Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah – Halaqah 24

Halaqah 24 | Penjelasan Beberapa Ayat Yang Menunjukkan Sifat Marah Bagi Allāh ﷻ Bagian 2

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-24 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.

Insya Allāh kita lanjutkan dan masuk pada dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Al-Ghodhob (sifat marah)

وَقَولُهُ :ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ

Yang demikian karena mereka mengikuti apa yang menjadikan Allāh ﷻ murka, ini ada didalam

surah Muhammad (ayat 28), sebelumnya Allāh ﷻ mengatakan (ayat 25-27)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱرۡتَدُّواْ عَلَىٰٓ أَدۡبَٰرِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡهُدَى ٱلشَّيۡطَٰنُ سَوَّلَ لَهُمۡ وَأَمۡلَىٰ لَهُمۡ

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ

فَكَيۡفَ إِذَا تَوَفَّتۡهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ

yaitu orang-orang munafik, maka Allāh ﷻ mengabarkan di sini, maka bagaimana seandainya malaikat-malaikat mematikan mereka, memukul wajah-wajah mereka dan juga bagian belakang mereka, karena mereka mengikuti apa yang membuat murka Allāh ﷻ, ini syahidnya, mereka mengikuti yaitu melakukan mengamalkan apa yang membuat murka Allāh ﷻ dan mereka membenci keridhohan Allāh ﷻ.

Berbeda dengan orang yang beriman yang mereka berusaha untuk mendapatkan ridho Allāh ﷻ, beramal untuk mendapatkan keridhoan Allāh ﷻ sementara orang-orang munafiqin mereka membenci keridhoan Allāh ﷻ.

فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ

Maka Allāh ﷻ membatalkan dan menggugurkan amalan mereka. Jadi syahidnya di sini adalah Firman Allāh ﷻ

ٱتَّبَعُواْ مَآ أَسۡخَطَ ٱللَّهَ

mereka mengikuti apa yang menjadikan Allāh ﷻ marah.

Berarti Allāh ﷻ memiliki sifat Sukhthun atau Sakhoth, bisa dibaca sukhthun bisa dibaca sakhoth, dua-duanya adalah sifat atau mashdar sesuai dengan keagungan Allāh ﷻ. Maka seorang muslim tentunya tidak ingin memiliki sifat orang-orang munafik yang mereka mengikuti apa yang menjadikan Allāh ﷻ murka, seorang muslim adalah seorang yang dia berusaha untuk bagaimana Allāh ﷻ itu ridho kepadanya, bagaimana Allāh ﷻ itu cinta kepadanya yaitu dengan melakukan perkara-perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ, apa perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ tentunya dengan melaksanakan perintah Allāh ﷻ dan juga menjauhi apa yang Allāh ﷻ larang. Seorang muslim berbeda dengan seorang yang munafik, dia berusaha untuk mengikuti apa yang membuat ridho Allāh ﷻ bukan yang membuat murka Allāh ﷻ

وَكَرِهُوا رِضْوَانَه

Mereka pun membenci keridhoan Allāh ﷻ.

Berarti di sini juga menetapkan tentang sifat ridho atau sifat ridhwan, bisa sifat ridho bisa sifat ridhwan, dan sifat ridho ini sudah berlalu pembahasannya ketika di sebutkan Firman Allāh ﷻ

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Allāh ﷻ ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allāh ﷻ.

فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ

Maka Allāh ﷻ membatalkan amalan mereka, bisa juga di sini kita mengambil satu sifat diantara sifat Allāh ﷻ yaitu sifat Ihbath yaitu sifat membatalkan, ini adalah sifat fi’liyyah cuma yang menjadi syahid yang utama di sini adalah sukhthun atau sakhoth, bisa juga kalau kita meneliti ayat ini maka di sana ada sifat yang lain, bahkan ada nama Allāh ﷻ yaitu Lafdzul Jalalah, disana ada sifat sakhoth sukhth, ada sifat ridhwan, ada sifat ihbath, demikian pula ayat yang sebelumnya bisa juga diambil sifat ghodhob, sifat la’nah, kemudian juga Lafdzul Jalalah, ada nama Allāh ﷻ Lafdzul Jalalah dan ada sifat Al-Uluhiyah. Kemudian setelahnya

فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ فَأَغۡرَقۡنَٰهُمۡ

(الزخرف – 55)

Maka ketika mereka membuat marah Kami, yaitu fir’aun dan juga bala tentaranya, ءَاسَفُونَا artinya adalah membuat marah Kami, Al-Asaf ini adalah sifat yang terkandung dalam ءَاسَفُون maknanya adalah syiddatul ghodhob yaitu kemarahan yang besar, berarti bersama dengan sukhthun atau sakhoth tadi. Dan di sana ada makna yang lain dari Al-Asaf yaitu syiddatul huzn, jadi kalimat asaf ada dua makna ada syiddatul ghodhob ada syiddatul huzn, ada kemarahan yang sangat ada kesedihan yang sangat, dari mana kita tahu dan bagaimana kita mengartikan, dilihat konteksnya tentunya.

Ketika di sini

فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُمۡ

Ketika mereka membuat marah Kami maka Kami pun menghukum mereka, فَأَغۡرَقۡنَٰهُم kami pun menenggelamkan mereka berarti di sini apa Syiddatul Al-Ghodhob. Di sana ada syiddatul hizn dan juga dalam firman Allāh ﷻ yang lain tadi

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰٓ إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ غَضۡبَٰنَ أَسِفٗا

Ini maksudnya adalah marah yang sangat, dan dia menguatkan ghodhban, sebelumnya ghodhban itu sudah menunjukkan haal yaitu keadaan dia marah, ditambah lagi dengan Asifan ini menguatkan.
Adapun dalam firman Allāh ﷻ

يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ

yang diucapkan oleh Nabi ﷺ Ya’qub ketika sedih dengan perginya Yusuf, dia mengatakan يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ, makna asaf di sini sedih yaitu syiddatul hizn, dia sangat sedih dengan apa yang terjadi, dan lain antara kesedihan dengan tidak ridho dengan takdir Allāh ﷻ. Sedih sesuatu yang tabiat, ini adalah tabiat manusia ketika dia berpisah dengan orang yang dia cintai dia bersedih dan tidak meladzimkan dari kesedihan tadi tidak Ridho dengan takdir Allāh ﷻ.

Makanya Nabi ﷺ ketika berpisah dengan Ibrahim putra beliau apa yang beliau katakan, sungguh hati ini sedih dan mata ini mengalir air mata dan sesungguhnya kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim, kami tidak mengatakan kecuali apa yang membuat ridho Allāh ﷻ. Sedih ini adalah tabiat manusia, tidak mengurangi keimanan seseorang karena sedih ini, Nabi ﷺ Ya’qub bersedih, ini adalah tabiat karena dia melihat kesholehan Yusuf dan anak yang menyejukkan mata sehingga ketika beliau kehilangan maka beliau bersedih bahkan menangis bahkan sampai buta saking sedihnya dan saking banyak air mata yang keluar dari beliau Alaihissalam.

Syahidnya disini bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat Asaf, Al-Ghodhob, kemudian As-Sukhth kemudian sifat Asaf maka ini hampir sama maknanya

ٱنتَقَمۡنَا مِنۡهُم

Maka kami mengadzab mereka. Berarti diantara sifat Allāh ﷻ adalah intiqa, sifat Allāh ﷻ adalah sifat intiqa, dan disini adalah sifat fi’liyyah, asaf ini juga sifat fi’liyah intiqa juga demikian, berkaitan dengan masyiatullah.

فَأَغۡرَقۡنَٰهُم

Sifat Iqghraq, yaitu menghilangkan, ini juga termasuk sifat, jadi sifat di sini bukan hanya Asaf saja tapi Iqghraq kemudian Intiqa juga sifat Allāh ﷻ dan ini adalah sifat yang kita ambil dari af’al, sifat fi’liyyah, yang kita ambil dari pekerjaan-pekerjaan Allāh ﷻ. Sehingga kalau kita membuka Al-Quran dan membuka satu halaman diantara halaman-halaman yang ada di mushaf dan kita disuruh untuk mengeluarkan di situ sifat-sifat Allāh ﷻ maka jangan lupa kita juga menyebutkan sifat-sifat fi’liyyah dan sifat-sifat fi’liyyah bagi Allāh ﷻ dalam Al-Quran banyak sekali, sifat tanzil, sifat inzal yaitu sifat menurunkan sifat Iqghraq sifat Intiqa sifat ta’dzib dan seterusnya.

^^ Kemudian setelahnya

وَقَوْلُهُ: وَلَـكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ

Dan akan tetapi Allāh ﷻ membenci berangkatnya mereka sehingga Allāh ﷻ akhirnya menahan mereka. Ini Allāh ﷻ berbicara tentang orang-orang munafiqin yang mereka malas untuk berjihad bersama orang-orang yang beriman, berat untuk berjihad, berat untuk mengorbankan apa yang dia miliki dalam rangka berjihad fisabilillah. Allāh ﷻ mengatakan akan tetapi Allāh ﷻ benci datangnya mereka dan ikutnya mereka dalam peperangan, Allāh ﷻ tidak senang kalau ada orang-orang munafik yang ikut berperang bersama hamba-hambanya yang sholeh, hamba-hamba yang beriman. Allāh ﷻ memerintahkan berjihad fisabilillah tapi Allāh ﷻ juga memiliki sifat benci datangnya orang-orang munafik di dalam dan ikut serta dalam jihadnya orang-orang yang beriman.

وَلَـكِن كَرِهَ اللَّهُ انبِعَاثَهُم

Sehingga Allāh فَثَبَّطَهُمْ, maka Allāh ﷻ menahan mereka, tsabbatha artinya adalah mana’ (habis) yaitu mencegah mereka, menahan mereka sehingga dijadikan oleh Allāh ﷻ mereka malas dan berat untuk mengikuti jihad, siapa yang menjadikan itu, Allāh ﷻ. Berarti di sini kita menetapkan sifat Kurh, sifat membenci, kemudian juga kita menetapkan sifat Tatsbith, yaitu menahan.

Dan diantara yang bisa kita ambil pelajaran di sini, hendaklah seorang muslim waspada ketika dia mulai malas, ketika mulai dia berat untuk melakukan amal sholeh dikhawatirkan ini adalah bentuk hudzlan, Allāh ﷻ mulai meninggalkan dia, فَثَبَّطَهُمْ, Allāh ﷻ menahan dia sehingga tidak beramal, berat bagi dia untuk mengamalkan amal shaleh, dikawatirkan ini adalah termasuk bentuk hudzlan Allāh ﷻ terhadap seseorang, Allāh ﷻ meninggalkan dia sehingga dijadikan dia berat untuk melakukan amal sholeh, berat untuk muroja’ah, berat untuk melakukan shalat malam, berat untuk menuntut ilmu.

Maka hati-hati seseorang karena ini semua sebabnya adalah karena dosa-dosa kita, karena dosa-dosa yang kita lakukan (maksiat) ini jelas berpengaruh terhadap istiqomahnya seseorang, sehingga jadilah dia orang yang malas dalam melakukan amal shaleh tetapi ketika berbuat maksiat dia semangat untuk melakukan kemaksiatan.

وَقَوْلُهُ

Dan juga Firman Allāh ﷻ

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُون

Dan sungguh besar kemarahan di sisi Allāh ﷻ kalian mengucapkan apa yang tidak kalian kerjakan.

Contoh seperti mengingkari janji, dia mengucapkan sesuatu tapi tidak dikerjakan, dia mengingkari janjinya maka kemarahan disisi Allāh ﷻ yang sangat ketika kalian mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan. Sehingga seorang muslim ketika mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ memiliki sifat marah maka seorang hamba yang hakiki (yang sebenarnya) ketika dia mengetahui bahwasanya Allāh ﷻ yang dia sembah memiliki sifat marah dia akan berusaha untuk menghindari perkara-perkara yang membuat marah Allāh ﷻ, dia akan cari perkara-perkara apa yang membuat marah Allāh ﷻ sehingga dia bisa menghindari, ini seorang hamba Allāh ﷻ yang hakiki demikian, minimal dia benci terhadap apa yang membuat marah Allāh ﷻ dia berusaha bagaimana dia meninggalkan perkara yang membuat marah Allāh ﷻ, ketika dia melihat orang lain dan dia juga makhluk Allāh ﷻ dia melakukan sesuatu yang membuat marah Allāh ﷻ maka dia pun bersedih.

Dalam kehidupan kita sehari-hari kalau kita benar-benar, misalnya kita punya majikan atau atasan misalnya, kita sudah berusaha untuk menghindar dari perkara-perkara yang membuat marah majikan kita, kita sudah tahu sudah bertahun-tahun bermuamalah dengan beliau, dan kita tahu ini yang membuat beliau tidak senang dan seterusnya, ketika melihat rekan kita melakukan perkara yang membuat murka atasan kita, kita tidak senang, kita ingatkan dia, fulan jangan engkau melakukan yang demikian nanti bapak marah, nanti bapak akan demikian dan demikian, itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Maka seorang hamba Allāh ﷻ yang sebenarnya minimal dia akan benci segala sesuatu yang membuat murka Allāh ﷻ, dan benci juga orang lain melakukan perkara-perkara yang membuat murka Allāh ﷻ, ini seorang hamba yang sebenarnya dan dia senang apa yang membuat ridho Allāh ﷻ dan senang juga dan bahagia dan gembira ketika orang lain melakukan perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ. Melihat si fulan Masya Allāh dia rajin dalam shalat berjama’ah, rajin dalam menuntut ilmu, atau si Fulan seorang da’i misalnya, temannya seorang dai Masya Allāh ﷻ dia rajin dalam menyampaikan ta’lim kepada manusia, maka dia kembali kepada dirinya ini termasuk perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ maka dia berusaha untuk mencintai si Fulan karena dia melakukan perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ yang dia sembah, ini seorang hamba yang hakiki mengikuti ridho Allāh ﷻ dan senang apabila orang lain mengikuti dan melakukan perkara yang membuat ridho Allāh ﷻ.

Dan sesuatu yang tercela kalau seseorang mengaku dia hamba Allāh ﷻ tapi dia mencintai sesuatu yang dibenci oleh Allāh ﷻ dan Rasul-Nya, atau sebaliknya dia membenci sesuatu yang dicintai oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya, ini kebalikan, harusnya dia sebagai seorang hamba mengikuti keridhoan Allāh ﷻ, senang dengan apa yang membuat ridho Allāh ﷻ dan benci dengan apa yang mau membuat kebencian Allāh ﷻ dan kemurkaan Allāh ﷻ, bukan justru sebaliknya.

Ini di antara pelajaran yang bisa kita ambil, karena Allāh ﷻ memiliki sifat marah sesuai dengan keagungan-Nya maka kita sebagai seorang hamba Allāh ﷻ berusaha untuk menjauhi perkara-perkara yang membuat murka Allāh ﷻ. Kita ambil pelajaran dari umat-umat terdahulu apa yang menjadikan mereka dimurkai, contoh di sini tadi orang yang membunuh tanpa hak ini membuat murka Allāh ﷻ, kemudian apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiqin berupa kenifaqan membuat murka Allāh ﷻ, kemudian juga seseorang mengingkari janjinya ini membuat murka Allāh ﷻ, dan apa yang dilakukan oleh Firaun dan juga bala tentaranya ini membuat murka Allāh ﷻ karena mereka mendustakan ayat-ayat Allāh ﷻ mendustakan Nabi-Nya, dan perkara-perkara yang lain ini termasuk pengamalan terhadap sifat Al-Ghodhob yang kita pelajari ini.

Jadi seorang muslim bukan hanya sekedar dia membaca ayat-ayat tentang Ghodhob, Allāh ﷻ memiliki sifat Ghodhob, kemudian berlalu begitu saja, tapi orang belajar ingin mengamalkan, kalau Allāh ﷻ memiliki sifat ini berarti Ana harus menjauhi perkara yang membuat murka Allāh ﷻ, apa yang membuat murka Allāh ﷻ ada dalil-dalilnya dan disebutkan diantaranya adalah dalam kitab ini, dan secara umum maksiat dengan berbagai jenisnya ini membuat murka Allāh ﷻ atau membuat kemarahan Allāh ﷻ, apalagi dosa kufur, syirik, nifaq, bid’ah maka seorang muslim menghindari perkara-perkara yang membuat murka Allāh ﷻ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته