Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 16

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 16 | Penjelasan Nama Dan Sifat Allāh ﷻ Yang Terkandung Di Dalam QS Asy-Syuro Ayat 11

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-16 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Syaikhul Islam beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Di dalam Firman Allāh ﷻ لَيْسَ كَمِثْلِهِ, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ maka di sini ada an-nafyu al-mujmal (penafian yang global), yang Allāh ﷻ nafikan di sini adalah mitsliyyah, keserupaan. Berarti ini sifat manfiyah, sifat yang dinafikan oleh Allāh ﷻ. Sikap kita menghadapi sifat yang manfiyah seperti ini kita nafikan apa yang Allāh ﷻ nafikan, berarti kita katakan tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Kemudian yang kedua kita tetapkan kesempurnaan dari kebalikan sifat ini, keserupaan berarti lawannya adalah Dia adalah yang memiliki sifat Wahidiyyah atau Wahdaniyah. Allāh ﷻ memiliki sifat wahdaniyah yaitu Dia-lah Yang Esa, tidak ada yang serupa, berarti Dia-lah satu-satunya, Dia-lah Ahdiyah yang memiliki sifat Ahadiyah atau sifat wahdaniyah, maka kita tetapkan kesempurnaan ini bagi Allāh ﷻ. Dia-lah satu-satunya yang memiliki sifat-sifat yang sempurna, Dzat-Nya adalah yang paling sempurna, nama-nama-Nya adalah yang paling sempurna, pekerjaan-pekerjaan Allāh ﷻ dan amalan-amalan Allāh ﷻ adalah yang paling sempurna, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ.

Dan sudah berlalu penjelasan dari apa yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam surat Al-Ikhlas

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَد لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Ini termasuk nafyu yang mujmal, dan sudah kita sampaikan kebanyakan di dalam Al-Qur’an adalah nafyu yang mujmal. Tasbih yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an banyak, sabbaḥa lillāh, yusabbiḥu lillāh, fasabbiḥ biḥamdi robbik, makna tasbih adalah mensucikan Allāh ﷻ dari seluruh sifat kekurangan, isinya maksudnya adalah nafyi.

Dan sudah kita sebutkan bahwasanya di antara nama Allāh ﷻ yang nafiyah adalah subbūḥ, tasbih adalah menafikan dari Allāh ﷻ seluruh sifat kekurangan, dan ayat-ayat tentang tasbih banyak dan itu adalah termasuk nafyu yang mujmal, nafyu yang secara global. Para malaikat mereka bertasbih, kita diperintahkan untuk bertasbih, banyak zikir-zikir yang isinya adalah tasbih, ketika kita sujud bertasbih, ketika kita rukuk bertasbih, setelah kita shalat kita bertasbih, maksudnya adalah kita nafikan dari Allāh ﷻ selalu sifat kekurangan ini adalah nafyu yang mujmal.

Baik sifat kekurangan yang kita tahu bahwa sifat kekurangan yang tidak kita tahu, yang kita dengar dari orang-orang musyrikin ataupun yang tidak kita dengar dari mereka, mereka mensifati Allāh ﷻ dengan sifat-sifat yang jelek maka kita katakan subhanallāh ‘amma yasifūn, Maha Suci Allāh ﷻ dari apa yang mereka sifatkan.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Berarti kita tetapkan Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat Al-Ahadiyah, Dia saja tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ. Dan لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ bukan maksudnya adalah menafikan sifat Allāh ﷻ, karena ada sebagian ahlul bid’ah hadahullāh memahami sifat Allāh ﷻ berdalil dengan ayat ini bahwasanya Allāh ﷻ tidak memiliki sifat, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ berarti Allāh ﷻ tidak memiliki sifat karena kalau memiliki sifat berarti serupa dengan makhluk. Sehingga mu’tazilah mereka mengatakan Allāh ﷻ tidak memiliki sifat, dalilnya mereka mengatakan لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ, tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, menganggap bahwasanya menentukan sifat bagi Allāh ﷻ berarti menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk.

Padahal kalau kita memahami ayatnya Allāh ﷻ tidak menafikan di sini sifat-Nya sehingga setelahnya, dan ini menunjukkan bahwasanya makna yang dipahami oleh orang-orang mu’tazilah ini salah dan bathil, apa kata Allāh ﷻ setelahnya? Allāh ﷻ menetapkan sifat bagi-Nya

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Berarti disini Allāh ﷻ menetapkan sifat untuk-Nya, sifat yang terkandung di dalam nama-Nya, nama Allāh ﷻ As-Samī’ mengandung sifat As-Sama’, Al-Bashīr mengandung sifat Al-Bashar, berarti لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ini bukan penafian terhadap sifat Allāh ﷻ tapi ini menafikan sesuatu yang semisal dengan sifat Allāh ﷻ.

Ketika kita menyebutkan atau menetapkan sifat bagi Allāh ﷻ maka kita tidak menyerupakan sifat tersebut dengan sifat makhluk, kita katakan bahwasanya itu adalah sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Jadi firman Allāh ﷻ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ bukan menafikan sifat Allāh ﷻ tapi menafikan sesuatu yang serupa dengan sifat Allāh ﷻ. Sehingga Allāh ﷻ menetapkan setelahnya nama dan juga sifat-Nya

وَهُوَ

السَّمِيعُ البَصِيرُ.

Karena sebagian orang mentakwil, mentakwil disini Allāh ﷻ tidak mensifati dirinya dengan As-Sama’ wal-Bashar, mentakwil As-Sama’ di sini adalah dan Al–‘Ilm dan Al-Bashar di sini juga Al–‘Ilm. Jadi mereka menetapkan tujuh sifat, Al-‘Ilm, kemudian Al-Irodah, ada Al-Qudroh dan seterusnya, sifat-sifat yang lain mereka kembalikan kepada tujuh sifat ini. Mereka mengatakan maksud dari As-Sama’ adalah ‘ilmuhu bil masmu’at, maksudnya adalah ilmu Allāh ﷻ di sini ilmu Allāh ﷻ terhadap segala sesuatu yang didengar, dikembalikan kepada ilmu.

Ketika mereka membaca Al-Bashir mereka mengatakan maksudnya adalah ilmu Allāh ﷻ terhadap segala sesuatu yang dilihat, jadi muaranya adalah kembali kepada ilmu, tangan ditakwil menjadi qudroh, kemudian di sana ada sifat-sifat yang di takwil dengan Irodah, Rohmah misalnya mereka takwil dengan iradatul in’am, kembali kepada irodah. Sehingga mereka menetapkan tujuh sifat, Irodah qubro dan seterusnya, maka ini adalah kebathilan.

Allāh ﷻ mensifati dirinya dengan As-Sama’ wal-Bashar, dan ini menunjukkan bahwasanya yang namanya itsbat tidak mengharuskan menyerupakan. Allāh ﷻ disini mengitsbat

وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Bukankah ini adalah penetapan sifat dan juga nama bagi Allāh ﷻ, dan di ayat yang sama tidak usah jauh-jauh, Allāh ﷻ mengatakan

لَيْسَ كَمِثْلِهِ

Berarti menetapkan nama dan juga sifat Allāh ﷻ tidak melazimkan menyerupakan sifat dan nama tersebut dengan sifat makhluk, karena banyak orang yang tidak paham tentang masalah ini. Menganggap bahwasanya menetapkan berarti mentasybih, sehingga mengatakan ahlussunnah mereka adalah musyabbihah karena mereka menetapkan sifat istiwa bagi Allāh ﷻ, menetapkan sifat mendengar melihat bagi Allāh ﷻ, menetapkan sifat turun bagi Allāh ﷻ, menetapkan sifat tangan mata bagi Allāh ﷻ, berarti mereka mentasybih, tidak.

Menetapkan tidak ada kelaziman dengan menyerupakan, dan sudah kita sebutkan tentang kaidah yang sebelumnya, kaidah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam sebelum beliau memasuki perincian penyebutan ayat-ayat dan juga hadist ini, penetapan tidak mengharuskan menyerupakan Dan mensucikan Allāh ﷻ dari kekurangan tidak harus menafikan sifatnya jadi kita menetapkan tanpa menyerupakan dan kita menafikan tanpa kita menta’til dan menolak sifat Allāh ﷻ.

Dan dalam ayat ini terkumpul an-nafyi wal itsbat, sebagaimana dalam ayat وَ تَوَکَّلۡ عَلَی الۡحَیِّ الَّذِیۡ لَا یَمُوۡتُ, sebagaimana dalam ayat kursi dan apa yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam surat Al-Ikhlas, terkumpul di dalamnya an-nafyu dan juga al-itsbat.

Al-Bashir di sini mengandung tiga sifat, jadi bukan hanya Al- Bashar saja tapi ada sebagian ulama yang menyebutkan mengandung di dalamnya tiga sifat, sifat yang pertama adalah Al- Bashar kemudian yang kedua adalah Al-Bushr dengan mendhommah ب dan mensukun ص, kemudian yang ketiga adalah sifat Al-Bashiroh. Al-Bashar maknanya adalah Allāh ﷻ Melihat atau Maha Melihat. Al-Bashir ini adalah Yang Maha Melihat, ini berkaitan dengan segala sesuatu yang dilihat, maka Allāh ﷻ Dia-lah Al-Bashir.

Dan Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Bushr, dan Al-Bushr ini maknanya adalah jalā’il ma’lumāt yaitu pengetahuan-pengetahuan yang dzhohir, yang dilihat, maka Allāh ﷻ Maha Melihat. Dan Al-Bashiroh ini berkaitan dengan daqā’iq al-ma’lumāt, pengetahuan-pengetahuan yang sangat jeli dan juga sangat teliti. Berarti Al-Bushr ini berkaitan dengan jalā’il ma’lumāt, perkara-perkara yang jelas, adapun Al-Bashiroh ini adalah perkara-perkara yang kecil, perkara-perkara yang teliti.

Ketika kita mempelajari nama Allāh Al-Bashir maka ketahuilah bahwasanya dia mengandung tiga sifat ini, Al-Bashor yaitu Allāh ﷻ memiliki sifat melihat, penglihatan, dan Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Bushr yaitu mengetahui perkara-perkara yang besar wal-Bashiroh dan Allāh ﷻ mengetahui perkara-perkara yang sangat teliti.

Allāh ﷻ Dia-lah As-Sami’ Al-Bashir Dia-lah Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar. Maha yaitu Allāh ﷻ sangat sempurna pendengarannya, mendengar segala sesuatu. Antum berbicara sekecil apapun, di ruangan yang tertutup berlapis-lapis selirih apa pun maka ketahuilah bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang As-Sami’. Allāh ﷻ Maha Mendengar semuanya, selirih apapun seseorang berbicara dan sebanyak apapun orang berbicara, bahkan yang berbicara bukan hanya manusia saja, jin juga berbicara, hewan mereka berbicara dengan bahasa mereka, apakah samar bagi Allāh ﷻ suara-suara tersebut? Tidak.

Allāh ﷻ Maha Mendengar semuanya, Dia-lah yang As-Sami’, seandainya mereka berbicara dengan suara kecil yang paling kecil yang mereka bisa, Allāh ﷻ Maha Mendengar. Sehingga di sini kita mengetahui Allāh ﷻ Dia Mendengar apa yang diucapkan oleh hamba-Nya berupa doa misalnya, Allāh ﷻ samī’uddu’a, Allāh ﷻ Maha Mendengar. Meskipun kita tidak mengeraskan suara kita tapi kita mengatakan ya Allāh ﷻ ya samī’uddu’a, berikanlah aku rezeki mudahkanlah aku dalam menuntut ilmu, berikanlah taufik dan juga hidayah kepada orang tuaku, Allāh ﷻ mendengar yang demikian. Maka seorang muslim tidak berputus asa dari rahmat Allāh ﷻ.

Dan asalnya yang namanya doa ini dilirihkan bukan dikeraskan di hadapan orang lain, asalnya dilirihkan dengan khufiyah yaitu dengan pelan-pelan. Dan Allāh ﷻ Maha Mendengar apa yang diucapkan oleh musuh-musuh Allāh ﷻ yang mereka berbicara tentang Allāh ﷻ dengan pembicaraan yang buruk, menghina rasul-Nya, menghina ayat-ayat-Nya, Allāh ﷻ Maha Mendengar apa yang mereka ucapkan, ketika mereka berkumpul membuat makar atau berkonspirasi, apakah itu samar dari Allāh ﷻ? Allahu Robb kita Maha Mendengar apa yang mereka ucapkan. Tidak usah khawatir, Allāh ﷻ mengetahui rencana mereka dan makar yang ingin mereka lancarkan untuk menghancurkan agama Allāh ﷻ.

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِيرٞ وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُۘ
[Āli-Imran:181]

Ketika orang-orang yahud mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu faqir, Allāh ﷻ Maha Mendengar. Sungguh Allāh ﷻ telah mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ adalah fakir وَنَحۡنُ أَغۡنِيَآءُ dan mereka mengatakan kami adalah orang-orang kaya. Mensifati Allāh ﷻ dengan faqr.

سَنَكۡتُبُ مَا قَالُواْ

Sungguh Kami akan menulis apa yang mereka ucapkan.

Ditulis oleh Allāh ﷻ, akan ada perhitungan dengan mereka.

وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِيَآءَ بِغَيۡرِ حَقّٖ

Dan pembunuhan mereka terhadap nabi-nabi Allāh ﷻ tanpa hak. Dan nanti kelak di hari kiamat akan ada perhitungan

وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡحَرِيقِ

Dan Kami akan katakan kepada mereka rasakanlah adzab yang membakar ini.

Kita yakin bahwasanya makar yang mereka perbuat, yang mereka bicarakan adalah ada disisi Allāh ﷻ, wa ‘indallāhi makruhum, di sisi Allāh ﷻ makar mereka, Allāh ﷻ mendengar apa yang mereka ucapkan.

Kita lemah kita tidak memiliki kekuatan atau mendengar setiap apa yang diucapkan di dunia ini tapi Allāh ﷻ mendengar, maka kewajiban kita adalah bertawakal kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang akan mengurusi kita semuanya, Allāh ﷻ yang akan menolong kita dengan syarat kita mau menolong agama Allāh ﷻ

إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ
[Muḥammad:7]

Kalau kalian menolong Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan menolong kalian. Bagaimana menolong Allāh ﷻ? Kita melaksanakan perintah dan juga menjauhi larangan, yaitu menolong agama Allāh ﷻ kita sebarkan tauhid, kita sebarkan sunnah dan kita praktekkan pada diri kita sendiri di tengah-tengah manusia yang mereka lalai dan banyak diantara mereka yang tidak melaksanakan apa yang telah diturunkan oleh Allāh ﷻ.

Maka Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar, kalau kita memiliki problem, kita memiliki permasalahan hidup kembali kepada Allāh ﷻ dirikan sholat, yakinlah bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar apa yang antum ucapkan. Dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui sebelum antum ucapkan, hadirkan bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar setiap apa yang diucapkan oleh manusia, sehingga ketika kita Mengetahui Allāh ﷻ Maha Mendengar padahal di dalam hati kita ada ta’dzhim pengagungan terhadap Allāh ﷻ maka malulah untuk mengucapkan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allāh ﷻ.

Sehingga kita menjaga lisan kita, takut untuk bohong karena Allāh ﷻ mendengar, takut untuk mengucapkan ucapan yang tidak baik, ucapan yang jorok, ucapan yang terlalu keras sehingga masuk di dalam larangan

إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
[Luqman:19]

Suara yang paling jelek adalah suara keledai. Kita diperintahkan untuk melirihkan suara, mengeraskan suara kalau memang ada keperluan. Maka orang yang isthdzar dan mengingat selalu bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar, hati-hati dalam mengeluarkan suaranya.

Seandainya kita bertetangga dan mungkin rumah kita posisinya bertolak belakang dengan tetangga kita artinya terkadang kita berbicara di rumah bagian belakang kemungkinan terdengar oleh tetangga kita yang juga sedang di rumah bagian belakang, apa yang kita lakukan, kita melirikan suara, malu kita teriak-teriak kita membentak-bentak anak atau kita membentak suami misalnya atau orang tua, malu. Dan ini adalah perbuatan yang tidak baik tapi kita melirikan suara karena kita tahu bahwasanya kemungkinan tetangga kita dibelakang juga mendengar. Nah harusnya kita terhadap Allāh ﷻ adalah kita malu kepada Allāh ﷻ.

Maka jagalah ucapan jagalah suara kita dan ketahuilah bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar, jadikanlah Allāh ﷻ mendengar yang baik-baik saja dari diri kita, dzikir, kalimat yang toyibah, nasehat, membaca Al-Qur’an, ucapan yang didalamnya ada ikram kepada orang tua, ucapan yang didalamnya ada kasih sayang terhadap anak, ada penghormatan kepada suami, ada ihtirom kepada guru, maka ini adalah suara-suara dan kalimat-kalimat yang baik, dan ini harusnya demikian kita memahami nama Allāh ﷻ As-Sami’.

Dan Allāh ﷻ Dia-lah Al-Bashir, Dia-lah Yang Maha Melihat dan mengetahui perkara yang dzhohir yang jelas, maupun perkara yang teliti yang detail Allāh ﷻ Maha Mengetahui. Maha Melihat dan penglihatan Allāh ﷻ adalah penglihatan yang luar biasa yang sangat sempurna, seandainya ada sesuatu yang sangat kecil yang mungkin warnanya hitam di malam yang gelap gulita dan di tempat yang dilapisi dengan banyak lapisan maka Allāh ﷻ Maha Mengetahui tidak ada sesuatu yang luput dari penglihatan Allāh ﷻ. Makhluk yang paling kecil virus atau bakteri atau kuman atau yang semisalnya, Allāh ﷻ Maha Melihat, Bahkan Allāh ﷻ yang menciptakan dan Allāh ﷻ melihatnya, bagaimana dia bergerak, bagaimana dia menular, berapa jumlahnya tidak ada yang luput dari penglihatan Allāh ﷻ.
Maka orang yang mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Melihat sama dengan ketika dia mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ Maha Mendengar, dia berusaha untuk memperlihatkan sesuatu yang baik, berlaku dengan perlakuan yang baik, baik di dalam rumahnya maupun di luar rumah, baik dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain, karena dalam keadaan dia sendiri di kamarnya dan di depannya ada HP ada komputer dia sadar bahwasanya Allāh ﷻ sedang melihat, malu kalau kita melakukan perkara yang tidak baik sementara Allāh ﷻ melihatnya.

Kita bersama keluarga kita sama teman kita atau anak atau istri kita, kita melihat sesuatu yang tidak diperbolehkan sementara dia secara tidak sengaja dia melihat ini sesuatu yang memalukan, kita tahu itu adalah perkara yang tidak diperbolehkan dan dia adalah maksiat, lalu bagaimana karena seharusnya itulah yang dilakukan oleh seseorang dan harusnya dia lebih malu ketika di lihat oleh Allāh ﷻ melihat sesuatu yang diharamkan oleh Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ memberikan nikmat kepada kita dengan mata kemudian kita gunakan untuk sesuatu yang diharamkan, maka seseorang malu melakukan yang demikian.

As-Sami’ Al-Bashir ini adalah nama Allāh ﷻ yang seharusnya diantara faedah yang bisa kita ambil menjadikan kita muraqabah, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ dalam ucapan kita maupun dalam gerak-gerik kita. Dan Allāh ﷻ mengatakan

إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ
[An-Nisa’:58]

Sesungguhnya Allāh ﷻ sungguh baik apa yang Dia nasehatkan kepada kalian

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا

Sesungguhnya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Abu Huroiroh pernah beliau membaca ayat ini yaitu

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا
[An-Nisa’:58]

Beliau mengatakan, hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ

Aku melihat Rasulullāh ﷺ meletakkan ibhamnya di atas telinganya, ibham ini adalah jempol, meletakkan jempolnya di atas telinganya

وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى عَيْنِهِ

Dan apa yang setelah ibham (jempol)nya, yaitu jari telunjuknya, ke arah matanya. Ini dilihat oleh Abu Hurairah, Abu Hurairah mengatakan dalam riwayat yang lain

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَؤُهَا وَيَضَعُ إِصْبَعَيْهِ

Aku melihat Rasulullāh ﷺ membaca ayat ini dan meletakkan kedua jarinya ini.

Apa maksud Beliau ﷺ dengan meletakkan dua jarinya, maksudnya adalah ingin menunjukkan kepada kita bahwasanya Allāh ﷻ memiliki pendengaran dan juga penglihatan secara hakekat, yaitu Allāh ﷻ benar benar memiliki pendengaran dan juga benar-benar memiliki penglihatan, itu maksudnya. Bukan berarti Beliau ﷺ mentasybih, bukan berarti Beliau ﷺ menyerupakan, mustahil Beliau ﷺ menyerupakan penglihatan Allāh ﷻ dengan penglihatan makhluk, pendengaran Allāh ﷻ dengan pendengaran makhluk padahal Allāh ﷻ mengatakan

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Tidak ada yang serupa dengan Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Yang dimaksud Beliau ﷺ adalah hakikatnya, yaitu Allāh ﷻ benar-benar melihat dan Allāh ﷻ benar-benar mendengar, bantahan terhadap sebagian orang yang mereka mentakwil As-Sama’ wal-Bashar tadi dengan ilmu, bantahan terhadap orang yang menafikan sama sekali, bukan hanya mentakwil bahkan dia lebih parah lagi, menafikan yaitu Allāh ﷻ tidak mendengar Allāh ﷻ tidak melihat, mengatakan Allāh ﷻ itu sami’ bi lā sam’I, Allāh ﷻ itu Bashir bi lā Bashar, Allāh ﷻ itu Maha Mendengar tapi tanpa pendengaran, Allāh ﷻ Maha Melihat tapi tanpa penglihatan, berarti dia menetapkan nama bagi Allāh ﷻ dan menolak sifat padahal Nabi ﷺ menyebutkan dengan isyarat ini hakikat dari sifat Allāh ﷻ.

Al-Imam Abu Daud Rahimahumullah ketika beliau menyebutkan riwayat ini beliau menukil ucapan Ibnu Yunus dia mengatakan

قَالَ الْمُقْرِئُ يَعْنِي إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ يَعْنِي أَنَّ لِلَّهِ سَمْعًا وَبَصَرًا

Ini salaf, mereka mengatakan Maha Mendengar Maha Melihat maksudnya adalah Allāh ﷻ memiliki pendengaran dan juga penglihatan, berkata Abu Daud

وَهَذَا رَدٌّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ

Ini adalah bantahan terhadap jahmiyah.

Dan Al-Imam At-Tirmidzi Rahimahullah, beliau juga di dalam sunnah At-Tirmidzi menukil sebagian ucapan salaf dalam masalah ini dengan nukilan yang panjang di sini namun saya sebutkan di sini bahwasanya beliau mengatakan

وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

Demikanlah ucapan ahli Sunnah Wal jamaah, yaitu mereka menetapkan tanpa menyebutkan kaifiyahnya

وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ

Adapun jahmiyah maka mereka mengingkari riwayat ini

وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ

Mereka mengatakan ini adalah tasybih, yaitu menganggap orang yang menetapkan sifat Allāh ﷻ berarti dia mentasybih Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته