Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 10 – Halaqah 79 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 65-67

Halaqah 79 | Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Ali Imran 65-67

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-79 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَاأَهْلَ الكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ﴾ [آل عمران: 65] إِلَى قَوْلِهِ: ﴿وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ﴾ [آل عمران: 67]

Masih beliau akan berbicara tentang bahaya bid’ah. Diantara bahaya bid’ah ini bisa menyeret seseorang menjadi benci terhadap islam itu sendiri.

Awalnya, dan ini adalah tipu daya setan, dijadikan seseorang dihiasi diperindah sebuah amalan yang bid’ah kemudian akhirnya dia mengamalkan dan mengikuti bid’ah tersebut terus di bumbui dan dijadikan dia senang dengan kebid’ahan tadi, menganggapnya itu adalah baik lama kelamaan setan akan mengatakan kepadanya ternyata tidak sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ juga kamu bisa hidup nyaman, bisa ibadah dengan baik, buktinya dengan kamu melakukan bid’ah ini hidupmu juga tentram bahkan kamu mendapatkan ini dan itu ini menunjukkan bahwasanya Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini kamu tidak memerlukannya buktinya kamu melakukan bid’ah ini saja yang tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ kamu mendapatkan faedah yang banyak.

Akhirnya apa, menjadikan dia mulai benci dengan Islam atau minimal dia merasa tidak perlu dengan Islam akhirnya kalau sudah demikian bisa menyeret seseorang mengeluarkan seseorang dari agama Islam, melakukan sesuatu yang bukan hanya mengurangi Islam seseorang tapi juga membatalkan Islam seseorang. Demikian syaitan menyeret manusia kepada kekufuran kepada kesyirikan, diawali dengan bid’ah diakhiri dengan kekufuran, diawali dengan maksiat diakhiri dengan kekufuran dan seterusnya.

Apa yang terjadi pada kaumnya Nabi Nuh ‘alaihissalam awalnya adalah bid’ah, melakukan sesuatu yang mereka anggap itu adalah baik mendekatkan diri mereka kepada Allāh ﷻ, membuat patung kemudian diberi nama patung tadi dengan nama-nama orang yang shaleh tujuannya supaya mendekatkan diri mereka kepada Allāh ﷻ, mengingatkan mereka dari kelalaian. Akhirnya setelah berlalu waktu banyak orang yang tidak menuntut ilmu akhirnya dilupakan sebab tadi dan dikatakan kepada generasi tersebut bahwasanya bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini adalah untuk mencari syafaat, akhirnya terjadilah kesyirikan.

Akibat dari awalnya adalah bid’ah dan diakhiri dengan kesyirikan, diakhiri dengan kekufuran. Maka ini menunjukkan tentang bahaya bid’ah, dia adalah dari baridu syirk, bisa menyampaikan seseorang kepada kesyirikan, cukuplah itu sebagai bahaya bagi bid’ah itu sendiri.

Apa hubungan antara bid’ah dengan firman Allāh ﷻ

أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ

Seakan-akan dia berhak untuk membuat syariat padahal yang berhak untuk membuat syariat hanya Allāh ﷻ saja, ini sudah syirik di dalam tasyri’, kesirikan di dalam masalah tasyri’ meskipun dia tidak menyadari yang demikian, di sini beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻ

يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تُحَآجُّونَ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوۡرَىٰةُ وَٱلۡإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٦٥
هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجۡتُمۡ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٦٦
مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٦٧ [ آل عمران:65-67]

65. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?
66. Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.
67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. [Aali ‘Imran: 65-67]

Disini Allāh ﷻ berbicara kepada ahlul kitab yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani di mana masing-masing dari mereka sedang berdebat tentang Ibrahim. Orang Yahudi mengatakan Ibrahim di atas agama Yahudiyyah dan orang-orang Nasrani mengatakan bahwasanya Ibrahim berada di atas agama Nasrani. mereka sedang تُحَآجُّون, mereka sedang berhujjah, berdebat diantara mereka orang Yahudi mengatakan Ibrahim yang berada di atas agama kami dan orang Nasrani mengatakan Ibrahim di atas agama kami

لِمَ تُحَآجُّونَ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ

Dan dua pernyataan mereka ini adalah salah, baik ucapan orang Yahudi maupun orang Nasrani. Allāh ﷻ mengatakan

وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوۡرَىٰةُ وَٱلۡإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِهِ

Padahal kalian tahu bahwasanya Taurat dan Injil, Taurat adalah sumber dasar agamanya orang-orang Yahudi adapun Injil maka ini dasar agamanya orang-orang Nasrani, bukankah Taurat dan juga Injil ini diturunkan setelah Ibrahim, jarak yang sangat lama antara turunnya Taurat dengan Ibrahim apalagi turunnya Injil dengan Ibrahim karena Injil datang setelah Taurat. Harusnya kalau Ibrahim adalah orang Yahudi atau di atas agama Yahudiyyah berarti Ibrahim datang setelah turunnya Taurat, kalau Ibrahim adalah beragama Nasraniyyah harusnya Ibrahim datang setelah turunnya Injil, secara akal demikian.

Seorang dinamakan muslim pengikutnya Nabi Muhammad ﷺ pengikutnya Al-Quran kalau dia datang setelah datangnya Rasulullah ﷺ,  maka dia adalah seorang muslim pengikutnya Nabi Muhammad ﷺ,  di atas Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ

وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوۡرَىٰةُ وَٱلۡإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِهِ

Dan tidaklah diturunkan Taurat dan juga Injil kecuali setelahnya

أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Apakah kalian tidak berakal.

Demikian sikap ahlul bathil mereka memiliki da’awa, memiliki pengakuan pengakuan yang kalau di teliti maka itu bertentangan dengan akal karena mereka mengucapkan yang demikian karena hanya sekedar hawa nafsu tidak berdasarkan dalil. Dari mana mereka mengatakan Ibrahim agamanya adalah yahudiyyah dan Ibrahim agamanya adalah nasraniya mereka tidak punya dalil sama sekali hanya sekedar pengakuan dan ini banyak sekali, karena mereka mengikuti hawa nafsu sekedar kita renungkan sedikit maka akan kita dapatkan apa yang menjadi dakwah mereka pengakuan mereka ini adalah sesuatu yang bathil itu sudah kaidah jangan kita minder dulu ketika mendengar syubhat dari orang-orang ahlul ahwa ahlul bidah, kok sepertinya ini adalah benar sepertinya ini adalah shahih, antum lihat antum teliti sedikit maka antum akan dapatkan kejelasan tentang bathilnya syubhat yang mereka lontarkan tersebut.

Allāh ﷻ mengatakan

هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجۡتُمۡ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞۚ

Kalian wahai orang-orang Yahudi dan juga orang-orang Nasrani, kalian telah berdebat di dalam sesuatu yang kalian punya ilmu membantah sesuatu yang kalian punya ilmu, yaitu mengingkari kenabian Nabi Muhammad ﷺ, kalian mengingkari kenabian Nabi Muhammad ﷺ itu kalian sudah memiliki ilmu tentangnya

يَعۡرِفُونَهُۥ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمۡۖ
[Al Baqarah:146]

Mereka mengenal Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri

Ini adalah sesuatu yang jelas bagi mereka, jelas bagi mereka tentang kenabian Nabi Muhammad ﷺ dengan dalil yang mereka ketahui termasuk diantaranya tanda kenabian yang ada di punggung Rasulullah ﷺ dan mereka sangat mengenal Nabi. Banyak Nabi yang diutus dari Bani Israil sehingga mereka sangat mengenal sifat-sifat Nabisebagaimana kita tahu orang-orang Bani Israil bahkan yang memimpin mereka adalah Nabi.

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي
[HR. Bukhari]

Dahulu Bani Israil dipimpin oleh seorang Nabi, setiap kali meninggal Nabi tersebut akan digantikan Nabi yang lain sehingga mereka sangat mengenal Nabi. Ketika datang Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya mereka tahu ini adalah Nabi yang dimaksud, ini juga Nabi sebagaimana Musa Nabi, Isa adalah Nabi dan seterusnya. Ini adalah sesuatu yang mereka ketahui meskipun demikian mereka masih حَٰجَجۡتُمۡ, kalian masih membantah yang demikian, sesuatu yang jelas saja kalian membantah apalagi sesuatu yang tidak jelas.

فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞۚ

Lalu kenapa kalian mendebat sesuatu yang kalian tidak punya ilmu, yaitu tentang apakah Ibrahim dia adalah Yahudi atau Nasrani, kalian tidak punya ilmunya, sesuatu yang kalian punya ilmunya saja kalian masih bisa berdebat, membantah dan seterusnya apalagi sesuatu yang kalian tidak punya ilmu.

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Kenapa kalian mendapat sesuatu yang kalian tidak punya ilmu yaitu tentang Ibrahim apakah dia adalah Yahudi atau Nasrani

وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

sedangkan Allāh ﷻ Dia-lah yang mengetahui dan kalian tidak mengetahuinya.

Kenapa tidak dikembalikan kepada Allāh ﷻ, harusnya dikembalikan kepada Allāh ﷻ, Allāh ﷻ yang menentukan di antara mereka apakah Yahudi atau Nasrani Ibrahim tersebut. Kemudian Allāh ﷻ mengatakan, menjelaskan kepada mereka

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا

Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi dan juga bukan seorang Nasrani

Ucapan orang Yahudiyyah bahwasanya Ibrahim adalah beragama Yahudi ini adalah ucapan yang ditolak oleh Allāh ﷻ demikian pula ucapan orang-orang Nasrani bahwasanya Ibrahim adalah Nasrani ini juga ucapan yang ditolak oleh Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ telah menafikan pengakuan mereka.

وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا

Lalu apa hakikat dari agamanya Ibrahim kalau dia bukan orang Yahudi bukan orang Nasrani

وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Akan tetapi beliau adalah seorang yang Hanif, orang yang menghadapkan dirinya kepada Allāh ﷻ, Musliman menyerahkan dirinya kepada Allāh ﷻ

وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

dan bukanlah beliau termasuk orang-orang yang musyrikin.

Disini beliau rahimahullah menjelaskan atau mendatangkan ayat ini menunjukkan bagaimana mereka yaitu bani Israil jauh dari millahnya Ibrahim, dan millahnya Ibrahim adalah Islam, jauh dari milahnya Ibrahim, sampai dikatakan oleh Allāh ﷻ

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا

Berarti millahnya Ibrahim bukan Yahudi bukan Nasrani tapi dia adalah Islam. Bagaimana bani Israil yang mereka adalah mengaku keturunan Israil yaitu Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim bisa sejauh itu dari Islam, ada yang mengatakan sebabnya adalah karena mereka melakukan sesuatu yang baru di dalam agama mereka. Banyak melakukan bid’ah sesuatu yang baru di dalam agama mereka, di dalam agama Yahud maupun di dalam agama Nashara sehingga lama-kelamaan mereka akhirnya menjauh dari, jauh dari Islam milahnya Ibrahim sehingga Allāh ﷻ mengatakan

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Ini menunjukkan tentang bahaya bid’ah, membuat sesuatu yang baru, dilakukan oleh mereka yaitu ahlul kitab akhirnya agama yang seharusnya itu adalah agama Islam karena mereka melakukan bid’ah melakukan sesuatu yang baru di dalam agama mereka akhirnya lama-kelamaan menyeret mereka untuk menjauh dari Islam itu sendiri yaitu milahnya Ibrahim ‘alaihissalam, sehingga Allāh ﷻ menyatakan bahwasanya Ibrahim bukan di atas agama orang-orang Yahudi dan bukan di atas agama orang-orang Nasrani tapi beliau adalah seorang yang

حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Ini adalah ayat yang pertama yang menunjukkan tentang bahaya bid’ah bisa sampai menjadikan seseorang semakin jauh dari agamanya bahkan bisa berpindah agama, bisa mengeluarkan mereka dari Islam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته