Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 23

Halaqah 23 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Menunjukkan Sifat Marah Bagi Allāh ﷻ Bagian 1

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-23 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Insya Allāh kita lanjutkan dan masuk pada pembahasan yang baru yaitu dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Ghodhob, sifat marah. Dalil-dalil yang dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalamnya ada penetapan sifat Allāh ﷻ yaitu Al-Ghodhob, dan makna Al-Ghodhob adalah marah dan As-Sakht atau As-Shukhtu dan maknanya adalah Siddatul Ghodhob (kemarahan yang sangat), demikian pula sifat ridho dan sifat Al-Asaf ini juga maknanya Siddatul Ghodhob kemarahan yang sangat dan dalil tentang bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Qur yaitu benci dan At-Tatsbith yaitu menahan, dan disana ada sifat Al-Maqt, ini adalah sifat-sifat yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibawakan oleh Muallif.

Digabungkan di sini ayat yang menunjukkan tentang sifat ghodhob sifat Sakht, sifat Al-Asaf sifat Al-Maqt karena maknanya mutaqarib, maknanya hampir sama, dekat. Al-Ghodhob adalah marah kalau sukhtun artinya adalah Syiddatul Ghodhob yaitu kemarahan yang sangat, demikian pula makna asaf, maka termasuk bagusnya di dalam penulisan semua ini di gabungkan jadi satu dan didekatkan karena maknanya hampir sama. Adapun ayat yang pertama

وَقَوْلُهُ

Dan firman Allāh ﷻ

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا

Dan barangsiapa yang membunuh seorang yang beriman, seorang muslim dan yang dimaksud dengan مُؤْمِنًا di sini adalah orang yang memiliki keimanan, baik seorang mukmin yang tinggi keimanannya ataupun yang rendah, seorang muslim yang penting dia muslim dan dia memiliki ashlul Iman, memiliki pokok-pokok dari keimanan, yang kita tahu bahwasanya hukumnya adalah haram karena darah seorang muslim adalah diharamkan sebagaimana dalam hadits

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

Sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian dan kehormatan-kehormatan kalian adalah haram atas kalian, yaitu tidak boleh kita membunuh saudara seislam, mengambil hartanya tanpa hak, merusak kehormatannya. Bagaimana hukum orang yang membunuh seorang muslim yang sudah dijaga oleh Allāh ﷻ, dia adalah jiwa yang ma’sūmah, jiwa yang dijaga oleh Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang telah menciptakannya dan Allāh ﷻ yang telah menghidupkannya, menghidupkannya dengan nyawa dan menghidupkan hatinya dengan Islam dengan iman.

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا

Barangsiapa yang membunuh seorang muslim, dan ini masuk juga laki-laki maupun wanita baik yang dewasa maupun yang anak kecil, yang jelas dia adalah seorang yang muslim

مُّتَعَمِّدًا

dalam keadaan dia sengaja, sengaja membunuhnya, sadar bahwasanya ini adalah seorang muslim dan dia membawa atau melakukan sesuatu yang memang kalau dikenakan kepada orang tersebut akan meninggal dunia, di tebas lehernya atau ditusuk jantungnya atau diracun atau dibakar berarti di sini membunuh dengan sengaja (مُّتَعَمِّدًا).

Berarti di sana ada membunuh yang tidak disengaja, maka ini hukumnya berbeda, sengaja dengan tidak sengaja berbeda, orang yang membunuh secara tidak sengaja mungkin dia ada pertengkaran, dia melakukan sesuatu tapi kebanyakan kalau di gitukan saja itu orang tidak meninggal, kok tahu-tahu ini meninggal maka ini berarti khoto’, atau maksudnya adalah seorang yang misalnya dia memanah misalnya, yang dia tuju adalah seekor buruan tapi salah sehingga tidak sengaja terkena seorang yang beriman, berarti di sini membunuhnya adalah karena sebuah kesalahan, ini hukumnya lain tentunya tidak sama antara orang yang sengaja membunuh dengan orang yang tidak sengaja.

Bagaimana dengan orang yang sengaja dan dia menyadari dan melakukan usaha, melakukan perbuatan yang memang dengannya bisa membunuh orang ini adalah dosa yang besar, Allāh ﷻ menghidupkan kemudian ada seorang makhluk mematikannya tanpa haq, disisi Allāh ﷻ ini adalah dosa yang besar, termasuk dosa-dosa besar yang disayangkan banyak orang yang bermudah-mudahan.

Kalau kita membaca berita hampir setiap hari ada saja orang yang melakukan pembunuhan padahal di negeri yang mayoritas mereka adalah muslim seakan-akan membunuh nyawa atau membunuh manusia ini seperti membunuh seekor hewan, padahal dia adalah seorang muslim yang memiliki kedudukan di sisi Allāh ﷻ yang di sebutkan di dalam hadits, sungguh hilangnya dunia dan seisinya ini lebih ringan di sisi Allāh ﷻ daripada terbunuhnya jiwa seorang muslim.

Hilangnya dunia ini antum bayangkan, hilangnya dunia dan seisinya, apa yang ada di dunia ini berupa perkara-perkara yang di mata manusia itu adalah sangat berharga tapi di sisi Allāh ﷻ hilangnya dunia ini lebih ringan daripada terbunuhnya seorang muslim, keislaman dia mengangkat dia sehingga dia memiliki kedudukan di sisi Allāh ﷻ maka bagaimana seseorang bermudah-mudahan menghilangkan nyawa seseorang, seorang muslim atau muslimah dia adalah temannya atau istrinya atau suaminya atau anaknya, sehingga tidak heran apabila di dalam Islam orang yang membunuh dengan sengaja maka di sana ada qishosh, yaitu dibunuh dia

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِصَاصُ فِي ٱلۡقَتۡلَىۖ

Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian adanya qishosh di dalam orang-orang yang terbunuh

ٱلۡحُرُّ بِٱلۡحُرِّ وَٱلۡعَبۡدُ بِٱلۡعَبۡدِ وَٱلۡأُنثَىٰ بِٱلۡأُنثَىٰۚ

[Al-Baqarah:178]

Orang yang merdeka dengan orang yang merdeka, seorang budak dengan seorang budak, dan seorang wanita dengan seorang wanita.

وَلَكُمۡ فِي ٱلۡقِصَاصِ حَيَوٰةٞ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

[Al-Baqarah:179]

Dan bagi kalian di dalam qishosh itu ada kehidupan wahai orang-orang yang memiliki akal.

Artinya di dalam qishosh ini ada hikmah, ada hikmah yang dalam yaitu menjaga kehidupan manusia, karena orang yang terbiasa melakukan pembunuhan atau sekali dia melakukan pembunuhan, terkadang masalahnya adalah masalah yang sepele, rebutan tempat kemudian dia membunuh, orang yang terbiasa atau sekali dia membunuh maka setelahnya sangat mudah bagi dia untuk membunuh lagi bukan sesuatu yang berat bagi dia, sekali dia membunuh kalau ada masalah lagi dengan mudah dia akan membunuh, sudah terbiasa melihat darah sudah terbiasa dia mencincang orang, memotong lehernya, memotong tangannya dan seterusnya, sehingga banyak kasus dia ketahuan membunuh kemudian ternyata sebelumnya sudah membunuh belasan orang, ketahuan baru yang kesekian. Dan sejarah juga menyatakan demikian, ada sebagian orang yang dikenal puluhan ribu manusia meninggal karena perintah dia, bukan sesuatu yang berat bagi dia untuk mengatakan bunuh si fulan gantung si fulan dan seterusnya.

Di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

مِنۡ أَجۡلِ ذَٰلِكَ كَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا 

Orang yang membunuh sebuah jiwa bukan karena dia membunuh jiwa yang lain, أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ tanpa sebab kerusakan di bumi maka dia seperti orang yang yang membunuh seluruh manusia

وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ 

[Al-Ma’idah:32]

Dan barangsiapa yang menghidupkan sebuah jiwa maka dia seperti menghidupkan seluruhnya.

Orang yang membunuh sekali tanpa sebab maka dengan mudah dia akan membunuh yang lain, dan kita tidak akan nyaman kalau kita tahu bahwasanya si fulan pernah membunuh tanpa hak kemudian kita dan dia tinggal dalam satu RT satu RW misalnya, dia berkeliaran dengan senjatanya misalnya atau dengan kedzoliman dia berkeliaran di jalan bertemu dengan manusia, siapa diantara kita yang tenang hidup bersama orang seperti itu, yang sewaktu-waktu dia bisa kalau naik pitam dan kalau dia marah kalau dia ingin dia membunuh orang lain, sehingga dalam Islam ditegakkan di sana qishosh. Itu hukuman di dunia.

فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا

[An-Nisa’:93]

Orang yang membunuh seorang yang beriman dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam خَٰلِدٗا فِيهَا . Dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah dosa besar, ketika sebuah dosa diancam dengan neraka atau jahanam ini menunjukkan bahwasanya dosa itu adalah termasuk dosa besar. Pelaku dosa besar kalau dia tidak bertobat dari dosanya sebelum dia meninggal dunia maka di hari kiamat dia tahta masyiatillāh, dia berada di bawah kehendak Allāh ﷻ, kalau Allāh ﷻ menghendaki Allāh ﷻ mengampuni dosa membunuhnya ini dan kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ akan memasukkan dia ke dalam jahanam untuk diadzab sementara disana.

Diazab sementara lalu apa makna firman Allāh ﷻ

خَٰلِدٗا فِيهَا

Dia dalam keadaan kholid di dalamnya, bukankah kholid artinya mereka adalah kekal di dalam neraka? Para ulama di sini memiliki penjelasan dan juga pengarahan bahwasanya Al-khulud di dalam bahasa Arab terkadang maknanya adalah selamanya didalam neraka dan terkadang maknanya adalah al-khulud disini adalah tinggal di dalam neraka dalam waktu yang sangat lama sehingga dinamakan dengan khulud, mereka tinggal lama di dalam neraka dan ini adalah menunjukkan tentang adzab yang pedih yang diterima oleh orang yang membunuh tanpa hak.

Dan tinggal di dalam neraka sebentar, adzab dan kepedihan yang sangat, kita di dunia menaruh ujung jari kita di atas api dalam waktu satu detik saja kita tidak mampu atau kita merasa kepanasan, satu detik saja, lalu bagaimana kalau lebih daripada itu, sepuluh detik, satu menit, lima menit, itu baru neraka dunia. Dan disebutkan dalam hadits bahwasanya neraka yang ada pada kita di dunia ini itu adalah satu diantara tujuh puluh bagian neraka di akhirat, menunjukkan bahwasanya suhu api di sana jauh lebih tinggi daripada api yang ada di dunia ini, yang seperti ini saja kita tidak tahan lalu bagaimana seandainya suhunya dilipatgandakan menjadi tujuh puluh kali.

Seandainya seseorang berada dalam tempat tersebut satu hari saja maka ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan, lalu bagaimana seandainya dia tinggal di sana dalam waktu yang sangat lama خَٰلِدٗا فِيهَا artinya adalah tinggal yang sangat lama, menunjukkan tentang bagaimana besarnya dosa orang yang membunuh tanpa hak, yang harusnya seseorang muslim takut dengan masalah ini, takut kepada Allāh ﷻ jangan sampai dia bermudah-mudahan didalam membunuh. Dan Allāhua’lam diantara sebab mudahnya seseorang melakukan pembunuhan di zaman sekarang adanya tontonan-tontonan yang di situ di ajarkan tentang kekerasan, pembunuhan, peperangan bahkan di dalam permainan-permainan juga di sana ada melatih atau mencontohkan kepada anak-anak kekerasan-kekerasan tersebut, sehingga sebagian mempraktekkan ini kepada temannya.

Satu orang misalnya karena mereka habis melihat tontonan yang di situ ada pengeroyokan dan seterusnya, satu orang temannya melakukan kesalahan kemudian di keroyok ramai-ramai, dipukulin ramai-ramai dan mereka tidak sadar ternyata temannya ini sudah terluka, kepalanya terluka ininya dan itu sehingga dia meninggal dunia, maka waspada seseorang dari permainan-permainan seperti ini. Kemudian خَٰلِدٗا فِيهَا, dia kekal di dalamnya

وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ akan marah kepadanya, dan disini syahidnya Allāh ﷻ akan marah kepadanya, menunjukkan bahwasanya di antara sifat Allāh ﷻ adalah Ghodhob, dan Ghodhob atau marah ini adalah sifat fi’liyyah yang berkaitan dengan Dzat Allāh ﷻ dan Dia termasuk sifat Khobariyyah, fi’liyyah khobariyah, Fi’liyyah karena dia berkaitan dengan Masyiatullah, Allāh ﷻ marah kepada siapa yang di kehendaki dan kapan Dia kehendaki, dan Dia termasuk sifat yang Khobariyyah karena sifat Ghodhob ini tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil sehingga dia adalah sifat fi’liyyah khobariyyah.

وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ melaknatnya.

Sebelumnya ketika kita menetapkan sifat ghodhob (marah) bagi Allāh ﷻ maka kita menetapkan sifat ghodhob tersebut, marah tersebut sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ, tidak sama dengan marah yang dimiliki oleh makhluk. Sebagian Ahlul bid’ah mereka menolak sifat ghodhob, ada yang menafikannya seperti mu’tazilah, ada yang menta’wilnya dengan irodah, lagi-lagi mereka menta’wilnya dengan irodah yaitu keinginan untuk mengadzab, mereka ta’wil dengan irodah mengatakan bahwasanya ghodhob (marah) inikan yang namanya marah itukan mendidihnya darah padahal Allāh ﷻ kan tidak punya darah kata mereka, sehingga kalau kita mensifati Allāh ﷻ dengan Ghodhob berarti kita mensifati bahwasanya Allāh ﷻ punya darah dan seterusnya, dan darah tersebut mendidih kemudian terjadilah yang dinamakan dengan marah, maka ini ucapan yang bathil.

Tidak meladzimkan ketika kita mensifati Allāh ﷻ dengan Ghodhob bahwasanya Allāh ﷻ memiliki apa yang dimiliki oleh makhluk berupa darah, kita katakan Allāh ﷻ marah sesuai dengan keagungannya tidak sama dengan marahnya makhluk, makhluk mereka marah dan Allāh ﷻ memiliki sifat marah dan marahnya Allāh ﷻ tidak sama dengan marahnya makhluk. Didalam Al-Quran Allāh ﷻ mengatakan

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنَادَوۡنَ لَمَقۡتُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ مِن مَّقۡتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡ

[Ghafir:10]

Sesungguhnya orang-orang yang kafir akan dipanggil, sungguh kemarahan Allāh ﷻ lebih besar daripada kemarahan kalian terhadap diri kalian sendiri.

Jadi saat itu orang-orang kafir mereka benci dan marah terhadap diri mereka sendiri, menyesal karena mereka di dunia mengikuti hawa nafsunya, tidak beriman, kufur, akhirnya di hari tersebut, di hari kiamat mereka marah pada diri mereka sendiri dan kemarahan Allāh ﷻ kepada mereka lebih besar, ini menunjukkan bahwasanya makhluk juga memiliki sifat maqt. Dan Allāh ﷻ mengatakan

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا

Dan ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan ghodhban (dalam keadaan marah) أَسِفٗا (dengan marah yang sangat)

قَالَ بِئۡسَمَا خَلَفۡتُمُونِي مِنۢ بَعۡدِيٓۖ

[Al-A’raf:150]

Beliau mengatakan sungguh jelek apa yang kalian lakukan setelahku (karena mereka menyembah patung seekor sapi).

Berarti makhluk memiliki sifat ghodhob tapi beda antara ghodhob yang dimiliki oleh Allāh ﷻ dengan ghodhob yang dimiliki oleh makhluk, ini qaidah akan terus berulang-ulang, itsbat bi la tamtsil, kita menetapkan tanpa kita menyerupakan, dan tanzih bi la ta’til, kita mensucikan tanpa kita meniadakan, tanpa kita menafikan sifat-sifat Allāh ﷻ.

وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ melaknat dia, subhanallah, diancam dengan jahanam, lama di dalam jahanam dan Allāh ﷻ marah kepadanya, dan dosa yang diiringi dengan marahnya Allāh ﷻ ini juga menunjukkan dia adalah dosa besar

وَلَعَنَهُ

Dan Allāh ﷻ melaknatnya, melaknat artinya adalah dijauhkan dari rahmat Allāh ﷻ, ini juga yang menunjukkan bahwasanya dosa ini adalah termasuk dosa besar. Para ulama ketika membicarakan tentang definisi dosa besar yaitu dosa yang diiringi dengan laknat, dengan ancaman neraka, ada hukuman di dunia, dan orang yang membunuh مُّتَعَمِّدًا (dengan sengaja) yaitu membunuh seorang muslim dengan sengaja ada hukuman di dunia yaitu qishosh, berarti terkumpul dalam dosa ini beberapa tanda yang menunjukkan bahwasanya dia adalah dosa besar.

Dan dosa besar dalam Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah ini perkara yang membahayakan akan tetapi dia tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam, bagaimana kalau dia membunuh seratus orang misalnya, sama, dosanya adalah dosa yang banyak tapi dia tidak sampai keluar dari agama Islam. Di dalam sebuah ayat Allāh ﷻ mengatakan

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ

[Al-Hujurat:9]

Kalau ada dua kelompok dari kalangan orang-orang yang beriman, ٱقۡتَتَلُواْ saling membunuh saling berperang satu dengan yang lain, ٱقۡتَتَلُواْ artinya adalah saling membunuh satu dengan yang lain, masing-masing membawa pedang masing-masing membawa senjata ingin membunuh saudaranya, Allāh ﷻ mengatakan

فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ

Hendaklah kalian damaikan diantara keduanya. Di sini Allāh ﷻ masih mensifati dua kelompok ini dengan iman.

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Dari kalangan orang-orang yang beriman, berarti mereka tidak kufur, mereka masih disifati sebagai orang yang beriman. Dan dalam ayat

فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ

Barangsiapa yang diampuni atau dimaafkan oleh saudaranya, yaitu dimaafkan oleh wali-wali dari yang terbunuh tadi, maka hendaklah dia

فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ

[Al-Baqarah:178]

Hendaklah mereka mengikuti itu dengan kebaikan, dan di sini Allāh ﷻ masih mensifati orang yang membunuh tadi sebagai Akhi (saudara) yaitu saudara seislam.

Saking besarnya dosa membunuh ini sampai sebagian sahabat ada yang mengatakan bahwasanya orang yang membunuh ini tidak diterima taubatnya karena melihat betapa besarnya dosa membunuh ini, dan ini diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas dan juga yang lain dan Allāhu A’lam ini dibawa kepada keras didalam memberikan peringatan, supaya manusia tidak bermudah-mudahan dalam membunuh, dan yang shahih tentunya bahwasanya sebesar apapun dosa bahkan seandainya itu adalah dosa kekufuran kalau seseorang bertaubat kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan mengampuni. Dalam sebuah hadits

من تاب تاب الله عليه

Barangsiapa yang bertaubat maka Allāh ﷻ akan memberikan taubat kepadanya. Dan Allāh ﷻ mengatakan

قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ

[Az-Zumar:53]

Sesungguhnya Allāh ﷻ mengampuni dosa semuanya, kalau dia yaitu orang yang melakukan pembunuhan tadi bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha maka Allāh ﷻ akan mengampuni dosanya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

(QS. At-Tahrim : 8)

Dan sudah berlalu bahwasanya Allāh ﷻ mencintai orang-orang yang banyak bertaubat kepada Allāh ﷻ, dia membunuh sebanyak apapun kalau dia bertaubat kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ mencintai orang yang bertaubat kepada-Nya. Cuma perlu diketahui bahwasanya orang yang membunuh ini bukan hanya melakukan pelanggaran terhadap hak Allāh ﷻ, ada tiga hak yang berkaitan dengan orang yang membunuh ini. Pertama adalah hak Allāh ﷻ, kemudian adalah hak wali yaitu hak wali dari yang terbunuh, kemudian yang ketiga adalah hak orang yang terbunuh.

Hak Allāh ﷻ kalau misalnya orang yang membunuh tadi dia bertaubat kepada Allāh ﷻ maka Allāh ﷻ akan menerima taubatnya, ini adalah hak Allāh ﷻ jika dia bertaubat kepada Allāh ﷻ dengan taubat yang nasuha maka Allāh ﷻ akan menerima taubatnya. Hak wali, mereka berhak untuk meminta qishosh, meminta di qishosh atau mereka meminta diyat (tebusan), atau mereka memaafkan sama sekali jadi tidak meminta diyat dan seterusnya, kalau wali tadi atau wali tersebut memaafkan atau meminta diyat berarti di sini sudah terpenuhi hak wali. Kepada Allāh ﷻ dia sudah bertaubat, kalau misalnya wali mereka memaafkan di dunia dan tidak sampai di qishosh maka di sini dia sudah memenuhi hak Allāh ﷻ dan sudah memenuhi hak wali.

Tinggal yang ketiga hak orang yang terbunuh tadi, ini tidak bisa tentunya di dunia tapi tunggu di hari kiamat, karena disebutkan di dalam hadits bahwasanya orang yang terbunuh nanti akan didatangkan, disini dalam sunan An-Nasa’i, Rasulullāh ﷺ mengatakan

يجيء المقتول بالقاتل يوم القيامة

Orang yang terbunuh akan datang membawa orang yang membunuhnya dihari kiamat, ini keadilan Allāh ﷻ

فيقول

Dia mengatakan

سل هذا فيم قتلني

Tanyalah ini yah Allāh ﷻ kenapa dia membunuhku, dia mengatakan

قتلته على ملك فلان

Aku membunuhnya karena milik si fulan.

Yang bisa kita ambil pelajaran di sini bahwasanya kelak orang yang dibunuh, yaitu di hari kiamat akan mendatangkan orang yang membunuh dan akan terjadi di sana hisab diantara mereka, berarti tinggal hak ini dia tunggu kapan sampai di hari kiamat, maka ini adalah tiga hak yang ada yang menjadi kewajiban orang yang membunuh, kewajiban untuk bertobat kepada Allāh ﷻ, kewajiban kepada wali dan juga kewajiban dia kepada orang yang dia bunuh.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته