Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 22

Halaqah 22 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Mengandung Sifat Ridha Bagi Allāh ﷻ Dan Nama Allāh Ar-Rahman Ar-Rahim Dan Sifat Yang Terkandung Di Dalamnya Bagian 02

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-22 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Beliau rahimahullah mendatangkan beberapa ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ di antara nama-Nya adalah Ar-Rahman Ar-Rahim dan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Rahmah. Di dalam sebuah hadits, dan ini menunjukkan tentang luasnya rahmat Allāh ﷻ,

إنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَومَ خَلَقَها مِائَةَ رَحْمَةٍ

Sesungguhnya Allāh ﷻ menciptakan Rahmah, ketika Allāh ﷻ menciptakannya ada seratus rahmah. Perlu diketahui bahwasanya Rahmat ketika di sandarkan kepada Allāh ﷻ maka ini ada dua jenis, ada Rahmat yang disandarkan kepada Allāh ﷻ dan itu adalah sifat Allāh ﷻ, berarti di sini idhafatu shifah ila maushuf, menyandarkan sifat kepada yang disifati seperti misalnya Allāh ﷻ menyebutkan tentang ucapan Sulaiman Alaihissalam disini, ketika dia melihat pembicaraan semut kemudian dia tersenyum kemudian mengatakan

وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩

[An-Naml:19]

Berarti disini rahmat Allāh ﷻ disandarkan kepada Allāh ﷻ, dan yang dimaksud dengan rahmat disini adalah shifah, yaitu penyandaran idhafatu shifah ila maushuf, kalau ini adalah sifat Allāh ﷻ maka sifat Allāh ﷻ bukan makhluk. Tapi disana ada rahmah yang disandarkan kepada Allāh ﷻ dan itu adalah makhluk, sebagaimana firman Allāh ﷻ dalam ayat yang lain

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱبۡيَضَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فَفِي رَحۡمَةِ ٱللَّهِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ١٠٧

[Aali Imran:19]

Dan adapun orang-orang yang bersinar wajah-wajah mereka maka mereka di dalam rahmat Allāh ﷻ, yaitu di dalam surga Allāh ﷻ, mereka kekal di dalamnya.

فِي رَحۡمَةِ ٱللَّه

Di dalam rahmat Allāh ﷻ di sini adalah, yang dimaksud dengan Rahmah disini adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh ﷻ, jadi surga Allāh ﷻ adalah rahmat Allāh ﷻ.

Makanya dalam hadits Allāh ﷻ mengatakan

أنتِ رحمتي ُ

Engkau wahai surga adalah Rahmat-Ku

أرحمُ بك مَن شئت

Aku merahmati denganmu siapa yang Aku kehendaki. Dan Allāh ﷻ mengatakan

يُدۡخِلُ مَن يَشَآءُ فِي رَحۡمَتِهِ

Allāh ﷻ memasukkan siapa yang dikehendaki di dalam rahmat-Nya, yaitu ke dalam surga, berarti ini adalah rahmat Allāh ﷻ yang merupakan makhluk Allāh ﷻ, idhafatu al-makhluq ila khaliqihi, mengidhofakan makhluk kepada yang menciptakan.

Hadits yang kita sebutkan disini, Allāh ﷻ ketika menciptakan rahmat dan rahmat disini berarti Rahmat yang makhluk bukan sifat Allāh ﷻ, Allāh ﷻ menciptakan seratus Rahmat, kalau Rahmah yang merupakan sifat Allāh ﷻ

وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء

meliputi segala sesuatu. Seratus Rahmah ini

فأمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وتِسْعِينَ رَحْمَةً

Allāh ﷻ tahan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan Rahmah, ditahan disisi Allāh

وأَرْسَلَ في خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً واحِدَةً

Dan Allāh ﷻ mengutus untuk makhluk-Nya semuanya satu Rahmat saja, satu Rahmat Allāh ﷻ kirimkan kepada makhluk-Nya semuanya

فلوْ يَعْلَمُ الكافِرُ بكُلِّ الذي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ، لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الجَنَّةِ

Seandainya orang yang kafir mengetahui tentang rahmat Allāh ﷻ yang ada di sisi ini, yang sembilan puluh sembilan tadi, niscaya dia tidak akan putus asa untuk masuk kedalam surga, kalau mereka melihat dan mengetahui tentang sembilan puluh sembilan rahmat Allāh ﷻ

ولو يَعْلَمُ المُؤْمِنُ بكُلِّ الذي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ العَذابِ، لَمْ يَأْمَن مِنَ النَّارِ

Seandainya orang yang beriman, sebaliknya, kalau dia mengetahui segala azab yang ada di sisi Allāh ﷻ, kalau dia melihat dan mengetahui azab yang ada di sisi Allāh ﷻ, maka dia tidak akan merasa aman dari neraka.

Didalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakan

إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون

Sesungguhnya Allāh ﷻ memiliki seratus Rahmah, Allāh ﷻ turunkan diantaranya satu Rahmat dan itu disebar di antara Jin, mereka saling menyayangi, di antara manusia di antara hewan ternak di antara hewan-hewan yang melata,

فيها يتعاطفون

dengan rahmat yang satu ini yang sudah dibagikan oleh Allāh ﷻ untuk mereka semuanya, mereka saling mencintai satu dengan yang lain,

وبها يتراحمون

dengannya mereka saling menyayangi satu dengan yang lain, kasih sayang ada pada diri kita kepada orang lain itu adalah bagian dari rahmat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ turunkan tadi, itu semuanya adalah Rahmat yang satu yang Allāh ﷻ turunkan.
Kalau kita memperhatikan bagaimana kasih sayang ibu kepada anaknya yang luar biasa, kecintaan orang tua kepada anaknya, kecintaan seorang istri kepada suaminya, suami kepada istrinya, itu kalau di kumpulkan seluruh manusia dari zaman dulu sampai sekarang dan hari kiamat bagaimana jumlah Rahmat tadi, jumlah kasih sayang tadi.

وبها تعطف الوحش على ولدها

Dengan Rahmat tadi seekor hewan yang buas menyayangi anaknya. Itu semua adalah satu Rahmat yang Allāh ﷻ berikan kepada makhluk semuanya, termasuk diantaranya adalah Rahmat yang turun kepada kita berupa rezeki, berupa kesehatan, dijaga dari bencana maka ini adalah satu saja di antara seratus rahmat Allāh ﷻ

وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

Dan Allāh ﷻ mengakhirkan sembilan puluh sembilan Rahmah (berarti rahmah disini adalah makhluk, rahmat yang makhluk) dengannya Allāh ﷻ menyayangi hamba-hamba-Nya di hari kiamat.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana Allāh ﷻ yang satu Rahmat saja demikian besarnya kita melihatnya, demikian besarnya kita merasakan rahmat Allāh ﷻ yang satu ini di dunia, lalu bagaimana dengan sembilan puluh sembilan Rahmat yang Allāh ﷻ akhirkan dan itu Allāh ﷻ sayangi dengannya hamba-hamba-Nya di hari kiamat.

Maka seorang muslim seharusnya dia memiliki roja’ terhadap rahmat Allāh ﷻ, tidak putus asa terhadap rahmat Allāh ﷻ, sikap dan juga sifat seorang yang beriman yang dia membaca Al-Quran dan mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ wasi’at rahmatuhu kulla syai’ maka dia senantiasa mengharap dan mengharap rahmat Allāh ﷻ.
Tidak ada kata dan tidak ada rumus di dalam dirinya atau dalam kehidupan dia putus asa dari rahmat Allāh ﷻ, musibah sebesar apapun dan kesulitan sesulit apapun ketika dia beriman bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Ar-Rahman Ar-Rahim dan bahwasanya Rahmat-Nya dalam meliputi segala sesuatu maka dia senantiasa memiliki harapan dan memiliki harapan Rahmat dari Allāh ﷻ. Sehingga di dalam Al-Qur’an Allāh ﷻ mengatakan mensifati orang-orang yang beriman

يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ

[Surah Al-Isra’:57]

Mereka adalah orang-orang yang mengharap rahmat Allāh ﷻ, menghadapi segala perkara dan menghadapi segala musibah ataupun kenikmatan maka dia senantiasa mengharap rahmat Allāh ﷻ, dan rahmat Allāh ﷻ lebih dia harapkan daripada amal shalehnya, dia beramal dia beribadah tapi dia mengetahui bahwasanya amal ibadah yang dia lakukan ini penuh dengan kekurangan, dia mengetahui yang demikian, dia mengetahui tentang kekurangan dia dan kekurangan ibadahnya dan juga amalannya, sehingga dalam doa mungkin bisa dilihat lagi apakah ini ma’tsur dari Nabi ﷺ atau tidak

وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِيْ

Dan rahmat-Mu ya Allāh ﷻ itu lebih saya harapkan daripada amalanku, kasih sayang-Mu ya Allāh ﷻ lebih aku harapkan daripada amalanku. Seseorang jangan dia terlalu berharap dan sangat berharap dari amalannya, amalannya penuh dengan kekurangan, kalau bukan karena rahmat Allāh ﷻ amalan yang kita lakukan ini tidak ada bandingannya, tidak bisa menjadi ganti dari surga yang Allāh ﷻ berikan kepada kita.

Seandainya kita berpikir misalnya satu rahmat Allāh ﷻ atau satu nikmat yang Allāh ﷻ berikan kepada kita berupa penglihatan, kalau dibandingkan amal yang kita lakukan dengan nikmat yang berupa penglihatan ini niscaya amalan yang kita lakukan yang begitu banyaknya mungkin tapi penuh dengan kekurangan tidak bisa mengganti nikmat penglihatan, belum lagi nikmat pendengaran, belum lagi nikmat pernapasan, belum lagi nikmat bisa mencerna makanan, untuk mengganti kenikmatan-kenikmatan dunia saja tidak cukup dengan amalan yang kita lakukan.

Bahkan ketika kita beramal menggunakan nikmat Allāh ﷻ, antum shalat, antum sedekah itu dari nikmat Allāh ﷻ juga, bagaimana kita bisa mengganti nikmat Allāh ﷻ yang ada di dunia ini dengan amal yang kita gunakan sementara kita beribadah itu adalah juga merupakan nikmat Allāh ﷻ. Lalu bagaimana bisa seseorang mengharap dia mengganti nikmat yang ada di dalam surga dengan amalan-amalannya, bukan, kita masuk ke dalam surga adalah dengan rahmat Allāh ﷻ bukan ganti dari amalan-amalan kita, amalan kita hanyalah sebab, kita disuruh untuk beriman dan kita disuruh untuk beramal sebagai sebab saja, sebagai sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Allāh ﷻ mengatakan

كُلُوْا وَاشْرَبُوْا هَنِيْۤئًا ۢبِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۙ
جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

ب di sini adalah ba’ yang sababiyah, yaitu bahwasanya amalan kita adalah sebab masuknya kita ke dalam surga tapi bukan ganti. Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

لَنْ يَدْخُلَ الْـجَنَّةَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِعَمَلِهِ

Salah seorang diantara kalian tidak masuk surga dengan amalannya, surga ini bukan ganti dari amalannya, kemudian mereka mengatakan

وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Engkau juga demikian wahai Rasulullāh ﷺ? Beliau ﷺ mengatakan

وَلاَ أَنَ

Aku juga, yaitu aku juga demikian artinya aku masuk surga bukan karena ganti dari amalan yang aku lakukan di dunia, padahal Nabi ﷺ jelas amalan Beliau ﷺ adalah amalan yang paling baik, iman Beliau ﷺ adalah amalan yang paling tinggi tapi itu bukan kemudian surga ini menjadi ganti dari iman dan juga amalan Beliau ﷺ, yang menjadikan kita masuk ke dalam surga adalah rahmat Allāh ﷻ

إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Kecuali Allāh ﷻ memberikan kepadaku dan meliputi aku dengan rahmat-Nya. Demikian kita semua masuk ke dalam surga Allāh ﷻ adalah dengan rahmat Allāh ﷻ. Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

رَحْمَتَكَ أَرْجُو

Rahmat-Mu Ya Allāh ﷻ yang aku harapkan, kita beriman kita beramal ini adalah sebab tapi rahmat Allāh ﷻ itulah yang lebih kita harapkan daripada amal yang kita lakukan.

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا

Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Menyayangi orang-orang yang beriman. Dan ini adalah rahmah yang khasah, rahmah yang khusus yang Allāh ﷻ khususkan bagi orang-orang yang beriman sebagaimana tadi sudah kita sebutkan contohnya, yaitu nikmat hidayah, nikmat menempuh jalan yang lurus, nikmat mengikuti sunnah Nabi ﷺ, nikmat taubat, maka ini adalah rahmat Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ khususkan bagi orang-orang yang beriman, surga juga demikian. Kemudian, dan Allāh ﷻ mengatakan

ْكَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

Allāh ﷻ telah menetapkan atas diri-Nya, mewajibkan atas diri-Nya rahmah. Allāh ﷻ menetapkan atau bisa juga mewajibkan atas diri-Nya Rahmah, dan Allāh ﷻ mewajibkan atas diri-Nya apa yang Dia kehendaki dan makhluk tidak boleh mewajibkan kepada Allāh ﷻ, disini Allāh ﷻ mewajibkan atas diri-Nya dan dalam hadits kudsi Allāh ﷻ mengharamkan atas diri-Nya kedzoliman

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan atas diri-Ku kedzaliman, Allāh ﷻ mengharamkan atas diri-Nya kedzaliman dan Allāh ﷻ mewajibkan atas dirinya Rahmat yaitu menyayangi.

Didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ الله لمّا خلق الله الخلق كتب في كتابِ

Allāh ﷻ ketika menciptakan makhluk-Nya Allāh ﷻ menulis sebuah tulisan atau mewajibkan

فهو عنده فوق العرش

Dan itu disisi-Nya berada di atas Arsy

إن رحمتي سَبَقَتْ غَضَبِي

Bahwasanya rahmat-Ku itu mendahului marah-Ku, menunjukkan bagaimana kebesaran kasih sayang Allāh ﷻ. Kalau seseorang mencermati nama Allāh ﷻ dan juga memperhatikan sifat rahmah yang Allāh ﷻ sebutkan di dalam Al-Qur’an dan juga sunnah Nabi ﷺ dan dia memperhatikan apa yang ada di sekitarnya dan memperhatikan dirinya sendiri, mengulang kembali bagaimana Allāh ﷻ merahmati dari semenjak dia kecil sampai dia sekarang menjadi orang yang dewasa, bagaimana Allāh ﷻ membimbing, bagaimana Allāh ﷻ memudahkan maka akan muncul di dalam dirinya sifat optimis dan tidak putus asa, senantiasa berharap kepada Allāh ﷻ sesempit apapun keadaannya. Tidaklah berputus asa dari rahmat Allāh ﷻ kecuali orang-orang yang tidak mengenal Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah Yang Maha Penyayang

ْكَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

Allāh ﷻ telah mewajibkan atas dirinya Ar-Rahmah.
Kemudian beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan Dia-lah Allāh ﷻ Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al-Ghofur nama di antara nama-nama Allāh ﷻ dan memiliki sifat Al-Ghofr, sifat yang terkandung di dalamnya adalah Al-Ghofr dan Al- Ghofr artinya adalah As-Sakr yaitu menutupi. Allāh ﷻ adalah Dzat yang sangat menutupi yaitu menutupi dosa-dosa hamba-Nya, sangat menutupi, demikian nama Allāh ﷻ Al-Ghofur.

Antum lihat pada diri antum sendiri dan kita semuanya, betapa banyak dosa-dosa yang kita lakukan Allāh ﷻ menutupi, Allāh ﷻ tutupi sehingga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ dan juga diri kita sendiri, teman kita tidak mengetahui, istri kita tidak mengetahui, anak kita tidak mengetahui padahal kita melakukan sebuah kemaksiatan, kenapa mereka tidak mengetahui karena Allāh ﷻ menutupi, kalau Allāh ﷻ menghendaki Allāh ﷻ akan buka dosa-dosa tadi dan kemaksiatan-kemaksiatan tadi sehingga dilihat oleh orang lain tapi Allāh ﷻ Dia-lah Al-Ghofur Dia-lah Yang Maha Menutupi.

Sehingga seseorang mengatakan, memohon kepada Allāh ﷻ Allahummaghfirliy, ya Allāh ﷻ ighfirliy, diantara maknanya adalah tutupilah aku, yaitu tutupilah dosaku jangan sampai terbongkar, terbuka sehingga tersebar di media massa misalnya atau di media sosial. Allahummaghfirliy, ya Allāh ﷻ tutupilah aku, ya Allāh ﷻ tutupilah aku, kalau Allāh ﷻ menghendaki dengan caranya bisa saja aib-aib kita dan dosa-dosa kita dan maksiat kita terbongkar, apalagi di zaman sekarang seorang bisa dengan kepandaiannya bisa melacak password, bisa membongkar akun orang lain, kalau Allāh ﷻ menghendaki tinggal menggerakkan mereka sehingga terjadilah apa yang terjadi, tapi Allāh ﷻ Dia-lah Al-Ghofur, Dia-lah Yang Maha Menutupi dosa

وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Dan syahidnya disini adalah Ar-Rahim karena di sini beliau sedang mendatangkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat rahmah.

Kemudian Allāh ﷻ mengatakan

اللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Maka Allāh ﷻ Dia-lah yang sebaik-baik penjaga. Menjaga apa? Pertama menjaga amalan, Allāh ﷻ Dia-lah yang menyimpan amalan kita, apakah ada yang tercecer dari amalan yang kita lakukan, tidak, tasbih yang antum ucapkan, kita sendiri tidak tahu berapa kali kita bertasbih, tahmid yang antum ucapkan, sholawat, atau sholat berapa rakaat yang antum lakukan, puasa yang antum lakukan, Allāh ﷻ catat semuanya itu dan Allāh ﷻ jaga semuanya itu untuk kita, maka Dia-lah sebaik-baik penjaga.

Kalau kita sebagai makhluk disuruh untuk menulis, jangankan orang lain, apa yang kita lakukan sendiri, amalan yang kita lakukan sendiri, pekerjaan yang kita lakukan sendiri maka kita tidak akan mampu untuk melakukannya, jangankan amalan dalam sehari yang satu jam saja kita suruh menulis semuanya kita tidak akan mampu, tapi Allāh ﷻ menjaga, dijaga oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ menjaganya dan mereka sudah lupa tapi Allāh ﷻ menjaganya.

Demikian pula di antara maknanya Allāh ﷻ Dia-lah sebaik-baik penjaga yang menjaga kita dari musibah, banyak di sana sebenarnya hal-hal yang bisa memudhoroti kita tapi Allāh ﷻ menjaga kita dari musibah tadi. Banyak di sana bakteri, banyak di sana virus, banyak di sana hal-hal yang mengancam keselamatan kita tapi Allāh ﷻ jaga kita, apa yang ada di sekitar kita ini sekarang ada listrik misalnya, yang kalau sampai kesetrum seseorang bisa meninggal di tempat tapi Allāh ﷻ jaga, Allāh ﷻ jaga kabelnya, Allāh ﷻ jaga temboknya sehingga kita tidak terkena mudhorot tadi kecuali memang sudah datang ajalnya.

Kalau kita renungkan maka Allāh ﷻ telah menjaga kita dari banyak hal, dan di sana ada penjagaan Allāh ﷻ khusus untuk wali-wali-Nya, khusus untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa yaitu dijaga dari kesesatan, dijaga dari penyimpangan, dijaga dari syubhat dan syahwat, maka Allāh ﷻ Dia-lah sebaik-baik hafidzan, Dia-lah sebaik-baik yang menjaga. Sehingga seorang muslim bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ, ini diucapkan oleh Nabi Ya’qub Alaihissalam, beliau mengatakan ketika akan melepas putranya Bin Yamin

فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ

Allāh ﷻ Dia-lah yang sebaik-baik penjaga.

Makhluk, apa yang bisa dia lakukan, jadi seorang muslim bertawakal hanya kepada Allāh ﷻ dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ Dia-lah sebaik-baik penjaga. Ketika kita melepas anak kita kembali ke pesantren atau ketika dia sekolah siapa yang menjaga dia kalau bukan Allāh ﷻ, dari mobil yang kencang, dari mungkin sedang berkelahi dengan temen-temen yang lain, yang kita tidak tahu anak-anak terkadang dia membawa senjata tajam, terkadang dia membeli sesuatu yang termudhoroti Allāh ﷻ yang menjaga mereka.

فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Dan Dia-lah yang paling menyayangi, أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِين adalah Allāh ﷻ.

Makhluk, mereka juga memiliki sifat rahmah tapi siapa yang Arham, Allāh ﷻ, tidak ada yang lebih sayang daripada Allāh ﷻ. Oleh karena itu seorang ketika misalnya dia kehilangan seseorang yang dia cintai dan dia sangat sayang kepada orang tersebut, mungkin kehilangan anaknya yang sedang lucu-lucunya yang sedang dia ingin menumpahkan rahmatnya dan kasih sayang untuk anak tersebut, ketika dia meninggal dunia dia harus memahami bahwasanya Allāh ﷻ lebih sayang kepada anak tadi daripada dia.
Ketika kita menyayangi atau kasihan kepada seseorang yang fakir, orang yang miskin, maka Allāh ﷻ lebih sayang kepada mereka daripada kita, sehingga di sini menghindarkan ujub bagi seseorang, menghindarkan ujub pada dirinya dan juga menjadikan dia ridho dengan apa yang Allāh ﷻ takdirkan, Allāh ﷻ lebih sayang kepada anak kita dari pada diri kita sendiri.

Demikian pula ketika kita tertimpa musibah misalnya maka kita berharap ini adalah bagian dari rahmat Allāh ﷻ, ingin mengingatkan kita dari kelalaian kita. Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

Allāh ﷻ kalau mencintai sebuah kaum maka Allāh ﷻ akan menguji mereka.

Diuji mereka, diturunkan kepada mereka bala, ujian dan juga cobaan. Jadi kita menetapkan sifat Rahmah bagi Allāh ﷻ dan tidak boleh kita mengingkari, karena ada sebagian yang mengingkari nama Ar-Rahman atau menetapkan nama Ar-Rahman tapi mengingkari sifat Rahmah, Al jahmiyah mereka mengingkari nama dan juga sifat Allāh ﷻ, mu’tazilah mereka menetapkan nama Allāh ﷻ tapi mengingkari sifat Allāh ﷻ sehingga mereka mengatakan Rohman bi la Rahmah, Dia adalah Ar-Rahman tapi tidak memiliki Rahmah.

Dan ada diantara mereka yang mentakwil dengan mengatakan bahwasanya rahmat Allāh ﷻ disini maksudnya adalah iradatul in’am atau kehendak Allāh ﷻ untuk memberikan nikmat. Kalau kita tanya kenapa dia mengingkari atau mentakwil rahmat Allāh ﷻ dengan demikian, karena kalau kita menetapkan rahmat Allāh ﷻ kita telah menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk sehingga kita takwil dengan irodah. Kita katakan, ketika antum mentakwil rahmat Allāh ﷻ dengan irodah bukankah makhluk juga memiliki irodah sehingga kalau kita mentakwil Rahmat Allāh ﷻ dengan iradatul in’am berarti sama saja kita juga menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk karena makhluk juga memiliki irodah, kita semuanya memiliki kehendak, memiliki keinginan.

Kalau dia mengatakan oh tidak, irodah makhluk sesuai dengan kekurangannya adapun irodah Allāh ﷻ sesuai dengan kesempurnaannya, sesuai dengan keagungannya. Kita katakan demikian pula rahmat Allāh ﷻ yang kita tetapkan adalah sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ dan rahmat yang dimiliki oleh manusia dan juga makhluk sesuai dengan kekurangannya, karena makhluk juga memiliki sifat rahmah. Allāh ﷻ mengatakan

مُّحَمَّدٞ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ

[Al-Fath:29]

Mereka saling merahmati satu dengan yang lain. Dan Nabi ﷺ mengatakan

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ

Orang-orang yang penyayang maka mereka akan disayang oleh Allāh ﷻ. Maka jadilah kita orang yang menyayangi orang lain sehingga Allāh ﷻ akan menyayangi kita, menyayangi kita dengan Rahmat yang umum maupun Rahmat yang khusus.

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Hendaklah kalian menyayangi orang yang ada di bumi niscaya Allāh ﷻ akan menyayangi kalian. Jadi sayangi orang lain, kasihanilah orang lain karena Allāh ﷻ, yaitu kita berharap Allāh ﷻ akan menyayangi kita.

Kemudian yang kedua hendaklah kita jangan putus asa dari rahmat Allāh ﷻ, hidup penuh dengan ujian, penuh dengan bala dan juga cobaan, sebesar apapun ujian yang menimpa kita, kesulitan apapun yang kita hadapi maka jangan kita putus asa dari Rahmat Allāh ﷻ dan yakin bahwasanya apa yang Allāh ﷻ takdirkan itulah yang terbaik bagi kita dan kita anggap mungkin itu adalah sesuatu yang kita benci ternyata di situ ada kebaikan bagi kita.

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ

(QS Al-Baqarah: 216)

Mungkin engkau benci sesuatu padahal itu adalah baik bagi kalian dan mungkin engkau mencintai sesuatu padahal itu adalah jelek bagi kalian.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته