Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah-Halaqah 13

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 13 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 01 QS Al-Hadid Ayat 3

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-13 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Setelah mendatangkan ayat yang berkaitan dengan nama Allāh Al-Hayyu yang mengandung sifat Al-Haya maka beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Disini ada 7 ayat, 1) Surat Al-Hadid, 2) At-Tahrim وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيم, kemudian 3) At-Tahrim lagi, kemudian 4) Surah Saba’, kemudian 5) surah Al-Anam, kemudian 6) surat Fatir, kemudian 7)surat At-Talaq. Ini ada 7 ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ.

Beliau kumpulkan jadi satu supaya mudah bagi kita, dan itu yang akan beliau lakukan setelahnya, mengumpulkan beberapa ayat yang menunjukkan tentang satu sifat, kemudian mengumpulkan beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang satu sifat, ada yang mutajanis (sejenis) beliau kumpulkan, tentunya untuk memudahkan kita dalam menghafal. Dan di sini beliau mendatangkan ayat dan juga mendatangkan hadits, isyarat bahwasanya yang namanya nama dan juga sifat Allāh ﷻ ini adalah tauqifiyah, kita menerima jadi dari Allāh ﷻ dan juga rasul-Nya.

Beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ: هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dia-lah (Allāh ﷻ) Al-Awwal. Yang dimaksud dengan Al-Awwal adalah yang tidak ada sesuatu yang mendahului Allāh ﷻ.

وَالآخِرُ

Yang dimaksud dengan Akhir, tidak ada suatu setelah Allāh ﷻ artinya Dia yang terakhir. Dia-lah yang tidak akan meninggal, Dia-lah yang tidak akan musnah, Dia-lah yang akan ada selamanya.

وَالظَّاهِرُ

Yang dimaksud dengan Dzohir adalah Yang Maha Tinggi, yang tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada Allāh

وَالْبَاطِنُ

Adalah Dzat Yang Maha Mengetahui perkara sedalam-dalamnya, sebatin-batinnya. Dan ini ditafsirkan oleh Rasulullah ﷺ di dalam sebuah hadits dan tentunya ini adalah tafsir yang paling baik, karena ketika seseorang menafsirkan Al-Qur’an yang paling baik adalah

*Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an

*Menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi ﷺ.

Kalau sudah ditafsirkan oleh Nabi ﷺ, kita pegang erat-erat apa yang Beliau ﷺ sampaikan.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dimana hadits ini menceritakan tentang adab diantara adab-adab ketika seseorang akan tidur. Disebutkan Abu Sholih memerintahkan murid-muridnya kalau salah seorang di antara mereka ingin tidur maka hendaklah mereka berbaring di atas badan bagian kanan kemudian dia mengatakan

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ اْلأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَاْلإِنْجِيْلَ وَالْفُرْقَانَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ

Ya Allāh ﷻ Engkau adalah yang awwal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu.

Allāh ﷻ Dia-lah yang tidak didahului dengan ketidak adaan, Allāh ﷻ dari dulu ada.

وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ

Dan Engkau adalah akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu. Artinya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Hidup, Dia-lah yang akan ada selamanya, dan ini adalah sifat Dzatiyah bagi Allāh ﷻ. Al-Awwal di dalamnya ada sifat Al-Awwaliyyah, Al-Akhir di dalamnya ada sifat Al-Akhiriyah, berarti di sini kita menetapkan dua nama bagi Allāh ﷻ, Al-Awwal Al-Akhir, Al-Awwal mengandung sifat Awwaliyah, Al-Akhir mengandung sifat Al-Akhiriyah

وَأَنْتَ الظَّاهِرُ

Dan Engkau adalah Adz-Dzohir. Adz-Dzohir artinya adalah Tinggi atau Yang Maha Tinggi, kalimat dzuhur artinya adalah tinggi sebagaimana dalam surat Al-Kahfi Allāh ﷻ ketika menceritakan tentang ya’juj dan juga ma’juj

فَمَا ٱسْطَٰعُوٓا۟ أَن يَظْهَرُوهُ

Mereka, yaitu ya’juj dan juga ma’juj tidak mampu untuk يَظْهَرُوهُ, yaitu naik ke atas tembok raksasa atau dinding raksasa yang dibuat oleh Dzulqarnain, karena sangat tingginya tembok tadi mereka tidak bisa menaiki, naik ke sana adalah sesuatu yang sulit bagi mereka licin dan dia adalah tinggi, mereka tidak mampu untuk menaiki tembok raksasa tadi.

وَمَا ٱسْتَطَٰعُوا۟ لَهُۥ نَقْبًا

Dan mereka tidak mampu untuk melubangi, karena dia adalah terbuat dari logam yang sangat kuat mereka tidak mampu melubangi, jadi naik ke atas tidak bisa melubangi yang di bawah juga tidak bisa. Disini syahid bahwasanya makna dzuhur adalah tinggi. Adz-Dzohir artinya adalah Yang Maha tinggi.

فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ

Tidak ada sesuatu di atas Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Tinggi. Berarti disini kita menetapkan sifat tinggi bagi Allāh ﷻ. Kemudian

وَأَنْتَ الْبَاطِنُ

Dan Engkau adalah Al-Bathin, Engkau adalah Yang Maha Bathin. Bathin adalah dalam, وَأَنْتَ الْبَاطِنُ maksudnya Engkau adalah yang paling dalam

فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ

Maka tidak ada yang lebih dalam dari-Mu. Maksudnya adalah Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu sampai yang paling dalam, yang dzhohirnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, batinnya (dalam-dalamnya) juga Allāh ﷻ Maha Mengetahui.
Berarti di sini di antara nama Allāh ﷻ adalah Adz-Dzhohir, sifatnya adalah Adz-Dzhuhur, diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-Bathin dan sifatnya adalah Allahu A’lam bathiniyah, yang Dzhohir juga bisa juga sifat Dzhohiriyah atau sifat di sini sifat bathiniya. Kita terapkan bagi Allāh ﷻ karena setiap nama ini mengandung sifat.

Berarti Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Tinggi, meskipun Allāh ﷻ Maha Tinggi tidak ada yang lebih tinggi daripada Allāh ﷻ, tapi ternyata Allāh ﷻ yang paling mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya. Allāh ﷻ Maha tinggi di atas dan kita berada di sini di bawah tapi yang lebih mengetahui tentang perincian apa yang ada disekitar kita sedalam-dalamnya adalah Allāh ﷻ. Jadi tidak ada di sana pertentangan antara ketinggian Allāh ﷻ dengan Maha Tahunya Allāh ﷻ, Dia-lah Adz-Dzhohir, Dia-lah Al-Bathin, Dia-lah Yang Maha Tinggi dan Dia-lah yang mengetahui batin-batin seluruh perkara sampai sedalam-dalamnya. Dia-lah yang awal dan Dia-lah yang akhir, Dia-lah yang awal yang tidak didahului dengan sesuatu dan tidak akan binasa, Dia-lah Yang Maha Hidup.

اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ

Ya Allāh ﷻ tunaikanlah, bayarkanlah utang kami

وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Dan cukupkanlah kami dari kefaqiran, artinya cukupkanlah kami dan jauhkan kami dari kefaqiran.

Ini termasuk dzikir yang disyariatkan sebelum kita tidur, di situ ada pujian kepada Allāh ﷻ, ada bertawasul kepada Allāh ﷻ, bertawasul dengan rububiyah Allāh ﷻ kemudian juga bertawasul dengan nama-nama Allāh ﷻ, kemudian di situ ada permintaan kepada Allāh ﷻ supaya di hilangkan atau ditunaikan hutangnya dan dicukupi dari kefaqiran. Hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ.

Maka ini adalah tafsir yang paling baik karena ditafsirkan langsung oleh nabi kita Muhammad

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Dan Dia-lah yang dengan segala sesuatu Maha Mengetahui, dan disini syahid وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Segala sesuatu mencakup apa saja, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, yang sekarang, di masa yang akan datang, semuanya masuk dalam بِكُلِّ شَيْء segala sesuatu. Segala sesuatu baik yang ada dibumi maupun apa yang ada dilangit, segala sesuatu baik yang berkaitan dengan dzat makhluk-Nya maupun perbuatan-perbuatan mereka.

بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu. Dari sini kita mengetahui tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ. Apakah makhluk memiliki ilmu? Na’am ilmu juga merupakan sifat makhluk. Allāh ﷻ menyebutkan dalam Al-Qur’an menyifati sebagian nabi-Nya bi ghulamin ‘alim (seorang anak yang mengetahui), makhluk juga memiliki sifat Ilm.

Apakah ketika kita menetapkan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Nyatanya tidak. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna seperti tadi kesempurnaannya, segala sesuatu diketahui Allāh ﷻ yang telah berlalu maupun yang akan datang. Kalau ilmu kita ilmu yang sangat terbatas.

وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

[Al-Isra’:85]

Tidaklah kalian diberikan dari ilmu ini kecuali sangat sedikit. Silakan Antum membaca buku sebanyak-banyaknya, belajar sebanyak-banyaknya, berapa sih yang kita dapatkan dari ilmu. Ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang sangat luas. Berarti ketika seseorang menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ, bukan berarti dia menyamakan dengan makhluk, ilmu Allāh ﷻ adalah ilmu yang Maha Sempurna, tidak didahului dengan kebodohan seperti kita dan tidak diakhiri dengan lupa atau hilang ingatan, itu ilmu Allāh ﷻ tidak didahului oleh kebodohan, beda dengan ilmu kita.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا

[An-Nahl:78]

Allāh ﷻ mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu. Setelah itu kita besar kemudian kita belajar dan banyak perkara yang kita ketahui, ketika kita sudah tua ada diantara kita yang sudah mulai berubah, sebelumnya dia tahu dan hafal nama anak-anaknya, sekarang ditanya ini siapa dia tidak tahu. Kemarin dia mahir dalam matematika sekarang dia satu tambah satu saja tidak bisa, itulah ilmu manusia.

Allāh ﷻ Dia-lah yang بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم Dia-lah yang Maha mengetahui segala sesuatu. Kalau demikian maka kita meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengetahui segala sesuatu dan Allāh ﷻ memuliakan orang-orang yang berilmu, maka kita meminta sebagian dari ilmu Allāh ﷻ, meminta ilmu kepada Allāh ﷻ, Dia-lah yang mengajarkan kita.

Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ berdoa kepada Allāh ﷻ untuk Abdullah ibn Abbas

اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

Ya Allāh ﷻ jadikan dia paham tentang agamanya dan ajarkan kepada dia ilmu tafsir. Karena Allāh ﷻ Dia-lah yang yufaqqih dan Dia-lah yang yu’allim.

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki kebaikan maka Allāh ﷻ akan menjadikan dia paham tentang agamanya. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ

[An-Nisa’:113]

Dan Allāh ﷻ mengajarkan kepadamu apa yang engkau tidak tahu. Dan Allāh ﷻ mengatakan

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

[Al-’Alaq:5]

Dia-lah yang mengajarkan manusia sesuatu yang dia tidak tahu sebelumnya.

Mintalah kepada Allāh ﷻ, Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, mintalah kepada Allāh ﷻ ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada para ulama kita. Sehingga sebagian salaf dahulu atau sebagian ulama seperti Ibnu Hajar, ketika dia mengetahui bagaimana luasnya ilmu yang Allāh ﷻ berikan kepada Al-Imam Adz-Dzahabi beliau berdoa kepada Allāh ﷻ minta supaya diberikan ilmunya Al-Imam Adz-Dzahabi karena dia tahu bahwasanya yang memberikan ilmu kepada Adz-Dzahabi adalah Allāh ﷻ.

Maka ini adalah pemahaman bagi kita, ketika kita melihat, takjub, masya Allāh syekh fulan syekh fulan memiliki ilmu luar biasa, kembali kita kepada Allāh ﷻ, ya Allāh ﷻ ajarkan kepadaku ilmu agama sebagaimana engkau berikan kepada misalnya Syaikhul Islam kepada Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar. Sebagian kita mungkin tidak sampai ke situ dia memikirkan, dia mengatakan masyaAllāh ﷻ syekh fulan demikian dan demikian tidak sampai kepada merendahkan diri kepada Allāh ﷻ untuk mendapatkan ilmu agama ini.

Maka ini adalah ayat yang pertama, menunjukkan kepada kita tentang, pertama penetapan nama Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin dan juga nama Allāh ﷻ Al-’Alim. Kemudian kandungan sifatnya di sini Al-Awaliyah, Al-Akhiriyah, Adz-Dzhohiriya, Al-Bathiniya dan sifat Al-’Ilmu.

Sebagian mengatakan هُوَ الأَوَّل disini adalah mubtada’ dan juga khobar, khobarnya disini ma’rifah, mubtada’nya juga ma’rifah, jelas, maka kalau sama-sama ma’rifah seperti ini menunjukkan kekhususan, artinya nama Allāh Al-Awwal, Al-Akhir, Adz-Dzhohir, Al-Bathin ini khusus bagi Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته