Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām Bab 11-Halaqah 88 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 03

Halaqah 88 | Pembahasan Dalil Kesepuluh Hadits Hudzaifah Ibnu Yaman Bag 03

 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى
 
 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن وله

Halaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.

Hudzaifah bertanya lagi kepada Nabi

قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟

Ya Rasulullah ﷺ apa yang engkau perintahkan kepadaku ketika aku menemui zaman tersebut? Zaman disana banyak دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ, yang mereka berpakaian sama dengan pakaian kita, madzharnya sama dengan madzhar kita, berbicara seperti ucapan kita tapi dia tahu ini bukan mengajak kepada sunnah sehingga banyak manusia yang tertipu, bagaimana seandainya aku menemui zaman yang demikian.

Ini adalah pertanyaan yang wafq dari seorang Hudzaifah Ibnu Yaman, untuk melihat pertanyaan-pertanyaan beliau adalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat berfaedah. Ciri-cirinya bagaimana, seandainya saya sudah mengenal ciri-cirinya dan saya tahu ini adalah seperti yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ apa yang harus ana lakukan, ini yang lebih penting yaitu mengenal apa yang harus dilakukan ketika menemui fitnah tadi

قَالَ

maka Nabi ﷺ memberikan kuncinya, memberikan jalan keluarnya dan inilah Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ datang dengan petunjuk, datang dengan kebaikan bagi manusia, tidak ada sebuah masalah kecuali di sana ada jalan keluarnya. Hudzaifah dan juga para sahabat dan para salaf dan kaum muslimin yakin bahwasanya di dalam petunjuk Nabi ﷺ inilah sebaik-baik petunjuk

وَخَيْرُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dan Beliau ﷺ menyebutkan petunjuk ini bukan dari hawa nafsunya tapi Beliau ﷺ berbicara dengan wahyu. Allāh ﷻ yang mengetahui apa yang terjadi di masa yang akan datang dan apa jalan keluar bagi manusia, mewahyukan kepada Beliau ﷺ tentang perkara ini. Beliau ﷺ mengatakan kepada Hudzaifah

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Jalan keluarnya kalau banyak da’i-da’i yang mengajak kepada jahanam, termasuk diantaranya adalah duāt khawarij, yang banyak orang yang tertipu dengan pakaian mereka, dengan jenggot mereka, dengan banyaknya mereka membaca Alquran.

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Kalau dalam keadaan demikian maka hendaklah engkau melazimi جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ, jangan kau tinggalkan jamaahnya kaum muslimin, adapun duāt tadi maka mereka mengajak untuk memisahkan diri mereka dari jamaahnya kaum muslimin

وَإِمَامَهُمْ

Dan hendaklah engkau melazimi imamnya kaum muslimin. Kalau di sana ada sebuah baldah, sebuah negara, sebuah negeri, ada imamnya kaum muslimin bersama kaum muslimin maka ketika terjadi fitnah tadi jangan engkau keluar dan memberontak kepada penguasa tetapi justru engkau melazimi jama’ahnya kaum muslimin dan juga imam mereka.

Maksudnya adalah mendengar dan taat kepada penguasa, bukan keluar dan memberontak kepada penguasa, mendengar dan taat dengan aturan yang telah kita ketahui yaitu mendengar dan taat di dalam kebaikan, mendengar dan taat kepada penguasa di dalam kebaikan, jangan kita mengikuti apa yang dilakukan oleh dan apa yang didakwahkan oleh دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ.

Ini adalah jalan keluar dan dimaksud dengan imam di sini adalah al-imamu a’dzhom,

ini adalah imam yang besar yaitu penguasa kaum muslimin dan yang dimaksud dengan jamaah di sini adalah jamaahnya kaum muslimin, mereka adalah muslimin. Imam yang ma’ruf yang dikenal oleh kaum muslimin seandainya mereka ditanya man imāmukum? Maka mereka mengatakan si Fulan, baik yang laki-laki maupun yang wanita yang kecil maupun yang besar siapa pemimpin kamu dia mengatakan si fulan ini berarti adalah imam yang ma’ruf, adapun imam yang tidak diketahui kecuali hanya oleh segelintir orang saja maka ini tidak masuk di dalam imam yang dimaksud.

Kemudian syarat yang kedua imam tersebut adalah imam yang memiliki qudrah,

dia memiliki kemampuan, memiliki kekuasaan yang dengannya dia bisa mengeluarkan peraturan untuk kaum muslimin yang ada di negerinya. Ketika dia memutuskan si Fulan harus dipecat misalnya, si fulan harus diasingkan, si fulan yang dihukum demikian, dia memiliki kekuatan tersebut maka inilah yang dimaksud dengan imam yang syar’i.

Kemudian di antara syaratnya imam tersebut adalah imam yang maujud yaitu imam tersebut ada di permukaan bumi,

bukan imam yang dianggap oleh sebagian tapi hakikatnya dia tidak ada.

Tiga syarat ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kalau tidak salah di dalam Minhajussunnah.

Pertama dia adalah maujud, ada, bukan seperti orang-orang rafidhah menganggap bahwasanya imam Mahdi, imam mereka itu berada di sirdab, mereka meyakini itu adalah pemimpin tapi dia nggak ada wujudnya di permukaan bumi, ini tidak terpenuhi syaratnya.

Kemudian yang kedua dia adalah imam yang ma’ruf diketahui oleh penduduk negeri tersebut, adapun hanya diketahui oleh lima orang, sepuluh orang, diangkat menjadi pemimpin kemudian menganggap itu imamnya tapi ketika kaum muslimin yang lain ditanya mereka tidak mengerti maka ini bukan imam yang dimaksud, bukan imam yang syar’i yang demikian, dan ini banyak jamaah-jamaah yang mereka mengangkat imam sendiri, berpisah lagi kemudian masing-masing membuat dan mengangkat imam lagi dan seterusnya, itu yang mengetahui hanya segelintir orang saja, kita tidak tahu siapa pemimpin jamaahnya fulan, jamaah fulaniyyah yang banyak sekali kita tidak tahu pemimpin mereka, ini bukan imam yang syar’i.

Kemudian yang ketiga syaratnya harus memiliki qudroh, ucapannya didengar, kalau dia mengatakan keputusan demikian maka itu dengarkan dan dilaksanakan maka ini adalah syarat imam yang syar’i. Adapun ucapan dia tidak didengar bahkan tidak diketahui oleh kaum muslimin maka ini dia bukan imam yang syar’i.

قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟

Ini menunjukkan tentang fiqihnya Hudzaifah ibnu yaman, iya kalau saat itu memang ada pemimpin dan ada orang-orang yang mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut, nah sekarang kalau keadaannya hancur-hancuran, pemimpin terbunuh misalnya, manusia seperti hewan ternak yang mereka tidak ada penggembalanya, masing-masing membuat jamaah, masing-masing saling berperang satu dengan yang lain, tidak ada imam yang ditaati dan didengar, sampai ke sana pertanyaan dari Hudzaifah ibnu yaman, apa yang menjadi kemungkinan terjadi maka beliau tanyakan.

Dan sebagian ulama mengatakan ini menunjukkan tentang bolehnya bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi kalau memang itu bermanfaat tapi kalau yang tidak ada manfaatnya maka ini termasuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak sepantasnya ditanyakan kepada para ulama. Dan sudah berlalu ketika membahas tentang khulashah ta’dzimi ‘ilmi bahwasanya termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah menjaga di dalam masalah pertanyaan ini.

Termasuk diantaranya apa yang ditanyakan kepada guru, sang Mu’allim maka termasuk pengagungan kita terhadap ilmu adalah menjaga pertanyaan, diantara pertanyaan yang tidak sepantasnya adalah bertanya sesuatu yang tidak ada manfaatnya atau bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.

Sehingga sebagian ulama ketika ditanya, Syaikh demikian dan demikian, dia bertanya dulu apakah itu sudah terjadi, belum, dia mengatakan tinggalkan sampai dia terjadi, kalau sudah terjadi nanti saya jawab. Ini mungkin kita bawa kepada sesuatu yang memang tidak ada manfaatnya dan bisa dijawab ketika dia sudah ada seperti misalnya permasalahan-permasalahan fiqih mungkin, bagaimana kalau kendaraannya demikian, bagaimana dan seterusnya, mungkin itu bisa di akhir kan sampai itu benar-benar terjadi.

Disini beliau mengatakan

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟

Bagaimana seandainya saat itu tidak ada jamaah, tidak ada kaum muslimin, tidak ada orang-orang yang mendengar dan taat kepada imam, وَلاَ إِمَامٌ dan tidak ada imamnya. Imamnya terbunuh misalnya, manusia dalam keadaan kacau balau, masing-masing membuat jamaah masing-masing menghalalkan, dan yang lain

قَالَ

maka Nabi ﷺ memberikan petunjuk yang lain, apa petunjuk Beliau ﷺ? Nabi ﷺ mengatakan

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا

Jalan keluarnya adalah kamu tinggalkan firqoh-firqoh itu semuanya, karena masing-masing duāt tadi ketika dia berdakwah maka dia menemukan jamaah, sehingga ada firqohnya, ini firqohnya fulan, kemudian duāt yang lain juga demikian, mendapatkan jamaah dan mendapatkan pengikutnya dan da’inya juga masih mengajak, sementara kita mau bergabung dengan imamnya kaum muslimin tidak ada.

Maka jalan keluarnya adalah tinggalkan seluruh aliran tadi, dan ini adalah bantahan bagi yang mengatakan bahwasanya sama saja kita mengikuti aliran itu atau aliran yang lain, silahkan engkau mengikuti aliran mana saja karena semuanya akan menyampaikan kita ke dalam surga, ini adalah ucapan orang yang bingung.

Jadi sebagian orang karena dalam keadaan bingung dia mengatakan semuanya adalah benar, ini mengajak, ini mengajak, ini mengajak, akhirnya dia bingung kemudian mengatakan apa semuanya adalah benar.

Nabi ﷺ mengatakan

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا

Tidak boleh kita mengikuti satupun dari firqoh-firqoh tadi.

اعْتَزِلْ jangan mengikuti dan mengijabahi imamnya atau bergabung dengan jama’ah tadi, tidak boleh karena itu adalah aliran-aliran yang sesat, yang mereka menyimpang dari jalan yang lurus, kalau sampai kita mengikuti aliran-aliran tadi maka kita akan dijerumuskan ke dalam jahanam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته