Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 17

Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 17 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Al-Masyi’ah dan Al-Iradah Allāh ﷻ QS Al-Kahfi Ayat 39, Al-Baqarah Ayat 253, Al-An’am Ayat 125, Dan Al-Maidah Ayat 1

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Kita berpindah kepada ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Masyi’ah dan juga Al-Irodah.

Syaikhul Islam beliau mengatakan

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Didalam surah Al-Kahfi ketika ada hiwar/pembicaraan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir, satunya beriman kepada Allāh ﷻ dan hari akhir yang satunya tidak beriman kepada adanya hari akhir dan dia kufur dengan nikmat Allah ﷻ, Allāh ﷻ mengatakan

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Seandainya ketika engkau masuk جَنَّتَكَ yaitu kebunmu, قُلْتَ مَا شَاء engkau mengatakan Masya Allāh, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, Masya Allāh di sini adalah artinya apa-apa yang dikehendaki oleh Allāh ﷻ artinya Hādza Masya Allāh ﷻ ini adalah dengan apa yang Allāh ﷻ kehendaki. Ketika dia melihat kebunnya yang luar biasa sifatnya, yang sangat menyejukkan mata harusnya dia mengatakan Masya Allāh ﷻ, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang memberikan rezeki, Allāh ﷻ yang menghidupkan, Allāh ﷻ yang menyuburkan, Allāh ﷻ yang menjadikan dia berbuah, harusnya dia mengatakan Masya Allāh ﷻ ini dengan kehendak Allāh ﷻ, لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ dan mengatakan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allāh ﷻ, yaitu Allāh ﷻ lah yang memberikan kekuatan kepada kita.

Berarti di sini ucapan مَا شَاء اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ isinya adalah mensifati Allāh ﷻ dengan Masyi’ah, Allāh ﷻ memiliki Masyi’ah, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, tidak terjadi dengan sendirinya. Ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan seluruh yang terjadi di permukaan bumi adalah dengan kehendak Allāh ﷻ

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ

Apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi, apa yang terjadi di seluruh permukaan bumi baik berupa penciptaan zat maupun penciptaan sifat makhluk-Nya maupun apa yang dilakukan terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ. Adanya kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan apa yang kita lakukan adalah dengan kehendak Allāh ﷻ bahkan kehendak kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ.

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
[QS At-Takwir 29]

Tidaklah kalian menginginkan kecuali Allāh ﷻ yang menghendaki.

Artinya keinginan kita dan kehendak kita adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, inilah makna kehendak kita itu di bawah kehendak Allāh ﷻ, masyi’atu makhluq taḥta masyi’atillāh

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Dan apa yang Allāh ﷻ tidak kehendaki tidak akan terjadi. Maka ketika kita melihat nikmat yang Allāh ﷻ berikan kepada kita, kita katakan Masya Allāh, ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ. Kita sandarkan nikmat yang Allāh ﷻ berikan ini kepada Allāh ﷻ, jangan kita sandarkan kepada diri kita sendiri, ini adalah dengan kepandaianku dalam bertani, ini adalah kecerdasanku dalam bisnis, ini adalah pengalamanku dalam bekerja selama dua puluh tahun, ini adalah kepandaianku dalam mengatur manusia sehingga negara atau daerah dalam keadaan demikian aman dan seterusnya, tidak, itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ.

لا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allāh ﷻ. Kita bisa, kita mampu dan kita memiliki kekuatan adalah dengan pertolongan Allāh ﷻ, kalimat yang indah yang diucapkan oleh orang yang beriman yang dia mengakui bahwasanya nikmat yang ada pada dirinya itu adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, Alhamdulillah, kalau Allāh ﷻ tidak memudahkan niscaya dia tidak akan mendapatkan yang demikian.

Seandainya ketika engkau masuk dan melihat kebunmu engkau mengatakan demikian, menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia memiliki sifat Masyi’ah kita, makhluk juga memiliki sifat masyi’ah, apakah ketika kita menetapkan sifat Masyi’ah bagi Allāh ﷻ berarti kita menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk, tidak, Masyiatullah sesuai dengan Kesempurnaan-Nya dan masyi’ah kita sesuai dengan kekurangan kita. Kita memiliki masyi’ah (kehendak) apakah setiap kehendak yang kita inginkan kemudian terkabulkan, kita ingin punya mobil tapi apakah keinginan kita terpenuhi, itulah keadaan masyi’ah kita tapi Masyiatullah adalah manusia yang nafilah, Masyi’ah yang pasti terlaksana

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
[QS Ya-Sin 82]

Sesungguhnya perkara Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu tinggal mengatakanكُنْ (jadilah) فَيَكُونُ (maka dia akan terjadi). Itulah kehendak, kehendak yang apabila Allāh ﷻ menghendaki terjadi

مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, وَمَالَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ

Apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi dan apa yang Allāh ﷻ tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Sehingga Al-Imam As-Syafi’i beliau mengatakan

مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ

Apa yang Engkau kehendaki ya Allāh كَانَ terjadi وإنْ لم أشَأْ meskipun aku tidak menghendaki, dan apa yang aku kehendaki jika Engkau tidak menghendaki ya Allāh maka tidak akan terjadi.

Berarti kehendak kita itu di bawah kehendak Allāh ﷻ

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidak lah kalian menghendaki kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

Maka tidak ada di sana kelaziman kita menetapkan Masyi’ah bagi Allāh ﷻ kemudian kita berarti menyerupakan Masyi’ah Allāh ﷻ dengan masyi’ah makhluk. Di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ menetapkan masyi’ah bagi kita, makhluk juga memiliki masyi’ah

لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
[QS At-Takwir 28]

Siapa di antara kalian yang ingin istiqomah

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan tidak berkehendak kecuali apabila Allāh ﷻ menghendaki.

Berarti kita juga memiliki kehendak. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

وَقَوْلُهُ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan juga firman Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya tidak akan berperang orang-orang yang datang setelah mereka setelah jelas bagi mereka bertemu, di sini Allāh ﷻ menceritakan tentang adanya iqtital (peperangan) antara orang yang beriman dengan para rasul dan orang yang tidak beriman dengan para rasul, kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya tidak akan berperang tapi terjadi peperangan

وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ

Akan tetapi mereka berselisih kemudian akhirnya mereka berperang

فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ

Ada diantara mereka yang beriman dan ada diantara mereka yang kufur. Kalau Allāh ﷻ menghendaki niscaya mereka tidak berperang

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ

Seandainya Allāh ﷻ menghendaki niscaya mereka tidak akan berperang. Berarti berperangnya mereka dengan kehendak Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki mereka tidak berperang maka mereka tidak akan berperang, menunjukkan bahwasanya peperangan yang terjadi perseteruan yang terjadi antara Ahlul Haq dengan Ahlul Bathil ini adalah dengan kehendak Allāh ﷻ, dan apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi. Kita ingin supaya manusia beriman semuanya

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…
[QS Yunus 99]

Seandainya Allāh ﷻ menginginkan niscaya akan beriman seluruh orang yang berada di bumi.
Kita juga inginnya demikian, tapi Allāh ﷻ menghendaki lain, sunnatullah ada diantara mereka yang kufur ada diantara mereka yang beriman

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Allāh ﷻ kehendaki, Allāh ﷻ menghendaki ada diantara mereka yang beriman ada diantara mereka yang kufur sementara kita ingin seandainya manusia semuanya beriman, tapi ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ, Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia inginkan.

Sehingga seseorang bersabar sebagai orang yang telah diberikan hidayah oleh Allāh ﷻ pasti di sana ada suara, disana ada fitnah, di sana ada ancaman, di sana ada gangguan itu semua terjadi dengan kehendak Allāh ﷻ, maka kita bersabar dan kalau kita ketahui Allāh ﷻ dengan kehendak-Mu maka akan ada dalam diri kita ketenangan. Tidaklah mereka menulis tulisan yang jelek, mengucapkan ucapan yang menghujat, mencela kecuali itu dengan kehendak Allāh ﷻ untuk menguji kesabaran kita dan menjadikan kita introspeksi diri, mengoreksi diri kita mungkin kita yang kurang hikmah di dalam dakwah, mungkin kita yang kurang ikhlas didalam dakwah, atau untuk mengangkat derajat kita sehingga kita dengan ujian tadi kita bersabar dan diangkat derajat kita.

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki. Berbeda dengan kita, banyak kehendak kita dalam hati yang kita inginkan/angan-angankan tapi tidak terwujud, sampai kita meninggal dunia tidak terwujud. Ada yang ingin menjadi seorang kaya, ada seorang ingin menjadi seorang dokter, ingin menjadi seorang presiden, ingin menjadi seorang ulama, apakah keinginan mereka pasti terpenuhi, tidak, tapi Allāh ﷻ melakukan apa yang Dia kehendaki.

Disini Masyi’ah yang dimaksud disini adalah Iradah Kauniyah, diawal ayat Allāh ﷻ mengatakan وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ dan kalau Allāh ﷻ menghendaki, kemudian di akhir Allāh ﷻ mengatakan وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ akan tetapi Allāh ﷻ melakukan apa ya Dia kehendaki. Iradah yang terkandung dalam kalimat يُرِيدُ ini adalah iradah kauniyah, ini sinonim dengan Masyi’ah, jadi Masyi’atullah itu sama dengan Iradah Kauniyah.

Para ulama menjelaskan berdasarkan dalil, iradah Allāh ﷻ itu ada dua macam, iradah yang pertama dinamakan dengan iradah kauniyah atau dengan nama lain Masyi’ahtullah, jadi Allāh ﷻ memiliki sifat Masyi’ah dan memiliki sifat irodah, iradah kauniyah sama dengan Masyi’atullah. Seluruh apa yang terjadi di permukaan bumi ini, yang baik maupun yang buruk ini semuanya dengan Masyi’atullah dengan irodatullah yang kauniyah, dan inilah yang dimaksud dalam ucapan kita مَاشَاءَ اللَّهُ كَانَ, apa yang Allāh ﷻ kehendaki terjadi, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatan, ini iradah kauniyah.

Dan dia tidak berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ artinya Allāh ﷻ menghendaki terjadi sesuatu tapi Allāh ﷻ tidak mencintainya, Allāh ﷻ tidak meridhoinya. Diciptakannya syaithan dengan kehendak Allāh ﷻ tapi Allāh ﷻ tidak mencintai syaithan. Adanya kemaksiatan, kesyirikan, bid’ah dengan kehendak Allāh ﷻ tapi Allāh ﷻ tidak mencintai kesyirikan, bid’ah dan juga kemaksiatan. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ menghendaki tapi iradah yang dimaksud disini adalah iradah kauniyah, tidak ada kaitanya dengan mahabbatullah. Dan ayat tentang

وَلَوْلَآ إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ
[Al-Kahfi:38]

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم

Ini adalah Masyi’ah dan dia adalah iradah kauniyah.

Disana ada iradah syar’iah, iradah syar’iah ini berkaitan dengan mahabbatullah, kalau iradah kauniyah tadi tidak berkaitan dengan mahabatullah tapi ini iradah berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ. Misalnya Allāh ﷻ ingin orang-orang beriman, ingin manusia yang diutus kepada mereka para rasul ini beriman, Allāh ﷻ mengutus kepada mereka Rasul, menurunkan kepada mereka kitab dan juga petunjuk, ingin supaya mereka beriman ini iradah syar’iah, iradah yang berkaitan dengan mahabbatullah.

Apakah iradah syar’iah pasti terjadi sebagaimana iradah kauniyah? jawabannya tidak, buktinya Allāh ﷻ menginginkan manusia beriman tapi yang terjadi iradah kauniyah Allāh ﷻ ada diantara mereka yang beriman ada diantara mereka yang tidak beriman.

Berarti iradah syar’iah tidak mengharuskan terjadinya, jadi kalau kita ditanya perbedaan antara iradah kauniyah dengan iradah syar’iah minimal ada dua,

pertama iradah kauniyah pasti terjadi adapun iradah syar’iah maka murodnya, yang diinginkan oleh Allāh ﷻ belum tentu terjadi,

kedua iradah kauniyah terkadang murodnya dicintai oleh Allāh ﷻ terkadang tidak dicintai oleh Allāh ﷻ tapi iradah yang syar’iah dicintai oleh Allāh ﷻ, murodnya sesuatu yang diinginkan itu pasti dicintai oleh Allāh ﷻ. Contoh iradah syar’iah Allāh ﷻ mengatakan

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ
[Al-Baqarah:185]

Allāh ﷻ menginginkan kemudahan untuk kalian. Ini iroda syar’iah

وَٱللَّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيۡكُمۡ
[An-Nisa’:27]

Dan Allāh ﷻ ingin untuk memberikan taubat kepada kalian. Ini iradah syar’iah yang berkaitan dengan kecintaan Allāh ﷻ

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ
[Al-Ahzab:33]

Allāh ﷻ ingin menghilangkan dari kalian رِجْس, perkara yang jelek amalan-amalan yang jelek, wahai Ahlul Bayt. Iradah disini adalah iradah yang sya’iah yang mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi, harus kita bedakan antara dua iradah ini. Karena tidaklah tersesat orang yang tersesat di dalam masalah takdir kecuali di antaranya adalah karena dia tidak bisa membedakan antara iradah kauniyah dengan iradah syar’iah dianggapnya sesuatu yang terjadi pasti dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak membedakan antara Iradah kauniyah dengan iradah syar’iah.

Sehingga jabriyah ketika berbuat maksiat dikatakan kenapa engkau berbuat maksiat, ini terjadi berarti dia dicintai oleh Allāh ﷻ, dia terus berbuat maksiat melakukan kesyirikan melakukan kebid’ahan melakukan dosa besar alasannya karena ini berarti dicintai oleh Allāh ﷻ, tidak mengetahui bahwasanya iradah ada dua kauniyah dengan syar’iah.

———-

وَقَوْلُهُ: فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ

Dan juga firman Allāh ﷻ, maka barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki untuk diberikan hidayah maka Allāh ﷻ akan membuka dadanya untuk Islam.

Barangsiapa yang Allāh ﷻ ingin untuk memberikan petunjuk kepadanya, Allāh ﷻ jadikan dadanya yang biasanya inginnya menolak, inginnya membantah, inginnya katanya kritis, tapi Allāh ﷻ jadikan hatinya ini yasyraḥ, Allāh ﷻ bukakan dadanya untuk tunduk untuk mengikuti kebenaran. Kalau Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan hidayah kepada seseorang, dijadikan hatinya ini luas untuk menerima kebenaran.

Alhamdulillah yang telah meluaskan dada kita untuk beriman kepada Allāh ﷻ padahal kita tidak pernah melihat Allāh ﷻ, yang meluaskan dada kita untuk beriman dengan Rasul ﷺ padahal kita hanya mendengar nama Beliau ﷺ, mendengar sifat Beliau ﷺ, sampai kepada kita ucapan Beliau ﷺ kita tidak pernah melihat Beliau ﷺ. Siapa yang menjadikan dada-dada kita ini menjadi tunduk dan luas, Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang menghendaki.

Maka ihmadullāh, maka pujilah Allāh ﷻ dan kita memuji Allāh ﷻ yang telah menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita, hamba Allāh ﷻ ini banyak, makhluk Allāh ﷻ ini banyak tapi Allāh ﷻ pilih, Allāh ﷻ kehendaki sebagiannya untuk dibuka dadanya, dilapangkan dadanya, maka jangan kita sia-siakan nikmat Allāh ﷻ ini. Bagaimana cara bersyukurnya, dengan mengamalkan agama ini dengan baik sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ inginkan, ini adalah nikmat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menghendaki itu nikmat sekali, Allāh ﷻ menghendaki kita untuk mendapatkan hidayah.

وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ

Barangsiapa yang Allāh ﷻ kehendaki untuk menyesatkannya, berarti ini iradah kauniyah, yang pertama juga iradah kauniyah, terkadang iradah kauniyah berkaitan dengan kebencian Allāh ﷻ terkadang sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ. Kita mendapatkan hidayah iradah kauniyah sekaligus iradah syar’iah, iradah kauniyah terjadi memang kita mendapatkan hidayah dan iradah syar’iah karena inilah yang dicintai oleh Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang Allāh ﷻ sesatkan, ada orang tersesat yang terjadi di sini adalah berkaitan dengan iradah kauniyah karena kesesatan tidak dicintai oleh Allāh ﷻ tapi ini tidak berkaitan dengannya iradah syar’iah karena Allāh ﷻ tidak mencintai kesesatan.

Barangsiapa yang Allāh ﷻ menghendaki maksudnya adalah iradah kauniyah disini untuk menyesatkan dia

يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا

Allāh ﷻ akan menjadikan dadanya di sini menjadi sempit, menjadi sesak. Ketika ditawarkan Islam, ditawarkan tauhid, hatinya menjadi sempit ketika mendengar tentang tauhid, maunya datang ke wali, maunya bergantung kepada nyi Fulan kyai fulan, tenangnya ketika dia datang ke kuburan dan meminta-minta kepada ahlul kubur, sesak ketika mendengar dakwah tauhid, sesak ketika mendengar orang mengajak kepada sunnah, benci dengan orang yang mengajak kepada sunnah dan mungkin itu adalah keadaan kita dahulu, tapi karunia dari Allāh ﷻ kemudian Allāh ﷻ menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita ini adalah minnah ini adalah karunia dari Allāh ﷻ

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
[Al-Hujurat:17]

Allāh ﷻ Dia-lah yang memberikan karunia kepada kita, karunia-Nya dan kelebihan-Nya dan keutamaan-Nya untuk kita

كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء

Seakan-akan dia seperti orang yang mau naik ke atas, naik kelangit. Bagaimanapun usaha kita tidak bisa, kita bukan malaikat yang diberikan oleh Allāh ﷻ sayap sehingga dia bisa terbang dengan izin Allāh كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء seakan-akan dia seperti orang yang naik ke atas, dalam keadaan susah sekali, dalam keadaan dia sesak. Alhamdulillah yang telah menghendaki untuk memberikan hidayah kepada kita.

ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًا ۚ
[Saba:13]

Hendaklah kalian beramal wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Jelas disini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat iradah, ada sebagian orang yang Allāh ﷻ irodahkan Allāh ﷻ kehendaki untuk memberikan hidayah, ada di antara yang Allāh ﷻ kehendaki untuk disesatkan. Maka hati-hati dan hendaklah kita banyak membaca doa

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Karena disebutkan dalam hadits bahwasanya hati manusia ini berada diantara dua jari di antara jari-jari Allāh ﷻ, Allāh ﷻ gerakan kapan saja Dia menghendaki, jangan sampai kita termasuk orang yang kufur dengan nikmat Allāh ﷻ, nikmat hidayah. Sudah tahu ilmunya, sudah tahu hidayah maka jalankanlah, pegang erat-erat, jangan kita sepelekan, jangan kita bermudah-mudahan, khawatirnya kalau kita tidak bersyukur nanti akan diambil oleh Allāh ﷻ. Ada yang mengatakan nikmat itu kalau disyukuri akan datang terus, akan ada terus dan kalau jadi kufur maka dia akan meninggalkan kita, dan makna ini ada dalam firman Allāh ﷻ

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
[Ibrahim:7]

Kalau kalian bersyukur kepada Allāh ﷻ niscaya kami akan menambahkan.

Kemudian setelahnya Allāh ﷻ mengatakan

وَقَوْلُهُ: ِ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ الأَنْعَامِ إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Dan juga firman Allāh ﷻ, dihalalkan untuk kalian bahīmatul an’ām (yaitu hewan-hewan ternak, tiga jenis unta dengan dua jenisnya baik yang berpunuk satu maupun yang berpunuk dua, sapi dengan dua jenis yaitu sapi dan juga kerbau, demikian pula kambing yang domba atau yang berbulu tipis) maka dihalalkan bagi kalian bahimatul an’am

إِلاَّ مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ

Kecuali yang sudah dibacakan kepada kalian. Ada disana yang dikecualikan seperti yang meninggal dalam keadaan terjatuh atau dalam keadaan mayit/bangkai maka ini tidak diperbolehkan

غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ

Dalam keadaan tidak menghalalkan hewan buruan sedangkan kalian dalam keadaan ihram. Termasuk berburu yang dilarang adalah ketika dalam keadaan ihram, Allāh ﷻ menghalalkan bahimatul an’am kemudian Allāh ﷻ mengecualikan keadaan kita dilarang untuk berburu ketika dalam keadaan ihram, kita dilarang untuk memakan bangkai atau memakan hewan yang tidak disebut nama Allāh ﷻ misalnya, Allāh ﷻ mengharamkan dan Allāh ﷻ menghalalkan.

إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Allāh ﷻ menghukumi sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Artinya Allāh ﷻ memberikan hukum, mengatakan ini halal ini haram itu sesuai dengan kehendak Allah, Allāh ﷻ Dia-lah yang berhak. Yang perlu kita pahami dan sudah berlalu bahwasanya Allāh ﷻ diantara namanya Al-Hakim, Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat Al-Hukm dan Dia memiliki sifat Al-Hikmah, meskipun Allāh ﷻ Dia-lah yang berhak mengharamkan dan menghalalkan tapi ketika Allāh ﷻ mengharamkan itu berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ menghalalkan maka itu berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ memerintahkan berdasarkan hikmah, ketika Allāh ﷻ melarang berdasarkan hikmah.

Jadi jangan dipahami إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ Allāh ﷻ menghukum, mengeluarkan hukum sesuai dengan kehendaknya kemudian dibayangkan seperti makhluk yang lemah, ketika dia memiliki kedudukan kemudian dia sewenang-wenang, terserah saya mau mengatakan ini boleh atau tidak boleh, tidak berdasarkan hikmah, tidak berdasarkan ilmunya keadaan makhluk. Tapi Allāh ﷻ Dia-lah yang يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ, dan ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah yang memiliki sifat iradah, Allāhu A’lam iradah dalam firman Allāh إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ disini adalah Iradah Syar’iah, karena hukum yang dimaksud disini adalah hukum syar’i karena berkaitan dengan tahlil dan juga tahrim maka ini adalah hukum syar’i Allāhu A’lam, dan Allāh ﷻ dalam hukum kauni juga dengan يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ Allāh ﷻ menghukumi dengan hukum yang kauni juga sesuai dengan kehendak-Nya sebagaimana telah berlalu

وَلَـكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Akan tetapi Allāh ﷻ Dia-lah yang melakukan apa yang Dia kehendaki.

Sebagian ahlul bid’ah ada yang menafikan sifat yang iradah ini, seperti mu’tazilah secara umum keyakinan mereka Allāh ﷻ memiliki nama tetapi tidak memiliki sifat sehingga mereka menafikan sifat iradah bagi Allāh ﷻ. Dan ada yang mengatakan bahwasanya iradah Allāh ﷻ itu iradah yang satu saja yaitu iradah yang azaliah tapi mereka menafikan iradah-iradah Allāh ﷻ yang mutajaddidah, yang terus ada, padahal Ahlussunnah dan mereka melihat dalil bahwasanya iradah Allāh ﷻ itu mungkin berulang-ulang

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا
[Yāsīn:82]

Kalau Allāh ﷻ menginginkan sesuatu maka Allāh ﷻ mengatakan كُن fayakun, menunjukkan bahwasanya iradah Allāh ﷻ bisa berulang-ulang. Wallahu A’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته