Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11 – Halaqah 83 | Pembahasan Dalil Kelima dan Keenam

Halaqah 83 | Pembahasan Dalil Kelima dan Keenam

Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-83 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Beliau mengatakan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

Beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda sesungguhnya Allāh ﷻ tidak melihat kepada jasad-jasad kalian, gemuk kurus tinggi pendek tampan jelek, Allāh ﷻ tidak melihat jasad-jasad kalian. Itu Allāh ﷻ yang menciptakan, menjadikan yang satu tinggi yang satunya pendek yang satunya hitam satunya putih, Allāh ﷻ menciptakan itu semua, Allāh ﷻ tidak melihat yang demikian.

وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ

Dan Allāh ﷻ juga tidak melihat kepada harta kalian, yang kaya yang miskin yang sedang, derajat di sisi Allāh ﷻ bukan pada kekayaan dan bukan pada jasad seseorang. Oleh karena itu jangan kita himmah kepada besarnya jasad atau banyaknya harta, Allāh ﷻ tidak melihat yang demikian. Apa yang Allāh ﷻ lihat

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Akan tetapi Allāh ﷻ melihat kepada hati-hati kalian kepada qolbu-qolbu kalian dan juga melihat pada amalan-amalan kalian. Allāh ﷻ melihat pada qolbu-qolbu kalian, bagaimana dengan keikhlasannya, keimanannya, rasa takutnya, rasa mahabbahnya, mengharapnya kepada Allāh ﷻ, tawakkalnya kepada Allāh ﷻ, kebersihan hatinya dari riya, zuhudnya, maka Allāh ﷻ melihat pada hati-hati tersebut.

Kalau Allāh ﷻ melihat pada hati kita maka hendaklah kita memperhatikan hati kita tersebut, malu apabila hati tersebut dalam keadaan kotor dengan riya, sum’ah, syahwat yang muharromah, maka hendaklah seseorang jangan memperhatikan jasadnya, hartanya dan berlebihan didalam masalah jasad dan juga harta kemudian dia menyepelekan masalah hatinya. Hendaklah dia memperhatikan hatinya karena sadar bahwasanya Allāh ﷻ melihat kepada hatinya. Ketika seseorang tidak merasa dilihat oleh Allāh ﷻ hatinya sehingga dia biarkan hatinya dalam keadaan kotor, tidak menjaganya dari kemaksiatan dan seandainya dia kotor tidak dia bersihkan dengan istighfar dan dengan bertaubat kepada Allāh ﷻ.

Itu yang dilihat oleh Allāh ﷻ yang pertama, kalau itu dilihat maka kita perhatikan bagaimana seseorang ketika dia merasa mobilnya dilihat oleh orang lain ya dia berusaha untuk senantiasa bersih, seandainya tergores pagi hari sorenya sudah mulus karena dia merasa banyak orang yang melihat pada mobilnya misalnya akhirnya dia perhatian. Kalau kita merasa hati kita dilihat oleh Allāh ﷻ maka hendaklah kita perhatian ekstra terhadap hati kita, jangan di kotori dan merasa malu kalau sampai mengotori hatinya, kalau sampai kotor maka segera di bersihkan dengan istighfar taubat dan amal yang sholeh.

Disamping hati maka yang dilihat oleh Allāh ﷻ adalah أَعْمَالِكُمْ amalan kalian. Allāh ﷻ tidak melihat jasad kalian dan harta kalian tapi Allāh ﷻ melihat pada amalan kalian, dilihat amalan kalian apakah amalan kalian sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ atau tidak karena amalan yang diridhoi oleh Allāh ﷻ, yang diterima oleh Allāh ﷻ adalah amalan yang sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengamalkan sebuah amalan tidak ada di atasnya agama kami maka amalan tersebut tertolak.

Allāh ﷻ amalan ini sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ atau tidak, sesuai dengan islam atau tidak atau dia masih mengikuti hawa nafsunya kemudian mengamalkan amalan-amalan yang bid’ah. Ketika seseorang hamba menyadari bahwasanya Allāh ﷻ melihat pada amalannya maka dia berusaha untuk melaksanakan amalan tersebut sesuai dengan Islam dan istiqomah terus di atas amalan yang sesuai dengan Islam. Istiqomah karena Allāh ﷻ melihat terus jadi bukan hanya pada amalan ini Allāh ﷻ melihat tapi juga amalan yang seterusnya dan seterusnya sampai dia meninggal dunia.

Berarti sabda Nabi ﷺ

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

di dalamnya ada dorongan bagi kita untuk beramal sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan istiqomah di atas Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan makna Istiqomah di atas Islam diantaranya adalah mengamalkan amalan sesuai dengan Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ ini adalah bagian dari Islam, menyerahkan diri kepada Allah.

Kemudian beliau mendatangkan sabda Nabi ﷺ

وَلَهُم عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ «أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ، حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي، يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dan didalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin mas’ud beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda aku akan mendahului kalian di atas telaga, maksudnya adalah telaga Beliau ﷺ, aku akan mendahului kalian di atas telaga tersebut, akan diangkat kepadaku, diangkat kepadaku seakan-akan mau didatangkan kepada Nabi ﷺ beberapa orang dari ummatku ketika aku mengambil air untuk memberikan gelas tadi kepada orang-orang tadi, tiba-tiba mereka dihalangi dariku maka Beliau ﷺ mengatakan wahai Robb mereka ini adalah para sahabat, dikatakan kepada Beliau ﷺ sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelahmu.

وَلَهُم عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ

Dan didalam shahih Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, beliau mengatakan Rasulullah ﷺ bersabda

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ

Aku akan mendahului kalian di atas telaga, maksudnya adalah telaga Beliau ﷺ, faroth artinya adalah mutaqoddim, Beliau ﷺ akan mendahului kita sampai ke telaga Beliau ﷺ, menunjukkan bahwasanya diantara iman dengan hari akhir adalah beriman bahwasanya Nabi ﷺ memiliki حَوْض dan bahwasanya Beliau ﷺ akan mendahului kita Beliau ﷺ akan kesana dan melayani.

Ketika manusia termasuk di antaranya kaum muslimin dalam keadaan mereka kehausan berada di padang mahsyar, panas dan waktu yang sangat panjang kemudian mereka mendapatkan kenikmatan meminum air yang sangat lezat disebutkan dalam hadits

أبرد من الثلج dia lebih dingin daripada es, semakin dingin semakin nikmat. Dan dia lebih manis daripada madu, أحلى من العسل, dan ini adalah kenikmatan tersendiri, kemudian dia lebih putih daripada susu, kemudian disebutkan didalam hadits barang siapa yang meminum darinya maka dia tidak akan haus selama-lamanya. Ditambah lagi kenikmatan siapa yang melayani, Rasulullah ﷺ.

Dan disebutkan didalam hadits bahwasanya disana nanti akan disediakan gelas, teko, كنجوم السماء yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dia adalah seperti bintang yang ada di langit. ‘Seperti’ di sini disamakan diserupakan dari dua sisi, sisi yang pertama dari sisi indahnya, jadi gelas yang dipakai teko yang dipakai adalah gelas-gelas yang indah dan ini kenikmatan sendiri ketika meminum dari gelasnya dan gelas yang mengkilap yang indah, kemudian yang kedua dilihat dari sisi banyaknya kita itu bahwasanya umat Islam ini adalah umat yang banyak meskipun dia umat yang banyak jangan khawatir kita tidak akan antri ketika meminum telaganya Nabi ﷺ, Allāh ﷻ telah menyediakan teko yang banyak dan gelas-gelas yang banyak.

Sehingga antum datang langsung, bukan menunggu dalam keadaan menahan hausnya, tidak, langsung disitu dan yang melayani adalah Nabi ﷺ ditambah lagi kenikmatan yang lain telaga ini adalah telaga yang sangat luas, panjangnya satu bulan perjalanan dan lebarnya juga satu bulan perjalanan dan ini adalah nikmat tersendiri. Berbeda kalau telaganya cuma sedikit sementara yang datang orang banyak, antum ketakutan kehabisan sebelum antum meminum telaga tadi, tapi ini telaga yang sangat luas dengan sifat air yang tadi kita sebutkan.

Aku akan mendahului kalian di atas telaga tersebut

لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ

Akan diangkat kepadaku (seakan-akan mau didatangkan kepada Nabi ﷺ) beberapa orang dari umatku, dari mana Beliau ﷺ mengetahui itu adalah umat Beliau ﷺ, dari bekas wudhu, dilihat dari jauh orang-orang ini adalah putih wajahnya tangannya artinya dia berwudhu di dunia makanya Beliau ﷺ mengatakan min ummati, mereka dari ummatku, dari sekian banyak manusia Beliau ﷺ mengetahui ciri-ciri ummat Beliau ﷺ dari bekas wudhunya

حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ

Ketika aku mengambil air untuk memberikan gelas tadi kepada orang-orang tadi, Beliau ﷺ melayani umatnya dan ini adalah kenikmatan tersendiri dilayani oleh Nabi Muhammad ﷺ, senang Beliau ﷺ melihat mereka yaitu ummatnya datang, memberikan air kepada mereka menghapuskan dahaga dan haus mereka.

اخْتُلِجُوا دُونِي

Tiba-tiba mereka dihalangi dariku, sudah mau dikasihkan air tersebut kepada mereka tiba-tiba dihalangi dari Beliau ﷺ dijauhkan dari Beliau ﷺ, bagaimana perasaan Nabi ﷺ yang sangat sayang kepada umatnya ingin memberikan faedah ingin memberikan air yang ada didalam telaga Beliau ﷺ yang Allāh ﷻ berikan kepada Beliau ﷺ

فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ! أَصْحَابِي

Maka Beliau ﷺ mengatakan wahai Robb mereka ini adalah para sahabat, orang Islam yang Beliau ﷺ mengenalnya dari tanda-tanda yang ada di dalam jasad mereka

يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Dikatakan kepada Beliau ﷺ sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelahmu
Yang diucapkan kepada Beliau ﷺ

لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

didalamnya ada beberapa faedah. Yang pertama menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ tidak mengetahui ilmu yang ghoib dan Beliau ﷺ tidak tahu apa yang terjadi setelah kematian Beliau ﷺ karena disebutkan disini لاَ تَدْرِي engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu, yaitu setelah engkau meninggal dunia apa yang mereka lakukan berupa kebaikan berupa kejelekan engkau tidak tahu,

kalau Nabi ﷺ tidak mengetahui lalu bagaimana diyakini bahwasanya orang yang meninggal dunia ini tahu yang dilakukan oleh keluarganya tahu apa yang dilakukan oleh istrinya dan seterusnya, tidak ada yang tahu. Nabi ﷺ sendiri Beliau ﷺ tidak tahu apa yang terjadi setelah Beliau ﷺ meninggal dunia.

مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Apa yang mereka perbuat, yang mereka ada-adakan setelah dirimu

Kalimat أَحْدَثُوا bisa merupakan kalimat yang umum, masuk di dalamnya murtad sebelumnya Islam kemudian dia murtad dari agamanya dan Nabi ﷺ ketika Beliau ﷺ meninggal dunia tahunya ini sahabatnya setelah itu murtad dan kalau murtad itu Beliau ﷺ tidak tahu cuma pas meninggal dunia tahunya dia adalah seorang shahabat, pernah bertemu dengan Beliau ﷺ mengaku beriman setelah Beliau ﷺ meninggal dunia dia murtad dan ada yang murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ dan dia murtad ini bukan dinamakan dengan shahabat, yang diakhiri hidupnya dengan riddah keluar dari agama Islam maka ini tidak dinamakan dengan shahabat

karena pengertian shahabat

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْلِماً ثُمَّ مَاتَ عَلَى الإِسْلاَمِ

Orang yang bertemu dengan Nabi ﷺ dalam keadaan dia beriman kemudian meninggal dalam keadaan Islam, dalam keadaan Iman. Kalau dia meninggal dalam keadaan murtad tidak dinamakan dengan shahabat.
Termasuk didalam kalimat أَحْدَثُوا disini orang yang melakukan bid’ah di dalam agama karena bid’ah ini adalah مُحْدَث

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Berarti masuk didalamnya مُحْدَث adalah membuat bid’ah didalam agama sehingga banyak ulama menyebutkan bahwasanya orang-orang khowarij dan orang-orang ahlul bid’ah mereka masuk di dalam hadits ini termasuk orang-orang yang tidak bisa atau tidak meminum telaganya Nabi ﷺ dengan sebab mereka membuat bid’ah didalam agama.

Bagaimana Nabi ﷺ mendakwahkan islam dengan pengorbanan yang luar biasa menyampaikan risalah Allāh ﷻ, ini tata cara ibadah ini akidah ini akhlak kemudian ada sebagian orang yang datang meremehkan sunnah Beliau ﷺ memilih bid’ah daripada sunnah Nabi ﷺ, ini tidak pantas untuk minum telaganya Nabi ﷺ.

Banyak para ulama yang ketika menjelaskan مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ini maksud di dalamnya ahlul bid’ah, al-murjiah al-mu’tazilah al-khawarij, jadi ini menunjukkan tentang keutamaan Istiqomah di atas Islam yang telah disampaikan oleh Nabi ﷺ, maka Istiqomah ini menjadi sebab seseorang kelak bisa meminum telaganya Nabi ﷺ. Adapun orang yang memilih bid’ah daripada Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ maka ini dikhawatirkan dia termasuk orang yang tidak meminum telaganya Nabi ﷺ

Dengan kehinaan yang seperti ini, sudah datang dalam keadaan berangan-angan ingin minum, sudah mau datang, mau dikasih oleh Nabi ﷺ ternyata dijauhkan dari telaga tersebut tentunya dia akhirnya tidak bisa minum dalam keadaan terus masih dalam keadaan haus, kemudian yang kedua dia terhina dengan perlakuan seperti ini. Dia sudah mau datang mau minum dan merasa kita ini umatnya Nabi ﷺ ternyata diusir tidak bisa meminum telaganya Nabi ﷺ, maka ini adalah pertama dia tetap dalam keadaan haus yang luar biasa sudah lama tidak minum kemudian dalam keadaan terhina dan lebih tersiksa lagi melihat orang lain minum sementara dia sendiri tidak minum.

Jelas hadits ini menunjukkan tentang perintah untuk Istiqomah di atas Islam dan tahdzir peringatan manusia supaya jangan membuat sesuatu yang baru di dalam agama Islam dan bukan berarti mereka tidak meminum dari telaganya Nabi ﷺ kemudian mereka tidak masuk surga, tidak saling melazimkan antara dua perkara ini.

Jadi saat itu hukumannya dia tidak meminum telaganya Nabi ﷺ, berbeda dengan umat Islam yang lain tapi bukan berarti mereka diharamkan masuk ke dalam surga, kalau dia muslim dan bid’ahnya tidak sampai mukaffirah maka kelak dia akan masuk ke dalam surga, tapi ini hukuman tersendiri bagi orang yang melakukan bid’ah di dalam agama.

Dan bukan berarti orang yang meminum dari telaganya Nabi ﷺ kemudian dia tidak masuk neraka, bukan berarti dia tidak masuk neraka, kalau dia termasuk umatnya Nabi ﷺ tapi dia melakukan dosa besar maka orang yang melakukan dosa besar taḥta masyiatillah, kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ ampuni dosa besar tadi kalau Allāh ﷻ menghendaki maka Allāh ﷻ tidak ampuni dan dimasukkan ke dalam neraka terlebih dahulu.

Sehingga nanti akan melewati jembatan shirath mungkin saja orang yang sebelumnya dia meminum telaganya Nabi ﷺ hilang dahaganya ketika dia melewati jembatan shirath ternyata dia terjatuh kedalam neraka, tapi kalau dia terjatuh dan dia sudah meminum telaganya Nabi ﷺ maka dia tidak akan merasakan kehausan di dalam neraka, tidak merasakan haus di dalam neraka mungkin terbakar sebagian anggota tubuhnya tapi dia tidak merasakan haus karena Nabi ﷺ mengatakan

مَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا

Orang yang meminum dari telaga tersebut maka dia tidak akan haus selama-lamanya, seandainya dia masuk ke dalam neraka maka tidak akan haus dalam neraka tersebut.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته