Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 09

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 09 | Beriman Kepada Sifat-Sifat Yang Allāh ﷻ Sandangkan Pada Diri-Nya Di Dalam Kitab-Nya Dan Sifat-Sifat Yang Rasul-Nya Sandangkan Pada-Nya Bag 04

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mengatakan

ثُمَّ رُسُلُه صَادِقُونَ مُصَدَّقُون

Kemudian para Rasul-Nya, mereka adalah صَادِقُون, mereka juga adalah orang-orang yang jujur, mereka adalah utusan-utusan Allāh ﷻ yang صَادِق. Di antara sekian banyak manusia, tidak ada yang lebih ashdaq daripada para Rasulullah. مُصَدَّقُون, dan mereka adalah orang-orang yang dibenarkan ucapannya.

بِخِلاَفِ الَّذِينَ يَقُولُونَ عَلَيْهِ مَا لاَ يَعْلَمُونَ

Berbeda dengan orang-orang yang berbicara atas nama Allāh ﷻ tanpa ilmu. Jadi mereka ini para Rasul adalah orang yang shodiq, tidak ada orang yang lebih jujur daripada mereka dan mereka adalah orang yang berbicara dengan ilmu.

Berarti terkumpul didalam kabar mereka mereka, bahwasanya mereka adalah orang yang jujur dan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang Allāh ﷻ. Tidak ada yang lebih mengetahui tentang diri Allāh ﷻ daripada para rasul-Nya, demikian pula Allāh ﷻ telah memberikan kepada mereka kefasihan didalam berbicara.

وَلِهَذَا قَالَ: سُبْحَانَ

Oleh karena itu Allāh ﷻ mengatakan, yaitu memuji para rasul

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ

Maha Suci Rabbmu, رَبِّ الْعِزَّةِ Rabb dari kemuliaan, Al-’Izzah ini adalah sifat Allāh ﷻ dan disini ada idhafah (penyandaran) Al-’Izzah kepada Allāh ﷻ, Al-’Izzah disini adalah sifat Allāh ﷻ diantara sifat-sifat-Nya. عَمَّا يَصِفُون, dari apa yang disifatkan oleh mereka, yaitu orang-orang yang mensifatkan Allāh ﷻ dengan sifat-sifat yang tidak baik, maha suci Allāh ﷻ dari apa yang mereka sifatkan.

وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِين

Dan keselamatan bagi orang-orang yang diutus, yaitu para Rasul

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allāh ﷻ Rabb semesta alam.

Kenapa beliau mendatangkan ayat ini, beliau jelaskan disini

فَسَبَّحَ نَفْسَهُ عَمَّا وَصَفَهُ بِهِ الْمُخَالِفُونَ لِلرُّسُل

Maka Allāh ﷻ mensucikan diri-Nya dari sifat-sifat yang disematkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul yang mensifati Allāh ﷻ dengan sifat-sifat yang tidak baik. Orang-orang yahudi misalnya mensifati Allāh capek dan bahwasanya Allāh bakhil, bahwasanya Allāh faqir, Maha suci Allāh ﷻ dari apa yang mereka katakan

وَسَلَّمَ عَلَى الْمُرْسَلِينَ

Kemudian Allāh ﷻ mengucapkan salam untuk para Rasul, salam artinya adalah keselamatan. Kenapa Allāh ﷻ mengatakan keselamatan atas para rasul

لِسَلاَمَةِ مَا قَالُوهُ مِنَ النَّقْصِ وَالْعَيْبِ

Karena selamatnya ucapan para rasul dari kekurangan. Kenapa kita membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ, karena kalau Beliau ﷺ berbicara tentang sifat Allāh ﷻ, ketahuilah bahwasanya itu adalah ucapan yang salim, yaitu adalah ucapan yang selamat, ucapan yang tidak ada kekurangan dan tidak ada kebohongan di dalamnya, itu adalah ucapan yang fasih yang paling sempurna kejelasannya dan kefasihan, itu adalah ucapan yang berdasarkan ilmu sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membenarkan sifat Allāh ﷻ yang dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ. Berarti disini kita mengetahui kenapa kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits dalam masalah menetapkan sifat-sifat Allāh ﷻ.

Kemudian beliau mengatakan

وَهُوَ سُبْحَانَهُ قَدْ جَمَعَ فِيما وَصَفَ وَسَمَّى بِهِ نَفْسَهُ بينَ النَّفْيِ وَالإِثْبَاتِ

Dan Allāh ﷻ telah mengumpulkan didalam apa yang Allāh ﷻ sifatkan dan apa yang Allāh ﷻ namakan dengannya diri-Nya antara menafikan dan juga menetapkan.

Beliau menyebutkan disini kaidah, termasuk diantara kaidah dalam memahami nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Bahwasanya Allāh ﷻ jama’, Allāh ﷻ itu mengumpulkan didalam masalah apa yang Allāh ﷻ namakan dan sifatkan dirinya itu antara dua ini, antara nafyi dan juga itsbat. Nafyi artinya adalah menafikan dan itsbat artinya adalah menetapkan, dalam dua perkara ini, yaitu dalam masalah washaf dan samma.

Washaf artinya adalah mensifati dirinya, samma artinya menamakan dirinya, berarti di sana ada nama dan di sana ada sifat. Kita punya nama misalnya Muhammad, Abdullah,Ismail, dan Ibrohim dan juga punya sifat misalnya pendiam, rajin dan seterusnya maka ini adalah sifat, berarti disana ada nama ada sifat.

Allāh ﷻ (ini adalah kaidah) didalam Al-Qur’an didalam As-Sunnah ketika Allāh ﷻ menamakan diri-Nya, memberi sifat diri-Nya maka terkadang ada nama-nama yang menafikan, ada sifat-sifat yang manfiya (dinafikan) dan ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan ada sifat-sifat yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ. Contoh sekarang masalah sifat misalnya, sifat ada dua, yang manfiya (sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ) dan yang mutsbata (sifat yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ) ini harus kita pahami. Contoh misalnya Allāh ﷻ mengatakan

لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ

Allāh ﷻ tidak ditimpa sinah, yaitu ngantuk Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk, وَلَا نَوۡم dan Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur. Ini dinamakan dengan sifat manfiyah (sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ) yaitu sifat ngantuk dan juga tidur, ini dinamakan dengan sifat manfiyah. Contoh misalnya yang lain Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya kedzoliman

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٍ لِّلْعَبِيدِ

[Fussilat:46]

Dan tidaklah Robb mu mendzolimi hamba-hamba-Nya. Berarti yang Allāh ﷻ nafikan disini kedzoliman, dan masih banyak lagi insya Allāh nanti akan sampai dalil-dalil tentang sifat-sifat manfiyah.

Sifat yang mutsbatah banyak, istiwa, tangan bagi Allāh ﷻ, mata bagi Allāh ﷻ, sifat nuzul bagi Allāh ﷻ, maka ini adalah sifat-sifat yang ditetapkan bukan sifat-sifat yang dinafikan. insya Allāh nanti akan sampai faedahnya bahwasanya setiap sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ maka kita harus menetapkan kesempurnaan lawan dari sifat tadi. Contoh misalnya Allāh ﷻ tidak di timpa ngantuk dan tidak ditimpa tidur, kita nafikan sifat mengantuk dan tidur dari Allāh ﷻ kemudian kita harus tetap kan kebalikan dari sifat tadi dengan kesempurnaan, Al-Hayah (hidup). Berarti kita harus tetap kan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki kehidupan yang sempurna, yaitu nanti akan sampai insya Allāh akan di sebutkan oleh Syaikhul Islam tentang sifat-sifat yang manfiyah.

Itu masalah sifat, sekarang masalah nama. Ada nama-nama yang nafiyah ada nama-nama yang mutsbatah, sebagaimana sifat ada yang manfiyah dan yang mutsbatah, nama juga begitu. Ada nama-nama yang nafiyah (nama-nama yang menafikan) yaitu nama-nama Allāh ﷻ yang maknanya adalah menafikan kekurangan dari Allāh ﷻ, contoh misalnya adalah As-Salam. As-Salam adalah diantara maknanya bahwasanya Allāh ﷻ itu selamat dari seluruh kekurangan, berarti disini menafikan segala kekurangan dari Allāh ﷻ. Contoh yang lain Al-Quddus, Quddus artinya adalah bersih, bersih dari seluruh kekurangan, contoh yang lain adalah Ash-Shubbuh juga sama artinya adalah bersih dan tersucikan dari seluruh kekurangan. Berati As-Salam, Al-Quddus, Ash-Shubbuh ini semua adalah nama-nama yang nafiyah.

Adapun nama-nama yang mustbatah maka ini banyak, Ar-Rahman Allāh, Ar-Rahim, At-Tawbah, Al-Ghofur, Al-Alim, Al-Hakim, maka ini adalah nama-nama yang mutsbatah yang ditetapkan bagi Allāh ﷻ. Dikandung di dalam nama-nama tadi satu sifat atau lebih Ar-Rahman yang mengandung sifat Ar-Rahmah, Al-’Alim mengandung sifat Al-’Ilm dan seterusnya.

Berarti ini maksud dari ucapan beliau

جَمَعَ فِيما وَصَفَ وَسَمَّى بِهِ نَفْسَهُ بينَ النَّفْيِ وَالإِثْبَات

Yang perlu kita pahami didalam masalah sifat Allāh ﷻ, sifat yang Allāh ﷻ tetapkan itu lebih banyak daripada sifat yang Allāh ﷻ nafikan. Jadi dalam Al-Qur’an dan juga Hadits itu yang paling banyak adalah itsbat, yaitu yang ditafsir adalah itsbat, banyak ditafsir (diperinci) oleh Allāh ﷻ, tapi dalam masalah nafyi ini Allāh ﷻ banyaknya adalah mengglobalkan. Jadi kebanyakan kalau menafikan ini global saja, contoh misalnya Allāh ﷻ mengatakan

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, ini global, pokoknya tidak ada yang serupa dengan Allāh

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

Ini juga global, tapi ketika itsbat, ketika menentukan sifat, menyebutkan sifat Allāh ﷻ perinci. Allāh Maha Memberikan taubat, Allāh ﷻ Maha Mengampuni, Allāh ﷻ Maha Memaafkan, Allāh ﷻ Maha Penyayang dan seterusnya. Kebanyakan di dalam dalil itsbatnya (penetapannya) itu jauh lebih banyak.

Terkadang Allāh ﷻ memperinci penafian tadi karena satu sebab, seperti misalnya Allāh ﷻ tidak mendzholimi, Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur dan tidak ditimpa ngantuk, Allāh ﷻ tidak punya anak, ini adalah penafian-penafian dan ini sedikit jumlahnya didalam Al-Qur’an dan itu ada sebabnya diantaranya adalah untuk membantah orang yang memiliki pemahaman yang salah. Seperti orang yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak maka Allāh ﷻ bantah.

Jadi asalnya adalah penafian-penafian yang ada dalam Al-Qur’an adalah penafian secara mujmal (global), adapun perincian di dalam masalah penafian ini ada tapi sedikit.

فَلاَ عُدُولَ لأَهْلِ السُّنَّةٌ وَالْجَمَاعَةِ عَمَّا جَاءَ بِهِ الْمُرْسَلُونَ؛ فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ، صِرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ والصَالِحِين

Kalau demikian

فَلاَ عُدُولَ لأَهْلِ السُّنَّةٌ

Kalau demikian keadaan para Rasul maka tidak ada penyimpangan bagi Ahlussunnah, artinya tidak ada alasan bagi mereka untuk meninggalkan dan untuk menyimpang dari apa yang dibawa oleh para rasul.

Kalau kita sudah mengetahui tentang Allāh ﷻ, pujian Allāh ﷻ terhadap para rasul, bahwasanya apa yang mereka lakukan ini adalah benar dan apa yang mereka lakukan adalah selamat, maka bagaimana Ahlussunnah Wal jamaah mereka menyimpang dan meninggalkan apa yang dibawa oleh para Rasul. Mereka akan terus Istiqomah di atas jalannya Rasulullah ﷺ meskipun mencela mereka orang yang mencela, meskipun menuduh mereka orang yang menuduh, karena yang penting adalah mereka benar disisi Allāh ﷻ

فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ

Karena sesungguhnya apa yang dibawa oleh para Rasul itu adalah jalan yang lurus, itulah yang merupakan jalan yang lurus yang senantiasa kita berdoa kepada Allāh ﷻ di dalam sholat kita

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Inilah jalan yang lurus yaitu jalannya para rasul, termasuk diantaranya adalah jalan mereka di dalam memahami nama dan juga sifat. Ingin jalan yang lurus maka yakinilah apa yang diyakini oleh para rasul, berakidahlah sebagaimana akidahnya para rasul, dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ

فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ

Inilah jalan yang lurus ketika kita mengatakan

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Jalan orang-orang yang engkau berikan nikmat yaa Allāh ﷻ, siapa orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat mereka adalah sebagaimana Allāh ﷻ sebutkan dalam

Qur’an surah An-Nisa’: 69

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ

Dan barangsiapa yang taat kepada Allāh ﷻ dan Rasul-Nya maka mereka bersama orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, berarti para nabi jelas mereka mereka berada di atas jalan yang lurus, para Rasul jelas mereka berada di atas jalan yang lurus.

Ini menafsirkan apa yang ada didalam A-Fatihah, didalam Al-Fatihah kita mengatakan jalan orang yang engkau beri nikmat ya Allāh ﷻ, siapa orang yang engkau beri nikmat disebutkan dalam ayat ini, pertama para nabi,

وَٱلصِّدِّيقِينَ

dan orang-orang yang sangat kejujurannya, orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan iman yang luar biasa,

وَٱلشُّهَدَآء

dan juga orang-orang yang beriman yang mereka syuhada, meninggal fisabilillah,

وَٱلصَّٰلِحِينَۚ

dan juga orang-orang yang sholeh.

Inilah orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat, nikmat hidayah, nikmat hidup diatas jalan yang lurus

صِرَٰط ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِين

Yaitu jalan orang-orang yang Allāh ﷻ berikan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, para shiddikin, para syuhada, dan orang-orang yang shaleh.

Ini adalah kaidah secara umum yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah sebelum beliau secara terperinci menyebutkan dalil-dalil dari sifat-sifat Allāh ﷻ secara terperinci. Semoga Allāh ﷻ memberikan kepada kita semuanya kemudahan didalam memahami agama Allāh ﷻ dan memberikan hidayah kepada kita semuanya dan menjadikan kita istiqomah di atas jalan ini.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته