Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 82 | Penjelasan Umum Bab, Pembahasan Dalil Pertama, Kedua, Ketiga, dan Keempat

Halaqah 82 | Penjelasan Umum Bab, Pembahasan Dalil Pertama, Kedua, Ketiga, dan Keempat

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-82 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Didalam bab ini setelah beliau berbicara tentang masalah bid’ah dan tentang bahayanya dan tentang ancaman bagi orang yang melakukan bid’ah dan bahwasanya itu adalah bagian dari sesuatu yang bertentangan dengan Islam itu sendiri, maka di dalam bab ini beliau akan membacakan atau membawakan dalil-dalil yang isinya adalah perintah untuk istiqomah di atas Islam, di atas kepasrahan kepada Allāh ﷻ di dalam masalah aqidah, didalam masalah ibadah, tata cara ibadah, di dalam permasalahan-permasalahan yang lain sampai kita meninggal dunia

Belum datangkan dalil-dalil yang mengharuskan kita untuk terus Istiqomah di atas Islam dengan makna yang sudah kita sebutkan berulang kali dan juga di dalam bab ini beliau akan menunjukkan kepada kita tentang tahdzir minal bid’ah (peringatan tentang bid’ah) yang merupakan sesuatu yang menunjukkan ketidak-istiqomahan seseorang didalam Islam. Jadi inti dari bab ini adalah perintah untuk terus istiqomah di atas Islam termasuk diantaranya dengan meninggalkan bid’ah.

Beliau membawakan firman Allāh ﷻ dan dijadikan ini sekaligus sebagai judul bab ini

بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Firman Allāh ﷻ, maka hendaklah engkau menegakan wajahmu untuk agama ini, meluruskan wajahmu untuk agama ini, حَنِيفًا dalam keadaan mengarahkan menghadapkan wajah ini hanya untuk Allāh ﷻ dan inilah makna Al-Islam. حَنِيفًا menyerahkan diri kita hanya kepada Allāh ﷻ inilah makna Islam

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ

Maka hendaklah engkau tegakkan wajahmu hanya untuk agama ini, hanya untuk ibadah kepada Allāh ﷻ, dan أَقِمْ ini adalah perintah dan asal dari perintah adalah untuk menunjukkan kewajiban, menunjukkan tentang wajibnya seseorang menjaga Islam ini sampai dia meninggal dunia dan ini adalah fitrah

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

Ini adalah fitrah Allāh ﷻ yang Allāh ﷻ fitrahkan kepada manusia yaitu Islamnya dia untuk Allāh ﷻ ini adalah fitrah Allah. Asalnya manusia menyerahkan diri kepada Allāh ﷻ, Islam asal, tapi berubah fitrah tersebut dengan sebab orang tuanya dengan sebab lingkungan

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

asalnya dia adalah مَوْلُود عَلَى الْفِطْرَةِ

كل مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

setiap anak yang lahir itu dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia yahudi atau majusi atau nasrani, terkadang bisa berubah fitrah tadi dengan sebab orang tua, terkadang berubah fitrah tadi dengan sebab dakwah ahlul bathil lingkungan dan seterusnya.

Kalau itu adalah fitrah maka kewajiban kita adalah menjaga fitrah tadi sampai kita meninggal dunia

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ القَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

[Ar Rum:30]

Kemudian beliau mendatangkan dalil yaitu firman Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

[البقرة: 132]

Dan firman-Nya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’”

(QS. Al-Baqarah [2]: 132)

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ

Maka Ibrahim berwasiat dengannya, wasiat ibrahim adalah untuk Islam karena sebelumnya Allāh ﷻ mengatakan kepadanya

إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ

Ketika Robbnya berkata kepada Ibrahim, Islamlah engkau wahai Ibrahim

قَالَ أَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

[Al Baqarah:131]

Aku menyerahkan diriku untuk Robbul ‘alamin

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ

maka Ibrahim mewasiatkan putra-putranya dengan wasiat tersebut, yaitu wasiat untuk Islam (إِذۡ قَالَ لَهُۥ رَبُّهُۥٓ أَسۡلِمۡۖ) maka itulah yang diwasiatkan oleh Ibrahim kepada putra-putranya. وَيَعْقُوبُ, demikian pula Ya’qub juga berwasiat kepada putra-putranya dengan wasiat ini

يَابَنِيَّ

Wahai anak-anakku

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ

Wahai anak-anakku sesungguhnya Allāh ﷻ telah memilihkan untuk kalian agama

Agama Islam ini adalah agama yang Allāh ﷻ pilih untuk kalian yang isinya adalah mentauhidkan Allāh ﷻ, menyerahkan ibadah hanya kepada Allāh ﷻ saja, ini adalah agama kalian agama yang Allāh ﷻ pilih untuk kalian

فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Maka janganlah kalian meninggal dunia kecuali kalian dalam keadaan islam.

Ini adalah perintah untuk istiqomah terus di atas Islam termasuk diantaranya jangan sampai kita melakukan bid’ah baik bid’ah yang berkaitan dengan akidah i’tiqad maupun bid’ah amaliah karena itu adalah bukan termasuk keislaman yang demikian bahkan bertentangan dengan Islam itu sendiri. Maka ayat ini

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Didalamnya ada perintah untuk istiqomah di atas Islam. Pegang Islam dan jangan sampai kita meninggal dunia kecuali dalam keadaan kita pasrah, bertauhid, meninggalkan bid’ah, jangan mundur ke belakang, jangan menjauh dari Islam, jangan menjauh dari tauhid, jangan menjauh dari sunnah, jangan kita meninggal kecuali dalam keadaan Islam, perintah untuk Istiqomah di atas agama ini.

Kemudian beliau mendatangkan dalil yang lain yaitu firman Allāh ﷻ

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

Kemudian Kami wahyukan kepadamu supaya engkau wahai Muhammad mengikuti millahnya Ibrahim yang lurus

وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ

(QS. An-Nahl [16]: 123)

Dan tidaklah dia termasuk orang-orang yang musyrikin

Maka di dalam ayat ini Allāh ﷻ mewahyukan kepada Nabinya, ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, apa yang Allāh ﷻ wahyukan kepada Beliau ﷺ? Supaya engkau mengikuti millahnya Ibrahim yaitu Islam, حَنِيفًا, menyerahkan hanya kepada Allāh ﷻ menghadap hanya kepada Allāh ﷻ (وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ) dan tidaklah beliau termasuk orang-orang yang musyrikin.

Maka ayat ini menunjukkan perintah untuk tetap di atas Islam, perintah untuk mengikuti millahnya Ibrahim sampai kapan? sampai meninggal sampai akhir, mengikuti millahnya Ibrahim bukan hanya di sebagian umurnya tapi sampai akhir umurnya sampai akhir hayatnya Beliau ﷺ diperintahkan untuk mengikuti millahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang lurus dan tidaklah beliau termasuk orang-orang yang musyrikin. Maka diantara bentuk keislaman kita dan bentuk mengikutnya kita terhadap millah Ibrahim adalah seseorang istiqomah di atas sunnah dan menjauhi kebid’ahan.

Kemudian beliau mendatangkan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Tirmidzi

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:

أَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ وُلَاةً مِنَ النَّبِيِّينَ،

Sesungguhnya bagi setiap Nabi itu ada وُلَاةً مِنَ النَّبِيِّينَ, wulāt itu jamak dari wali dan yang dimaksud dengan wali kita sebutkan yang dekat walā – yalī, yang mengikuti, jadi makna walī adalah yang dekat, setiap Nabi itu memiliki orang-orang yang dekat dengan beliau di antara para Nabi

وَإِنَّ وَلِيِّي مِنْهُمْ أَبِي

Dan sesungguhnya orang yang dekat denganku di antara mereka di antara para Nabi adalah أَبِي bapakku Ibrahim

وَخَلِيلُ رَبِّي

Dan dia adalah kekasih dari Robbku.

Jadi Ibrahim di sini adalah badal dari أَبِي maksudnya abi Ibrahim

وَإِنَّ وَلِيِّي مِنْهُمْ أَبِي وَخَلِيلُ رَبِّي

Ini menunjukkan bahwasanya yang paling afdhol diantara manusia setelah Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi Ibrahim karena beliau adalah walinya Beliau ﷺ, walinya Nabi Muhammad ﷺ, orang yang paling dekat derajatnya dengan Nabi ﷺ yaitu Ibrahim dan beliau adalah خَلِيلُ رَبِّي adalah kekasih Allāh ﷻ

ثُمَّ قَرَأَ

Kemudian Beliau ﷺ membaca Firman Allāh ﷻ

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ المُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya manusia yang paling dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikuti beliau yaitu mengikuti beliau di dalam millahnya

أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ

maka yang mengikuti millahnya Ibrahim merekalah orang-orang yang paling dekat dengan Ibrahim yaitu muwahiddīn, al-ahnaf, orang-orang yang mengikuti hanifiyyah maka orang yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim adalah orang-orang yang mengikuti beliau sebagaimana firman Allāh ﷻ

أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ

[An Nahl:123]

Diantara yang mengikuti millah beliau adalah

وَهَذَا النَّبِيُّ

dan Nabi ini yaitu Nabi Muhammad ﷺ karena Beliau ﷺ mengikuti millahnya Ibrahim,

أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ

وَالَّذِينَ آمَنُوا

dan juga orang-orang yang beriman

وَاللَّهُ وَلِيُّ المُؤْمِنِينَ

(QS. Ali Imron [3]: 68)

dan Allāh ﷻ Dia-lah yang menolong orang-orang yang beriman

Jadi bukan orang Yahudi yang dekat dengan Ibrahim karena mereka menyelisihi Ibrahim dan bukan orang-orang Nasrani yang dekat dengan Ibrahim karena mereka menyelisihi Ibrahim, yang dekat dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikuti beliau, siapa di antaranya, Nabi ﷺ dan juga orang-orang yang beriman, dan Allāh ﷻ Dia-lah yang akan menolong orang-orang yang beriman.

Hadits ini shahih diriwayatkan oleh AT-Tirmidzi dan lafadznya

إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ وُلَاةً مِنْ النَّبِيِّينَ وَإِنَّ وَلِيِّي أَبِي وَخَلِيلُ رَبِّي ثُمَّ قَرَأَ
{ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ }

Didalamnya ada perintah dan dorongan untuk terus istiqomah diatas islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ karena orang yang dekat dengan Beliau ﷺ adalah orang yang mengikuti agama Beliau ﷺ, orang yang dekat dengan Beliau ﷺ adalah orang yang dekat dengan agama Beliau ﷺ sehingga orang yang istiqomah di atas Islam dan dia menjauhi bid’ah dan istiqomah di atas sunnah sampai dia meninggal dunia maka dia adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ sebagaimana orang yang mengikuti Ibrahim mengikuti millah beliau maka dia menjadi orang yang paling dekat dengan Ibrahim.

Sebagaimana orang yang mengikuti Ibrahim yang mengikuti millah beliau adalah orang yang paling dekat dengan Ibrahim maka orang yang mengikuti Nabi ﷺ, mengikuti sunnah Beliau ﷺ, menjauhi bid’ah, maka dia menjadi orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan orang yang dekat dengan Nabi ﷺ maka Allāh ﷻ Dia-lah walinya, Allāh ﷻ yang akan menolong orang-orang yang beriman yang istiqomah di atas islam di atas sunnah dan juga menjauhi kebid’ahan.

Sehingga hadits ini menunjukkan tentang keutamaan Istiqomah di atas sunnah karena kalau kita mengikuti Beliau ﷺ maka kita akan dekat dengan Beliau ﷺ sebagaimana orang yang mengikuti Ibrahim maka dia adalah orang yang paling dekat dengan Ibrahim.

Kemudian beliau mendatangkan hadits yang selanjutnya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Dari Abu Hurairah Radiallahu Anhu marfu’an hadits ini diangkat kepada Nabi

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا

Islam itu mulai dalam keadaan ghorib, dalam keadaan asing, orang-orang, mereka di atas jahiliyah diatas kesyirikan, menyerahkan ibadah kepada Allāh ﷻ dan juga kepada selain Allāh ﷻ, membuat perkara yang baru di dalam millahnya Ibrahim, mengikuti hawa nafsunya, berdusta atas nama Allāh ﷻ, dan seluruh jahiliyah, kemudian datang islam yang isinya penyerahan diri kepada Allāh ﷻ, tinggalkan kesyirikan, serahkan ibadah hanya kepada Allāh ﷻ, jangan melakukan bid’ah di dalam millah ini, ikuti syariat yang ada jangan mengikuti hawa nafsu dan seterusnya.

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا

ketika datang maka orang merasa ini adalah perkara yang aneh, rata rata manusia saat itu dalam keadaan jauh dari Islam, jauh dari penyerahan diri kepada Allāh ﷻ, datang Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan mengajak manusia kepada Islam.

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

Setelah dia tersebar dakwah ini, sedikit demi sedikit dakwah jahiliyah tadi sudah terkikis kemudian satu persatu manusia masuk ke dalam agama Islam bahkan diakhir hayat Beliau ﷺ masuk manusia kedalam agama Islam afwajan, semuanya mengenal Islam tidak ada satu rumah di Madinah ketika awal Islam masuk ke kota Madinah kecuali masuk di dalamnya Islam. Sampai akhirnya dibuka kota Makkah pada tahun 8 Hijriyah dan ketika orang-orang Quraisy mereka berbondong-bondong masuk kedalam agama Islam maka orang-orang Arab badui yang selama ini hanya menunggu saja kabar yang terjadi karena mereka dalam keadaan bingung panutan mereka adalah orang-orang Quraisy tapi ternyata orang Quraisy terbelah menjadi dua Islam dengan syirik mereka harus ikut yang mana, padahal selama ini mereka menjadikan orang-orang Quraisy sebagai teladan

Akhirnya mereka mendengar saja, kita tunggu saja apa yang terjadi tahun ke delapan Nabi Muhammad ﷺ berhasil membuka kota Makkah, akhirnya mereka baru yakin baru sadar ini benar-benar seorang Nabi ﷺ . Quraisy yang selama ini mereka jadikan panutan mereka agungkan masuk ke dalam Islam, akhirnya orang-orang Baduy pun mereka masuk kedalam agama islam.

Jadilah islam menjadi sesuatu yang tersebar bukan sesuatu yang asing lagi setelah sebelumnya di awal Islam datang dalam keadaan غَرِيبًا. Maka Nabi ﷺ mengabarkan dimasa itu Islam dalam keadaan jaya, Beliau ﷺ mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang dan ini adalah tanda kenabian Beliau ﷺ

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

Dan akan kembali Islam tersebut غَرِيبًا kembali asing كَمَا بَدَأَ sebagaimana di awal atau sebagaimana awalnya. Manusia saat itu melihat tersebarnya Islam, semangatnya manusia melaksanakan agama Islam maka Nabi ﷺ mengabarkan kelak akan kembali asing. Tauhid akan kembali asing, mengikuti sunnah menghidupkan sunnah akan kembali asing, dianggap sebagai seorang yang asing, aneh kok bisa yang lainnya mengikuti hawa nafsunya, berhura-hura dan sebagainya, ada orang yang ternyata dia masih memperhatikan agamanya.

Kemudian Beliau ﷺ memberikan dorongan dengan menyebutkan pahala bagi orang-orang yang asing saat itu

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

maka طُوبَى bagi orang-orang yang asing, yang dianggap aneh, di tengah-tengah manusia yang rusak ternyata dia masih belajar tauhid belajar aqidah ditengah-tengah manusia yang rusak dia mempelajari sunnah bertanya apa yang disunnahkan ketika demikian apa yang disunnahkan ketika demikian, dia perhatikan dirinya, menjauhi kemaksiatan, Nabi ﷺ mengabarkan

فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

طُوبَى bagi orang-orang yang asing saat itu.

Ada sebagian yang menafsirkan طُوبَى disini adalah surga dan ada yang mengatakan dia adalah nama pohon yang ada di dalam surga. Baik diartikan dengan طُوبَى maknanya adalah surga atau pohon yang ada di dalam surga, menunjukkan tentang pahala yang besar, karena orang yang mendapatkan pohon didalam surga berarti dia masuk ke dalam surga.

Siapakah ghurobah tadi dan apa hubungannya dengan bab ini, mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh di atas Islam, kenapa mereka menjadi ghurobah, karena sebab Islam yang mereka peluk, yang mereka pegang. Karena disebutkan di awalnya بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا Islam telah dimulai dalam keadaan asing, yaitu ajaran Islam dan ajaran Islam tadi akan menjadi asing kembali. Orang-orang yang memeluk ajaran Islam yang menjadi asing kembali nanti dinamakan dengan ghurobah karena mereka memeluk Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi ﷺ yang saat itu ajaran Islam asing sehingga orang yang memeluk dan berpegang teguh dengan dalam Islam tadi dia adalah ghurobah.

Ucapan Nabi ﷺ fatūbā berarti di sini ada dorongan dari Beliau ﷺ supaya kita ini tetap istiqomah di atas Islam supaya kita masuk ke dalam surganya Allāh ﷻ. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan termasuk istiqomah di atas Islam adalah mengikuti sunnah Nabi ﷺ tata cara Beliau ﷺ dan meninggalkan bid’ah, adapun melakukan bid’ah maka ini bagian dari ketidak-istiqomahan, ketidak-islaman. Berarti disini ada dorongan bagi kita untuk terus istiqomah memegang Islam termasuk diantaranya adalah tata cara didalam masalah ibadah.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته