Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 14

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 14 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Nama Allāh Al-‘Alim Dan Sifat Ilmu Bagi Allāh ﷻ Bag 02 QS At-Tahrim Ayat 2 dan 3, Saba Ayat 2, dan Al-Anam 59

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-14 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau mendatangkan beberapa ayat yang isinya adalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ

Dan juga nama Allāh ﷻ

وَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui lagi Maha Al-Hakim. Syahidnya disini adalah وَهُوَ الْعَلِيمُ dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui. Nama Allāh Al-‘Alim kita tetapkan dan mengandung sifat Al-‘Ilmu, Al-Hakim, Dia-lah yang Maha Al-Hakim bisa diartikan Maha Bijaksana bisa diartikan Maha Menghukum dan bisa juga diartikan Maha Kokoh, kokoh dalam menciptakan dalam mensyariatkan.

Kenapa kita katakan di sini bisa diartikan macam-macam, karena Al-Hakim ini adalah nama Allāh ﷻ yang mengandung minimal tiga sifat.

Pertama adalah mengandung sifat Al-Hikmah (bijaksana), Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana,

Kedua mengandung sifat Al-Hukum, Dia-lah yang menghukumi,

Ketiga sifatnya adalah sifat Al-Ihkam yang artinya adalah itsqan yaitu kokoh dan teliti, sempurna, kuat.

Berarti ada tiga sifat yaitu Al Hikmah, Al Hukum, dengan Al-Ihkam.

Hikmah yaitu Allāh ﷻ Maha Bijaksana, maksud bijaksana adalah meletakkan sesuatu pas pada tempatnya, tidak ada yang meleset, tidak ada yang kurang. Allāh ﷻ itu hikmah dan Maha Bijaksana baik dalam syariat-Nya maupun dalam penciptaan.

Dalam syariat-Nya, yaitu di dalam Al-Qur’an atau di dalam Sunnah, syariat yang ada dalam agama Islam ini penuh dengan hikmah. Kalau Allāh ﷻ mensyariatkan sesuatu yakin pasti di sana ada hikmahnya, Allāh ﷻ Maha Bijaksana. Kenapa shalat lima kali, kenapa salat dzuhur setelah tergelincirnya matahari, kenapa maghrib setelah terbenamnya matahari, yakin di situ ada hikmanya. Kenapa kita disyariatkan untuk puasa Syawal, kenapa ada syariat puasa tiga hari setiap bulan, kenapa disana rawatib, kita yakin bahwasanya di dalam setiap apa yang disyariatkan oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada hikmanya, kebaikan kembali untuk diri kita sendiri baik di dalam apa yang Allāh ﷻ perintahkan maupun apa yang Allāh ﷻ larang. Allāh ﷻ melarang untuk berzina Allāh ﷻ melarang untuk melihat sesuatu yang diharamkan maka pasti di sana ada hikmahnya.

Dan ditahun-tahun terakhir ini banyak penelitian misalnya tentang akibat seseorang melihat sesuatu yang diharamkan, melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat padahal itu adalah perkara yang diharamkan. Bagaimana itu pengaruhnya terhadap otak seseorang, disana ada hormon tertentu yang akan keluar ketika seseorang melihat perkara yang diharamkan, tetapi ketika itu berlebih-lebihan akhirnya akan banjir hormon tersebut yang akhirnya akan mempengaruhi daya pikir seseorang, menjadi orang yang bodoh, menjadi orang yang tidak bisa berpikir, susah untuk menghafal dan lain-lain.

Berarti secara syariat dilarang oleh Allāh ﷻ dan secara ilmiah dan ini menunjukkan hikmah Allāh ﷻ, ketahuilah bahwasanya dalam syariat yang lain ini juga demikian. Kenapa seorang wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, pasti disana ada hikmahnya, ada yang mengatakan bahwasanya kulit wanita ini berbeda dengan kulit laki-laki, dia mudah terkena mudhorot ketika terkena matahari secara langsung berbeda dengan kulit laki-laki misalnya, jadi di sana ada maslahat tersendiri bagi kita.
Seorang muslim meskipun dia tidak tahu tentang hikmah tadi maka dia beriman, melaksanakan apa yang Allāh ﷻ perintahkan dan meninggalkan apa yang Allāh ﷻ larang dengan hati yang tenang dan yakin itu adalah untuk kebaikan ana sendiri. Orang yang menjalani syariat ini maka dia akan hidup dengan nyaman, hidup dengan sehat.

Hikmah di dalam syariat dan juga hikmah di dalam penciptaan. Ketika Allāh ﷻ menciptakan maka itu semuanya dengan penuh perhitungan, berdasarkan ilmu, Allāh ﷻ menciptakan kita sebagai manusia sudah dengan ilmu dan dengan perhitungan yang sangat matang yang sangat bijaksana, Dia-lah yang menciptakan kita fī aḥsani taqwīm, dengan bentuk yang sangat indah, tangan yang proporsional, kakinya juga demikian, posisinya juga luar biasa, di taruh posisi tangan di sini supaya kita lebih leluasa untuk melakukan berbagai pekerjaan kita, diberikan kita dua tangan bukan satu tangan, diberikan tangan ini jari-jemari yang dengannya kita bisa memegang banyak hal, diberikan kita gigi dan gigi nya bermacam-macam ada yang fungsinya untuk mengunyah ada yang fungsinya untuk mencabik, disana ada lidah yang digunakan untuk menggerakkan makanan ke kanan dan juga kekiri, di sana ada zat yang bisa mematikan kuman, disana ada yang melembutkan, disana ada yang menyerap, disana ada yang mengedarkan, Subhanallāh, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Bijaksana.

Siapa yang menciptakan yang demikian selain Allāh ﷻ, Dia-lah Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana dalam penciptaan. Siang dan juga malam di bolak balik oleh Allāh ﷻ, hikmah yang sangat dalam, penciptaan langit, penciptaan bumi, bagi orang yang memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allāh ﷻ ini maka dia akan mendapatkan bagaimana Allāh ﷻ Dia-lah yang Al-Hakim Dia-lah Yang Maha Bijaksana baik di dalam syariatnya maupun dalam penciptaannya.

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang menghukumi baik hukum syar’I, Allāh ﷻ menurunkan hukum-hukum-Nya didalam syariat, maka Allāh ﷻ Dia-lah Al-Hakim yang menurunkan hukum syar’i maupun hukum yang kauni, Allāh ﷻ yang menciptakan.

Demikian pula Al-Ihkam, diantara sifat yang terkandung dalam Al-Hakim adalah Al-Ihkam yaitu kokoh, kokoh dalam syariat maupun kokoh dalam penciptaan maka Allāh ﷻ Dia-lah Al Hakim Yang Maha Bijaksana Yang Maha Menurunkan Hukum, Dia-lah Yang Mutkin dalam hukum-Nya.

Ayat yang selanjutnya adalah firman Allāh ﷻ

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Dia-lah Al-Khobir, syahidnya di sini adalah Al-‘Alim, Allāh ﷻ menetapkan dalam ayat ini nama Allāh Al-‘Alim ini adalah syahidnya, ditambah lagi dengan Al-Khabir.

Ayat yang sebelumnya Al-‘Alim Al-Hakim, hubungan antara hikmah dengan ilmu yang namanya hikmah ini berdasarkan ilmu, seseorang bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya kalau dia memiliki ilmu, adapun orang yang jahil maka dia ngawur dalam meletakkan sesuatu. Kalau kita memang ingin bijaksana, menjadi orang yang bijaksana maka hendaklah kita menuntut ilmu agama, menuntut ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah maka kita akan menjadi orang yang bijaksana adapun orang yang tidak memiliki ilmu maka bagaimana dia akan menjadi orang yang bijaksana.

الْعَلِيمُ الْخَبِير

Hubungan antara Al-’Alim dengan Al-Khabir, Al-Khabir mengandung sifat khibrah artinya pengalaman dalam bahasa kita, yang dimaksud dengan khibrah dalam bahasa Arab adalah ilmu yang sempurna dan ilmu yang mendalam, yang teliti, itu dinamakan dengan khibrah, khibrah ini adalah kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu tadi. Berarti di sini ada makna yang za’id (tambahan), bukan hanya sekedar ilmu tapi kesempurnaan ilmu dan juga ketelitian ilmu.

Makanya antara tahu dengan berpengalaman ini lebih dalam berpengalaman. Dia pengalaman artinya sudah bertahun-tahun dan sudah mengetahui luar dalamnya, ini pengalaman. Allāh ﷻ Dia-lah Al-Alimul Khobir, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan dua ayat ini untuk menguatkan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Al-’Alim dan diantara sifat Allāh ﷻ adalah Al-‘Ilmu.

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ dalam Surat Saba’

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Allāh ﷻ Dia-lah Al-’Alim dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Dia-lah Al-Khabir Yang Maha Mengetahui perkara dalam sampai yang sedetail-detailnya, Dia-lah Al-Bathin yang mengetahui seluruh perkara sedalam-dalamnya, maka di sana ada ayat yang memperinci ilmu Allāh ﷻ diantaranya adalah surah Saba ini, untuk menunjukkan kepada kita tentang bagaimana kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ

يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأَرْضِ

Allāh ﷻ mengetahui setiap apa yang masuk ke dalam bumi, yaliju artinya adalah yadkhulu, Allāh ﷻ mengetahui setiap yang masuk kedalam bumi. Disana ada benda-benda, makhluk-makhluk yang masuk ke dalam bumi, semut misalnya, cacing misalnya di atas kemudian dia masuk ke sarangnya, atau air yang turun dari atas masuk ke dalam bumi juga atau orang yang meninggal dunia dikuburkan ke dalam bumi, seluruh perkara atau seluruh benda seluruh makhluk yang masuk ke dalam bumi Allāh ﷻ يَعْلَم, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang masuk ke dalam bumi kecuali Allāh ﷻ tahu apa yang masuk dalam bumi tadi. مَا disini menunjukkan umumnya, apa saja, tidak mungkin masuk ke dalam bumi sesuatu yang tidak diketahui oleh Allāh ﷻ

وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا

Dan Allāh ﷻ mengetahui apa yang keluar dari bumi. Air keluar dari bumi, barang tambang misalnya keluar dari bumi, minyak bumi, emas misalnya, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui, apa yang keluar dari bumi itu di bawah Ilmu Allāh ﷻ. Tumbuhnya tunas misalnya keluar dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, keluarnya setetes air atau sedikit air dari bumi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, itu dibawah ilmu Allāh ﷻ, keluarnya minyak bumi itu adalah dengan ilmu Allāh ﷻ, keluarnya lahar misalnya dari gunung berapi maka itu Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ, yang masuk ke dalam bumi yang keluar dari bumi, Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء

Dan apa yang turun dari langit, kalau tadi Allāh ﷻ bicara tentang bumi sekarang bicara tentang langit, makhluk Allāh ﷻ yang sangat besar. Yang turun darinya Allāh ﷻ mengetahui, seperti malaikat Jibril yang datang dari atas menyampaikan wahyu pada seorang nabi atau malaikat-malaikat sebagaimana yang Allāh ﷻ sebutkan dalam surat Al Qadr. Atau yang datang dari atas, مِنَ السَّمَاء di sini juga bisa diartikan dari atas, seperti misalnya hujan, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun berapa kubik dan di mana dia akan turun dan kapan turunnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا

Dan apa yang naik ke atas, baik itu malaikat-malaikat yang Allāh ﷻ tugaskan, karena setiap hari ada malaikat-malaikat yang bergantian naik turun, dan di sana ada amalan-amalan yang naik ke atas disampaikan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang turun dari atas maupun yang naik ke atas tidak ada yang samar bagi Allāh ﷻ. Tidak mungkin ada yang naik dan tidak mungkin ada yang turun dan itu tidak diketahui oleh Allāh ﷻ, semuanya dengan ilmu Allāh ﷻ, ini menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ Maha Mengetahui segala sesuatu, ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ.

Didalam ayat yang lain yaitu surat Al-An’am, Allāh ﷻ mengatakan

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Dan di sisi-Nya ada kunci-kunci ilmu ghoib, ada yang mengartikan kunci-kunci di sini adalah khozā’in yaitu perbendaharaan ilmu ghoib itu di sisi Allāh ﷻ.

لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ

Tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Disebutkan dalam sebuah hadits tentang makna مَفَاتِحُ الْغَيْبِ, Nabi ﷺ mengatakan

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ

Kunci-kunci ilmu ghoib itu ada lima, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Haditsnya Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.

لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلاَّ اللَّهُ

>>Tidak ada yang mengetahui apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allāh ﷻ, yaitu yang mengetahui dia kelak akan menjadi seorang laki-laki atau wanita dan seterusnya, tidak ada yang mengetahui yang demikian kecuali Allāh ﷻ, ini sebelum Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat, setelah Allāh ﷻ mengabarkan kepada malaikat dia laki-laki atau perempuan maka ini tidak lagi menjadi ilmu ghoib karena sudah diberitahukan oleh Allāh ﷻ kepada malaikat sehingga bisa diketahui laki-laki atau wanita setelah berapa bulan, yaitu kalau sudah diketahui berarti ini bukan lagi ilmu ghoib tapi sebelumnya tidak ada yang bisa mengetahui.

وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلاَّ اللَّهُ

>>Dan tidak mengetahui apa yang terjadi besok kecuali Allāh ﷻ.

Dukun tidak tahu, tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang kecuali Allāh ﷻ, bahkan dusta setiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib, para peramal para dukun yang dengan berbagai cara mereka menipu manusia.

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلاَّ اللَّهُ

>>Tidak mengetahui kapan akan datang hujan seorangpun kecuali Allāh ﷻ. Dengan ilmu yang yakin di atas keyakinan besok akan terjadi hujan, yang mengetahui hanya Allāh ﷻ saja, kalau kita hanya memperkirakan, disana ada mendung itu kita hanya memperkirakan saja adapun ilmu yang pasti yang mengetahui Allāh ﷻ.

وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلاَّ اللَّهُ

>>Sebuah jiwa tidak mengetahui kapan dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ, dimana dia meninggal dunia kecuali Allāh ﷻ

وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ اللَّهُ

>>Dan tidak mengetahui kapan terjadinya As-Sa’ah (tiupan sangkakala yang pertama) kecuali Allāh ﷻ.


Ini adalah مَفَاتِحُ الْغَيْبِ lima perkara yang merupakan kunci ilmu ghoib, tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Dan Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui apa yang ada di darat maupun yang ada di lautan. Yang ada di darat seluruhnya Allāh ﷻ Maha Mengetahui, tentang diri kita, tentang makhluk yang lain, pohon, hewan dan apa yang ada di dalam daratan maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan apa yang ada di lautan dengan berbagai jenis ikannya dan benda-benda yang ada di dalamnya, kapal-kapal yang karam dan seluruh makhluk hidup dan makhluk yang mati di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui.

Dia-lah Allāh ﷻ yang mengetahui segala sesuatu apa yang terjadi di lautan, mungkin di sana ada peninggalan-peninggalan Firaun yang dikisahkan dalam Al-Qur’an tenggelamnya dia di dalam laut, dan kapal-kapal yang besar yang mereka tenggelam dan tidak diketahui kabarnya, Allāh ﷻ Maha Mengetahui apa yang terjadi di dalam sana, Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di darat maupun di laut.

وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا

Dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allāh ﷻ mengetahui, Subhanallāh, jatuhnya daun misalnya di malam hari dan kalau kita hitung berapa jumlah daun yang ada dibumi, satu persatu jatuhnya dia Allāh ﷻ Maha Mengetahui, kapan jatuhnya, karena sebab apa karena angin atau karena digoyang oleh orang, di mana dia jatuhnya, bagaimana dia jatuhnya itu tidak lepas dari ilmu Allāh ﷻ. Kalau yang demikian saja Allāh ﷻ mengetahui lalu bagaimana dengan yang perkara-perkara yang lain.

وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ

Dan tidak pula biji-bijian yang ada dalam kegelapan-kegelapan bumi. Karena cahaya tidak sampai ke dalam sana tapi biji-bijian yang ada di sana Allāh ﷻ Maha Mengetahui, dan kita tidak melihat ternyata mungkin di bawah rumah kita ada biji ini, ternyata di sana ada biji ini, di bawah bumi itu banyak biji-bijian, mungkin terbawa air, mungkin di bawah burung atau dilempar oleh seseorang, bentuknya kecil tapi Allāh ﷻ Maha Mengetahui, ketika turun hujan tertimpa air kemudian Allāh ﷻ menghendaki dia untuk tumbuh.

وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِين

Dan tidak ada sesuatu yang basah ataupun yang kering kecuali itu semuanya ada dalam kitab yang jelas, yaitu dalam lauh al-mahfudz. Bagaimana seseorang ragu bahwasanya Allāh ﷻ memiliki ilmu yang Maha Sempurna. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنثَى وَلا تَضَعُ إِلاَّ بِعِلْمِه

Dan tidaklah seorang wanita mengandung dan tidak melahirkan kecuali dengan ilmu Allāh ﷻ. Mengandung sebabnya apa, berapa lama dia mengandung, apa yang terjadi dalam perutnya dan ketika melahirkan juga demikian kapan dia akan lahir, Allāh ﷻ yang menentukan Allāh ﷻ Yang Maha Mengetahui, dimana dia akan melahirkan Allāh ﷻ yang juga mengetahui tidak ada yang luput dari ilmu Allāh ﷻ. Kemudian ayat yang terakhir

وَقَوْلُهُ: لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Supaya kalian mengetahui bahwa Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu dan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmunya meliputi segala sesuatu. Ini Allāh ﷻ sebutkan setelah Allāh ﷻ menyebutkan tentang penciptaan Allāh ﷻ terhadap tujuh langit dan juga bumi, Allāh ﷻ mengatakan

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ

[At-Talaq:12]

Allāh ﷻ Dia-lah yang menciptakan tujuh langit dan bumi yang semisalnya, ada yang mengatakan bumi juga tujuh,

يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ

Perintah Allāh ﷻ turun antara langit dan bumi, yaitu Allāh ﷻ mewahyukan kepada seorang nabi seorang rasul

لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Supaya kalian mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu. Yaitu Allāh ﷻ menciptakan diantara faedahnya supaya kita paham, supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.

Jadi tidak ada keputusasaan pada diri seorang muslim tidak ada putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ Dia-lah yang untuk mampu melakukan segala sesuatu, Dia-lah yang bisa menghilangkan dari kita bala’ dalam sekejap dalam sedetik atau kurang dari sedetik Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya, senantiasa ada dalam diri seorang muslim harapan, keluar dari berbagai problem baik problem pekerjaan atau rumah tangga, Allāh ﷻ mampu untuk menolong dia dan melakukan apa yang kita minta dari Allāh ﷻ.

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan supaya kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kalau kita memperhatikan ciptaan Allāh ﷻ langit maupun bumi dan bagaimana itqannya (detailnya) Allāh ﷻ menciptakan ciptaan tersebut, di sini kita mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ ilmunya adalah sangat-sangat luas dan sangat detail, berarti ayat ini juga menunjukkan kepada kita bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat ilmu, yaitu dalam Firman-Nya

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan bahwasanya ilmu Allāh ﷻ ini meliputi segala sesuatu.

Disana ada aliran atau orang yang menyimpang dalam masalah penetapan sifat ilmu bagi Allāh ﷻ dan ayat-ayat ini membantah itu semua, seperti misalnya orang-orang qadariyah yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya, ini adalah keyakinan yang menyimpang dan jelas ini bertentangan dengan firman-firman Allāh ﷻ yang sudah disebutkan oleh Syaikhul Islam sebagiannya dalam kitab ini. Dia mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ tidak mengetahui kecuali setelah terjadinya, padahal Allāh ﷻ mengatakan

وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Dan dalam ayat kursiy

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

Allāh ﷻ mengetahui apa yang sudah berlalu dan apa yang akan terjadi, maka ini menunjukkan tentang kesempurnaan ilmu Allāh ﷻ, tidak seperti yang di yakini oleh sebagian firoq dhollah (aliran yang sesat), ini semua karena mereka tidak kembali kepada Al-Qur’an dan juga hadits dengan pemahaman para salaf, dan mereka kembali kepada akal-akal mereka sendiri sehingga terjatuh lah mereka ke dalam kesesatan.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته