SILSILAH ‘ILMIYYAH PEMBAHASAN KITĀB AL-‘AQĪDAH AL-WĀSITHIYYAH | HALAQAH 19

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

Halaqah 19 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Mahabbah Bagi Allāh ﷻ Bag 02: QS At-Taubah 7 Dan Al-Baqarah 222

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-19 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Masuk kita pada pembahasan berkaitan dengan nama dan juga sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Al-Mahabbah yaitu sifat mencintai bagi Allāh ﷻ, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendatangkan ayat yang ke tiga

فَمَا اسْتَقَامُواْ لَكُمْ فَاسْتَقِيمُواْ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Selama mereka Istiqomah untuk kalian, artinya mereka lurus tidak membatalkan perjanjian mereka, ini berkaitan dengan seorang muslim atau kaum muslimin memiliki perjanjian perdamaian dengan orang-orang kafir, selama mereka istiqomah yaitu menjaga perjanjian mereka

فَاسْتَقِيمُواْ لَهُمْ

Maka hendaklah kalian istiqomah untuk mereka, yaitu jangan membatalkan, seorang muslim harus memegang janjinya, janji berdamai selama 5 tahun tidak boleh saling menyerang, kita sebagai seorang muslim diharuskan untuk menjaga, memegang janji ini. Bukan sifat seorang muslim menghianati janji, menghianati perjanjian, itu bukan sifat seorang muslim, tapi seorang muslim dia takut kepada Allāh ﷻ dan mengetahui bahwasanya perjanjian ini akan ditanya dihadapan Allāh ﷻ

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ

[Surah Al-Isra’:34]

Hendaklah kalian menyempurnakan janji kalian.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Artinya seseorang menjaga perjanjian tersebut, ini adalah bagian dari ketaqwaan karena orang yang bertaqwa kepada Allāh ﷻ, orang yang takut kepada Allāh ﷻ dia khawatir kalau dia membatalkan perjanjiannya maka akan menjadi permasalahan tersendiri bagi dia di hari kiamat

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٤

Hendaklah kalian menyempurnakan janji, sesungguhnya perjanjian itu akan ditanya.

Orang yang bertaqwa kepada Allāh ﷻ dan hari akhir, yang benar-benar dia yakin dengan hari akhir dan ingin keselamatan dirinya dihari akhir, janji dia kepada siapapun termasuk diantaranya adalah kepada orang-orang kuffar akan dia pegang.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Termasuk di antara sifat orang yang bertaqwa adalah mereka memegang janjinya, istiqomah dalam janjinya, selama orang-orang musyrikin tadi memegang janjinya, tapi kalau mereka yang terlebih dahulu menyelisihi janji seperti yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy dan sekutu mereka ketika mereka terlebih dahulu yang mengkhianati perjanjian Hudaibiyah, maka dalam keadaan demikian boleh kita untuk menyerang karena mereka yang terlebih dahulu menyelisihi janji, sehingga Nabi ﷺ ketika mengetahui dan sampai kabar kepada Beliau ﷺ bahwa orang-orang Quraisy dan juga sekutunya mereka membatalkan perjanjian Hudaibiyah, Beliau ﷺ segera mengumpulkan kaum muslimin yang ada di Madinah dan sekitarnya untuk pergi ke Mekah, membuka kota Mekah.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaqwa.

Berarti di antara sifat atau di antara golongan yang dicintai oleh Allāh ﷻ adalah orang-orang yang bertaqwa. Ketika kita mendengar ayat seperti ini harusnya kita ini semangat, bagaimana Ana bisa menjadi orang yang bertaqwa, Ana ingin dicintai oleh Allāh ﷻ, maka seseorang bertanya apa yang dimaksud dengan taqwa, taqwa sebagaimana disebutkan oleh Talq bin Habib

أن تعمل بطاعة الله علي نور من الله ترجو ثواب الله. و أن تترك معصية الله علي نور من الله تخاف عذاب الله

Engkau melakukan ketaatan kepada Allāh ﷻ, beramal sholeh, diatas cahaya, yaitu sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ bukan berdasarkan kejahilan tapi berdasarkan cahaya, berdasarkan ilmu, ada dalilnya bukan hanya sekedar hawa nafsu, bukan hanya sekedar ikut-ikutan, bukan hanya sekedar mengikuti adat istiadat dan kebiasaan,

علي نور من الله

berada di atas cahaya, yaitu di atas ilmu, itu namanya taqwa. Adapun amal shaleh dikatakan itu amal shaleh tapi tidak berdalil, apakah itu masuk dalam taqwa, tidak, taqwa yaitu kalau amal shalehnya berdasarkan dalil.

ترجو ثواب الله

Dan engkau mengharap pahala dari Allāh ﷻ, bukan mengharap pahala dari manusia, kalau riya sum’ah tidak dinamakan dengan taqwa, kemudian engkau meninggalkan kemaksiatan

علي نور من الله

berdasarkan dalil, bukan berdasarkan ikut-ikutan tapi berdasarkan dalil

تخاف عذاب الله

engkau takut terhadap azab Allāh ﷻ, bukan karena takut kalau dia terkena penyakit sehingga dia tidak mau berzina, ini bukan karena Allāh ﷻ, bukan karena takut terhadap Allāh ﷻ tapi takut terhadap penyakit tertentu, taqwa kepada Allāh ﷻ kalau Antum meninggalkan kemaksiatan karena Allāh ﷻ, yaitu karena takut kepada Allāh ﷻ.

Berarti bertaqwa kembali kepada ikhlas dan kembali kepada mengikuti sunnah Nabi ﷺ, ingin dicintai oleh Allāh ﷻ jadilah orang yang bertaqwa, yang beramal shaleh meninggalkan kemaksiatan berdasarkan ilmu. Berarti kalau ingin bertaqwa harus menuntut ilmu, menjadi seorang yang mau menghadiri majelis ilmu karena di situ dia mendapat ilmu, membaca, mendengarkan, menulis, menjadi seorang penuntut ilmu supaya kita bisa menjadi orang yang benar-benar bertaqwa sehingga kita menjadi orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ.

Ihsan juga demikian, orang bisa mencapai derajat Ihsan bisa menyesuaikan dan bisa mengikuti sunnah Nabi ﷺ harus menuntut ilmu, maka menuntut ilmu ini adalah pintu dan kunci seluruh kebaikan, ingin menjadi orang yang bertaqwa, ingin menjadi orang yang muhsin, ingin menjadi orang yang adil juga berdasarkan ilmu karena adil itu kalau sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Kemudian setelahnya beliau mengatakan atau mendatangkan firman Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya.

Disini Allāh ﷻ menyebutkan golongan yang lain yang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ yaitu golongan yang pertama adalah At-Tawwābīn, At-Tawwāb artinya adalah orang yang sering memperbanyak, bukan hanya sekali dalam setahun bahkan ada yang sekali dalam lima tahun, yang Allāh ﷻ cintai mereka adalah orang yang sering melakukan taubat kepada Allāh ﷻ karena dia merasa dirinya penuh dengan dosa dan seandainya dia beramal sholeh pun amal shalehnya penuh dengan kekurangan.

Allāh ﷻ mencintai seorang hamba yang demikian, yang terus-menerus dia melakukan taubat kepada Allāh ﷻ, memperbanyak melakukan taubat kepada Allāh ﷻ. Dan taubat yang dimaksud disini tentunya adalah taubat yang nasuh, taubat yang kholis, taubat yang murni, taubat yang memenuhi syarat bukan hanya sekedar taubat yang sekedar ucapan, tapi Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang sering bertaubat dengan taubat yang nasuh, taubat yang terpenuhi tiga syarat. Pertama dia menyesal, menyesal dalam hatinya, pedih hatinya ketika dia mengingat kembali dosa tadi.

Kemudian yang kedua dia tinggalkan, kalau memang dosa tadi masih menempel pada dirinya dia lepaskan, kalau dosa tadi berupa meninggalkan kewajiban maka segera dia melakukan kewajiban kalau dosa tadi berupa melakukan perkara yang diharamkan maka segera dia singkirkan perkara-perkara yang berkaitan dengan dosa tadi, kalau dia melakukan atau bekerja di tempat yang diharamkan maka dia tinggalkan pekerjaan itu, kalau dia melakukan perjudian maka dia tidak berjudi dan tidak mendatangi lagi tempat-tempat perjudian.

Kemudian syarat yang ketiga dia memiliki tekad dan juga azam, ya Allāh ﷻ saya tidak akan melakukannya di masa yang akan datang, menyesal sekali dengan apa yang terjadi, sekarang dia bertekad kuat membuka lembaran baru, tidak akan melakukan dosa ini di masa yang akan datang. Inilah yang dimaksud dengan taubat nasuha, kalau ini terus dilakukan oleh seseorang, bukan hanya sekali dalam dua tahun dalam empat tahun tapi terus dia lakukan, sering dia lakukan maka Allāh ﷻ mencintai seorang hamba yang demikian sifatnya.

Kalau dosa tadi berkaitan dengan hak orang lain maka ditambah dengan syarat yang keempat yaitu harus mengembalikan hak tadi, kalau itu berupa harta maka harus dikembalikan hartanya dengan cara apapun baik dia mengetahui atau dia tidak mengetahui, yaitu orang yang punya harta tadi seandainya harta yang kita ambil dari nya tadi sampai kepadanya tanpa tahu siapa yang mengiriminya tidak masalah, kita kirim misalnya lewat pos atau lewat rekening dia atau melalui orang lain dengan merahasiakan identitas misalnya, tidak masalah.

Atau kalau misalnya itu berkaitan dengan kehormatan, pernah terjadi masalah misalnya antara kita dengan dia dan kita sampai mencaci dia, menghina dia maka kita minta maaf, tapi kalau perkara yang tidak dia ketahui misalnya kita pernah membicarakan kejelekan dia dan dia tidak tahu kalau kita membicarakan kejelekannya maka cukup dengan mendoakan kebaikan untuk orang tersebut sampai kita merasa sudah memberikan yang lebih baik kepadanya atau mengganti apa yang sudah kita lakukan. Ini adalah taubat yang nasuh kalau memang di sana berkaitan dengan hak orang lain, Allāh ﷻ cinta dengan seorang hamba yang sering melakukan taubat yang nasuh

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
[Surat At-Tahrim Ayat 8]

Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian dengan taubat yang nasuh, bukan taubat yang biasa tapi taubat yang nasuh, taubat yang lurus, taubat yang murni, yang suci, inilah yang dikatakan oleh Allāh ﷻ

عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

Semoga Robb kalian menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian

وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ

Dan memasukkan kalian ke dalam surga-Nya

تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Inilah taubat yang nasuh yang atasnya Allāh ﷻ memberikan pahala dengan dihapuskan dosa, dimasukkan ke dalam surga. Nabi ﷺ adalah termasuk orang yang tawwābīn, termasuk orang yang banyak bertaubat kepada Allāh ﷻ, berapa kali Beliau ﷺ bertaubat dalam sehari, seandainya kita setiap hari bertaubat satu kali, hari ini bertaubat, besok bertaubat dengan taubat yang nasuh, subhanallāh maka Insya Allāh kita termasuk orang-orang yang tawwābīn.

Seandainya setiap hari kita bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh, kita akan melihat keadaan kita lebih baik dari pada sebelumnya. Nabi ﷺ bertaubat setiap hari tujuh puluh kali, apakah Antum bayangkan bahwasanya beliau bertaubat tujuh puluh kali dengan taubat yang tidak nasuh atau taubat sambel atau taubat yang sekedar ucapan, tentunya tidak. Beliau ﷺ mengatakan

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allāh ﷻ sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allāh ﷻ dan bertaubat kepadanya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.

Bukan hanya tujuh puluh kali tapi lebih dari tujuh puluh kali beristighfar bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh. Itu Nabi ﷺ yang sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang demikian beliau bertaubat, bukan sekali dua kali tapi lebih dari tujuh puluh kali, maka seorang muslim tentunya tergugah hatinya untuk bertaubat kepada Allāh ﷻ dan tidak mengakhir-akhirkan bertaubat dari dosa, segera itu hukumnya adalah wajib, karena asal dari perintah itu adalah untuk segera kita lakukan. Allāh ﷻ mengatakan

تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hendaklah kalian bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuh. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[Surah An-Nur:31]

Hendaklah kalian bertaubat kepada Allāh ﷻ semuanya, semuanya baik yang laki-laki maupun wanita, baik orang arabnya maupun selain arabnya, baik seorang ulamanya maupun thalibul ilm maupun orang awamnya, تُوبُوا إِلَى اللَّهِ taubatlah kalian kepada Allāh ﷻ, kembali kepada Allāh ﷻ جَمِيعًا semuanya wahai orang-orang yang beriman لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ semoga kalian termasuk orang-orang yang beruntung.

Jangan kita mengikuti was-was dari syaitan yang senantiasa nanti taubatnya nanti, nanti, nanti sampai datang kematian, kalau sudah datang kematian Allāh ﷻ tidak akan menerima taubat seseorang

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allāh ﷻ menerima taubat seorang hamba selama belum يُغَرْغِرْ, belum ada suara ghargharah, suara nyawa mau keluar, kalau sudah ada suara nyawa mau keluar maka tidak akan diterima oleh Allāh ﷻ. Dan tidak ada antara kita yang mengetahui kapan kematian, sehingga bersegeralah untuk bertaubat kepada Allāh ﷻ kita semuanya. Kita koreksi diri kita, kita muhasabah dan jangan ragu-ragu, Allāh ﷻ menjanjikan al-falah, Allāh ﷻ menjanjikan keberuntungan, orang yang taubat tidak akan rugi, jangan seorang mengikuti was-was dari syaithan, nanti kalau kamu taubat kamu tidak bisa begini, tidak bisa begitu, Allāh ﷻ akan berikan kenikmatan yang lebih baik daripada kenikmatan kemaksiatan dengan kita bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Yang sudah merasakan ini banyak, orang-orang sholeh, para Nabi ﷺ, orang-orang yang shiddiqin mereka sudah merasakan nikmatnya hidup di dalam taubat kepada Allāh ﷻ, di samping kita juga akan mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

Allāh ﷻ mencintai hamba-hamba yang seperti ini, mencintai seorang hamba yang senang dia bertaubat kepada Allāh ﷻ.
Dan mungkin saja orang yang bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha melakukan dosa, karena bukan berarti orang yang bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha kemudian dia menjadi seorang malaikat, tidak, dia tetap sebagai seorang insan, sebagai seorang manusia, sebagai seorang anak Adam yang dikatakan oleh Nabi ﷺ

كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ

Setiap anak Adam itu sering bersalah. Meskipun kita sudah bertaubat mungkin saja terjadi kesalahan lagi dan mungkin saja melakukan kesalahan yang sama tapi siapa orang yang paling baik diantara orang-orang yang sering bersalah?

وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

Sebaik-baik orang yang sering bersalah adalah orang yang sering bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Kalau memang kita mengakui Ana sering bersalah, ana insan, ana seorang manusia maka jadilah orang yang terbaik di antara mereka, orang yang terbaik di antara mereka adalah orang yang sering bertaubat kepada Allāh ﷻ, inilah orang yang paling baik diantara mereka dan inilah orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ, tentunya semakin banyak kita bertaubat semakin dicintai oleh Allāh ﷻ.

وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Dan Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bersuci.

Ada dua makna disini, bersuci dalam artian membersihkan jiwanya, berarti disini bersuci yang ma’nawi, membersihkan jiwanya dari dosa, ini hubungannya dengan At-Tawwābīn tadi, Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya, dia tidak ingin kotor, risih dia dengan kotoran dosa yang ada dalam dirinya maka dia segera bertaubat kepada Allāh ﷻ, setiap kali kotor lagi dia bersihkan lagi dengan taubat kepada Allāh ﷻ dia ingin menjadi orang yang bersih, senantiasa menjadi orang yang bersih dari dosa, tidak betah dengan dosa yang terlalu lama menumpuk di dalam dirinya, Allāh ﷻ cinta dengan seorang hamba yang demikian orang yang ingin bersih.

Jadi jangan seseorang hanya pandai bersih dalam dzhohirnya saja, mandi rajin, pakai pakaian yang rapi, pakai berbagai alat yang menjadikan dia lebih bersih, lebih cerah dan seterusnya tapi dia terus melakukan dosa, kotor dan sangat kotor dirinya dengan dosa dan juga maksiat meskipun secra dzhohir dia memiliki badan yang bersih.

Makna yang kedua adalah bersih secara dzhohir, maksudnya adalah orang yang senang bersuci, ingin setiap keadaan dia dalam keadaan dia suci dengan wudhu, kalau dia junub maka segera dia mengangkat hadats besarnya, kalau dia hadats kecil dia berwudhu kembali, dia ingin dirinya dalam keadaan berwudhu terus, dalam keadaan suci terus. Maka ini masuk dalam pengertian ayat ini, Allāh ﷻ mencintai seseorang yang demikian, ini menjadi dalil tentang keutamaan bersuci atau dalam keadaan suci secara mutlak yaitu seseorang yang senantiasa dalam keadaan suci, ketika dia batal dia wudhu kembali, maka ini termasuk amal shaleh, dengannya seseorang mendapatkan kecintaan Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته