SILSILAH ‘ILMIYYAH PEMBAHASAN KITĀB AL-‘AQĪDAH AL-WĀSITHIYYAH – HALAQAH 18

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Halaqah 18 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Mahabbah Bagi Allāh ﷻ Bag 01: QS Al-Baqarah 195 Dan Al-Hujurat 9

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan yang baru berkaitan dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Al-Mahabbah yaitu sifat mencintai bagi Allāh ﷻ. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mendatangkan setelahnya dalil-dalil dari Al-Qur’an yang menunjukkan bahwasanya diantara sifat Allāh ﷻ yang harus kita tetapkan bagi Allāh ﷻ sebagaimana Allāh ﷻ kabarkan adalah sifat Al-Mahabbah yaitu mencintai dan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat mencintai dan sifat mencintai adalah termasuk sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan Masyiatullah.

Sifat terbagi menjadi dua ada sifat dzatiyyahh dan juga sifat fi’liyah, sifat dzatiyyah adalah sifat yang senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ dan tidak berkaitan dengan Masyiatullah, Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Mengetahui maka ini termasuk sifat dzatiyyah, Allāh ﷻ memiliki sifat ‘ulu (sifat Tinggi) maka ini adalah sifat dzatiyyah, Allāh ﷻ memiliki nama Ar-Rahman dan memiliki sifat Rahmah yang terkandung dalam Ar-Rahman maka ini adalah sifat dzatiyyahh, tidak berkaitan dengan Masyiatullah sehingga itu senantiasa ada pada diri Allāh ﷻ.

Berbeda dengan sifat fi’liyyah, ini berkaitan dengan Masyiatullah ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ bersifat dengan sifat tadi dan kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ tidak bersifat dengan sifat tadi. Berarti berkaitan dengan Masyiatullah seperti contohnya Al-Mahabbah, Allāh ﷻ menghendaki untuk mencintai seseorang atau mencintai sebuah amalan atau sebuah sifat, ini berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ, maka Al-Mahabbah ini termasuk sifat fi’liyyah berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ. Sifat istiwa termasuk sifat fi’liyyah karena dia berkaitan dengan kehendak Allāh ﷻ yaitu Allāh ﷻ beristiwa dan Dia-lah yang menghendaki dirinya untuk beristiwa.

Allāh ﷻ menyebutkan, terkadang mengabarkan bahwasanya Allāh ﷻ mencintai sebagian orang sebagaimana dalam ayat-ayat yang disebutkan oleh Syaikh di sini, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang Muhsinin, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berjihad dijalan-Nya, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertakwa, dan terkadang dikabarkan bahwasanya Allāh ﷻ mencintai sebuah akhlak atau sebuah sifat misalnya, sebagaimana dalam sebuah hadits ketika Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

Sesungguhnya engkau memiliki dua sifat خَصْلَة)) yang dicintai oleh Allāh ﷻ, yaitu الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ sifat al-hilm (tidak mudah marah) wal anāh, dan engkau memiliki sifat hati-hati, tidak tergesa-gesa, menunjukkan bahwasanya terkadang Allāh ﷻ mencintai sebuah sifat dan terkadang sebagaimana dalam ayat-ayat yang disebutkan oleh Syaikhul Islam di sini mencintai orang-orangnya.

Jadi Allāh ﷻ mencintai amalannya, mencintai orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang melakukan ihsan, kemudian kita sebagai seorang hamba di antara keinginan kita yang besar adalah bagaimana Allāh ﷻ Robb yang kita sembah ini mencintai kita, bagaimana Allāh ﷻ yang kita sembah, yang kita minta, yang kita kerahkan hidup kita ini adalah untuk-Nya, bagaimana Allāh ﷻ mencintai kita, karena ini adalah nikmat yang besar, seorang hamba dicintai oleh Robbnya.

Kita dalam kehidupan sehari-hari seandainya seorang yang membantu orang lain atau bekerja di tempat orang lain dan dia merasakan bahwasanya tempat dia bekerja tadi pemiliknya, majikannya mencintai dia, senang kepada orang tersebut maka ini adalah sebuah kehormatan tersendiri. Ada sebagian orang mungkin bekerja sama orang lain tapi majikan tidak suka, tidak suka sama orang tersebut, terlihat dari ucapannya, terlihat dari perilakunya, terlihat dari wajahnya, ini dalam perkara dunia kita ingin orang yang kita khidmah dia, kita membantu dia dengan senang hati dia juga mencintai kita. Intinya mencintai atau dicintai oleh orang lain, disenangi oleh orang lain maka ini adalah kenikmatan tersendiri.

Antum menjadi orang yang dicintai oleh istri Antum atau dicintai oleh suami atau dicintai oleh orang tua, dicintai oleh anak-anak maka ini adalah kenikmatan tersendiri. Dibenci oleh anak, dibenci oleh istri, dibenci oleh suami maka ini sesuatu yang menyedihkan, sesuatu yang menjadikan kita tidak enak, dicintai oleh masyarakat, dicintai oleh tetangga, dicintai oleh lingkungan, kenikmatan. Tapi dibenci oleh mereka, dikucilkan oleh mereka merupakan sebuah kesempitan, sebuah kesengsaraan.

Masing-masing dari kita ingin dan senang apabila dicintai, maka seorang muslim yang menjadi puncak dia adalah bagaimana dia dicintai oleh Allāh ﷻ, ketika dia mendapatkan Mahabbatullah, mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ maka dia akan sangat-sangat berbahagia, sangat gembira ketika Allāh ﷻ mencintai dia. Meskipun ada makhluk diantara makhluk-mahluk Allāh ﷻ yang benci kepadanya tapi itu bukan tujuan dia yang penting adalah, yang paling utama di sisinya adalah dia dicintai oleh Allāh ﷻ.

Maka seorang muslim berusaha melakukan perkara, memiliki sifat yang dicintai oleh Allāh ﷻ, dia cari apa yang dicintai oleh Allāh ﷻ sehingga dia amalkan amalan-amalan tersebut, siapa orang-orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ sehingga dia berusaha untuk menjadi bagian dari orang-orang tersebut, apa sifat dan juga akhlak yang dicintai oleh Allāh ﷻ sehingga dia berusaha untuk memiliki sifat tersebut, terus dia mencari bagaimana agar dia termasuk orang yang dicintai Allāh ﷻ, berusaha untuk melakukan, mengucapkan, bersifat dengan sifat-sifat yang dicintai oleh Allāh ﷻ, amalan-amalan yang dicintai oleh Allāh ﷻ, itulah keinginan dia dan itulah yang dia pikirkan dalam kehidupannya, bagaimana Allāh ﷻ Ridha kepadanya, bagaimana Allāh ﷻ mencintai dirinya.

Ayat-ayat yang akan disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah di antara ayat-ayat yang menunjukkan siapa-siapa orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ dan tentunya ini menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Mahabbah.

وَقَوْلُهُ

Dan juga firman Allāh ﷻ

وَأَحْسِنُوَاْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan hendaklah kalian berbuat Ihsan sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang Ihsan.

Ihsan di sini bisa memiliki dua makna dan dua-duanya benar, Ihsan dalam artian berbuat baik kepada orang lain baik dengan harta atau dengan ucapan yaitu dengan memberikan nasehat kepadanya misalnya, atau dakwah karena dakwah ini juga termasuk berbuat baik kepada orang lain, memberikan pengajaran, atau kita membantu orang lain dengan tenaga kita, bisa juga berbuat baik kepada orang lain dengan syafa’at yaitu kita memiliki kedudukan kemudian kita membantu dia dengan kedudukan kita, itu makna yang pertama.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berbuat baik, menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat mencintai dan diantara yang dicintai oleh Allāh ﷻ adalah orang-orang yang Muhsinin, orang-orang yang suka membantu orang lain, membantu dalam hal apa saja dan tidak harus perkara yang besar. Antum membantu orang lain sesuai dengan kemampuan antum, maka di antara cara supaya kita dicintai oleh Allāh ﷻ hendaklah kita masuk dalam jajaran orang-orang yang suka membantu orang lain, berbuat baik kepada orang lain. Kalau kita memiliki harta lebih maka kita membantu orang yang miskin, orang yang fakir meskipun tidak seberapa, cukup untuk makan dia sekali dua kali misalnya, Allāh ﷻ cinta dengan orang-orang yang suka berbuat baik kepada orang lain. Atau membantu keluarga dirumah, membantu anak di dalam memahami atau kita membantu dengan tenaga, maka semuanya itu adalah termasuk cara-cara berbuat Ihsan kepada orang lain, jangan kita menjadi orang yang berat untuk membantu orang lain, kita membantu supaya kita dicintai oleh Allāh ﷻ dan dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allāh ﷻ menolong seorang hamba selama hamba tersebut masih mau menolong saudaranya. Ini makna yang pertama.

Makna yang kedua, Al-ihsanu berarti Al-Itqan yaitu berusaha untuk sempurna didalam melakukan amalan yaitu melakukan amal shaleh, sempurna di dalam melakukan amal shaleh, sempurna dari sisi bathin maupun dari sisi dzhohir, dari sisi bathin adalah dia berusaha untuk ikhlas, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ di dalam amalannya, sehingga dia tidak berpaling kepada manusia tapi beramal lillah. Kemudian sempurna dari sisi dzhohirnya yaitu sesuai dengan sunnah Nabi

وَأَحْسِنُوَاْ

Hendaklah kalian sempurnakan dan kokohkan amalan kalian, yaitu ikhlaskanlah amalan tersebut karena Allāh ﷻ dan dzhohirnya sesuaikan dengan sunnah Nabi ﷺ. Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ ketika ditanya tentang apa itu ihsan

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau menyembah kepada Allāh ﷻ seakan-akan engkau melihat-Nya dan kalau engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Orang yang merasa diawasi oleh Allāh ﷻ maka dia akan memperbaiki bathinnya dan juga memperbaiki dzhohirnya, orang yang memiliki sifat demikian dalam beramal

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang ihsan, yaitu orang yang berusaha ikhlas di dalam amalannya, tidak riya, tidak sum’ah dan dia berusaha untuk sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ dalam shalatnya, dalam wudhunya, dalam pakaian, dalam cara tidurnya, Allāh ﷻ cinta dengan orang-orang yang demikian. Berarti kita berusaha untuk termasuk orang-orang yang muhsinin dalam artian dia berusaha memperbaiki dan menyempurnakan amalan, jangan kita asal-asalan dalam beramal, shalat asal-asalan, wudhu asal-asalan, berpakaian asal-asalan, tidur asal-asalan, kita berusaha untuk ihsan, merasa diawasi oleh Allāh ﷻ, memperbaiki bathin kita dan niat kita dan juga memperbaiki dzhohir kita, terus kita berusaha bagaimana sesuai amalan kita dengan sunnah.

Mungkin antum sudah belajar tata cara wudhu, tata cara shalat, tapi seseorang terkadang lalai, terkadang lupa, ada perkara-perkara yang sebenarnya sudah antum pelajari tapi karena tidak diamalkan akhirnya antum lupa bahkan seakan-akan baru tahu sekarang itu adalah sunnah Nabi ﷺ. Antum baca kembali tentang apa yang disunahkan dalam shalat, apa yang disunahkan dalam wudhu kemudian Antum praktekan sehingga semakin ke sana, semakin tua semakin baik amalan kita semakin sempurna amalan kita, ini satu diantara cara untuk mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ.

Sehingga kita berdakwah kepada Tauhid supaya manusia mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ, kita mengajak manusia kepada sunnah supaya manusia mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ, karena Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang muhsinin, orang-orang yang memperbaiki amalannya baik amalan yang dzhohir maupun amalan yang bathin, bagaimana manusia ini dicintai oleh Allāh ﷻ dengan Ihsan nya.

—–Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan hendaklah kalian berbuat adil, aqsatho – yuqsithu artinya adalah berbuat adil, وَأَقْسِطُوا hendaklah kalian berbuat adil, di sana ada muqsithun, di sana ada qāsithun, kalau qāsithun, qāsith maknanya adalah ja’ir yaitu orang yang dzalim, tapi kalau muqsith orang yang adil. Allāh ﷻ mengatakan

وَأَمَّا ٱلْقَٰسِطُونَ فَكَانُوا۟ لِجَهَنَّمَ حَطَبًا
[Al-Jinn:15]

Yaitu orang-orang yang dzalim, orang-orang yang kuffar maka mereka menjadi bahan bakar atau kayu bakar untuk jahannam, dengannya jahannam menyala, ini qāsith yang artinya adalah ja’ir yaitu orang yang dzalim. Adapun al-muqsith (ini adalah muf’il, kalau tadi adalah fa’il) artinya adalah Al-Adl orang yang adil. Jangan kita pahami وَأَمَّا ٱلْقَٰسِطُونَ berarti orang yang adil, tidak, itu adalah orang yang dzalim, orang-orang yang kuffar.

Dan hendaklah kalian berbuat adil, berbuat adil dalam menghukumi, ada perseturuan, ada perkelahian, ada persengketaan maka kita disuruh untuk berbuat adil, kita ikuti kebenaran, kita ikuti keadilan, jangan kita mendzalimi salah satu diantara kedua belah pihak hanya karena sebab yang satunya adalah termasuk satu negara atau satu suku atau satu organisasi dengan ana, tidak. Tidak boleh kita berbuat dzalim, kita diperintahkan untuk berbuat adil, bukan termasuk ajaran Islam mendzalimi, termasuk mendzalimi musuh tidak boleh. Meskipun kita benci dengan pihak tertentu, tidak boleh kita mendzalimi mereka

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ
[Surah Al-Ma’idah:8]

Jangan sampai kebencian kalian kepada sebuah kaum menjadikan kalian tidak adil kepada mereka.

Islam mengajarkan untuk adil meskipun kepada musuh, kalau memang teman kita salah ya salah, kalau memang dia yang dzalim kita katakan dia dzalim harus mengembalikan haknya, ٱعۡدِلُواْ hendaklah kalian berbuat adil karena yang demikian adalah lebih dekat dengan ketakwaan, وَأَقْسِطُوا hendaklah kalian berbuat adil, dan adil di sini umum baik adil dalam masalah ketika kita menjadi seorang penguasa sebuah wilayah atau sebuah daerah, termasuk juga seandainya seseorang adil di dalam rumahnya, dia memiliki istri lebih dari satu maka dia adil terhadap istri-istrinya, ketika dia bermuamalah dengan putra-putrinya maka dia berbuat adil dengan mereka tidak menzalimi salah satu diantara keduanya. Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berbuat adil

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang berbuat adil.

Ingin dicintai oleh Allāh ﷻ dan masuk di dalam golongan orang-orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ maka kita harus berbuat adil sesuai dengan kemampuan kita, jangan kita membiasakan diri berbuat dzolim meskipun dengan orang-orang yang dekat dengan kita, meskipun orang lain tidak melihat seperti kepada anak-anak kita

اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ

kata Rasul ﷺ, hendaklah kalian berbuat adil kepada anak-anak kalian.

Didalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ menyatakan

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allāh ﷻ kelak, yaitu di hari kiamat, akan berada di atas mimbar-mimbar yang berasal dari cahaya, berada di atas mimbar yaitu sesuatu yang lebih tinggi daripada yang lain, Allāh ﷻ memuliakan mereka di antara manusia di berikan kepada mereka tempat yang lebih tinggi daripada manusia yang lain عَلَى مَنَابِرَ mereka berada di atas mimbar-mimbar مِنْ نُورٍ yang terbuat dari cahaya, Allāhu ‘ala kulli syai’in qadīr, Allāh ﷻ mampu melakukan segala sesuatu, menjadikan disana mimbar dan orang-orang yang ada berada di atasnya dan mereka tidak terjatuh itu adalah dengan kekuasaan Allāh ﷻ

عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ

Disebelah kanan Allāh ﷻ

وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ

Dan kedua tangan Allāh ﷻ adalah kanan

الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Siapa mereka, orang-orang yang muqsithīn, mereka adalah orang-orang yang adil di dalam hukum mereka, seseorang bisa adil ketika dia kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, dia memiliki ketakwaan kepada Allāh ﷻ, rasa takut kepada Allāh ﷻ, tidak mau mendzolimi manusia

وَأَهْلِيهِمْ

Dan mereka adil di dalam keluarga mereka, berarti termasuk istri dan juga anak, adil kepada mereka

وَمَا وَلُوا

Dan apa-apa yang mereka memiliki kekuasaan, memiliki wilayah, memiliki daerah sebagai kepala suku, sebagai bupati, sebagai camat dan seterusnya dia berbuat adil di dalam memegang kekuasaan ini, janji dari Allāh ﷻ bagi mereka akan ditempatkan mereka di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, ditambah lagi kecintaan Allāh ﷻ kepada mereka yaitu orang-orang yang berbuat adil.
Ini golongan yang kedua yang mereka dicintai oleh Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته