Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 10-Halaqah 80 | Pembahasan Dalil Kedua, Ketiga, dan Keempat

Halaqah 80 | Pembahasan Dalil Kedua, Ketiga, dan Keempat

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-80 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mendatangkan firman Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ: وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

[البقرة: 130]

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di Akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 130)

Didalam ayat ini Allāh ﷻ menyebutkan tentang hakikat dari orang yang benci terhadap Islam. Hakekatnya dia adalah orang yang سَفِهَ نَفْسَهُ, hakekatnya dia adalah orang yang bodoh, dia adalah orang yang jahil karena Islam ini adalah jalan satu-satunya menuju ke surganya Allāh ﷻ, menuju Allāh ﷻ, yang menyampaikan seseorang ke dalam surga hanyalah Islam ini saja dan dia adalah jalan yang barangsiapa yang menempuhnya maka dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Orang yang melakukan dan iltizam dengan agama Islam bahagia di dunia

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

Akan diberikan kehidupan dunia yang baik dan di akhirat dia akan mendapatkan kebahagiaan juga,

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

(QS: an-Nahl : 97)

Dan dia adalah agama yang samhah, agama yang mudah, orang yang iltizam dengan syariat yang ada di dalamnya maka dia akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia, hidup yang sehat hidup yang tentram hidup yang penuh dengan kebahagiaan itu kalau dia bener-bener kāffah dalam melakukan Islam itu sendiri.

Kalau seseorang benci dengan Islam maka ini adalah orang yang bodoh. Seandainya di dalam kehidupan dunia seseorang ditawarin cara yang mudah antum bisa nyaman kemudian dia menolaknya padahal itu jelas-jelas sesuatu yang mudah dan tidak ada resiko dan seterusnya kemudian dia menolaknya, dia sesuatu yang halal tidak ada resiko, mudah, tidak ada akibat yang jelek misalnya kemudian ia menolaknya maka ini adalah sebuah kebodohan.

Maka orang yang membenci milahnya Ibrahim yaitu membenci Islam maka hakikatnya dia adalah orang yang bodoh, orang yang melakukan bid’ah itu adalah orang yang jahil, orang yang melakukan bid’ah akan menyeret dia nantinya akan membenci kepada Islam itu sendiri, sehingga terkadang kita mendengar ucapan ahlul bid’ah dia mencela sunnah Nabi ﷺ karena sudah hatinya ini kotor dengan bid’ah- bid’ah tadi sehingga mendengar sunnah Nabi ﷺ mereka benci.

Berbicara tentang cadar, berbicara tentang jenggot, berbicara tentang sunnah-sunnah Nabi ﷺ, ada kebencian terhadap sunnah-sunnah tersebut karena dia sudah terbiasa melakukan perkara yang bid’ah. Maka orang yang melakukan bid’ah akan membuat dia benci kepada Al-Islam dan tidaklah membenci Islam ini kecuali orang yang bodoh yaitu orang yang jahil, seandainya dia adalah orang yang berakal, orang yang berilmu, niscaya dia akan menerima Islam ini dengan lapang dada dan terbuka, tidak ada rasa berat di dalam hatinya untuk menerima agama Islam ini.

Ini menunjukkan tentang bahayanya bid’ah dari sisi karena bid’ah ini akan menyeret kepada kebencian terhadap Islam itu sendiri dan tidaklah membenci Islam kecuali orang yang bodoh, jadi kebid’ahan bisa membawa kepada kebodohan.

Kemudian beliau mengatakan

وَفِيهِ حَدِيثُ الخَوَارِجِ وَقَدْ تَقَدَّمَ

Dan di dalamnya, yaitu di dalam bab ini, ada حَدِيثُ الخَوَارِجِ yang merupakan dalil tentang bahayanya bid’ah dan bahwasanya bid’ah ini bisa menyeret seseorang kepada kekufuran kebencian terhadap agama, وَقَدْ تَقَدَّمَ, dan حَدِيثُ الخَوَارِجِ yang disebutkan oleh beliau ini sudah berlalu pada bab sebelumnya yang berbunyi

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إليهِ

Mereka menjauh dari agama Islam kemudian mereka tidak kembali kepada agama Islam.

Hadits ini menunjukkan bagaimana bid’ah itu menjadikan seseorang benci terhadap Islam itu sendiri. Yang dilakukan oleh khawarij bid’ah, bid’ah tentang takfir murtakibi al kabira, ini adalah sesuatu yang bid’ah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ, khuruj al-hukam, ini juga sesuatu yang maksiat dan kalau dia menganggap ini adalah ibadah maka ini adalah suatu yang bid’ah.

Akhirnya menjadikan mereka bid’ah ini يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ menjadikan mereka menjauh dari Islam, membenci Islam itu sendiri ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إليهِ kemudian mereka tidak kembali kepada Islam itu sendiri, maka ini maksud dari ucapan beliau

وَفِيهِ حَدِيثُ الخَوَارِجِ

yaitu yang telah berlalu ucapan Nabi ﷺ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ bahwasanya bid’ah ini bisa menyeret seseorang sehingga benci terhadap agama Islam itu sendiri akhirnya semakin jauh dan semakin membenci agama islam

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Sebagaimana sebuah anak panah itu keluar dari busurnya, keluar dari sasarannya, dan sudah kita sebutkan seperti anak panah yang keluar dari sasarannya masuk dari satu sisi kemudian keluar dari sisi yang lain ini tidak mungkin terjadi kecuali kalau panah tersebut adalah sangat cepat dan dia sangat tajam, menunjukkan tentang bahwasanya bid’ah ini bisa cepat atau menjadikan seseorang semakin menjauhi agama Islam, bahwasanya bid’ah ini bisa cepat menjauhkan seseorang dari agama Islam itu sendiri.

Berbeda dengan al-maksiah, di mana orangnya ini masih menyadari bahwasannya apa yang dilakukan adalah sebuah dosa, diingatkan sedikit maka dia akan kembali kepada agama Islam, adapun orang yang melakukan bid’ah maka semakin dia berijtihad di dalam bid’ahnya maka semakin dia jauh dari agama islam.

Syahidnya disini bahwasanya hadits tentang khawarij

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

menunjukkan bahwasanya bid’ah ini bisa membawa seseorang kepada sesuatu yang lebih parah daripada awalnya yaitu semakin dia jauh dari agama Islam bahkan bisa sampai mengeluarkan dia dari Islam. Sebagaimana sebagian ulama mereka ada yang mengkafirkan orang-orang khawarij karena melihat sebagian hadits yang kita sebutkan

كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

dan seterusnya sehingga sebagian ulama ada yang mengeluarkan mereka dari agama Islam. Meskipun pendapat yang shahih tidak demikian, mereka adalah muslimum dan mereka takut dari kekufuran.

Kemudian beliau mengatakan

وَفِي «الصَّحِيحِ»

Di dalam hadits yang shahih bahwasanya

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ آلَ أَبِي [فُلَانٍ] لَيْسُوا لِي بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا أَوْلِيَاء المتقون

Di dalam hadist yang sahih ini dalil yang lain,

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ آلَ أَبِي [فُلَانٍ] لَيْسُوا لِي بِأَوْلِيَاءَ

Sesungguhnya keluarga Abi Fulan mereka bukan wali-waliku

إِنَّمَا أَوْلِيَاء المتقون

Sesungguhnya wali-waliku adalah orang-orang yang bertaqwa.

Didalam hadist ini Beliau ﷺ menyebutkan bahwasanya آلَ أَبِي فُلَانٍ dan mereka ini adalah masih kerabat dari Nabi ﷺ, mereka ini bukan wali-waliku maksudnya aku tidak mencintai mereka, karena أَوْلِيَاء jamak dari وَلِي berasal dari kata walāyah dan makna walāyah adalah al-mahabbah, al-wala’ wal-bara’ maksudnya adalah kecintaan dan juga berlepas diri

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا

Barangsiapa yang membenci waliku yaitu orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ, karena wali itu artinya adalah orang yang dekat, walā yalī artinya adalah yang paling dekat atau yang dekat, wali artinya adalah orang yang dekat dengan Allāh ﷻ yaitu orang yang dicintai oleh Allāh ﷻ.

Maka Nabi ﷺ mengabarkan di sini bahwasanya keluarga abi fulan ini bukan wali-waliku karena keluarga atau kerabat Nabi ﷺ tidak semuanya muslim, ada diantara mereka yang masih kuffar sehingga beliau mengatakan bahwasanya aku tidak mencintai mereka, karena yang namanya kecintaan yaitu berdasarkan ittiba’ mereka terhadap Nabi

إِنَّمَا أَوْلِيَاء المتقون

Sesungguhnya orang yang aku cintai adalah orang-orang yang bertaqwa.

Kenapa disini beliau mendatangkan hadist ini, apa hubungannya dengan bid’ah ?.

Orang yang melakukan bid’ah maka mereka tidak mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan dengan sebab mereka tidak mengikuti sunnah Nabi ﷺ maka ini menjadikan mereka tidak mendapatkan kecintaan Nabi ﷺ, semakin besar dan semakin banyak mereka melakukan bid’ah semakin mereka jauh dari wala’nya, kecintaannya Nabi ﷺ.

Disebutkan di sini sampai keluarga Nabi ﷺ sendiri kalau mereka tidak mengikuti dan tidak beriman dengan Nabi ﷺ maka tidak akan mendapatkan kecintaan Nabi ﷺ meskipun itu keluarga beliau sendiri.

لَ أَبِي فُلَانٍ

Tidak disebutkan fulan di sini karena untuk menutupi, keluarga Beliau ﷺ sendiri seandainya tidak mengikuti Beliau ﷺ maka tidak mendapatkan kecintaan Beliau ﷺ lalu bagaimana dengan selain keluarga Beliau ﷺ. semakin seseorang mengikuti Nabi ﷺ semakin dicintai tapi semakin seseorang tidak mengikuti Nabi ﷺ, melakukan bid’ah, maka akan semakin jauh dari kecintaan Nabi ﷺ apalagi kalau sampai dia keluar dari agamanya Nabi ﷺ maka semakin dia jauh dari kecintaan Nabi ﷺ.

Siapa orang-orang yang Beliau ﷺ cintai? siapa wali-wali Beliau ﷺ? Wali-wali Beliau ﷺ adalah orang-orang yang bertaqwa dan makna taqwa ini adalah kalimat yang jami’ disebutkan oleh Thalq bin Habib

أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ ، تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ

Dia adalah melaksanakan perintah Allāh ﷻ diatas cahaya Allāh ﷻ karena mengharap pahala dari Allāh ﷻ dan menjauhi larangan Allāh ﷻ di atas cahaya Allāh ﷻ karena takut dengan azab Allāh ﷻ

Ini adalah makna taqwa, dua-duanya baik menjalankan perintah maupun menjauhi larangan ada kalimat عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ diatas cahaya dari Allāh ﷻ dan ini adalah isyarat adanya ittiba’ mengikuti Nabi ﷺ di dalam menjalankan perintah maupun menjauhi larangan ini adalah taqwa masuk di dalamnya adalah mengikuti Beliau ﷺ, ittiba terhadap Beliau ﷺ ini adalah bagian dari ketaqwaan.

Ringkasnya di dalam hadits ini, kenapa beliau mendatangkan hadist ini ingin menerangkan kepada kita bahwasanya bid’ah ini menjadi penghalang dicintai oleh Nabi ﷺ, tidak mengikuti Nabi ﷺ itu menjadi penghalang seseorang tidak mendapatkan kecintaan Nabi ﷺ, semakin besar bid’ahnya semakin terhalang apalagi sampai kepada kekufuran maka ini semakin jauh dari kecintaan Nabi ﷺ.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته