dirubah dengan istawla dan al-mutaakhirūn mereka menamakan tahrifun ma’nawi ini dengan takwil, dan hakikatnya adalah tahrifun ma’nawiun, ini adalah merubah dari sisi maknanya cuma mereka datangkan istilah-istilah yang baru sesuai dengan keinginan mereka untuk mengelabui manusia, seakan-akan dengan kalimat tersebut mereka adalah orang yang akalnya matang, orang yang pandai, orang yang lebih paham tentang Al-Qur’an, ini adalah takwilnya, maka ini dinamakan dengan tahrifun maknawiyun.

Ahlul sunnah tidak melakukan yang demikian, ahlul sunnah wal jamaah memaknai sifat-sifat Allāh ﷻ dengan makna yang benar, yang sesuai dengan bahasa Arab, sesuai dengan apa yang dipahami oleh para salaf, bukan memaknai istawa dengan istawla dan akan datang pembahasan khusus tentang sifat Allāh ﷻ istawa.

Kemudian

وَلاَ تَعْطِيلٍ

Dan mereka tidak menta’thīl, ta’thīl dalam bahasa Arab artinya adalah mengosongkan atau mengingkari. Allāh ﷻ mengatakan wabi’ri muaththola, dan sumur yang kosong yang ditinggalkan orang tidak dipakai, itu dinamakan dengan bi’r muaththola

وَلاَ تَعْطِيلٍ

Mereka ahlussunnah wal jama’ah menetapkan tanpa mereka menta’thīl, yang dimaksud menta’thīl dengan sifat Allāh ﷻ diantaranya adalah mengingkari, mengingkari sifat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengatakan istawa dia mengatakan Allāh ﷻ tidak istawa tapi istawla, berarti di sini dia mengingkari, mengingkari terlebih dahulu baru setelah itu dia mentaḥrīf, jadi dua-duanya sekaligus.

Karena ketika dia mengatakan tidak istawa berarti dia mengosongkan, mengingkari sifat Allāh ﷻ, ketika dia mengatakan tapi adalah istawla berarti di sini dia mentaḥrīf maknanya. Berarti setiap muḥarrif adalah muaththi, setiap orang yang mentaḥrīf berarti dia muaththi, tidaklah dia mentaḥrīf kecuali dia menta’til terlebih dahulu. Dia mengatakan tidak istawa ini ta’til, setelah itu dia mengatakan tapi istawla di sini mentaḥrīf.

Apakah setiap yang muaththil dia muḥarrif, belum tentu. Ada sebagian yang dia muaththil, dia mengingkari dan dia tidak mendatangkan makna yang baru, hanya mengatakan Allāh ﷻ tidak beristiwa, di situ saja tanpa dia mendatangkan makna yang baru, maka ini berarti muaththil saja. Berarti kullu muḥarrifin muaththil, wa laysa kullu muaththilin muḥarrif.

Jadi terkadang seseorang menta’til sifatnya dan terkadang seorang menta’til lafadznya dan juga terkadang menta’til maknanya. Maka Ahlussunnah Wal jamaah tidak melakukan ta’til, mereka beriman kepada nama dan juga sifat Allāh ﷻ yang sudah Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya tetapkan. Bagaimana mereka berani untuk menafikan apa yang Allāh ﷻ tetapkan, mereka adalah orang-orang yang biasa, tunduk terhadap kabar-kabar Allāh ﷻ, apa yang Allāh ﷻ kabarkan kepada mereka, mereka benarkan.

Yu’minūna bil ghaib, mereka adalah orang-orang yang beriman dengan perkara yang ghoib, dan nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah perkara yang ghoib مِنْ

غَيْرِ تَحْرِيفٍ وَلاَ تَعْطِيلٍ.

Dan muaththila disini mereka bertingkat-tingkat, ada diantara mereka yang mengingkari nama Allāh ﷻ dan juga sifat-Nya seperti jahmiyah, ada diantara mereka yang menetapkan nama dan juga mengingkari sifat, dan ada diantara mereka yang menetapkan nama, menetapkan sebagian sifat dan mengingkari sebagian sifat, ini juga termasuk muaththila. Mereka bertingkat-tingkat semuanya masuk di dalam muaththila yaitu orang-orang yang menta’til.

Kemudian beliau mengatakan

وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيفٍ وَلاَ تَمْثِيلٍ

Dan mereka menetapkan sifat Allāh ﷻ tanpa takyīf, dari kata kayyafa – yukayyifu – takyīfan, artinya adalah ja’ala lillahi kaifiyyah, menentukan bagi Allāh ﷻ atau membuat bagi Allāh ﷻ kaifiyyah yaitu cara, menentukan bagaimananya, menentukan kaifiyahnya inilah makna kayyaf. Dan bukan yang dimaksud dengan takyīf disini adalah bertanya bagaimana, tidak. Bertanya tentang bagaimana Allāh ﷻ, betul ini adalah pertanyaan yang tidak benar, bertanya tentang bagaimananya ini adalah tidak benar dan ini adalah bid’ah dalam agama tapi itu tidak dinamakan dengan takyīf.

Takyīf artinya adalah menentukan kaifiyyah, kayyafa – yukayyifu – takyīfan artinya adalah ja’ala lahu kaifiyyah. Seandainya ada pertanyaan apa yang dimaksud dengan takyīf jangan dijawab bertanya tentang bagaimana, bukan bertanya, tapi takyīf adalah menentukan kaifiyyah.

Ahlussunnah Wal jama’ah tidak menentukan kaifiyyah, tidak menentukan Allāh ﷻ itu tangannya seperti ini, Allāh ﷻ istiwanya seperti ini, Ahlul sunnah tidak melakukan yang demikian.

Mereka mengatakan Allāh ﷻ beristiwa tapi sama sekali mereka tidak menentukan bagaimana Allāh ﷻ beristiwa, nanti akan disebutkan kenapa mereka tidak melakukan yang demikian. Jadi tidak ada kelaziman menetapkan Allāh ﷻ beristiwa atau Allāh ﷻ memiliki sifat, kemudian pasti kita ini menentukan kaifiyyah, tidak, bukan merupakan kelaziman bahwa Isbat mengharuskan kita untuk menentukan kaifiyyah.

Kita meyakini adanya malaikat dan bahwasanya dia memiliki sayap dan kita memahami makna sayap tapi menentukan bagaimana sayapnya malaikat kita tidak bisa, kita tidak pernah melihat malaikat. Kita mengitsbat bahwasanya di dalam surga ada buah-buahan

وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَٰبِهٗاۖ

[Al Baqarah:25]

Mereka diberikan buah-buahan yang serupa, yaitu serupa dengan apa yang mereka lihat di dunia dari sisi wujudnya mungkin atau warnanya, tapi hakekatnya, rasanya berbeda. Kita dikabarkan tentang hurun ‘in (wanita-wanita yang cantik dalam surga), kita dikabarkan tentang qasr (istana) di dalam surga itu semua kita pahami dan kita tetapkan namun kita tidak bisa menentukan bagaimana hakikat karena kita tidak diberitahukan oleh Allāh ﷻ tentang bagaimana hakikatnya, cuma dikabarkan kepada kita tentang adanya kenikmatan-kenikmatan tersebut.

Demikian pula Ahlussunnah mereka menetapkan sifat Allāh ﷻ tapi mereka tidak men takyīf (tidak menentukan bagaimananya)

وَلاَ تَمْثِيلٍ

Dan mereka tidak mentamtsīl, yang dimaksud dengan tamtsīl adalah menjadikan bagi Allāh ﷻ matsil (sesuatu yang sebanding atau serupa) atau mumatsil (sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ). Contohnya misalnya mengatakan bahwa istiwa Allāh ﷻ seperti istiwanya raja fulan, tangan Allāh ﷻ seperti tangannya fulan berarti di sini mendatangkan mumatsil, mendatangkan sesuatu yang dibandingkan. Kalau takyīf tadi apakah harus mendatangkan sesuatu yang dibandingkan, tidak harus, seandainya dia mengatakan tangan Allāh ﷻ itu demikian dan demikian, ini berarti menentukan kaifiyyahnya, tidak harus dia mendatangkan mumatsil (sesuatu yang dibandingkan) dengan tangan Allāh ﷻ

Maka disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya setiap mumatsil mukayyif, kullu mumatsilin mukayyif, setiap orang yang mumatsil maka dia telah menentukan kaifiyyah, wa laysa kullu mukayyifin mumatsilan, dan tidak semua orang yang mukayyif kemudian dia dinamakan mumatsilan, karena orang yang mentakyīf (menentukan kaifiyyah) belum tentu dia mendatangkan sesuatu yang dibandingkan diantara makhluk.

Demikian ahlu sunnah wal jama’ah, ini adalah kaidah yang harus kita pahami, menetapkan tanpa kita merubah lafadznya, tanpa kita merubah maknanya, tanpa kita menta’wil. Menetapkan tanpa kita menta’til, tanpa kita mengingkari maknanya atau mengingkari sebagian sifat-Nya, menetapkan sebagian yang lain. Kita mengitsbat tanpa kita menentukan kaifiyyahnya, tanpa kita menentukan sesuatu yang sebanding dengan Allāh ﷻ. Ini kaidah yang kalau kita pahami, membantah banyak syubhat yang didatangkan oleh orang-orang yang menyimpang di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته