Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah | Halaqah 15

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah Halaqah 15 | Penjelasan Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Adz-Dzariyat Ayat 58

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-15 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masih kita pada penyebutan ayat-ayat Al-Qur’aniyyah yang berisi tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Setelah kita membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allāh ﷻ Al-’Ilm dan nama Allāh ﷻ Al-‘Alim maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan setelahnya nama Allāh ﷻ yang lain dan juga sifat.

Allāh ﷻ menyebutkan di dalam surat Adz-Dzariyāt, nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Syaikhul Islam mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Memberikan Rezeki, yang memiliki kekuatan yang sangat kokoh.

Disebutkan di dalam ayat ini empat nama Allāh ﷻ,

pertama adalah lafdzul jalalah Allāh ﷻ, kemudian Ar-Razzaq, kemudian Dzul Quwwah dan yang keempat adalah Al-Matīn, dan masing-masing dari nama ini mengandung sifat.

Adapun lafdzul jalalah maka sifatnya adalah Al-Uluhiyah, Ar-Rozzaq sifatnya adalah Rozq, Dzul Quwwah sifatnya adalah Al-Quwwah, Al-Matīn sifatnya adalah Al-Matanah.

إِنَّ اللَّهَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ.

Nama Allāh ﷻ yang paling agung dan ini pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat para ulama dan ini adalah nama yang paling banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Nama yang lain dinisbahkan kepada Allāh ﷻ mengatakan bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rahman, diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rohim. Dan tidak sebaliknya diantara nama Ar-Rahman adalah Allāh ﷻ, yang benar diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rahman.

Dan sifat yang terkandung di dalamnya adalah sifat Al-Uluhiyah, sifat ketuhanan dan ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah satu-satunya dzat yang berhak untuk disembah karena Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, sifat-sifat Uluhiyah yang dengannya dia berhak untuk disembah. Dan tidak boleh seorang makhluk memiliki nama ini, karena nama ini mengandung sifat yang tidak berhak menyandang dan memiliki sifat tersebut kecuali Allāh ﷻ, seandainya disana ada makhluk yang disifati dengan sifat uluhiyah oleh makhluk yang lain maka ini adalah kezdoliman, ini adalah kebathilan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ
[Al-Hajj:6]

Yang demikian karena Allāh ﷻ Dia-lah yang benar.

Dia-lah yang memang memiliki sifat-sifat uluhiyah.

وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَٰطِلُ
[Al-Hajj:62]

Dan sesungguhnya apa yang disembah selain Allāh ﷻ itu adalah bathil.

Disifati dengan ketuhanan tapi dia tidak memiliki sifat ketuhanan, yang namanya ilāh adalah yang menciptakan, sementara mereka tidak menciptakan. Al ilāhul haqq, Dia-lah yang mengatur sementara mereka bukan mengatur tapi diatur, maka mereka adalah sesembahan-sesembahan yang bathil.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah, dan هُوَ di sini dinamakan dengan dhamir mufashal (dhamir yang digunakan untuk memisahkan) dan diantara faedahnya adalah untuk menunjukkan ikhtishash yaitu menunjukkan kekhususan. Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang Ar-Razzaq, dan hanya Allāh ﷻ saja yaitu khusus bagi Allāh ﷻ. Ar-Rozzaq nama Allāh ﷻ mengandung sifat Rozq dengan memfathah ر, dan ini adalah sifat atau mashdar, adapun Rizq dengan menkasrah ر maka ini artinya adalah rezeki. Lain antara Rozq dengan tadi Rizq, sifat yang terkandung dalam Ar-Rozzaq adalah Rozq bukan Rizq karena Rizq ini makhluk, rezeki yang Allāh ﷻ berikan kepada makhluk-Nya maka ini adalah makhluk. Adapun Rozq maka ini adalah sifat Allāh ﷻ, dan sifat Allāh ﷻ bukan makhluk.

Rozzaq wazannya adalah فعّال, dan ini adalah termasuk sighah mubalaghah untuk menunjukkan bagaimana Allāh ﷻ sangat memberikan rezeki. Kalau kita berbicara tentang bagaimana Allāh ﷻ sangat memberikan rezeki, dilihat dari berapa banyak yang diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ, manusia saja kalau kita hitung berapa miliar jumlah mereka, ini yang masih hidup atau sedang hidup sekarang, yang sudah meninggal dunia dan yang akan meninggal dunia dan yang akan datang, semuanya Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada mereka. Dari semenjak mereka dihidupkan oleh Allāh ﷻ sampai mereka meninggal dunia, belum makhluk Allāh ﷻ yang lain.

Semut yang jumlahnya tidak mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ dalam sarang-sarang mereka, ikan-ikan yang tidak ada habisnya, Allāh ﷻ hidupkan di dalam air dalam laut, Allāh ﷻ juga berikan rezeki kepada mereka dari dulu sampai sekarang, seluruh makhluk Allāh ﷻ berikan rezeki kepada mereka. Allāh ﷻ ciptakan mereka dan Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada mereka dari semenjak mereka awal hidup sampai mereka meninggal dunia.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا
[Hūd:6]

Tidak ada sesuatu yang melata (merangkak) di permukaan bumi ini kecuali atas Allāh ﷻ rezeki mereka.

Maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq. Kita sebagai seorang manusia ada diantara kita yang sebagai kepala rumah tangga berapa yang bisa kita berikan, kita hanya bisa memberikan kepada orang yang ada di rumah kita, memberikan nafkah untuk diri kita sendiri kepada anak dan juga istri kita itu saja, tapi Allāh ﷻ memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya baik yang kita lihat maupun yang tidak kita lihat. Termasuk di antaranya jin diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ dan menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq.

Demikian pula dilihat bahwasanya Allāh ﷻ adalah sangat memberikan rezeki yaitu Allāh ﷻ berulang-ulang memberikan rezeki. Apakah Allāh ﷻ hanya yang memberikan rezeki kepada kita pagi ini saja? Masing-masing kita diberikan sarapan oleh Allāh ﷻ, ada yang makan lontong ada yang makan nasi uduk, ada yang makan nasi goreng misalnya, nanti siang juga diberikan rezeki oleh Allāh ﷻ, sore juga demikian, Subhanallāh, maka Allāh ﷻ memberikan rezeki dari waktu ke waktu yang lain, bukan hanya sekali Allāh ﷻ memberikan rezeki dan itu untuk seluruh makhluk, bukan hanya kita, untuk seluruh makhluk diberikan oleh Allāh ﷻ rezeki setelah itu diberikan rezeki lagi dan seterusnya sampai habis jatahnya. Maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq, Dia-lah yang memberikan rezeki.

Dan makhluk yang Allāh ﷻ berikan rezeki bukan hanya makhluk yang terlihat jelas di mata manusia, tapi di sana ada makhluk-makhluk Allāh ﷻ yang tinggal di dalam tanah, ada yang di dasar lautan yang paling dalam, tapi rezeki Allāh ﷻ sampaikan kepada mereka masing-masing dengan cara yang Allāh ﷻ ketahui. Apa yang sudah Allāh ﷻ tulis sebelumnya, Allāh ﷻ akan takdirkan rezeki tersebut sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis, akan datang kepadanya rezeki sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis. Dia-lah yang menyampaikan rezeki kepada makhluk makhluk-Nya dimanapun dia berada, di tempat yang paling sulit di jamah oleh manusia Allāh ﷻ sampaikan rezeki kepada mereka.

Ada di sana seekor makhluk di antara makhluk-makhluk Allāh ﷻ, ada yang menceritakan bagaimana Allāh ﷻ menyampaikan rezeki kepada hewan tersebut. Allāh ﷻ berikan kemampuan kepadanya untuk bisa berdiri seperti tongkat, persis seperti tongkat bisa tenang dan tidak bergerak. Kemudian akan hinggap pada dirinya seekor makhluk yang lain, ketika dia hinggap disitulah dia akan memakan makhluk tadi. Dia tidak memiliki mungkin peralatan atau tangan atau kaki seperti yang kita miliki tapi Allāh ﷻ jadikan dia memiliki kemampuan seperti itu sehingga Allāh ﷻ datangkan makhluk yang lain kemudian dia memakannya.

Kalau kita memperhatikan bagaimana bermacam-macam hewan mereka mendapatkan rezeki dari Allāh ﷻ, ada yang ketika berjalan warnanya berubah seperti warna dasarnya misalnya sehingga tidak terlihat ketika datang hewan dia tidak menyadari bahwasanya dia disitu. Bermacam-macam cara Allāh ﷻ menyampaikan rezeki ini kepada mereka, maka Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rozzaq, bahkan Allāh ﷻ telah menulis rezeki-rezeki tadi sebelum Allāh ﷻ menciptakan makhluk-makhluk yang diberikan rezeki. Mereka telah ditulis rezekinya jauh sebelum mereka lahir, lima puluh ribu tahun sebelum Allāh ﷻ menciptakan langit dan juga bumi-Nya

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Sesungguhnya Allāh ﷻ telah menulis takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allāh ﷻ menciptakan langit dan juga bumi.

Rezeki ana rezeki antum rezeki yang lain sudah Allāh ﷻ tulis. Seorang muslim ketika mengetahui bahwasanya diantara nama Allāh ﷻ adalah Ar-Rozzaq apakah masih tersisa di dalam hatinya kekhawatiran keresahan terhadap rezeki masa depannya. Nanti khawatir ana miskin atau ana nggak punya apa-apa dan seterusnya, resah dengan masalah rezeki di masa depan, ana nanti jadi apa dan seterusnya, ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari seseorang yang lemah iman.

Adapun seorang yang beriman maka dia meyakini bahwasanya Allāh ﷻ akan memberikan rezeki, selama kita ini masih hidup Allāh ﷻ akan memberikan rezeki. Yang menanggung orang yang bersama kita bukan kita tapi Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mengatakan

{وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا الله يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [العنكبوت: 60 al ankabut]

Dan betapa banyak hewan atau sesuatu yang melata (makhluk hidup), engkau tidak menanggung rezeki mereka. Kita dalam keadaan memikirkan diri kita sendiri, memikirkan keluarga kita siapa yang memberikan rezeki kepada tetangga kita, siapa yang memberikan rezeki kepada makhluk hidup yang tidak terhingga ini, Allāh ﷻ, dan kita dalam keadaan memikirkan diri kita sendiri dan orang yang bersama kita.

الله يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ

Allāh ﷻ yang memberikan rezeki kepada mereka dan juga kalian. Jangan merasa kita yang memberikan jasa kepada istri kita, memberikan jasa kepada orang tua kita, memberikan jasa kepada keluarga kita, tidak, Allāh ﷻ yang memberikan rezeki kepada mereka. Seandainya mereka mendapatkan rezeki dari kita maka hanya sekedar wasilah saja, kita ini hanya perantara, dari mana kita dapatkan rezeki tadi, dari Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang memberikan kecerdasan kepada kita, memberikan pekerjaan kepada kita kemudian kita mendapatkan rezeki kemudian kita berikan kepada orang yang menjadi tanggungan kita, Allāh ﷻ yang memberikan, bukan kita. Firman Allāh ﷻ

وَٱرۡزُقُوهُمۡ فِيهَا
[An-Nisa’:5]

Dan berikanlah rezeki kepada mereka. Maksudnya adalah jadilah kalian sebagai perantara, rezeki Allāh ﷻ berikan kepada mereka

وَلَا تُؤۡتُواْ ٱلسُّفَهَآءَ أَمۡوَٰلَكُمُ ٱلَّتِي جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمۡ قِيَٰمٗا وَٱرۡزُقُوهُمۡ فِيهَا

Dan berikanlah rezeki kepada mereka dalam harta kalian.

Maksudnya adalah kalian sebagai perantara yang menyampaikan rezeki yang sudah Allāh ﷻ berikan kepada kalian untuk diberikan dan diinfaqkan kepada mereka, kita hanya perantara saja. Instansi dan lembaga tempat kita bekerja juga hanya perantara, Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki. Kalau ingin memuji pujilah Allāh ﷻ, termasuk kekuatan Iman ketika yang kita puji dalam masalah rezeki adalah Allāh ﷻ bukan makhluk.

Mengucapkan terima kasih, jazakallahu khayran, syukron, itu yang memang diperintahkan dalam syariat kita, tapi memuji hanya kepada Allāh ﷻ berdoa dan mengucapkan syukron itulah yang memang seharusnya kita lakukan sebagai seorang hamba Allāh ﷻ.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.

Tapi pujian, menyandarkan nikmat, maka hanya kepada Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan rezeki.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

ذُو الْقُوَّةِ

Dia-lah Allāh ﷻ Yang Dzul Quwwah, yaitu yang memiliki kekuatan. Dzul Quwwah ini termasuk nama Allāh ﷻ dan Dia termasuk nama Allāh ﷻ yang mudhafah yang berupa mudhaf – mudhaf ilaih. Karena nama Allāh ﷻ kalau dilihat dari tarkibnya (susunannya) apakah itu kata yang berdiri sendiri atau dia adalah mudhaf – mudhaf ilaih terbagi menjadi dua. Ada nama Allāh ﷻ yang Mufrodah, dia satu kata saja bukan mudhaf – mudhaf ilaih, ini contohnya banyak, Ar-Rohman, Ar-Rahim, Al-‘Alim, Al-Hakim, Al-Khabir, As-Sami’, Al-Bashir.

Tapi disana ada asma’ al-mudhofah, nama-nama Allāh ﷻ yang di idhofahkan, di sana ada mudhof disana ada mudhof ilahi.

Contohnya adalah Dzul Quwwah disini, dan ذُو maknanya adalah shahib, shahibul quwwah, yang memiliki kekuatan. Contoh yang lain Malikul Mulk, Maliki Yaumiddin, maka ini adalah nama Allāh ﷻ yang mudhofah, atau Robbul ‘Alamin, Robbul ‘Arsy, berarti ini adalah nama Allāh ﷻ yang mudhofah yang di idhofahkan.

Dzul Quwwah,sifat Allāh ﷻ yang terkandung didalamnya adalah Al-Quwwah. Ada sebagian mengatakan apa bedanya dengan Qowi, dan Al- Qowi termasuk nama Allāh ﷻ, namun disana ada makna yang tersembunyi dalam penggunaan ذُو yang artinya adalah yang memiliki. Sebagian mengatakan bahwasanya maksudnya adalah kekuatan yang tidak akan berkurang, Dzul Quwwah yaitu senantiasa memiliki kekuatan yang luar biasa, tidak akan berkurang, maka Allāh ﷻ Dia-lah yang sangat kuat, tidak ada yang mengalahkan kekuatan Allāh ﷻ. Lihat bagaimana Allāh ﷻ menciptakan langit dan Allāh ﷻ menahan langit sebesar itu sehingga tidak jatuh, Dia-lah Allāh ﷻ yang menahan benda-benda angkasa sehingga masing-masing berjalan di jalannya tidak bertabrakan satu dengan yang lain, Allāh ﷻ Dia-lah Dzat Yang Maha Kuat.

Dan diantara faedah yang bisa kita ambil dari nama Allāh Dzul Quwwah, seorang muslim atau seorang yang beriman tidak putus asa dengan apa yang menimpanya, Allāh ﷻ Robb yang dia sembah adalah Dzul Quwwah yang memiliki kekuatan yang luar biasa, Allāh ﷻ Maha Mampu untuk melakukan segalanya. Sehingga ketika dia mendengar kekuatan yang dimiliki oleh musuh-musuh Allāh ﷻ, yang mereka memiliki kekuatan demikian, kekuatan demikian, ketika dia mengingat Allāh ﷻ maka kekuatan-kekuatan musuh Allāh ﷻ adalah tidak ada bandingannya dengan kekuatan Allāh ﷻ.

Ada orang-orang yang lebih kuat dari mereka dan mereka hancur karena mereka menentang Allāh ﷻ. Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Kuat tidak ada yang mengalahkan kekuatan Allāh ﷻ.

Didalam ayat Al-Qur’an Allāh ﷻ ketika menceritakan kaum ‘Ād

فَأَمَّا عَادٌ فَٱسْتَكْبَرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ

Adapun ‘Ād maka maka mereka sombong di bumi dengan tanpa hak

وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً

Dan mereka mengatakan siapa yang lebih kuat daripada kami.

Allāh ﷻ ciptakan mereka menjadi kaum yang memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan yang lain, tapi mereka lupa kepada Allāh ﷻ dan sombong dengan kekuatan tadi, sampai mereka berkata مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً, bahwa siapa yang lebih kuat daripada kami, lupa bahwasanya Allāh ﷻ yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً
[Fushshilat:15]

Apakah mereka tidak melihat bahwasanya Allāh ﷻ yang telah menciptakan mereka itu lebih kuat daripada mereka.

Yang menciptakan mereka, yang memberikan kekuatan kepada mereka lebih berhak memiliki sifat kekuatan lebih daripada mereka, ini menjadi dalil bahwasanya di antara cara untuk mengenal sifat Allāh ﷻ adalah dengan akal dengan qiyas aula. Kalau makhluk yang diciptakan oleh Allāh ﷻ memiliki sifat kesempurnaan, dan kekuatan adalah termasuk sifat kesempurnaan bagi makhluk, makhluk yang lebih kuat maka itu lebih sempurna, maka seluruh sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk dan mungkin bagi Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ lebih berhak memiliki sifat tersebut.

Seluruh sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh makhluk dan mungkin Allāh ﷻ bersifat dengannya maka Allāh ﷻ lebih berhak memiliki sifat tersebut. Ini termasuk menetapkan sifat Allāh ﷻ dengan akal, jadi di sana ada sifat Allāh ﷻ yang ada di dalam dalil Al-Qur’an dan juga hadist dan juga bisa dia di waktu yang sama dengan akal juga bisa kita mengakui bahwa Allāh ﷻ memiliki sifat tersebut. Berarti terkumpul didalamnya dalil naqli dan dalil aqli.

Kalau seorang makhluk dia memiliki sifat kesempurnaan tadi maka yang menciptakan itu lebih berhak, yang memberikan itu lebih berhak memiliki sifat tadi daripada makhluk tadi. Kalau makhluk tadi memiliki sifat kekuatan maka Allāh ﷻ lebih kuat dan Dia-lah yang memiliki sifat kuat tersebut dan sifat kuat yang dimiliki oleh Allāh ﷻ tentunya berbeda dengan sifat kuat yang dimiliki oleh makhluk, Allāh ﷻ memiliki sifat kuat dan makhluk juga memiliki sifat kuat. Allāh ﷻ mengatakan

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً
[Ar-Rūm:54]

Allāh ﷻ Dia-lah menciptakan kalian dari kelemahan kemudian menjadikan setelah kelemahan tersebut kekuatan.

Allāh ﷻ berikan kepada kita kekuatan. Dan di dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam salah seorang dari putri Syu’aib berkata

إِنَّ خَيْرَ مَنِ ٱسْتَـْٔجَرْتَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْأَمِينُ
[Al-Qashash:26]

Wahai bapakku sewalah dia (Musa), sesungguhnya sebaik-baik orang yang kau sewa adalah orang yang kuat dan juga terpercaya.
Berarti makhluk juga memiliki sifat kuat, apakah ketika kita menetapkan sifat kuat bagi Allāh ﷻ dalam Firman-Nya Dzul Quwwah berarti kita menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk? Jawabannya tidak. Kita memiliki kekuatan tapi sangat terbatas, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang paling kuat di dunia, apa yang bisa diangkat, tapi kekuatan Allāh ﷻ adalah kekuatan yang sangat sempurna. Allāh ﷻ kuat dan Allāh ﷻ tidak pernah lelah, Allāh ﷻ mengatakan wa mā massanal bil lughub, dan kami tidak ditimpa oleh lelah atau capek, ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ ,Dia-lah yang memiliki kekuatan yang sangat sempurna dan luar biasa.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Al-Matīn ada yang menafsirkan maknanya adalah asy-syadid yaitu yang sangat kokoh yang sangat kuat, syiddatul quwwah. Sifat yang terkandung di dalamnya adalah Al-Matanah yang artinya adalah syiddatul quwwah, kekuatan yang sangat kokoh. Berarti di sini Allāh ﷻ menetapkan di dalam ayat ini disebutkan ada empat nama Allāh ﷻ dan masing-masing diantara nama tadi mengandung sifat.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته