Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 11

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 11 | Nama-Nama Allāh ﷻ Yang Nāfiyyah Dan Mutsbittah & Sifat-Sifat Allāh ﷻ yang Manfiyyah Dan Mutsbattah Yang Ada Dalam Ayat Qursiy

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-11 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kita masuk pada ayat Al-Kursiy, kemudian beliau mengatakan

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي أَعْظَمِ آيَةٍ فِي كِتِابِهِ

Dan apa yang Allāh ﷻ sifatkan dengan-Nya نَفْسَهُ (diri-Nya sendiri) di dalam ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an, yang dimaksud adalah ayat kursiy, أَعْظَمِ آيَة berdasarkan sebuah hadits, yaitu haditsnya Ubay bin Ka’ab dimana Nabi ﷺ pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

Tahukah kamu يَا أَبَا الْمُنْذِر (ini adalah kunyah dari Ubay bin Ka’ab), ayat yang mana di dalam Al-Qur’an yang menurutmu itu adalah ayat yang paling besar, yang paling agung

قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

Beliau mengatakan Allāh ﷻ dan Rasul-Nya lebih tahu

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِى أَىُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

Wahai Abal Mundzir tahukah kamu ayat yang mana di dalam Al-Qur’an yang menurutmu itu paling besar. Ditanya dua kali oleh Nabi ﷺ, Beliau ﷺ ingin mengajak dia untuk berpikir menurut Abal Mundzir (ubay bin ka’ab) apa ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an

قَالَ قُلْتُ

Maka ubay bin ka’ab membaca firman Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Baqarah 255

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ

Membaca ayat kursiy

قَالَ فَضَرَبَ فِى صَدْرِى

Maka ubay bin ka’ab menceritakan bahwasanya Nabi ﷺ memukul dadanya (menepuk dadanya) kemudian mengatakan

وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

Beliau ﷺ mengatakan demi Allāh ﷻ semoga ilmu ini menjadi mudah bagimu wahai ubay bin ka’ab. Artinya di sini Beliau ﷺ memuji ubay bin ka’ab bahwasanya jawaban dia ini benar, ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an adalah ayat kursiy, ini menunjukkan ilmunya ubay bin ka’ab, dari sekian ribu ayat yang ada dalam Al-Qur’an dan dalam waktu yang tidak lama ketika ditanya oleh Nabi ﷺ beliau langsung bisa menjawab. Dan ini menunjukkan bagaimana para sahabat dahulu ketika mereka membaca Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, bukan hanya sekedar membaca dan menghafal tapi mereka juga menghayati, sehingga taufik dari Allāh ﷻ saat itu ubay bin ka’ab langsung menyebutkan di hadapan Nabi ﷺ ayat kursiy, makanya Nabi ﷺ mengatakan

لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِر

Ini adalah pujian, kemudian yang kedua ini adalah doa, semoga ilmu ini dimudahkan untukmu wahai Abal Mundzir, doa juga untuk ubay bin ka’ab semoga mudah menerima ilmu, bertambah ilmunya. Ini menjadi dalil bahwasanya ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an adalah ayat kursiy dan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Ayat kursiy menjadi ayat yang paling agung karena kandungan isinya, kandungan isinya adalah penyebutan beberapa nama dan juga sifat Allāh ﷻ

حَيْثُ يَقُولُ

ketika Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

اللَّه ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung sifat Al-Uluhiyah Dia-lah Allāh ﷻ yang memiliki sifat Uluhiyah, sifat Uluhiyah adalah sifat untuk disembah, hanya Dia saja yang memiliki sifat ini. Tidak ada selain Allāh ﷻ yang memiliki sifat uluhiyah dan kalau di sana ada yang disembah selain Allāh ﷻ disifati dengan sifat Uluhiyah maka ini adalah sesembahan dan pensifatan yang bathil

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم

Allāh ﷻ di sini menafikan dari diri-Nya atau menafikan adanya sesembahan selain Dia

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ

Tidak ada sesembahan selain Dia, ini tidak ada nama dan juga sifatnya, setelah itu Allāh ﷻ mengatakan

الْحَيُّ الْقَيُّوم

الْحَي adalah nama Allāh ﷻ yang artinya adalah yang Maha Hidup,

الْقَيُّوم nama Allāh ﷻ yang artinya adalah yang Maha Berdiri Sendiri, kandungan sifat yang ada di dalam الْحَي sifat Al-Hayya (sifat hidup) adapun الْقَيُّوم maka sifat Al-Qayyumiyyah yaitu sifat berdiri sendiri. الْحَيُّ sebagian ulama menjelaskan الْحَيُّ الْقَيُّوم, ketika kita menetapkan nama Allāh الْحَيُّ maka berarti kita menetapkan sifat-sifat kehidupan yang lain, yaitu sifat As-Sama’ Al-Bashar (sifat mendengar, sifat melihat) kemudian sifat Al-’Ilm (sifat ilmu), sifat Qudroh, sifat Iradah. Ketika seseorang menetapkan kesempurnaan hidup bagi Allāh ﷻ dalam nama-Nya الْحَيُّ dan yang namanya hidup yang sempurna ya ada As-Sama’, Al-Bashar, Al-’Ilm, Al- Qudroh, Al-Iradah sehingga para ulama menjelaskan bahwasanya di dalam nama الْحَيُّ ini mengandung seluruh sifat-sifat yang lazimah bagi Allāh ﷻ, yang senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ.

Adapun di dalam nama Allāh الْقَيُّوم Yang Berdiri Sendiri, dan Dia menegakkan yang lain, yang lain tidak akan tegak kecuali apabila ditegakkan oleh Allāh ﷻ, maka para ulama menjelaskan ini mengandung sifat-sifat yang muta’addiyah yaitu yang berkaitan dengan yang lain, Dia-lah yang mencipta, Dia-lah yang memberikan rezeki, Dia-lah yang mengatur, ini semuanya masuk di dalam الْقَيُّوم Dia-lah Yang Berdiri Sendiri dan Dia-lah yang menegakkan yang lain dengan menciptakan, memberikan rezeki dan seterusnya.

Berarti الْحَيُّ mengandung seluruh sifat dzatiyah bagi Allāh ﷻ adapun الْقَيُّوم maka ini mengandung sifat-sifat yang muta’addiyah (yang berkaitan dengan yang lain) sehingga sebagian ulama ada yang mengatakan bahwasanya nama Allāh ﷻ yang paling besar adalah الْحَيُّ الْقَيُّوم, ini satu pendapat, karena الْحَيُّ mengandung seluruh sifat dzatiya الْقَيُّوم mengandung sifat yang muta’addiyah, berarti semuanya terkandung dalam الْحَيُّ الْقَيُّوم.

Makanya dari sini saja kita mengetahui kehebatan dari ayat kursiy ini, mengandung الْحَيُّ الْقَيُّوم yang di dalamnya ada penetapan sifat-sifat yang dzatiyah bagi Allāh ﷻ yang muta’addiyah bagi Allāh ﷻ

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk dan tidak ditimpa tidur. Sudah kita sebutkan bahwasanya ketika Allāh ﷻ menafikan berarti kita menetapkan kesempurnaan yang sebaliknya dari sifat yang dinafikan tadi. Disini Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya ngantuk yaitu pembukaan dari tidur maka kita katakan Allāh ﷻ

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَة

Allāh ﷻ tidak ditimpa rasa ngantuk ini, kita nafikan apa yang Allāh ﷻ nafikan

وَلاَ نَوْم

dan Allāh ﷻ tidak ditimpa tidur, kita nafikan dari Allāh ﷻ sifat tidur, tidak cukup disitu karena ini adalah sifat yang dinafikan maka kita sertai dengan penetapan kesempurnaan kebalikan dari sifat ini, yaitu kita tetapkan kesempurnaan sifat hidup bagi Allāh ﷻ, karena kalau hanya sekedar nafyi saja itu bukan pujian tapi ketika nafyi (dinafikan) dan ditetapkan kesempurnaannya barulah ini pujian, dan didalam diri Allāh ﷻ demikian pula, atau di dalam nama dan juga sifat Allāh ﷻ demikian. Jadi ketika Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sebuah sifat, kita harus menetapkan kesempurnaan kebalikan dari sifat tadi. Berarti disini ada dua sifat yang dinafikan oleh Allāh

لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْض

Bagi Allāh ﷻ apa yang ada di langit maupun apa yang ada di bumi. Lam di sini menunjukkan kepemilikan, bagi Allāh ﷻ, milik Allāh ﷻ apa yang ada di langit dan apa yang ada dibumi seluruhnya. Berarti ini menunjukkan tentang kesempurnaan sifat milik bagi Allāh ﷻ, sifat kepemilikan bagi Allāh ﷻ, ini adalah sempurna, seluruhnya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, apa yang ada di atas maupun apa yang ada di bawah semuanya adalah milik Allāh ﷻ, baik makhluk yang hidup maupun makhluk yang mati. Ini menunjukkan tentang kesempurnaan kepemilikan Allāh ﷻ

Kemudian juga

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِه

Tidak ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin-Nya, ini menunjukkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allāh ﷻ dan kepemilikan Allāh ﷻ. Ketika Allāh ﷻ menyebutkan bahwasanya seluruh apa yang ada di langit dan apa yang di bumi adalah milik Allāh ﷻ, termasuk diantaranya adalah syafa’at itu adalah milik Allāh ﷻ

قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعًا

[Az-Zumar:43]

Katakanlah milik Allāh ﷻ semuanya syafa’at. Syafa’at semuanya adalah milik Allāh ﷻ sehingga tidak ada yang memberikan syafa’at disisi Allāh ﷻ kecuali setelah diizinkan oleh Allāh ﷻ. Ini menguatkan tentang sempurnanya kekuasaan Allāh ﷻ sampai dalam masalah syafa’at baik Nabi maupun malaikat ataupun orang yang Shaleh tidak ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh ﷻ kecuali dengan izin Allāh ﷻ, berarti ini menguatkan tentang kesempurnaan kekuasaan Allah.

Sifat yang lain

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Ini menunjukkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sempurna. Allāh ﷻ mengetahui apa yang ada di depan mereka dan apa yang di belakang mereka. Ada yang mengartikan أَيْدِيهِمْ di sini adalah apa yang sudah berlalu/terjadi, وَمَا خَلْفَهُم (di belakang mereka) yang akan terjadi, karena yang sudah terjadi berarti dia di depan, yang akan terjadi maka itu yang di belakang. Ini sebagian ulama ada yang menafsirkan demikian, بَيْنَ أَيْدِيهِمْ adalah yang sudah berlalu yang di belakang mereka adalah yang akan terjadi.

Dan ada yang mengartikan sebaliknya بَيْنَ أَيْدِيهِمْ adalah didepan mereka berarti yang akan terjadi yaitu yang di depan kita, وَمَا خَلْفَهُم yang di belakang mereka berarti yang sudah terjadi. Ini tidak ada pertentangan, Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui seluruhnya, yang sudah terjadi maupun apa yang akan terjadi, tafsir yang seperti ini tidak memudhoroti dan tidak ada pertentangan baik antara tafsir yang pertama dengan tafsir yang kedua ini menunjukkan tentang sempurnanya ilmu Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

Dan mereka, yaitu makhluk-makhluk, tidak bisa meliputi sedikitpun dari ilmu Allāh ﷻ, yaitu tidak bisa mengetahui apa yang Allāh ﷻ ketahui, إِلاَّ بِمَا شَاء kecuali dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Berarti kita tidak bisa mengetahui apa yang Allāh ﷻ ketahui kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki. Menunjukkan tentang lemahnya manusia, dan menunjukkan bahwasanya ilmu yang kita dapatkan itu adalah dengan kehendak Allah, Allāh ﷻ menghendaki kita tahu sehingga kita menjadi orang yang tahu. Dan ini faedah bagi seorang thalabul ‘ilm, dia tidak mungkin menjadi orang yang ‘alim, menjadi orang yang tahu kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki, sehingga harusnya dia banyak berdoa kepada Allāh ﷻ mengatakan Allahumma ‘allimniy, Rabbi zidniy ‘ilman, ya Allāh ﷻ tambahkan kepada-ku ilmu. Dia tidak akan menjadi seorang yang ‘alim kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya, Allāh ﷻ akan menjadikan dia faqih (paham) tentang agamanya. Siapa yang menjadikan kita faqih? Allāh ﷻ.

Jadi jangan sampai seorang thalabul ‘ilm lalai tidak berdoa kepada Allāh ﷻ, sibuk dengan dars, sibuk dengan belajar dan seterusnya tapi dia tidak pernah berdoa kepada Allāh ﷻ, tidak pernah meminta kepada Allāh ﷻ ilmu, atau ditambah ilmunya, dimudahkan untuk memahami pelajarannya.

Apa yang terkandung dalam firman Allāh ﷻ

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء

Di sini ada penetapan sifat ‘Ilm yaitu مِّنْ عِلْمِه berarti Allāh ﷻ memiliki ilmu, kemudian di sini ada penetapan sifat Masyi’ah di ambil dari firman Allāh إِلاَّ بِمَا شَاء kecuali dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Berarti Allāh ﷻ memiliki Masyi’ah (kehendak)

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ

Kursiy Allāh ﷻ ini seluas langit dan juga bumi, atau meliputi langit dan juga bumi. Seluas ini bukan berarti kursiy Allāh ﷻ sama dengan langit dan bumi, tidak, maksudnya وَسِعَ disini adalah meliputi semua, berarti kursiy lebih besar daripada langit dan juga bumi.

Disebutkan didalam sebuah hadits bahwasanya kalau dibandingkan langit yang tujuh dengan bumi ini dibandingkan dengan kursiy Allāh ﷻ perbandingannya adalah seperti tujuh gelang atau tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir, yang menunjukkan betapa kecilnya tujuh cincin tadi, hampir tidak terlihat ketika dilemparkan di padang pasir, itu adalah perbandingan antara tujuh langit dan bumi ini dibandingkan dengan kursiy Allāh ﷻ. Kalau kursiy Allāh ﷻ saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan yang menciptakan.

Dan kursiy (dinamakan dengan ayat kursiy dari kata ini) ini adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ, sebagaimana ini dikutip dari Abdullah ibn Abbas bahwasanya kursiy ini adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Adapun yang menafsirkan bahwasanya kursiy ini sama dengan Arsy ini sebuah kekeliruan, bahkan di sana ada hadits yang jelas menunjukkan perbandingan antara arsy dengan kursiy menunjukkan bahwasanya arsy dengan kursiy ini sesuatu yang berbeda, arsy lebih besar daripada kursiy Allāh ﷻ.

Maka ini menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ, betapa besarnya kursiy Allāh ﷻ menunjukkan tentang kebesaran Allāh ﷻ karena yang menciptakan kebesaran Dia lebih berhak bersifat dengan kebesaran tadi, yang menciptakan kebesaran yaitu bisa menciptakan kursiy sebesar itu maka dia lebih berhak memiliki sifat kebesaran. Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Besar dan juga menunjukkan tentang qudratullah (kekuasaan Allāh ﷻ) dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Berkuasa melakukan segala sesuatu.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا

Dan tidak memberatkan Allāh ﷻ untuk menjaga keduanya. Beliau mengatakan setelahnya tidak memberatkan Allāh ﷻ dalam menjaga keduanya, yaitu menjaga langit dan juga menjaga bumi, meskipun itu adalah makhluk yang besar tapi bukan sesuatu yang berat bagi Allāh ﷻ untuk menjaga keduanya sehingga bumi terjaga dan langit juga terjaga, tidak menimpa bumi, tidak jatuh sampai dikehendaki oleh Allāh ﷻ. Berarti yang dinafikan disini adalah sifat masyakka, yaitu sifat berat, ini dinafikan dari diri Allāh ﷻ dan sesuai dengan kaidah kalau Allāh ﷻ menafikan dari diri-Nya sifat berat dalam menjaga berarti kita menetapkan kesempurnaan qudratullah, kesempurnaan kekuasaan Allāh ﷻ dan menetapkan kesempurnaan kekuatan Allāh ﷻ.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Dia-lah yang Maha Tinggi dan juga Maha Besar. Berarti di sini kita menetapkan nama Allāh ﷻ yang Maha Tinggi, tinggi dalam Dzat-Nya, tinggi dalam kedudukan-Nya, tinggi dalam kekuasaan. Dan sifat yang terkandung dalam nama Al-’Aliy adalah sifat Al-’Ulu (ketinggian). الْعَظِيمُ Yang Maha besar, sifat yang terkandung di dalamnya adalah ‘Adzoma (kebesaran), maka Allāh ﷻ Dia-lah yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang Maha Besar, tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ dan tidak ada yang lebih besar daripada Allāh ﷻ. Tidak memberatkan Allāh ﷻ dalam menjaga langit maupun bumi

Bisa kita simpulkan dari Ayat kursiy ini, disebutkan oleh Allāh ﷻ beberapa nama dan juga beberapa sifat, yang kita urutkan dari depan nama yang terkandung dalam ayat ini;

Lafdzul Jalalah, Al-Hayyu, Al-Qayyum, Al-’Ali, Al-’Adzim. Sifat yang terkandung dalam ayat ini; Al-Uluhiyah, Al-Haya, Al-Qayyum. Sifat manfiyyah yaitu sifat sina (sifat ngantuk) dengan sifat tidur. Kesempurnaan kepemilikan Allāh ﷻ, memiliki sifat idzn (mengizinkan), sifat masyi’ah, sifat ilmu. Jadi semua sifat dzatiyah ada dalam Al-Hayyu dan sifat yang muta’addiyah ini ada dalam nama Allāh ﷻ Al-Qoyyum.

Kemudian beliau mengatakan setelahnya, sehingga barang siapa yang membaca ayat ini dalam satu malam maka senantiasa dia akan dijaga,

لن يزال عليه من اللَّه حافظ

Ada malaikat yang menjaga dia, malaikat yang diutus Allāh ﷻ, dijaga dari seluruh kejelekan dan orang yang Allāh ﷻ jaga maka siapa yang bisa mengganggu orang tersebut

ولا يقربه شيطان

Dan syaiton tidak akan mendekatinya sampai dia memasuki waktu pagi. Haditsnya Abu Hurairah yang di situ beliau menceritakan bagaimana beliau didatangi oleh syaitan yang menjelma sebagai seorang manusia dan saat itu Abu Huroiroh dalam keadaan ditugasi oleh Nabi ﷺ untuk menjaga harta zakat dan kisahnya ma’ruf disini, bahwasanya dia ingin mencuri di antara harta zakat tadi kemudian di tangkap oleh Abu Hurairah kemudian dia mengatakan bahwasanya saya adalah orang yang memiliki anggota keluarga yang banyak dan saya adalah orang yang membutuhkan, kasihanilah saya dan seterusnya akhirnya di lepas oleh Abu Huroirah.

Kemudian di pagi harinya beliau menceritakan kepada Nabi ﷺ kemudian Nabi ﷺ mengatakan ketahuilah bahwasanya dia akan datang, dia akan datang kembali, benar apa yang diucapkan oleh Nabi ﷺ dia datang kembali pada malam berikutnya mau mencuri dan ditangkap kembali oleh Abu Hurairah. Kemudian mengucapkan ucapan yang sama, kemudian dilepaskan lagi oleh Abu Hurairah, kemudian pagi harinya dikabarkan kembali oleh Abu Hurairah kepada Rasulullah ﷺ dan Beliau ﷺ mengatakan dia akan kembali lagi. Dan benarlah ucapan Nabi ﷺ, dia kembali lagi dan setelah itu dia berkata kepada Abu Hurairah ketika ditangkap kemudian dia berjanji untuk mengajarkan kepada Abu Hurairah sebuah kalimat yang bermanfaat untuk beliau dia mengatakan yaitu syaiton ini mengatakan,

دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا

Supaya dia dilepas oleh Abu Huroirah, lepaskan aku, aku akan mengajarkan kepada mu beberapa kalimat yang semoga Allāh ﷻ memberikan manfaat kepada mu dengan kalimat tadi.

قُلْتُ مَا هُوَ

Kemudian Abu Huroirah mengatakan apa kalimat-kalimat tersebut, kemudian syaiton tadi mengatakan

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ

Kalau kamu akan tidur maka hendaklah engkau membaca ayat kursiy

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ

Sampai akhir ayat

فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

Sesungguhnya engkau senantiasa akan dijaga oleh seorang hafidz (penjaga) dari Allāh ﷻ, yaitu malaikat, akan dijaga oleh Allāh ﷻ dari berbagai marabahaya, Allāh ﷻ mengirimkan hafidz malaikat yang menjaga orang tersebut, dan syaiton tidak akan mendekatimu sampai engkau masuk waktu pagi.

Ini adalah ucapan dari syaiton menasehatkan kepada Abu Hurairah untuk membaca ayat kursiy ketika akan tidur, maka akupun (kata Abu Huroiroh) melepaskan dia dan di waktu pagi beliau ceritakan kepada Nabi ﷺ kemudian Nabi ﷺ mengatakan

مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ

Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا

Wahai Rasulullah dia mengatakan bahwasanya dia akan mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang semoga Allāh ﷻ memberikan manfaat kepadaku dengan kalimat-kalimat tadi maka akupun melepaskannya.

قَالَ « مَا هِىَ

Nabi ﷺ mengatakan apakah kalimat-kalimat tadi

قُلْتُ قَالَ لِى

Maka Abu Huroiroh mengatakan, dia mengatakan kepadaku

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ

Kalau engkau akan tidur maka bacalah ayat kursiy dari awal sampai akhir ayat, kemudian dia mengatakan kepadaku akan senantiasa ada penjaga dari Allāh ﷻ dan setan tidak akan mendatangimu atau mendekatimu sehingga datang waktu pagi, maka Nabi ﷺ mengatakan

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ

Ketahuilah bahwasanya dia sungguh telah jujur dalam masalah ini, berarti disini takrir dari Nabi ﷺ, apa yang diucapkan oleh syaiton tadi benar kalau kamu membaca ayat kursiy sebelum tidur di waktu malam maka Allāh ﷻ akan menjagamu sampai waktu pagi,

وَهُوَ كَذُوب

Dan dia asalnya adalah makhluk yang banyak bohongnya, cuma kali ini dia jujur. Maka kita mengambil ucapan tadi karena sudah ditakrir oleh Nabi ﷺ

Kemudian Beliau ﷺ mengatakan

تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ

Tahukah kamu siapa yang engkau ajak bicara semenjak tiga malam yang lalu wahai Abu Huroiroh

قَالَ لاَ

Abu Huroiroh mengatakan tidak

قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ

Beliau ﷺ mengatakan itu adalah syaiton.

Ini adalah dalil yang menunjukkan tentang apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam tadi dan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari didalam shahihnya. Dengan demikian kita sudah menyelesaikan penjelasan dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwasanya masuk di dalam kaidah ini apa yang Allāh ﷻ sebutkan didalam surat al-ikhlas dan juga ayat kursiy di mana keduanya memiliki keistimewaan, ayat kursiy adalah ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an dan surah Al-Ikhlas dia adalah surat yang sebanding dengan sepertiga dari Al-Qur’an.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته