Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 10

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 10 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam QS Al- Ikhlas

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-10 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Disini beliau akan membawakan dalil-dalil yang menunjukkan tentang adanya nama-nama yang Nafiya dan mutsbitah serta sifat yang manfiyah dan sifat yang mutsbatah, semuanya adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Beliau mengatakan

وَقَدْ دَخَلَ فِي هِذِهِ الْجُمْلَةِ

Dan masuk didalam jumlah ini, yaitu didalam kalimat yang berisi tentang kaidah Ahlussunnah yang isinya bahwasanya Allāh ﷻ menggabungkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات. Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an asalnya ketika mengitsbat kebanyakan didalam Al-Qur’an, Allāh ﷻ memperinci sifat-sifatnya, nama-namanya. Adapun penafian maka kebanyakan Allāh ﷻ menafikan secara global bukan secara terperinci. Secara terperinci ketika menetapkan makanya banyak di sebutkan nama-nama Allāh ﷻ sifat-sifat Allāh ﷻ dan hampir setiap halaman dari mushaf yaitu disebutkan nama dan juga sifat, tapi ketika menafikan maka kebanyakan adalah secara global.
Terkadang Allāh ﷻ memperinci dalam menafikan, misalnya menafikan dari dirinya kedzoliman, menafikan dari dirinya sinah dan juga naum (ngantuk dan juga tidur), menafikan dari dirinya rasa lelah

وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

[Qaf:38]

Kami tidak ditimpa oleh rasa lelah.

Dan menafikan dari diri-Nya ansiyan (lupa), menafikan dari diri-Nya dholal,

لَّا يَضِلُّ رَبِّى وَلَا يَنسَى

Allāh ﷻ tidak bodoh dan juga tidak lupa.

Ini berarti ada perincian dalam menafikan tapi itu sedikit, sehingga ahlussunnah mengatakan bahwasanya qoidahnya adalah al-itsbatul mufashshal wa nafyul majmul, ini qoidah Ahlussunnah yaitu menetapkan secara terperinci dan menafikan secara global, maksudnya adalah kebanyakan.

Kenapa di sini perlu kita sampaikan, karena disana ada kelompok yang menyelisihi ahlussunnah dimana mereka di dalam masalah menafikan mereka memperinci adapun ketika menetapkan maka mereka menetapkan secara global. Menetapkan bahwasanya Allāh ﷻ itu ada, tapi ketika menafikan maka mereka menafikan secara terperinci, Allāh ﷻ tidak demikian, Allāh ﷻ tidak demikian, Allāh ﷻ tidak demikian dan seterusnya, ini menyelisihi jalan atau cara Al-Qur’an di dalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ.

Kembali ke ucapan beliau وَقَدْ دَخَلَ فِي هِذِهِ الْجُمْلَةِ. Masuk didalam jumlah ini yaitu kaidah bahwa Allāh ﷻ mengumpulkan antara itsbat dan juga nafiyan. Beliau memulai dengan surat al-ikhlas dan ayat kursi karena di dalam surat al-ikhlas dan juga di dalam ayat kursi yang telah datang keutamaannya didalam hadith, ternyata di situ Allāh ﷻ mengumpulkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات, ini adalah kenapa beliau memilih surat Al-Ikhlas dan juga ayat kursi dan keduanya sebagian besar kaum muslimin insyaAllāh menghafal. Beliau mendatangkan sesuatu yang mudah dan dihafal oleh sebagian besar kaum muslimin untuk menguatkan apa yang beliau sampaikan sebelumnya, bahwasanya Allāh ﷻ mengumpulkan antara النَّفْيِ وَالإِثْبَات. Beliau mulai dengan Al-Ikhlas kemudian Ayat kursi kemudian setelah itu akan menyebutkan ayat-ayat yang lain.

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي سورة الإخلاص

Apa yang Allāh ﷻ sifatkan dan dengannya, yaitu apa yang Allāh ﷻ sebutkan didalam surah Al-Ikhlas, berupa sifat-sifat yang dia sifati dirinya dengan sifat-sifat tadi

الَّتِي تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Dimana surah Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.

Dan ini berdasarkan sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dimana Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan ada seorang laki-laki yang mendengar laki-laki yang lain membaca قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ dan mengulang-ngulangnya. Ketika datang waktu pagi maka laki-laki ini datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan ini kepada Rasulullah ﷺ,

وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا

sepertinya laki-laki ini menganggap ini adalah sesuatu yang sedikit, kenapa membaca Al-Ikhlas tidak membaca ayat-ayat yang lain, surat-surat yang lain kan ada surat-suratnya yang lain yang lebih panjang, kenapa yang dia ulang-ulang adalah surat Al-Ikhlas

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ

Maka Rasulullah ﷺ mengatakan

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh surat Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, sebanding pahalanya. Jadi orang yang membaca surat Al-Ikhlas dari awal sampai akhir maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang membaca sepertiga dari Al-Qur’an, dari sisi pahalanya dia mendapatkan pahala orang yang membaca sepertiga dari Al Quran, 10 juz. Kalau kita menghitung berapa huruf yang ada dalam 10 juz maka ini adalah jumlah pahala yang besar, satu huruf di dalam Al-Qur’an apabila kita membacanya kita mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan oleh Allāh ﷻ menjadi 10 kebaikan

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dari setiap huruf yang dia baca, dia mendapatkan satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan. Orang yang membaca sepertiga dari Al-Qur’an yaitu 10 juz maka dia mendapatkan pahala yang besar. Ini menunjukkan tentang keagungan surat Al-Ikhlas, dan beliau menyebutkan tentang Hadits ini dan bahwasanya surat Al-Ikhlas ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, berarti di sana ada rahasia yaitu kenapa nabi dan mengapa orang yang membaca Al-Ikhlas ini mendapatkan pahala yang demikian besar, Allāhu A’lam adalah karena kandungannya yang luar biasa kandungan yang ada dalam surat Al-Ikhlas.

Sebagian Ulama menjelaskan Al-Qur’an ini ada tiga bagian, ada ayat-ayat yang berisi tentang ahkam (hukum-hukum) yang di dalamnya ada perintah dan juga larangan, seperti misalnya hukum shalat, zakat, kemudian puasa misalnya atau haji, tata cara pembagian waris misalnya, dan didalamnya ada larangan-larangan berzina, larangan membunuh tanpa hak, larangan riba, ini bagian yang pertama.

Bagian yang kedua adalah qashash (kisah-kisah), ada kisah-kisah para nabi, ada kisah umat terdahulu, orang-orang yang shaleh, maka ini bagian yang kedua. Kemudian yang ketiga adalah tentang Tauhid. Dan Al-Ikhlas ini mengandung Tauhid, berarti dia mengandung sepertiga dari isi Al-Qur’an karena isinya adalah Tauhid dari awal sampai akhir sehingga dinamakan dengan surat Al-Ikhlas yaitu ikhlas hanya untuk Allāh ﷻ.

Kita lihat bagaimana isi dari Al-Ikhlas dan bagaimana dia menunjukkan النَّفْيِ وَالإِثْبَات.

حَيثُ يَقُولُ

Ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah Dia-lah Allāh ﷻ yang ahad. Katakan wahai Muhammad Dia adalah Allāh ﷻ yang Maha Esa. Lafdzul jalalah, ini adalah nama Allāh ﷻ, berarti nama yang ditetapkan di dalam surah ini yang pertama adalah lafdzul jalalah yaitu Allāh ﷻ, yang mengandung sifat Al-Uluhiyah. Berarti disini Allāh ﷻ menetapkan namanya yaitu Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat uluhiyah, ini nama dan juga sifat yang pertama.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan أَحَدٌ, ahadun artinya adalah yang Maha Esa yaitu yang Maha Tunggal dalam fi’il-fi’ilnya dan juga sifat-sifatnya dan juga zatnya. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Esa didalam Dzat-Nya dan Dia-lah yang Maha Esa didalam sifat-Nya dan tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Didalam fi’ilnya juga demikian tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ didalam fi’ilnya. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Esa tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Maka ini menunjukkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Ahad, berarti kita menetapkan diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Ahad dan sifat yang terkandung dalam Al-Ahad adalah Al-Ahadiyah (keesaan). Ini kaidah yang harus kita ketahui bahwasanya setiap nama itu mengandung sifat minimal satu sifat, terkadang bisa mengandung dua sifat atau tiga sifat. Ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

berarti nama yang kedua yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat ini adalah nama Al-Ahad. Apa sifat yang terkandung didalamnya, sifat Al-Ahadiyah. Jadi nama Allāh ﷻ itu adalah nama-nama yang mustaq bukan nama-nama yang jami’, nama yang jami’ ini tidak diambil dari sebuah kata, tapi nama-nama Allāh ﷻ ini diambil dari kata yang lain, ada maknanya, bukan sebuah kata yang tidak ada maknanya.

Dan kata Ahad ini tidak digunakan dalam keadaan Itsbat kecuali untuk Allāh ﷻ saja, seperti dalam ayat ini اللَّهُ أَحَد, inikan positif tidak ada kata tidak atau bukan, sehingga dalam keadaan itsbat ini tidak digunakan kecuali hanya untuk Allāh ﷻ. Tidak boleh kita mengatakan fulan ahad, untuk makhluk tidak boleh, karena Ahad ini hanya untuk Allāh ﷻ dalam keadaan Itsbat, dalam keadaan positif, tapi kalau kalimatnya adalah kalimat yang negatif maka bisa digunakan kalimat ahad untuk selain Allāh ﷻ. Seperti misalnya seseorang mengatakan lam ya’ti ahadun (belum datang seorang pun), berarti di sini negatif karena ada kalimat lam (tidak/belum) datang seorang pun, tapi dalam keadaan yang kalimatnya adalah kalimat yang positif maka tidak dipakai kecuali dalam hak Allāh ﷻ.

Berarti ayat yang pertama didalamnya ada penetapan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah dan sifat Allāh ﷻ Al-Uluhiyah, kemudian menetapkan nama Allāh ﷻ Al-Ahad dan sifat Allāh ﷻ Al- Ahadiyah. Allāhu A’lam disini adalah termasuk nama yang nāfiyah seperti As-Salam, Al-Quddus, kemudian Shubbuh, karena ketika Allāh ﷻ mengatakan

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد

berarti disini ada menafikan al-matsil, yaitu menafikan sesuatu yang sebanding dengan Allāh ﷻ. Dia adalah Ahad, Dia adalah yang Esa dalam Dzat-Nya, dalam sifat-Nya, dalam af’al-Nya, dalam perbuatan-perbuatan-Nya.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ الصَّمَد

Allāh ﷻ, kembali di sini di sebutkan nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah yang mengandung sifat Al-Uluhiyah, Ash-Shomad ini adalah penetapan nama diantara nama-nama Allāh ﷻ. Di sana ada beberapa makna yang disebutkan oleh para ulama tentang makna Ash-Shomad, ada yang mengatakan bahwasanya Ash-Shomad di sini adalah Dzat yang menjadi tempat tumpuan yang lain di dalam hajat-hajat mereka, dan Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, yaitu makhluk-makhluk-Nya mereka di dalam menunaikan hajat-hajat mereka kembalinya kepada Allāh ﷻ. Kenapa kembalinya kepada Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Dalam keadaan sakit mereka kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan penyembuhan, dalam keadaan mereka fakir kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Kaya, dalam keadaan mereka menuntut ilmu kembali kepada Allāh ﷻ karena Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki ilmu yang sangat luas, yang memberikan ilmu, ketika mereka butuh ampunan kembali kepada Allāh ﷻ karena Dia-lah yang bisa mengampuni. Seluruh makhluk kembali kepada Allāh ﷻ untuk bisa menunaikan hajat-hajat mereka. Berarti disini kita memahami bahwasanya ketika kita menetapkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad berarti ada kandungan menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ.

Di sana ada tafsir dari Abdullah bin Abbas Radiallāhu Ta’ala Anhu, turjumanul Qur’an ketika beliau menafsirkan nama Allāh ﷻ Ash-Shomad ini. Abdullah Bin Abbas mengatakan

السيد الذي قد كمل في شؤدده

Apa yang dimaksud dengan Ash-Shomad, kata beliau Dia adalah As-Sayyid, Dia-lah yang terkemuka yang paling depan, Dia adalah Tuan yang telah sempurna di dalam شؤدده (pertuanannya) artinya adalah dia adalah Tuan yang paling sempurna

والشريف الذي قد كمل في شرفه

Dan Dia adalah yang paling mulia yang sempurna kemuliaannya

والعظيم الذي قد كمل في عظمته

Dan yang Maha Besar yang sempurna di dalam kebesarannya

والحليم الذي قد كمل في حلمه

Dan Dia adalah Dzat yang Halim (Pemurah) yang telah sempurna didalam حلمه

والغني الذي قد کمل في غناه

Dan Dia adalah yang Maha Kaya yang telah sempurna kekayaannya dan seterusnya.

Ash-Shomad di sini ketika kita menetapkan Ash-Shomad bagi Allāh ﷻ dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Dzat yang kembali kepada-Nya makhluk didalam menunaikan hajat- hajat mereka, kita telah menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ didalam Ash-Shomad. Berarti disini ada Itsbat, kita menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allāh ﷻ, seluruh sifat-sifat yang jelek, yang buruk, dinafikan dari Allāh ﷻ dan seluruh sifat yang sempurna kita tetapkan untuk Allāh ﷻ, Maka Ash-Shomad ini adalah Al-Asma Al-Mutsbitah.

Sampai disini kita memahami bahwasanya surat Al-Ikhlas ini mengandung nafi dan juga Itsbat, ada nama yang mutsbitah ada nama yang nāfiyah.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Allāh ﷻ tidak melahirkan, yaitu Allāh ﷻ tidak memiliki anak, bantahan kepada orang-orang musyrikin dan juga ahlul kitab yang mereka menishbahkan anak kepada Allāh ﷻ, orang yahud mengatakan uzair ibnullah, orang nasaroh mengatakan al-masih ibnullah, orang-orang musyrikin mengatakan mala’ikah banatullah, Allāh ﷻ adalah Dzat yang tidak melahirkan dan ini adalah perincian dari yang sebelumnya.

Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang semisal dengan Allāh ﷻ, karena ketika melahirkan berarti yang namanya anak itu semisal dengan asalnya. Maka ini adalah diantara penjelasan dari, yang pertama adalah Allāh ﷻ itu adalah Ahad dan bisa juga dia adalah penjelasan dari Allāhush Shomad juga karena Allāhush Shomad, Allāh ﷻ Dia-lah yang makhluk kembali kepadanya dalam berbagai urusan dan juga hajat mereka. Allāh ﷻ tidak butuh dengan makhluk tapi makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ, makhluk yang memiliki hajat kepada Allāh ﷻ.

Kemudian

لَمْ يَلِدْ

Allāh ﷻ tidak melahirkan karena ketika seandainya Allāh ﷻ melahirkan berarti Allāh ﷻ butuh kepada anak tersebut, padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad, makhluk yang butuh kepada Allāh ﷻ bukan Allāh ﷻ yang butuh kepada makhluk. Ketika seorang ayah dan seorang ibu ingin memiliki anak, dia merasa butuh dengan anak yang akan akan mewarisi dia yang akan membantu dia dan seterusnya. Allāh ﷻ Dia tidak melahirkan, Dia tidak butuh, Dia-lah yang Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan anak.

Demikian pula firman Allāh ﷻ

وَلَمْ يُولَد

Dan Allāh ﷻ Dia tidak dilahirkan, ini juga menjelaskan Allāhu Ahad Allāhush Shomad. Allāh ﷻ tidak dilahirkan, Dia bukan seorang anak yang dilahirkan oleh ibunya karena kalau di sana ada orang tua bagi Allāh ﷻ maka berarti ada yang serupa dengan Allāh ﷻ padahal Allāh ﷻ Dia-lah yang Ahad, dan kalau Allāh ﷻ memiliki orang tua berarti dia butuh kepada yang lain padahal Allāh ﷻ Dia-lah Ash-Shomad. Diperinci oleh Allāh ﷻ di sini dan asalnya yang namanya nafyi dalam Al-Qur’an adalah penafian yang global bukan penafian yang terperinci, tapi di sini diperinci oleh Allāh ﷻ untuk membantah sebagian munharifin, orang-orang yang menyimpang yang mereka meyakini bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak.

Berarti ini nafyi, ini adalah sifat yang manfiyyah. Allāh ﷻ tidak memiliki anak, Allāh ﷻ tidak beranak dan Allāh ﷻ tidak dilahirkan. Berarti di sini ada sifat yang manfiyyah, dan ini juga kaidah yang harus kita pahami bahwa ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat maka konsekuensinya kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat yang di nafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki anak atau Allāh ﷻ melahirkan dan Allāh ﷻ juga menafikan dari diri-Nya bahwasanya Allāh ﷻ memiliki orang tua.

Berarti di sini yang perlu kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari keduanya, yaitu kita tetapkan kesempurnaan ke Esaan Allāh ﷻ, menetapkan Ahadiyah Allāh ﷻ. Ini kaidah yang harus kita pahami kalau Allāh ﷻ menafikan sebuah sifat dari diri-Nya kita harus menetapkan kesempurnaan sifat yang kebalikan dari sifat yang dinafikan tadi. Ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak dan juga orang tua berarti kita tetapkan kesempurnaan keesaan Allāh ﷻ, berarti di sini ada sifat manfiyah didalam surat Al-Ikhlas ini.

Demikian pula ini

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

Sifat kesempurnaan yang bisa kita tetapkan di sini adalah sifat ghina yaitu bahwasanya Allāh ﷻ tidak butuh dengan yang lain. Tadi kita sebutkan, yang melahirkan dan dilahirkan itu berarti butuh dia kepada yang lain, ketika dinafikan berarti kita tetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi, selain kesempurnaan sifat ke-Esaan, yaitu kesempurnaan ke-Esaan Allāh ﷻ, juga menunjukkan kesempurnaan tidak butuhnya Allāh ﷻ dengan yang lain, kesempurnaan kekayaan Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang menjadi kufuwan lahu yaitu bagi Allāh ﷻ. Kunfuan artinya adalah musāwiyah, yang sama serupa dengan Allāh ﷻ, tidak ada. Berarti Allāh ﷻ di sini menafikan adanya sesuatu yang serupa dengan Allāh ﷻ. Kalau ayat sebelumnya dinafikan anak dan anak adalah cabang, kemudian Allāh ﷻ menafikan orang tua dan orang tua adalah asalnya, baik cabang/anak maupun asalnya/orang tua dinafikan oleh Allāh ﷻ, demikian pula yang sebanding ini juga dinafikan oleh Allāh ﷻ.

Maka di sini ada nafyul kufu, disini Allāh ﷻ menafikan al-kufu yaitu yang serupa dengan Allāh ﷻ maka konsekuensinya kita tetapkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Sempurna dalam ke-Esaan-Nya dan Dia-lah yang Ahad, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ baik didalam sifat-Nya, dalam Dzat-Nya, dalam apa yang Dia lakukan.

Berarti jelas di dalam surat Al-Ikhlas ini Allāh ﷻ menyebutkan an-nafyu dan juga itsbat, ada nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ dan dia mengandung sifat, ada nama yang nafia karena di dalamnya ada kandungan makna menafikan dari Allāh ﷻ sesuatu yang semisal dengan Allāh ﷻ, baik nama baik sifat maupun dzat-Nya.

Jadi kalau kita ulang lagi di dalam surat Al-Ikhlas ini nama-nama yang ditetapkan oleh Allāh ﷻ, Lafdzul Jalalah, kemudian nama Al-Ahad, kemudian Ash-Shomad, tiga nama.

Kemudian di sini ada sifat yang Allāh ﷻ tetapkan (mutsbatah), Lafdzul Jalalah mengandung sifat-sifat Uluhiyah, kemudian Al-Ahad, sifat Al-Ahadiyah ini terkandung dalam nama Allāh ﷻ Ahad, ada lagi dalam Ash-Shomad sifat Ash-Shomadiyyah yaitu sifat bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hajat-hajat mereka ini namanya sifat Ash-Shomadiyyah, sifat Al-Ahadiyah yaitu sifat ke-Esaan. لَمْ يَلِدْ itu sifat manfiyah tersendiri, لَمْ يُولَد itu sifat manfiyah tersendiri.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Berarti Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya anak, menafikan dari diri-Nya orang tua dan menafikan dari diri-Nya sesuatu yang setara atau sesuatu yang sama dengan Allāh ﷻ. Itulah nama dan juga sifat yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam surat Al-Ikhlas.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته